DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
MEYAKINKAN DIRI


__ADS_3

Dokter telah sampai di rumahnya Tara, saat mobil Ardhi keluar dari gerbang rumah mewah itu. Melati yang sudah berada di kamarnya hanya ditemani Embun. Sedangkan Tara dan Ilham masih di ruang tamu. Melihat kedatangan Dokter. Tara beserta Ilham masuk ke kamarnya Melati. Dokter pum mulai melakukan pemeriksaan.


“Ibu sedang hamilkan?” tanya Dokter memastikan diagnosanya. Melati terkejut mendengar ucapan Dokter, walau ini bukan pertama kali dia mendengar dirinya dikatakan hamil.  Melatibelum melakukan tes kehamilan. Melati terdiam dengan ekspresi wajah malu serta ketakutan.


“Iya Dok, bagaimana kondisinya?” tanya Embun penasaran. Menyahut Dokter, karena Melati tidak mau berbicara


“Tekanan darah ibu ini sangat rendah. Itu biasa dialami wanita yang hamil muda. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja, Ibu


harus banyak istirahat, makan sayur dan buah yang banyak dan hindari setres.


Kalau ibu setres bisa mengganggu perkembangan janin serta kesehatan Ibu.” Sang


Dokter mulai meyiapkan resep obat untuk Melati. Ilham hanya diam mematung


menatap lekat Melati yang terlihat lemas itu.


Tara merangkul Ilham, mengajaknya ke sebuah ruangan, tepatnya di ruang kerja pria itu. “Aku dan Melati sudah sepakat menikah minggu


depan di kampung.” Ilham langsung membuka percakapan, setelah kedua pria itu


duduk di sofa. Tara megangguk mendengar ucapan Ilham.


“Aku sudah memberitahu orang tuaku di kampung.” Ilham kembali mempertegas rencananya dengan Melati. Tara menarik napas dalam, Dia ikut pusing tentang cinta segi lima ini.


“Semua keputusan ada ditangan Melati. Saran saya, adek Ilham harus mulai ikhlas melepas Melati.”


“TIDAKKK…!” teriak Ilham penuh kekesalan, Dia benci pada Ardhi yang kembali muncul. Bukannya pria itu dan Ibunya ingin melenyapkan Melati. Kenapa sekarang malah ingin menikahinya?


Krek…


Suara pintu terbuka, membuat Ilham dan Tara menoleh ke ambang pintu. Nampak Embun tersenyum manis. Wanita itu berjalan ke arah Tara dan Ilham. Mendudukkan bokongnya di sebelah kiri Tara. Embun menatap lekat Ilham,


Wanita itu penasaran dengan apa yang terjadi. Karena saat ini ekspresi wajah


Ilham sangat menakutkan. Sepertinya pria itu baru saja meluapkan emosinya.


Merasa diperhatikan dengan lekat. Ilham berusaha menetralkan emosinya yang


sedang membara itu dengan menghela napas dalam. Dia melakukannya berulang kali,


sampai dirinya merasa tenang.


“Bagaimana keadaan Melati?” Ilham begitu penasaran denganwanita yang sangat dicintainya itu. Dia mencoba mencairkan suasana tegang dengan menanyakan keadaan Melati.


“Sudah baikan, dia lagi istirahat.” Jawab Embun tersenyum tipis.


“Kenapa pria berengsek itu muncul lagi? Aku tidak akan mengizinkan dia menikah dengan Melati. Aku dan Melati sudah sepakat akan


menikah di kampung setelah libur semester.” Ucap Ilham berdecak kesal, dia mulai ragu rencananya untuk meikah dengan Melati tidak akan terwujud.


Tara dan Embun memilih diam, tidak mau berkomentar banyak lagi. Karena atmosfer di ruanga itu sedang panas. Ilham pasti tidak bisa

__ADS_1


dinasehati. Pria itu lagi emosi.


“Apa yang harus ku lakukan Abang Tara?” keluh Ilham menampilkan ekspresi keputusasaan.


Tara menghela napas dalam. Dia bisa merasakan kegundahan


ilham saat ini. “Seperti yang ku katakan tadi. Ikhlaskan saja Melati.” Ilham


terdiam  menunduk tangan kirinya


megusap-usap kepalanya yang terasa sakit.


***


Ardhi memilih pulang ke apartemenya malam ini. Dia melakukan itu karena ingin menghindari banyaknya pertanyaan dari sang ibu nantinya.  Dia memperhatikan wajahnya yang memar dan


bengkak. Kesal dengan  apa yang


meminpahnya. Ardhi meninju kaca yang ada di hadapannya.


Pyrarrrr.. takkk..


Cermin wastafel itu hancur berkeping-keping. Seperti hatinya yang hancur saat ini.  Tubuh lemah itu akhirnya melorot dan terduduk lemah di lantai kamar mandi. Ardhi benci dirinya


yang sekarang. Sejak Embun meninggalkannya, masalah pribadinya terus saja


bertambah. Satupun tidak ada penyelesaian. Hatinya belum sembuh, atas luka yang


mantan kekasihnya itu terkait masalahnya dengan Melati.


Ini sulit dan begitu menyiksa. Dia harus menebalkan mukanya dihadapan Embun dan Tara, atas perbuatan kejinya.


“Arrrrgghhhh..!” Ardhi berteriak histeris, meluapkan emosinya yang tertahan.


“Kenapa harus Melati..? dia wanita baik, dia sudah memiliki kekasih. Aku telah menghancurkan hidupnya.” Ucapnya lirih, teringat ekspresi wajah Melati yang ketakutan saat melihatnya.


“Aku tidak mencintainya, dia juga tidak menyukaiku. Kalau aku menikahinya, bagaimana ceritanya, nanti biduk rumah tangga kami? Pemuda itu sepertinya tahu kondisi Melati. Dan dia sepertinya menerima keadaan Melati. Tidak, tidak, Aku harus menikah dengan Melati. Kata Embun dia sedang hamil. Aku


tidak mungkin menelantarkan dia.” Ardhi berbicara sendiri, berusaha meyakinkan


dirinya. Bahwa menikahi Melati secepatnya adalah keputusan yang tepat.


Sementara saat ini Melati juga sedang memikirkan masalah yang dihadapinya. Ucapan Ardhi yang tegas, mengajaknya menikah, membuatnya sedikit legah. Ternyata mantan majikannya itu tidak seburuk penilaiannya. Pria Itu ingin bertanggung-jawab. Jadi, mimpinya semalam akan menjadi nyata.


Raut wajah kelegaan hanya sedetik tersirat di wajah pucat wanita itu. Menerima tawaran dinikahi Ardhi sepertinya bukan solusi yang tepat. Karena ada Ibu Jerniati yang tidak menyukainya. Tapi, menikah dengan Abang


Ilham juga bukan solusi yang baik. Memikirkan itu semua membuat kepala Melati


semakin sakit. Tidak mau gundah gulana memikirkan itu semua. Melati akhirnya


kembali memutuskan untuk sholat Istikharah. Semoga besok dia sudah mendapatkan

__ADS_1


jawaban yang tepat. Atas kegundahan hatinya saat ini.


***


“Hasian bobo yuk?” ajak Embun yang bersandar di daun pintu ruang kerjanya Tara. Sejak kepulangan ilham. Tara malah mendekam di ruang kerjanya. Banyak sekali email yang masuk dari Doly yang harus diperiksanya.


Tara tersenyum manis pada Embun yang sudah siap dengan Baju dinas malamnya. “Mau peluk-pelukan ya?” ucap Tara dengan ekspresi wajah mesumnya. Embun mengangguk dan tersipu malu. Tara jadi gemes dengan tingkah


istrinya itu. Semakin lama istrinya itu semakin pandai saja merayunya.


“Baiklah, lembur malam akan di mulai.” Tara memberesi meja kerjanya dengan cepat sambil bersiul-siul dengan  tersenyum manis pada Embun yang masih setia


menggodanya dengan fose memikat itu. Embun yang bersandar di daun pintu


mengangkat kaki kanannya guna menahan pintu kamar itu. Tentu saja kaki jenjang


mulus putihya Embun terekspose nyata, menyulut birahinya Tara.


“ I am coming..!” Tara berjalan cepat menghampiri Embun, menggendog Embun ala bridal stile dan menempatkannya dengan lembut di atas ranjang. Dia pun mulai melancarkan aksinya untuk  bercocok tanam dengan Embun, yang dimulai dengan berdoa terlebih dahulu.


Matahari terbit sebagai tanda berawalnya kehidupan baru, tapi kenyataannya


masih banyak orang tenggelam dalam masa lalu yang kelabu.


Ardhi menikmati Udara pagi di balkon kamarnya dengan secangkir teh melati. Saat dia menyeruput  teh beraroma Melati itu. Dia pun jadi teringat pada Melati. Mengingat gadis itu, membuat kedua sudut bibir pria itu melengkung, sehingga menghasilkan senyuman manis penuh semangat. Ya, wajah manis teduhnya Melati, bisa membuat orang senang menatapnya.


Ardhi pun akhirnya kepo, Dia ingin lebih tahu banyak tentang Melati. Pria itu pun akhirnya iseng mencari akun Melati di dunia maya.  Tak butuh lama dalam  pencarian, pria itu langsung mendapatkan profil Melati di media sosial berwarna biru itu.


Ardhi senyam senyum melihat postingan Melati beberapa tahun silam. Postingannya itu sebelum Melati merantau ke kota Medan. Postingan Melati kebanyakan di sawah dan juga di ladang. Ardhi cukup heran, ternyata sejak merantau.  Melati jarag update status.


Wanita itu hanya pernah mengunggah satu foto saat dirinya sedang di kampus.


Riwayat di upload sekitar tiga bulan lalu.


Ehhhmmm.. Guamamnya. Memperhatikan foto Melati yang masih di kampung. Ardhi terus saja menscrol album di Fb nya Melati. Hingga matanya membelalak melihat sebuah foto keluarganya Melati. Di foto itu Melati masih


nampak seperti anak remaja dan wanita itu belum mengenakan hijab. Ardhi tersentak, melihat anting yang menggantung di telinga nya Melati. Anting itu, sama persis dengan anting yang ditemukan oleh rudi sang asisten.


Ardhi menarik napas dalam dan meghembuskannya pelan. Dia ingin menenangkan dirinya yang lagi kacau. Mengingat-ngingat kejadian malam


menjijikkan itu, membuat Ardhi tertekan. Dia sangat menyesali perbuatannya.


Ardhi beranjak dari duduknya, berjalan cepat keluar kamarnya. Dia harus menemui Melati pagi ini. Dia harus meuntaskann semuanya.


Menjelaskan apa yang sebenarya terjadi. Dia berharap, setelah dia menjelaskan


semuanya. Melati bisa memahaminya dan berharap Melati tidak ketakutan lagi melihatnya.


Sesampainya di beranda rumah Tara. Ardhi merogoh dompetya dari saku celananya. Dia menyimpan anting itu di dompetnya. Dia harus mengembalikan anting itu pada Melati.


Saat itu juga Ardhi memutar tubuhnya. Karena, matanya secara tak sengaja melihat Embun dan Tara bertukar Saliva di depan pintu rumah. Ya Embun mengantarkan Tara untuk berangkat kerja.

__ADS_1


__ADS_2