DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Tugas baru


__ADS_3

"Mel, mulai hari ini ada perubahan tugas untukmu." Ucapan Bi Kokom membuat Melati terkejut.


"Iya Bi, perubahan apa Bi?" jawabnya sendu dengan penasarannya. Membantu Bi Kom merajang bawang.


"Tugasmu sekarang,



Memasak makanan untuk tuan Ardhi.


Membersihkan kamar tuan, disaat tuan Ardhi sedang tidak berada di kamar itu. Intinya kalau tuan Ardi masih ada di dalam kamar. Kamu dilarang masuk.


3.Membantu Yanti di ruang Loundry. Setelah itu, tugas tambahannya menata taman belakang rumah." Ucap Bi Kokom tegas. Melati hanya mengangguk, sebagai pertanda dia mengerti akan revisi tugasnya tersebut. Dia tidak perlu menanyakan alasan perubahan itu. Diterima kerja di rumah ini saja sudah sebuah anugerah besar untuknya.



"Jadi setelah kamu masak sarapan tuan. Kamu ke ruang laundry atau ke taman belakang. Melihat pekerjaan yang bisa kamu kerjakan."


"Iya Bi Kom, saya mengerti." Melati yang sudah selesai memasak itu pun menata makanan Ardhi di meja makan. Kemudian dia beranjak ke belakang, ke ruang laundry, memeriksa kain yang hendak di cuci dan di setrika.


"Sudah mau selesai koq Mel. Aku sendiri saja mengerjakannya." Yanti yang bertanggung jawab di ruang loundry, menolak tawaran Melati untuk membantu.


"Gak apa-apa Yan, biar cepat selesainya. Waktuku masih banyak. Masuk siang kami hari ini." Melati pun mulai menyetrika pakaian yang ada di tumpukan Ember.


"Aku tu sebenarnya lebih suka mencuci daripada menyetrika. Apalagi kalau mencucinya di sungai, dengan air yang mengalir." Ucap Melati tersenyum, teringat kebiasaan di desa yang setiap paginya dia mencuci ke sungai.


"Kalau aku gak suka kedua-duanya." Jawab Yanti, tertawa lepas. Dia senang ada tenaga tambahan.


"Aaahh kalau itu sih namanya malas." Cebik Melati.


"Mel, hati-hati nyetrika gaun itu. Gaun itu milik Nona Anggun." Yanti mengingatkan Melati. Melati memperhatikan detail gaun itu.


"Gaunnnya bagus banget ya? mahal pastinya


" Melati menyetrika gaun itu dengan hati-hati

__ADS_1


"Iya, itu cucian semalam. Nona anggun menginap saat Nyonya pulang ke rumah." Jelas Yanti. Melati hanya mengangguk lemah.


"Dengar-dengar tuan Ardhi akan menikah dengan Nona Anggun." Yanti mulai menggosip. Maklum lah kalau dua wanita sudah bertemu, ya ujung-ujung membahas orang lain.


"Tapi, sepertinya tuan Ardhi belum mau menikah." Jelas Yanti lagi.


"Ooohh...!" Jawab Melati, kurang tertarik dengan topik pembahasan. Mau bos nya itu menikah atau tida, itu bukan urusannya. Yang penting pekerjaannya tuntas. Gaji lancar tiap bulan.


"Koq jawabnya oh saja sih? gak asyik kamu Mel, diajak cerita." Keluh Yanti, berdecak kesal pada Melati. Padahal Yanti sudah senang, ada tambahan teman untuk menggosip. Tapi, Melati seperti nya tidak ingin membicarakan orang lain.


"Gak baik menggibah. Aku sudah selesai nyetrika. Aku ke taman belakang dulu ya Yan. Semangat mencucinya. Kalau pengeringnya gluduk-gluduk, kamu jangan emosi ya?!" Melati tertawa lepas keluar dari ruangan itu. meninggalkan Yanti, yang sibuk mengatur pengering mesin cuci, agar berjalan baik.


"Besok aku minta dibeliin mesin cuci otomatis yang satu tabung saja deh." Yanti berucap kesal, sambil menyelesaikan tugasnya.


***


Masih pagi sekali, sinar matahari pun belum keluar dan udara masih terasa dingin. Melati akhirnya pergi ke taman belakang. Ingin memeriksa taman itu , terurus apa gak?


Dia sama sekali tidak keberatan dengan tugas yang diberikan padanya. Padahal setahu dia ada petugas taman juga. Bermain-main tanah dan lumpur sudah hal biasa buat Melati. Sedari kecil, dia sudah ikut ke sawah dan ke ladang bersama Mamanya. Tangan dia juga dingin. Apa yang di tamannya akan tumbuh subur.


Saat sampai di taman itu, kedua bola mata Melati membulat, melihat sosok Ardhi yang berolahraga di taman itu. Dia jadi merasa tidak nyaman, apabila berada di taman itu bersama Ardhi sang majikannya itu.


Dia tahu diri, dia tidak mau salah tanggap. Atas kebaikan Ardhi. Karena Melati merasa. Ardhi tulus membantunya.


Melati mengambil alat-alat untuk membersihkan taman itu dari gudang belakang. Mulai memotong rumput yang sudah tumbuh tinggi. Dia bekerja tanpa mau menoleh ke arah Ardhi yang sedang lari pagi dan restok itu.


Ardhi juga mengetahui keberadaan pembantu nya itu. Tapi hadirnya Melati di taman itu, tidak mengusik keseriusannya dalam berolah raga. Buat Ardhi olah raga, benar-benar menyehatkan tubuhnya.


"Melati, kamu kenapa di sini?" suara Nyonya besar yang penuh penekanan, membuat Melati terlonjak kaget. Wanita itu menoleh dan menghentikan kegiatan merapikan tanaman. Kini dia ketakutan.


"Nyonya, saya sedang membersihkan dan merapikan taman." Ucapnya sopan, menundukkan kepalanya, dengan jantung yang berdegup kencang.


Ardhi yang mengetahui kedatangan ibunya itu, langsung menghampirinya.


"Ada apa ini Ma?" melihat ibunya yang menatap tajam ke arah Melati.

__ADS_1


"Kenapa dia selalu menguntitmu?" Ardhi menggeleng, merasa kecewa dengan cara ibunya itu bicara.


"Siapa yang menguntit Ma."


"Ya wanita itu, entah kenapa kamu masih mempekerjakannya." Ibunya Ardhi, masih menatap tajam ke arah Melati. Mari masih berdiri mematung dan menunduk.


"Sudahlah Ma, kita masuk saja." Ardhi akhirnya mengambil alih kursi roda dari sang perawat. Mendorong ibunya itu pergi dari taman.


"Semalam ini sudah kita bahas. Mama tidak suka dengannya. Dia itu ada gelagat mau godain kamu." Ardhi menghentikan kursi roda yang didorongnya. Merasa kesal dengan pikiran negatif ibunya itu.


"Berapa kali Ardhi bilang Ma. Melati itu gadis baik. Dan Ardhi tidak ada rasa padanya. Kenapa Mama sekhawatir itu.


"Khawatir lah, lihat itu wajahnya mirip dengan mantan kekasihmu orang Batak itu. Dia juga kan Batak."


"Ma, ini terakhir kali Ardhi dengar. Mama membahas masalah ini." Memotong cepat ucapan Mamanya. Kalau Mamanya mengaitkannya dengan Embun. Ardhi pasti kesal. Rasa sakit belum sembuh total, jangan disenggol dulu.


"Kamu ini, Mama hanya mengingatkan saja." Jawab Ibunya Ardhi.


"Ardhi sudah dewasa Ma. Ardhi mohon, untuk masalah jodoh Jangan dibahas dulu. Ardhi ingin fokus dengan perusahaan yang baru dibuka di Singapura."


"Janjimu tepati, setelah tiga bulan kamu harus menikah dengan Anggun." Ucap Mamanya tegasnya.


"Iya." Jawab Ardhi pendek.


"Ayo dorong Mama lagi. Mama mau sarapan di bawah. Bosan di kamar terus." Ardhi pun mendorong Ibunya itu masuk ke ruang makan.


"Ardhi mau mandi dulu Ma. Mama makan saja duluan." Ardhi mengelus lembut lengan ibunya itu. Dia pun berjalan cepat ke kamarnya. Dia tidak mau membuat Ibunya itu menunggu lama. Bisa-bisa ibunya itu jadi badmood lagi.


"BI kom, sudah kau jelaskan tugas barunya Melati?" menatap tajam Bi kokom.


"Sudah nyonya." Menjawab dengan penuh hormat, dengan menundukkan kepalanya.


"Bagus, awasi dia. Jangan bolehkan dia masuk ke kamar Ardhi, kalau Ardhi masih di kamarnya."


"Nyonya, apa kita ganti saja pelayan yang bertugas membersihkan kamarnya tuan Ardhi." Tanya Bi kokom ragu, takut usulnya salah lagi.

__ADS_1


"Gak usah." Jawab ibunya Ardhi tegas. Wanita itupun menghela napas dalam.


TBC.


__ADS_2