DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Itu lagi dan lagi


__ADS_3

"Melati..!" Ardhi bangkit dari tempat duduknya dengan tergesa-gesa. Berlari ke arah Melati yang sudah tergeletak di lantai.


Pria itu langsung merengkuh Melati, memanggil-manggil nama wanita itu. Entah kenapa dia jadi begitu mengkhawatirkannya. Para ART yang ada di tempat itu hanya terdiam mematung menyaksikan sikap Tuannya yang benar-benar berlebihan menurut mereka. Sikap majikannya itu membuat mereka terkejut.


Ardhi yang panik, langsung membopong Melati ke dalam kamarnya, yang diikuti oleh Bi Kom.


Saat Ardhi membaringkan Melati di atas ranjang, wanita itu sudah tersadar. Tapi, belum bertenaga. Dia membuka kedua matanya yang masih sayu itu.


Deg...


Melati terkejut, melihat wajah Ardhi terpampang begitu dekat di hadapannya. Ardhi sedang menepuk pelan pipi tirus wanita itu. Ya, karena Melati mencret, dia banyak kehilangan cairan tubuh. Makanya wajahnya nampak semakin tirus.


"Tu--an," ucapnya lemah, berusaha untuk duduk dan sedikit menjauh dari Ardhi. Dia benar-benar terkejut mendapati sang majikan begitu dekat kepadanya. Ini tidak boleh, dia tidak membiasakan dirinya berdekatan dengan pria yang bukan muhrimnya.


"Syukurlah, kamu sudah sadar." Ucapnya tersenyum tipis, berusaha menutupi rasa malunya. Ardhi jelas malu saat ini. Dia juga sadar sikapnya ini tidaklah benar. Masak dia menggendong pembantu. Kan masih ada orang lain di tempat itu. Kenapa dia jadi begitu khawatir pada wanita itu? Apa karena sang Mama selalu menerornya, sehingga hatinya tergerak untuk melindungi.


"Jaga Melati Bi Kom, panggilkan lagi dokter. Dia harus benar-benar diperiksa dengan baik." Ardhi bangkit dari kursi plastik tempat dia tadi duduk. Dia harus cepat-cepat pergi dari tempat itu. Sebelum dia melakukan tingkah aneh lagi.


"Cepat sembuh Melati, saya merindukan masakanmu." Ucapnya tersenyum. Ardhi gak tahu lagi mau bicara itu, hanya kalimat itu yang ada dipikirannya saat ini. Dia pun keluar dari kamar itu, dengan perasaan yang aneh.


Koq aneh, ya anehlah. Dia tidak terima dengan dirinya yang dari semalam selalu memikirkan gadis itu. Ditambah tadi sikapnya terlalu berlebih. Yang pingsan pembantu, bukannya istri atau ibunya. Kenapa malah dia yang heboh. Kan ada Bi kok, Rudi, Yanti dan ART lainnya di tempat itu.


Dengan menghela napas dalam, membuangnya kasar. Dia pun berjalan menuju kamarnya dengan tersenyum-senyum. Dia merasa bahagia memikirkan gadis itu. Walau dia merasa tingkah aneh.


Sementara di dalam kamarnya Melati. Bi kom sedang menginterogasinya.


"Bagaimana keadaanmu sekarang Mel, katakan yang jujur." Bi Kom, memegang tangan Melati yang terasa dingin itu. Dia tidak mau disalahkan oleh Ardhi nanti. Sepertinya Bos nya itu ada rasa padanya. Pantesan Ibu Jerniati tidak suka pada anggotanya itu.

__ADS_1


"Aku sudah baikan Bi, tapi tadi tiba-tiba saja, aku merasa kepalaku pusing gitu. Sangat pusing. Gak bisa aku menahannya." Jawabnya lemah, menatap Bi kom dengan sendu.


"Kamu belum sembuh, gak usah ke mana-mana dulu ya!"


"Iya Bi, tadi aku merasa bosan. Makanya pergi ke dapur." Ujar Melati, menerima gelas berisi air dari Bi Kom. Wanita itupun meneguknya habis. Air yang dikasih Bi Kom, hangat. Jadi, Melati menyukainya.


"Dokter akan datang, kamu jangan keluar kamar lagi. Nanti makananmu diantarkan kesini." Bi Kom keluar dari kamar itu. Meninggalkan Melati yang penasaran. Kenapa Ardhi begitu perhatian padanya. Aduhh.... ini bahaya.


"Ya Tuhan, ku mohon lindungi aku. Aku masih ingin bekerja di sini. Semoga Nyonya besar, tidak mengetahui kejadian tadi." Ucap Melati pelan dengan perasaan yang tidak tenang.


"Kenapa tuan Ardhi membopongku?" Melati masih bermonolog, dia tahu Ardhi yang menggendongnya, karena Melati tidak pingsan seratus persen. Dia hanya kehilangan tenaga. Sehingga dia tidak bisa menopang tubuhnya yang kurus itu.


***


Di sebuah Villa mewah dekat pantai, sepasang suami istri sedang menikmati angin malam di balkon di temani indahnya cahaya rembulan. Mereka adalah Embun dan Tara. Saat ini Tara merangkul Embun, sedangkan Embun menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.


"Kalau Abang sudah yakin, kalau Adek akan jadi jodoh Abang." Kali ini ucapan Tara membuat Embun terlonjak kaget. Dia menegakkan posisi duduknya, menatap lekat Tara yang masih tersenyum padanya.


"Koq seyakin itu?" tanya Embun bingung.


"Ya yakin dong sayang. Orang kita sudah dijodohkan dari sejak kecil." Tara mengapit hidung mungil nan mancungnya Embun. Dia gemes pada istrinya itu. Tara pun langsung merangkul Embun kambali.


"Iya, heran saja, Abang koq gak pacaran saja dengan yang lain. Koq mau melanjutkan perjodohan itu?" tanya Embun memainkan jari Tara yang tergeletak di atas pahanya. Dia begitu penasarannya pada suaminya itu. Sekaligus dia merasa suaminya ini bodoh, tidak mau bermain -main dengan wanita-wanita. Kan biasanya orang kaya, suka gonta-ganti pasangan.


"Kan sudah Abang bilang waktu itu. Abang sudah suka dan cinta sama adek dari kita kecil. Dari Abang puber gitu." Kali ini Tara tertawa tipis, dia teringat moment saat-saat mereka masih kecil. Sering main di rumah Ompung mereka. Sering main dipematang sawah dan mandi di sungai bareng, sama Doly.


"Iya, alasannya apa? kenapa Abang cinta banget sama adek. Padahal Adek gak cinta banget tuh!" Kening Tara menyergit mendengar penuturan istrinya itu. PD sekali istrinya itu.

__ADS_1


"GR banget sih? siapa juga yang cinta pake banget." Ketus Tara, menertawakan Embun.


"Lah, Abang yang bilang waktu itu. Katanya cinta banget sama Adek. Adek sih percaya kalau abang itu cinta banget sama adek. Tapi, alasannya cinta banget itu apa?" Embun menengadahkan telapak tangannya. Meminta penjelasan dari Tara, alasan mencintai sebesar itu.


Tara bingung, bibir sebelah kirinya naik ke atas. Dia sedang memikirkan alasannya. Jemarinya asyik mengusap-usap dagunya. Dia juga gak tahu alasannya apa. Pokoknya dia suka Embun sedari kecil.


"Alasannya ini!" Tara menangkup bagian inti di bawah pusat wanita itu. Sontak tindakan Tara yang cepat membuat Embun terlonjak kaget. Dia melompat dan Tara langsung meraihnya ke pangkuannya.


"Iihhh... Abang nyebelin, mesum Mulu. Sikit-sikit alasannya itu. Berarti dari kecil Abang itu selalu memikirkan bagian yang itu?" tanya Embun kesal dan tak percaya dengan apa yang baru dilakukan suaminya itu.


"Iya dong, siapa suruh dulu sering mandi tela#njang di sungai?" Tara menatap tajam Embun seolah ingin menerkamnya. Embun dibuat kesal dengan alasan suaminya itu.


Iya, itu lah kelakuan Embun dulu. Mamanya juga selalu memarahinya sewaktu kecil, kalau mandi pakai dalaman saja. Jangan tel"anjang gitu. Tapi, karena anak-anak disitu sering mandi tanpa dalaman ya Embun ikut saja. Namanya juga masih kecil. Beda dengan Tara saat itu sudah mulai beranjak remaja.


"Iihhh... sebel. Dasar piktor!" gerutu Embun dalam pangkuan Tara. Tara hanya tertawa mendengar kemarahannya Embun.


"siiiiihhffpp... Jangan berisik gitu ah, ini juga adek jangan bergerak Mulu. Bangun nanti ular 🐍 kobranya, tanggung jawab Adek." Tara menahan pinggang Embun, agar jangan bergerak lagi di atas pahanya.


"Iihhh.... kan itu Mulu bahasannya. Dikit-dikit ujungnya kesitu juga." Embun memukul manja dadanya Tara.


"Ya namanya pengantin baru, ya kerjaannya itu Mulu lah. Sampai bosan sampai eneg, sampai gak enak lagi. Ayukkkk...!" Tara pun langsung membopong Embun ke dalam kamar.


"Apa harus seperti minum obat ya?" protes Embun dalam gendongan Tara.


"Ho oh...!" jawab Tara pendek.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2