DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Katakan cinta


__ADS_3

Daun-daun gugur menderai. Menutupi bangku yang ada di sisi utara sebuah taman yang berjarak tak jauh dari sebuah jalan. Jalan itu tak pernah lepas dari pandangan Melati saat ini. Dia sedang duduk termenung di kursi malas yang ada di kamar nya Ardhi, menatap keluar dari jendela kaca. Memandangi taman dekat kantor nya Ardhi. Taman yang jadi saksi bisu perjumpaan dua insan yang saling menyukai.


Melati tersenyum manis, mengingat moment indah dan mendebarkan itu. Moment yang tidak akan pernah dilupakannya seumur hidupnya. Ya, tiga jam yang lalu. Ilham Anshori Harahap, akhirnya memberanikan diri mengutarakan isi hatinya kepada Melati.


Pria itu menelponnya saat makan siang, menanyakan keberadaannya dan ingin bertemu.


Melati yang juga ingin berjumpa dengan pria itu. Ingin menceritakan rasa syukurnya karena dapat pekerjaan tambahan dengan gaji yang lumayan besar. Akhirnya menyetujui keinginan Ilham untuk datang ke kantornya bekerja, yaitu di kantor nya Ardhi.


flashback on


"Kak Desi, aku boleh turun ke bawah sebentar?" Melati memberi senyum manis kepada Desi, agar keinginannya dikabulkan.


"Mau ke mana kamu? mau beli makan siang?" Desi kini menyodorkan satu kotak nasi kepada Melati.


"Bos sudah membelikan kita makan siang. Karena banyak kerjaan, ya kita makan sambil bekerja. Tapi, kalau kamu mau sholat dulu ya boleh saja. Ini terimalah!" Desi kembali menyodorkan nasi kotak itu. Dengan tersenyum manis, Melati meraih kotak nasi itu.


"Terimakasih kak." kini senyum Melati semakin lebar saja, sehingga deretan gigi putih bersih itu jelas terlihat.


"Kak, sebenarnya temanku datang ke kantor ini, dan dia sedang menungguku di bawah. Kak, bolehkah aku turun untuk menemuinya


Sebentar saja. Sebelum habis waktu istirahat aku akan kembali." Raut wajah Melati sangat memelas. Desi pun memberikan izin. Lagian kan sekarang masih waktu istirahat.


"Boleh, ini kan waktu istirahat Mel." Desi sudah mulai menyantap makan siangnya. Menunya ayam penyet.


"Iya Kak, Terimakasih banyak." Melati meletakkan makanannya di atas mejanya


Kemudian berjalan cepat ke arah lift. Dia harus cepat turun ke lantai bawah. Karena Ilham sudah menunggunya.

__ADS_1


"Abang!" Melati sudah berdiri di hadapan Ilham. Dengan perasaan canggung dan jantung yang berdebar-debar. Sedangkan Ilham juga meras salah tingkah di hadapan Melati. Dia bengong, bingung harus apa. Haruskah beranjak dari duduknya atau meminta Melati agar duduk di sebelahnya. Kini mereka sedang berada di lobby.


"Ada hal apa, sehingga Abang menyusul ku ke sini?" Ilham yang gak kunjung bicara itu, membuat Melati, berinisiatif menanyakan terlebih dahulu. Apa tujuan pria itu sampai menyamperinnya ke kantor.


Ilham yang grogi itu, akhirnya memutuskan untuk berdiri. "Ada hal penting yang ingin Abang sampai kan. Tapi, tidak di sini tempatnya." Senyum manisnya Ilham, semakin membuat pria itu semakin tampan saja di penglihatan Melati, yang sedang mencuri-curi pandang itu.


Akhirnya mereka memilih pergi ke taman yang ada di dekat kantor nya Ardhi dan taman itu juga dekat ke Kampusnya Melati. Karena kantor Ardhi dan Melati berdekatan.


Keduanya duduk di bangku besi yang memang ada di taman itu. Keduanya duduk dengan memberi jarak setengah meter.


"Apa Adek sudah sembuh?" Ilham yang grogi tidak berani manatap mata indahnya Melati.


"Sudah Bang!" jawab wanita itu lembut. Dia juga gak kalah groginya sekarang.


"Abang khawatir sekali kepada Adek. Baru juga sehat, sudah kerja. Emang adek disini kerja di bagian apa?" Ilham akhirnya menoleh ke arah Melati yang tersipu malu itu.


"Oohh!" Ilham tidak mau membahas pekerjaan Melati lebih detail lagi. Dia takut melati tersinggung.


"Gajinya besar Bang!" Melati sangat semangat, menceritakan gajinya yang bear itu.


"Dek, Abang suka padamu!" Jantung Ilham rasanya mau copot saat ini.


Kenapa mulutnya itu tidak pandai basa-basi mengatakan nya. Ini langsung main tembak dua belas pas.


Dug dag dag dug dag......


Tentu saja Melati yang lebih terkejut mendengar nya. Jantung nya sudah lompat-lompat di rongga dadanya saat ini, saking bahagianya, mendapat ungkapan cinta dari pria yang juga dicintainya.

__ADS_1


"Abang tahu, sikap Abang ini, membuat adek ilfil. iya kan?" Raut wajah frustasi kini terlihat di wajahnya Ilham. Dia menarik kesimpulan sendiri, bahwa Melati tidak tertarik kepada nya.


"Tiidak, bukan begitu bang. Beri Adek waktu untuk memikirkan nya." Ujar Melati merasa enggan. Dia juga tidak mau dicap wanita gampangan. Sekali tembak jadi diterima. Ya jadinya kurang menantang.


"Satu hari." Kedua bola mata Melati membulat, saat Ilham hanya memberikan dia waktu untuk berpikir hanya satu hari.


"Satu hari, cepat kali itu bang?" Ujar Melati. Dia tidak mau mengambil keputusan yang gegabah. Dia harus memikirkannya matang-matang.


"Iya harus cepat Dek. Takut diambil orang duluan. " Ilham tertawa kecut saat mengatakan itu. Dia malu dengan dirinya yang nampak getol saat menembak Melati.


"Besok pagi, adek kirim jawabannya melalui chat ya bang!" Melati yang pemalu itu, malah berlari, meninggalkan Ilham yang masih diam mematung. Pria itu menatap lekat Melati yang melarikan diri, masuk ke dalam gedung perkantoran itu.


Flashback off


Sudah sore, para karyawan sudah pulang meninggalkan kantor. Bahkan Kak Desi juga sudah pulang.


Melati yang patuh dengan ucapan dan perintah Ardhi, memilih tetap di ruang kantor itu. Menunggu pria itu datang lagi ke kantor. Dan mereka akan kembali pulang bersama-sama seperti pesan Ardhi tadi siang.


Tapi, lihatlah sudah pukul lima sore. Tanda-tanda pria itu akan datang, belum ada . Melati jadi semakin panik dan serba salah. Tidak mungkin dia pulang sendiri. Dia takut dimarahi majikannya itu. Tapi, mau sampai kapan dia di sini?


Sedari tadi angin berhembus ganas. Daun-daun yang tadinya masih bertengger di ujung ranting, akhirnya terlepas juga. Bunga-bunga yang ada di balkon ruang kerjanya Ardhi sudah diterpa angin. Dauni bergoyang kesana-kemari, mengikuti arah angin.


Di sisi langit barat, banyak awan yang menggantung berkerumun. Abu-abu warnanya. Matahari yang tadi seakan menyeringai panas, kini tertutup awan yang mungkin saja membawa kabar akan datangnya badai malam ini. Angin bertambah kencang. Air-air mulai turun perlahan. Saluran irigasi kembali pada pekerjaan semula.


Melati akhirnya menutup jendela kamar itu. Memilih duduk merenung, teringat kejadian tadi siang. Saat Ilham menembaknya. Dia tidak menyangka Ilham mengatakan cinta itu dengan cara yang simple, diluar perkiraannya.


Dia sudah punya jawaban atas pernyataan cinta itu. Karena, dia juga mencintai pria itu. Akankah Ilham akan mengajaknya segera menikah. Apakah dia akan menikah secepatnya?

__ADS_1


Membayangkan dirinya menikah dengan Ilham, membuat wajahnya merah merona. Hatinya bahagia, sungguh bahagia.


__ADS_2