DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Selamat


__ADS_3

"Sebaiknya kita bunuh saja keduanya Bos. Ayo Bos, jangan banyak gaya, seperti di sinetron-sinetron. Langsung saja kita ekskusi." Ucap anak buah sang penjahat geram, dia kesal dengan bosnya yang banyak gaya. Ya kalau mau di bunuh, bunuh saja. Gak usah banyak cerita.


Bos penjahat itu pun mulai mengarahkan pisaunya untuk menikam Tara, dengan serangan bertubi-tubi tentu saja anak buahnya ikut membantu Bosnya. Sehingga perkelahian dua banding satu.


Walau sedikit kesusahan melawan serangan penjahat, karena Embun yang memeluk Tara dari belakang, Tara masih bisa memberi perlawanan. Setidaknya menghindar dari setiap serangan penjahat. Dengan menahan sakit di tangan kanannya yang kena sabetan pisau.


Sedangkan Embun yang bersembunyi dibalik tubuh kekar suaminya. Merasa sangat takut dan sedih. Air mata bercucuran sudah saat ini. Dia tidak sanggup melihat pisau yang selalu ingin menyerang suaminya itu. Apalagi tangan Tara yang sempat kena sabetan pisau, darahnya masih terus saja mengalir deras.


Embun merasa kurang tepat, bersembunyi dibalik tubuh suaminya itu. Dia harus ikut ambil bagian dari perkelahian ini. Dia pun melepas kedua tangannya dari pinggang Tara, dan mulai mengambil ancang-ancang untuk melawan penjahat yang selalu ingin menangkapnya.


"Dek, tetap dibelakang Abang." Titah Tara tegas, menarik lagi Embun agar berada di belakang tubuhnya. Tapi, usahanya sia-sia. Embun terlanjur ditangkap penjahat.


"To--long--- Tolong----!" Embun berteriak histeris, meronta dalam sergapan penjahat. Dia berhasil ditarik penjahat itu, digerek paksa menuju mobil penjahat.


Tara saat ini masih adu otot dengan bos penjahat. Tara hampir tertusuk, karena konsentrasinya terpecah, melihat Embun yang digerek ke mobil oleh penjahat.


Duar----duar----duar...


Suara tembakan terdengar di udara. Tenyata pihak kepolisian sudah datang ke tempat kejadian. Ternyata usaha pak supir, melapor ke pihak berwajib melalui layanan darurat berhasil juga.


Merasa aksinya gagal dan tidak ingin masuk penjara. Keempat penjahat pun berusaha melarikan diri, lari tunggang langgang, ke jurang. Tapi polisi tidak tinggal diam, tetap melakukan pengejaran. Embun berontak dalam rengkuhan penjahat. Merasa akan tertangkap, penkai melepaskan Embun.


Tara langsung menyamperin Embun, begitu juga dengan Embun. Pasangan suami istri itu, sama-sama berlari dan langsung berpelukan setelah keduanya berdekatan. Adegan yang dilakoni mereka, terlihat sangat romantis.


Apalagi Tara memeluk Embun dengan posesifnya. Sembari mengeluarkan kata-kata lembut untuk menenangkan istrinya itu.


"Adek sudah selamat, sudah jangan menangis ya sayang!" Tara melap air mata Embun, darah terlihat jelas mengalir di tangannya. Tapi, pria itu tidak memperdulikan keadaannya sekarang. Yang terpenting adalah keselamatan Istrinya saat ini.


Tara rela menderita, asalkan Embun bahagia. Begitu besar dan tulus cintanya pada istrinya itu. Sehingga istrinya itu, tidak percaya dengan ketulusan dan keikhlasan suaminya itu. Terlalu tidak masuk akal, bahkan suaminya itu rela memberikan istri sendiri pada pria lain. Tapi, ngakunya cinta.


Embun hanya bisa melongok sambil sesekali sesenggukan mendapat perhatian dan perlakuan istimewa dari suaminya itu.


"Sudah, jangan menangis lagi dek." Tara kembali memeluk Embun dengan eratnya. Menghadiahi kecupan-kecupan expres di puncak kepalanya Embun. Tara sangat legah, Istrinya itu tidak terluka.


Wanita itu bukannya diam, dia malah mengencangkan tangisan. Karena merasa terharu, dengan ucapan dan cara Tara memperlakukannya.


Harusnya suaminya itu menahannya, agar tidak kembali pada kekasihnya. Tapi, lihatlah. Pria itu malah mengantarkannya langsung pada Ardhi. Mengingat perjanjian itu dan semua kelakuan jahatnya pada Tara, membuat Embun kembali menangis.


"Sudah sayang!" Tara mengurai pelukannya. Embun menatap lekat suaminya itu. Tara tersenyum, kembali memeluk Embun. Kemudian mencium keningnya lembut.


"Darah di tangan Abang masih bercucuran." Embun mengurai dekapan suaminya itu dan langsung memeriksa tangan Tara yang masih mengeluarkan darah itu.


"Sebentar," Embun berlari ke tepi jalan, mencari daun bandotan di semak-semak. Seketika bibir Embun melengkung, ketika melihat tumbuhan semak yang diinginkannya ada di depan matanya. Dia mengambil daun bandotan itu, dan *******-*****. Berlari ke arah Tara yang kini sudah berbincang dengan pihak kepolisian.


Embun langsung meriah tangan Tara yang kena sabetan pisau, menempelkan daun bandotan yang diremas-remasnya ke tangan Tara.


Tara meringis kesakitan, karena daun yang kini lembab karena diremas-remas Embun, terasa perih di tangannya.

__ADS_1


"Pak, kami pamit duluan. Suamiku harus ditangani dengan cepat. Aku takut, lukanya kena bakteri atau kuman, atau apalah itu." Ucap Embun panik, memperhatikan luka Tara yang ternyata sobekannya lumayan dalam.


"Iya Bu, Bapak harus cepat dibawa ke rumah sakit. Ibu tenang, Bapak akan baik-baik saja." Hibur pak polisi dengan mengulas senyum manis. Dia terharu, melihat Embun yang begitu mengkhawatirkan suaminya itu.


Keempat penjahat pun masuk ke mobil tahanan. Tara dan Embun serta supirnya, tetap berada di mobil mereka. Dan kini bergerak menuju rumah sakit.


"Bang, masih sakit?" tanya Embun penuh kekhawatiran. Tara senang, melihat Embun begitu menghawatirkannya. Dia jadi yakin, kalau istrinya itu, ada rasa padanya.


"Gak sayang, Abang baik-baik saja." Ujar Tara lembut. Ucapan suaminya itu membuat Embun terenyuh. Sudah dalam keadaan memprihatinkan, suaminya itu masih tetap aja tenang dan sabar.


"Iya, syukurlah." Ucap Embun menunduk, tidak berani menatap mata Tara. Embun malu, dia jadi merasa canggung, grogi bergabung jadi satu. Ucapan lembut suaminya itu, membuatnya baper. Sehingga dia hanya melap luka Tara yang masih mengeluarkan darah itu.


Sesampainya di rumah sakit, Tara langsung ditangani cepat oleh pihak medis. Luka pria itu di sterilkan, kemudian dijahit. Karena sobekannya cukup dalam. Kalau tidak dijahit, maka akan lama sembuhnya.


"Dok, berikan obat paling bagus." Pinta Embun, saat Dokter selesai menangani Tara.


"Iya Bu, tenang saja. Intinya luka bapak ini, jangan kena air dulu. Dan perbannya diganti satu kali sehari ya Bu." Ucap Dokter berjenis kelamin wanita itu, kemudian memberikan resep obat pada Embun.


"Iya Dok." Jawab Embun sopan.


"Bapak tidak perlu dirawat dan sudah boleh pulang." Ujar Dokter tersenyum.


"Iya Dok." Jawab Embun pendek.


Mereka pun keluar dari rumah sakit. Supir mengantar mereka ke Hotel, dan waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


"Abang mau apa?" Embun mendekati Tara yang kini berusaha membuka kopernya dengan satu tangan. Entahlah, setelah diobati, Tara merasa tangannya jadi sakit. Padahal tadi saat berkelahi, dia sama sekali tidak merasakan sakit.


"Abang mau mandi, gerah, keringat Abang sudah kering di badan." Jawab Tara tersenyum.


"Oohh iya, biar aku bantu." Embun pun mengambil alih koper. Kini baju ganti Tara sudah ada di tangannya.


Tapi, kedua matanya sedang mencari keberadaan kopernya.


"Bang, koperku mana? kenapa hanya koper Abang yang disini?" tanya Embun bingung, karena tidak melihat keberadaan kopernya di kamar itu.


Tara pun ikut menyoroti seluruh ruang kamar itu. Ya, koper Embun tidak ada.


Wanita itu pun menangis, bagaimana dia akan berganti pakaian.


"Jangan panik, sshhhhttt.... jangan menangis dek. Sebentar kita telpon Pak Budi dulu." Tara pun mengambil ponselnya, dan mulai menelpon Supirnya.


"Apa? Bapak tidak jadi membawa koper istri saya ke kamar?" ucapan Tara membuat Embun semakin tidak tenang.


"Ohh... iya, baiklah kalau begitu. Ku serahkan semua urusan pada Bapak." Tara pun mematikan ponselnya dengan lemas.


"Tadi Pak Budi tidak langsung membawa koper sekaligus ke kamar. Dia nyantai, melihat pawai boneka kayu Sigale-gale. Dan saat akan mengantarkan tas Adek. Dia melihat Adek diculik, jadi dia meninggalkan Tas Adek di parkiran." Jelas Tara tersenyum tipis, merasa lucu melihat ekspresi wajah Embun yang kesal saat ini.

__ADS_1


"Jadi, aku mau pakai apa? ini baju sudah bau keringat. Aku juga perlu ganti dalaman." Rengeknya manja, Tara sangat senang melihat Embun yang menangis itu.


"Cup cup cup... sudah ya dek, jangan menangis lagi. Adek bisa pakai baju Abang. Besok baru kita belanja. Ok!"


"Pakai baju Abang?" tanyanya bingung, Embun bukannya gak mau pakai baju Tara. Tapi, memakai baju Tara tanpa dalaman, itu rasanya aneh dan tidak nyaman. Apalagi aset gunung kembar Embun cukup besar. Kalau tidak pakai B.R.A. Gunungnya bisa goyang-goyang disaat dia bergerak.


"Iya." Tara tersenyum. Coba saat ini mereka pasangan normal, mungkin ini adalah moment yang membahagiakan.


Embun memajukan bibirnya, merasa sedikit kesal dengan idenya Tara. Tapi, mau gimana lagi. Terpaksa dia memakai pakaian suaminya itu tanpa. B.H.


"Mungkin malam inilah yang akan menjadi malam terakhir untuk kita bersama. Sangat besar harapan Abang, kita rukun malam ini. Tanpa perdebatan dan gengsi." Embun mengangkat wajahnya saat Tara mengatakan itu. Wanita itu duduk di tepi ranjang, sedangkan Tara berdiri didepannya.


"Abang ingin Adek bantuin Abang untuk mandi. Abang takut, tangannya kena air." Pinta Tara dengan ekspresi wajah biasa saja. Dia tak mau menampilkan ekspresi wajah sumringah, takut Embun salah paham.


"Oohh iya Bang." Jawab Embun malu-malu. Dia pun beranjak dari duduknya, mulai menyiapkan air mandi untuk Tara. Dia harus mengurus Tara, sebagai baktinya jadi seorang istri. Selama ini, dia hanya memaki-maki suaminya itu. Tidak pernah melaksanakan tugasnya sebagai istri.


Tidak pernah menyiapkan pakai Tara, makanannya dan kebutuhan pokok Tara lainnya. Sudah saat nya malam ini, dia bersikap sebagai istri yang baik dan menurut apa kata suaminya. Karena, besok dia akan kembali pada Ardhi. Setidaknya mereka punya moment yang indah, yang nantinya bisa dikenang.


Embun pun mulai membasuh seluruh tubuh Tara dengan perasaan berdebar. Menyentuh kulit suaminya itu dengan sadar, membuatnya terhipnotis. Betapa sempurna pria dihadapannya.


"Adek kenapa lihatin Abang begitu?" tanya Tara, heran dengan kelakuan Embun yang berlama-lama membersihkan tubuh suaminya itu.


"Apa? a--pa?" Embun gelagapan.


"I--ni, ini punggung Abang membiru, sepertinya terkilir." Embun memijat punggungnya Tara.


"Iya Dek, disitu sakit." Tara pun baru menyadarinya. Disentuh Embun, membuatnya jadi lupa kesakitan.


"Iya Bang, ayo cepat Abang bersihkan itu," Embun menunjuk bagian bawah Tara yang ditutupi boxer. Tara melihat Ke bagian sensitifnya dengan mengulas senyum. Kapan istrinya itu, akan memanjakan oto ononya.


"Aku akan pijat punggung Abang nanti. Atau kita cari tukang urut?" tawar Embun, kini dia berbalik badan, karena Tara melepas boxernya.


Embun beberapakali kesusahan menelan ludahnya, mata sucinya kini kembali ternodai. Karena, dia bisa melihat pantulan tubuh Tara yang polos dalam cermin yang ada di hadapannya.


Dia benar-benar ingin pingsan saja melihat oto ononya Tara, apalagi oto ononya Tara sedang on. Karena pria itu membersihkannya. Tara yang bersama dengan wanita yang sangat dicintainya. Tentu oto ononya langsung on, tegang berdiri dan nampak kokoh. Embun pun memilih menutup matanya saja, daripada dia jadi pingin, setelah melihatnya.


"Sudah, Adek mandilah." Ternyata Tara sudah membelitkan handuk di pinggangnya. Walau dengan satu tangan pria itu sukses menutup auratnya.


Dia tidak mau lagi menggoda Embun. Dia tidak mau Embun marah padanya. Karena malam inilah, malam terakhir kebersamaan mereka.


"Iya," Jawabnya pelan, penuh penghayatan. Tara menoleh kepada Embun yang masih memejamkan matanya.


TBC.


Ini novel sudah mau End. Untuk itu ramaikan novel terbaru ku berjudul.


Ayahku Suamiku ❤️

__ADS_1


like, coment positif dan Vote


__ADS_2