
Suster langsung meraih tiang infusnya Melati. Sehingga wanita itu lebih muda untuk melangkah. Ardhi menatap lekat kedua wanita itu, dengan ekspresi wajah kesal bercampur sedih.
"Anda ditugaskan merawat dan menjaganya. Kenapa anda membiarkannya sendirian ke kamar mandi. Kalau dia jatuh, dan janin di dalam rahimnya gugur, bagaimana?" ketus Ardhi kesal, menatap tajam suster yang kini menunduk, tak berani membantah.
Melati ketakutan melihat kemarahannya Ardhi. Pria itu benar-benar menyeramkan disaat marah. Melati jadi tidak tega kepada Suster itu. Gara-gara dia suster itu jadi kena marah Ardhi.
Apakah mantan majikannya itu marah besar, karena tidak mau terjadi hal buruk pada anaknya yang di kandungnya? apakah anak yang dikandung Melati sangat berarti untuknya?
"Tu, tuan, saya yang salah. Jangan marahi suster. Suster sudah menjagaku dengan baik." Melati memberi pembelaan. Ini memang bukan murni kesalahan suster.
Ardhi terdiam, dia menatap lekat Melati. Wanita itu langsung menunduk. Tidak berani menatap mata tajamnya Ardhi. Yang seolah meminta jawaban lebih.
"Anda boleh keluar, saya yang akan menjaganya. Jikalau ada hal penting, saya akan memanggil anda." Suster meninggalkan kamar itu, dengan memegangi serta mengelus dadanya yang berdebar-debar, karena takut melihat kemarahan Ardhi. wanita itu pun menutup pintu dengan pelan. Setelah diluar, suster itu menghela napas dalam.
Melati merasa semakin tidak nyaman. Berdua saja dengan pria itu. Bahkan dia merasa dadanya semakin sesak saja, seolah tidak mendapatkan oksigen untuk dihirupnya di ruangan itu.
"Kamu masih lemah, kalau mau ke kamar mandi atau ingin sesuatu itu dibilang." Raut wajah Ardhi yang tadinya menakutkan, kini berangsur berubah jadi tersenyum manis. Melati terkesima sesaat melihat senyum tulus pria itu. Dia pun langsung menunduk, tidak berani berlama-lama menatap Ardhi. Masih ada rasa takut di hatinya kepada pria itu.
"Apa kamu sudah merasa baikan, sehingga kamu ke kamar mandi, sanggup membawa tiang infus?" Melati yang menunduk kini mengangguk pelan. Ya, dia sudah merasa lebih baik, ia tidak merasa mual dan muntah lagi. Perutnya juga sudah enak an. Hanya nafsu makannya yang belum kembali.
"Syukurlah, besok kita akan periksakan kandunganmu."
Deg...
Mendengar Ardhi mengatakan itu membuat hatinya bergetar. Ada rasa senang sekaligus kesal dalam hatinya Melati. Dia kesal, karena dia hamil diluar nikah. Dia merasa senang, ternyata Ardhi benar-benar ingin bertanggung jawab dengan anak yang dikandungnya. Terbukti pria itu, sangat mengkhawatirkan anak yang dikandungnya.
"Ini terimalah!" Ardhi menyodorkan paper bag berwarna putih kepada Melati. Wanita itu pun mengangkat kepalanya, memperhatikan paperbag yang ada di hadapannya. Paperbag toko handphone. Itu artinya isi paper bag itu adalah handphone.
__ADS_1
Melati masih terdiam, dengan perasaan yang tidak. Tidak berani meraih paper bag di hadapannya.
"Aku belikan ponsel untukmu. Agar nanti kamu bisa menghubungi keluarga di kampung." Ardhi akhirnya mengeluarkan ponsel itu dari kotaknya. Menyodorkannya kepada Melati.
"Ayo, terimalah." Dengan ragu, tangan kirinya Melati yang tidak diinfus, menjulur meraih ponsel itu dari tangan nya Ardhi.
"Aku sudah mensave, nomorku di handphone itu. Nomor orang tuamu di kampung juga." Dengan tangan bergetar Melati mulai menyentuh layar ponsel itu. Ponsel dibelikan Ardhi, tentu saja ponsel mahal. Dan ponsel itu tidak ada kuncinya.
"Belum dikunci, karena iPhone nya pakai face id." Jelas Ardhi dengan tersenyum lebar. Dia sangat berharap Melati menyukai hadiah darinya. Sehingga wanita itu tidak benci lagi padanya.
Saat Melati menyentuh layar ponsel itu. Dia dikejutkan dengan wallpaper nya. Ponsel itu sempat hendak jatuh dari tangannya. Karena, Melati begitu terkejut melihat wajah Ardhi yang cool di layar ponsel itu.
"Terkejut ya, tadi si mbaknya yang jaga toko itu iseng. Foto aku segala, padahal tadi aku hanya menanyakan kwalitas cameranya." Jelas Ardhi dengan tertawa tipis. Padahal Melati tidak menanyakannya.
Jelas Melati terkejut melihat foto Ardhi yang jadi wallpaper hapenya itu. Karena ekspresi wajah Ardhi di foto itu terbilang menyeramkan. Sorot mata tajam tanpa senyum.
"Aku sengaja, buat itu sebagai walpaper. Biar kamu tidak takut lagi lihat saya. Atau sebaliknya? hahahaha.." Ardhi tertawa lebar. Melati dibuat terperangah melihat tingkah mantan majikannya itu.
"Kalau kamu tidak suka, hapus saja. Kamu juga boleh membuat kunci ponsel itu." Ardhi memilih menjauh dari Melati. Dia capek juga bicara sendiri. Dari tadi Melati yang diajak bicara tidak pernah terdengar sepatah katapun keluar dari mulutnya. Melati membisu, dalam ketercengangannya.
Melati memperhatikan Ardhi yang mengobok-obok kresek warna putih berukuran besar di atas nakas yang tak jauh dari bed nya. Ardhi nampak mengeluarkan satu plastik yang berisi makanan. Melati tidak tahu jenis makanannya.
Kemudian pria itu beralih meraih kresek plastik yang juga ada di nakas itu. Ardhi mengeluarkan isinya. Kemudian melirik Melati. Saat Ardhi melirik Melati. Wanita itu buru-buru memalingkan wajahnya.
"Lapar, aku lapar banget. Kamu mau makan juga?" Melati akhirnya menoleh ke arah Ardhi yang menawarkannya untuk makan.
Melati menggeleng, dia memang lapar. Tapi, dia tidak selera untuk makan. Tadi saja, dia memaksakan dirinya untuk makan malam, tapi hanya lima suap, mulutnya sudah menolak.
__ADS_1
"Baiklah, aku makan dulu. Kalau kamu mau tidur, tidur saja. Aku tidak akan ajak kamu ngobrol lagi." Melati langsung membaringkan tubuhnya dengan telentang. Menatap langit kamar dengan nanar. Dia meratapi nasibnya yang harus berpisah dengan Ilham.
Ardhi membuka bungkus makanannya. Aroma gurih, wangi menggiurkan langsung terhirup oleh indera penciumannya Melati. Seketika kelenjar ludahnya langsung diproduksi. Wanita itu jadi berselera untuk maka makan. Melati berulang kali menelan ludah. Karena, air liurnya yang terproduksi banyak itu. Dia jadi lapar dan sangat ingin makan.
Melati memutar lehernya. Menoleh ke arah Ardhi yang nampak melahap makanannya. Ternyata pria itu sedang makan Mie Aceh.
Lagi-lagi Melati harus menelan ludahnya, saat melihat Ardhi memasukkan mie Aceh ke mulutnya dengan sendok. Mulut pria itu kelihatan seperti menahan panas dari mie itu. Mungkin mienya masih hangat.
Melati kembali menelan ludahnya, saat melihat makanan itu melewati kerongkongan pria itu. Dari aromanya saja, pasti mie Aceh yang di makan Ardhi saat ini, sangat lah lezat. Apalagi acarnya begitu segar dan gurih.
"Mau..?"
"Tidak, Ti--dak!" ucap nya cepat dan kembali memutar lehernya menghadap langit-langit kamar. Melati tidak menyangka, Ardhi memergokinya.
Melati menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan. Dia merasa jantungnya berdebar kencang. Sejak kejadian malam itu. Ardhi begitu menakutkan buatnya.
"Kamu lapar juga ya? aku akan buatkan makanan untukmu." Ardhi menutup makanannya. Pria itu pun meneguk air mineral botol yang ada di hadapannya. Bangkit dari duduknya dan akan membuatkan makanan untuk Melati.
Ardhi mengambil wadah makanan, yang ada di dalam nakas. Menuangkan oatmeal ke wadah itu, kemudian menyeduhnya dengan air hangat yang diambilnya dari dispenser. Pria itu menambahkan susu cair dan mengaduknya rata sampai oatmeal empuk. Setelah itu, pria itu memotong-motong buah pisang di atasnya.
Melati menatap tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Ardhi. Mantan majikan nya itu membuatkannya makanan. Biasanya juga dia yang selalu menyiapkan makanan untuk pria itu.
Tampaknya mantan majikannya itu tadi berbelanja. Buktinya saat ini sangat banyak sekali makanan di atas kulkas. Makanan yang dibawa Ardhi belum disimpan di kulkas.
"Selesai, ini pasti enak. Ini sangat bagus untuk pencernaanmu." Ardhi menyodorkan makanan itu dengan tersenyum tipis. Melati yang canggung, masih menampilkan ekspresi wajah yang datar. Kini wanita itu sudah dalam keadaan duduk.
"Te--rimakasih tuan." Ucapnya gugup, meraih wadah berisi oatmeal itu dengan tangan gemetar. Melati ketakutan bercampur nervous.
__ADS_1
Melati meletakkan makanan itu di sebelahnya. Menatapnya dengan tidak berselera. Dia ingin makan, mie Aceh miliknya Ardhi. Tapi, tidak mungkin dia meminta makanan itu. Dia tidak berani meminta mie Aceh itu. Mana mungkin Ardhi sang majikan mau berbagi makanan dengannya.
TBC.