
Tara yang tahu penyebab istrinya sedih itu. Akhirnya mematikan Televisi, dan meraih Embun kepelukannya. Tara tidak menyangka, istrinya itu sangat sensitif
"Kalau buat sedih, untuk apa ditonton sayang." Mengusap-usap lembut kepalanya Embun. Sesekali pria itu menciumnya. Embun hanya mengangguk pelan. Sudah tidak semangat lagi menjawab ucapan suaminya itu.
"Habis sholat magrib, kita ke Dokter Obgyn ya bang?" menatap Tara dengan mata sendu. Tara merubah sedikit posisi berbaringnya. Sangat penasaran istrinya itu. Minta pergi ke dokter kandungan? apa istrinya itu ingin cepat punya anak atau lagi sakit parah. Karena, saat mereka melakukan hubungan suami istri tadi. . Miliknya Embun masih mengeluarkan darah. Walau istrinya itu tidak mengeluh sakit.
"Apa milik abang ini masih terasa sakit sayang?" Tara langsung meraba miliknya Embun. Wanita itu menepis tangan Tara yang menggesek-gesek miliknya. Tingkah Tara selalu buat Embun malu sekaligus kesal. Dia baru sadar suaminya itu ternyata doyan.
"Gak sakit bang. Hanya ingin konsultasi saja. Kok punya Adek masih mengeluarkan darah. Walau hanya sedikit." Jawab Embun kesal, suaminya itu gak bisa dibilangin. Masih saja menggesek-gesek kacangnya Embun.
Embun pun menjauhkan tangan Tara dari bagian intinya. Tara melongos kesal. Masak megang itu saja gak boleh.
"Gimana bang? anterin Adek ke dokter Obgyn." Regek Embun manja.
"Iya sayang, istriku!" Tara menjepit hidung Embun yang mancung. "Tapi, ada syaratnya!" Tara mengedipkan sebelah matanya. Embun mencibikkan bibirnya, dia tahu apa maksud dari ucapan suaminya.
"Ya ampyun, mau berapa kali keramas Adek bang?" Embun menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka, suaminya itu maniak juga. Dari cerita suaminya itu mengaku tidak pernah ciuman. Tapi, ini koq mesum sekali.
Akhirnya satu ronde pun Selesai. Lagi-lagi keduanya mandi junub dan kemudian melaksanakan sholat Magrib.
Setelah sholat magrib, keduanya pun keluar kamar. Mereka akan ke praktek dokter Obgyn dan Tara juga akan memeriksakan lukanya.
Sesampainya di praktek Dokter Obgyn, mereka harus antri lagi. Karena, praktek dokter Obgyn yang mereka datangi adalah praktek yang paling bagus di kota itu. Jadi pasiennya sangat banyak.
Embun yang tidak terbiasa memamerkan kemesraan di depan khalayak ramai. Hanya bisa menarik napas panjang, sembari melempar senyuman kepada orang-orang yang memperhatikan mereka.
Tara benar-benar tidak tahu tempat. Selalu meminta Embun bersandar di bahunya. Kemudian suaminya itu mengusap-usap jemari Embun dan sesekali menciuminya. Ingin rasanya Embun menghentikan kelakuan suaminya itu. Tapi, Embun takut mempermalukan Tara di depan orang banyak.
__ADS_1
"Adek baru lima hari selesai Menstruasi. Berarti Adek belum masuk masa subur." Kini tangan kiri Tara beralih mengusap-usap perut datarnya Embun. Ternyata pria itu tahu betul tentang reproduksi wanita. Sampai masa suburnya wanita dimengerti pria itu.
Embun menoleh menatap wajah Tara yang tersenyum manis. Embun dibuat terkagum-kagum dengan suaminya itu. Sepertinya suaminya itu tahu semua tentang wanita.
"Abang tahu darimana?" tanya Embun penasaran.
"Ya dipelajari lah sayang. Banyak buku membahasnya. Di internet juga berserak artikel seperti itu." Embun manggut-manggut mendegar jawaban suaminya itu. Sepertinya Tara tahu semua tentang reproduksi pada manusia.
Haruskah dia membahas hal yang mengganjal di hatinya saat ini? tapi, sepertinya suaminya itu tidak sependapat dengannya.
Dalam ketercengangannya, nama Embun pun dipanggil oleh perawat.
"Sayang, sudah masuk giliran kita." Tara kembali menggenggam tangan Embun. Meminta istrinya itu bangkit dan masuk keruangan pemeriksaan.
"Abang tidak usah ikut masuk ke dalam. Tunggu disini saja." Embun mendorong tubuh suaminya itu, agar kembali duduk di kursi antrian. Tara dibuat heran, kenapa dia tidak boleh masuk ke dalam?
"Adek sudah lapar banget ini bang. Kita bagi-bagi tempat saja. Abang ke dokter sebelah periksa tangan Abang dan aku disini." Ucap Embun tak terbantahkan. Lagi-lagi nama Embun dipanggil siperawat cantik. Dengan tergesa-gesa, Embun masuk ke ruangan. Meninggalkan Tara dalam keadaan terbengong.
Tara masih diam mematung, masih terheran-heran dengan sikap istrinya itu. lima menit berlalu, Tara pun semakin tidak tenang. Dia pun akhirnya masuk ke ruang pemeriksaan.
Kedatangan Tara ke ruangan itu membuat Embun terkejut, dia takut. Sedangkan Dokter dibuat heran dengan kedatangan Tara.
"Bagaimana kondisi istri saya Dok?" Tara langsung membuka percakapan, disaat Dokter masih terbengong. Heran melihat pasangan yang akan diperiksanya. Kenapa pasangan suami istri itu tidak masuk secara bersama-sama. Tapi, Dokter tidak mau ambil pusing.
"Setelah saya periksa keadaan istri anda. Saya sarankan pakai suntik saja. Suntik yang satu bulan sekali" Ucap Dokter, memperhatikan pasangan suami istri yang nampak bingung itu.
"Apa kondisi istri saya parah? ya aku melakukannya penuh dengan perasaan koq dok. Tidak kasar." Ucap Tara, Dokter dibuat bingung sekaligus merasa lucu. Saat ini Tara mengkhawatirkan keadaan Embun yang masih mengeluarkan bercak darah, saat mereka melakukannya
__ADS_1
Tadi memang Embun cerita, kalau dia baru menikah.
Embun langsung memegang lengan Tara. Menatap suaminya itu dengan lamat-lamat. Berharap Tara diam. Disini sudah terjadi mis komunikasi antara Tara dan Dokter.
"Tidak ada masalah pak. Saya sarankan Istri anda menggunakan suntik KB satu bulan saja. Tadinya istri anda minta yang tiga bulan."
"Apa, KB?" Tara memotong cepat ucapan Dokter dengan nada tegas dan terkejut. Menatap heran, istrinya yang memalingkan wajah.
"Iya. Kenapa bapak heran begitu? bukannya ini sudah kalian sepakati?" tanya Pak Dokter bingung.
Tara bergantian menatap istri dan dokter kandungan itu. Dia merasa syok dengan apa yang dikatakan dokter itu. Kenapa istrinya itu, tidak ingin hamil.
"Sangat wajar bagi pasangan muda menunda momongan. Apalagi pasangan itu belum siap jadi orang tua."
"Dok, ini ada yang tidak beres. Saya tidak ada niat untuk menunda punya anak. Kami permisi dulu." Tara langsung menarik tangan Embun yang duduk di kursi. Mau tak mau Embun harus mengikuti langkah lebar suaminya itu.
Tara yang terkejut dengan kenyataan ini, dibuat sangat syok. Hingga kini wajah penuh kekesalan dan kecewa jelas terlihat di wajahnya. Beda sekali dengan ekspresi wajahnya sebelum masuk ke ruang pemeriksaan itu.
Orang-orang yang melihat Tara menggandeng tangan Embun dengan begitu kesalnya dibuat heran. Tadi Romantis sekali. Lah sekarang koq kasar gitu.
Kini kedua pasangan suami istri itu sudah duduk di mobil mereka. Sedangkan Pak Budi, diminta Tara meninggalkan mobil itu.
Embun sudah menangis tersedu-sedu. Tara dibuat panik dengan tingkah Embun.
"Sayang, jangan menangis lagi. Maaf ya sayang. Kalau tadi Abang marah. Abang tadi terkejut, kenapa Adek mau memakai kontrasepsi?" Tara merangkum wajah Embun. Air mata sudah membanjiri pipi putihnya Embun.
TBC
__ADS_1