
Tara dan Embun beserta orang tuanya sudah sampai di rumah Ompung mereka. Ternyata keluarga besar sudah pada kumpul semua.
Mereka sampai di rumah Ompungnya sudah menjelang Magrib. Keterlambatan kedatangan mereka ke rumah godang itu. Disebabkan oleh Embun dan Tara yang tak kunjung keluar dari kamar mereka. Iyalah, sore hari itu mereka tetap melanjutkan dua ronde. Walau di awal ada gangguan.
Setelah sholat magrib berjamaah. Acara makan bersamapun berlanjut. Tentu saja dalam kebersamaan keluarga besar itu. Tara dan Embunlah yang jadi pusat perhatian, jadi artis mereka sekarang. Semua mata selalu tertuju pada mereka. Ditambah perubahan yang ada pada Embun, membuat yang lainnya pada kepo.
Acara makan malam pun selesai dengan penuh kebahagiaan. Embun merasa bahagia sekali, begitu juga dengan Tara. Sudah lama mereka tidak pernah kumpul seperti ini. Apalagi Embun, yang selalu menolak datang ke rumah Ompungnya dulu, apabila dia tahu, Tara sedang berkunjung ke rumah Ompung mereka itu.
Setelah acara makan, maka para kaum Adam. Akan membentuk kelompoknya. Membahas pekerjaan dan game yang lagi ngetren saat ini. Tara juga tahu game itu. Tapi, dia tidak pernah mau memainkannya. Itu sama saja buang waktu.
Sedangkan Embun sedang kumpul dengan kaum hawa. Apalagi yang dibahas mereka selain menggoda Embun.
"Sudah berisi Embun?" tanya Bounya Embun. Adik ayahnya yang tinggal di kampung itu. Ya adiknya Pak Baginda banyak. Bukan Mama Mira saja, ibunya Tara.
Embun yang sedang sibuk balasan chat dengan Tara pun menoleh ke arah Bounya itu
Dia tersenyum getir. Kalau ditanyain mengenai anak. Maka suasana hatinya akan jadi buruk. Dia merasa belum siap untuk mempunyai keturunan.
Tara sudah membelikan ponsel untuk Embun. Dia memberikannya. Setelah selesai acara bercocok tanam sore tadi. Pak Budilah yang ditugaskan Tara untuk membeli ponselnya Embun
"Belum Bou." Jawabnya dengan tersenyum, berusaha menutupi kegundahan di hatinya. Tidak mungkin dia mengatakan takut punya anak dengan Tara. Bisa kena marahi dia.
"Oohh biasa itu, kalian baru dua bulan menikah." Kali ini Ujingnya Embun yang bicara. (Ujing/ tutur yang sama artinya dengan Tante/ adik perempuan ibunya Embun).
Sementara di taman depan rumah, sang bapak-bapak sedang sibuk dengan ponsel masing-masing. Ternyata setelah bosan membahas pekerjaan dan kegiatan sehari-hari. Kini mereka sedang bermain game.
Ada dua kelompok kaum adam. Satu kelompok yang sudah tergolong tua. Satu kelompok lagi kaum bapak muda, beserta kaum lajang. .
__ADS_1
"Tara, bagi chip sodakohnya dong?" ujar sepupu Tara lainnya.
"Gak punya chip sodakoh." Jawab Tara tersenyum. Menunggu balasan chat dari Embun yang tak kunjung datang. Sudah sepuluh menit dia menunggu balasan chat itu.
Tara sebenarnya malas untuk kumpul-kumpul dengan sesama kaum Adam ini. Saat ini dia hanya ingin berdua terus dengan Embun. Setiap detik, dia selalu memikirkan istrinya itu. Embun seperti punya magnet saja, yang selalu menariknya untuk mendekat.
"Kalau begitu, beli chipmu." Ujar sepupunya itu lagi. Masih serius menatap layar ponselnya
"Aku gak main begituan Ucup." Jawabnya dengan seloroh.
"Ya, kirain kamu asyik megang Hape karena main game?"
"Dia main hape sibuk kerja, cari uang. Bukan kek kamu Ucup. Main hape habiskan uang. Anehnya kalau kalah, hapenya dibanting." Ucap Abang iparnya Tara, sambil tertawa sinis. Sendal swallow melayang ke arah abangnya Embun.
Tara pun hanya tersenyum menanggapi perkelahian kedua pria itu. Dia lebih baik pergi mencari Embun, dari tadi chatnya gak dibalas-balas.
"Sudah pulang? cepat banget. Mana roti bakar Bandungnya?" tagi Ujingnya Embun. Tara dibuat bingung dengan ucapan Nantulangnya itu. Jadi kalau Embun bertutur sapa Ujing kepada Adiknya Mama Nur. Maka tutur sapa Tara juga Nantulang.
Kapan dia bilang mau bawa roti bakar. Kalau memang itu maunya wanita-wanita cantik dihadapannya, maka dia akan memborong semua roti bakar di kota itu.
"Mana Embun?" tanya Mama Nur lagi. Clingak-celinguk mencari Embun di belakangnya Tara. Pria itu semakin bingung. Dia kan tidak bersama Embun dari tadi. Bahkann chatnya tidak kunjung dibalas istrinya itu.
Tara bingung, berarti Embun tidak ada di rumah ini. Dia harus memastikannya.
"Aku kesini justru cari Embun Nantulang." Jawab Tara dengan bingungnya.
"Bukannya dia sama kamu Bere? tadi Embun pamit, mau ajak kamu beli makanan." Kali ini Mama Nur jadi ikutan panik. Kemana putrinya itu?
__ADS_1
"Eda, palingan dia ke kamarnya. Alasannya aja dia itu mau ajak Tara beli makanan. Aku sih yakin, Embun sengaja pamit, dengan alasan mau beliin makanan. Agar dia tidak kena godain kita." Jawab Adik iparnya Mama Nur.
Tara semakin tidak tenang. Dia pun pamit, mau cari Embun. Dengan tergesa-gesa. Dia masuk ke kamar mereka. Tapi, Embun tidak ada di kamar itu. Dia mencari kesemua sudut ruangan. Tetap dia tidak melihat Embun. Bahkan dia mencari Embun ke kamar Ompungnya. Lagi-lagi istrinya itu tidak ada disitu.
Apa benar-benar Embun keluar rumah sendirian? kenapa tidak mengajaknya.
Dengan langkah tergesa-gesa Tara pun keluar dari rumah itu. Kalau Embun keluar, tentu dia melihatnya. Dari tadikan dia berada di taman depan. Apa Embun pergi dari gerbang samping? Tara semakin tidak tenang. Pergi kemana istrinya itu.
"Mau ke mana kamu Tara?" tanya Pak Baginda, dengan intonasi kuat, agar Tara mendengarnya. Kini Tara sudah masuk ke dalam mobilnya.
"Keluar sebentar Tulang. Mau beli bandrek." Jawabnya mencari alasan yang tepat. Tidak mungkin kan dia mengatakan mau cari Embun. Bisa heran semua heran.
"Oohh bagus itu, sama Tulang yang pakai telor nanti ya. TST." Ujar Pak Baginda tersenyum. Ini enaknya punya mantu, apalagi mantunya kaya. Ya, minta dibelikam bandrek ya gak masalah kali.
"Ok Tulang." Jawab Tara, memberi kode dengam tangannya. Tara pun mulai menyusuri setiap jalan. Begitu banyaknya manusia di rumah itu, kenapa satupun tidak ada yang melihat Embun keluar dari rumah itu. Kan aneh.
Sudah sepuluh menit Tara berputar-putar di kompek itu. Memperhatikan setiap pedagang yang ada dipinggir jalan. Siapa tahu Embun membeli di pedagang kaki lima itu.
Tara menepi, matanya fokus melihat sekeliling. Tapi tetap, dia tidak melihat keberadaan Embun di mana pun. Akhirnya pria itu menelpon istrinya itu. Hingga panggilan ke sepuluh kali. Tetap tidak diangkat.
Tara kesal bukan main, kenapa istrinya itu tidak mengangkat teleponnya. Dia pun melempar ponselnya ke dashboard mobil. Membuka kaca mobilnya dengan lebar. Guna menghirup udara malam. Dia sudah mulai gelisah, kepikiran istrinya itu. Mata elangnya kini memperhatikan sekeliling, berharap menemukan Embun di tempat itu.
Tara jadi tidak tenang. Kalau Embun mau pergi jalan-jalan. Kenapa tidak mengajaknya. Dia juga tadinya, ingin mengajak Embun nongkrong di halaman bolak. Tapi, melihat Embun asyik mengobrol di ruang keluarga. Dia pun urung mengajak istrinya itu.
Saat pikirannya menyayangkan sikap istrinya malam ini. Dia pun akhirnya melihat Embun, keluar dari Apotik, yang berada tepat di hadapannya.
TBC
__ADS_1
Tinggalkan jejak ya say. Jangan lupa vote nya ðŸ¤