
"Kamu keluar, periksa CCTV di ruang loby sekarang. Aku ingin tahu apa yang terjadi di sana tadi." Bicara tegas tanpa menatap sekretarisnya itu.
"Baik pak." keluar dari kamar yang ada di ruangan Ardhi, dengan bergidik ngeri. Bosnya itu kalau marah menyeramkan.
"Desi...!" sekretarisnya Ardhi kembali terlonjak kaget mendengar namanya dipanggil lagi. Dia melepas tangannya yang memegang gagang pintu untuk keluar. Kenapa dia dipanggil lagi. Padahal tadi Bosnya itu, mengusirnya.
"Iya Pak." Bicara lembut dan menundukkan sedikit kepalanya.
"Mana teh yang saya bilang tadi." Masih bicara dengan kekesalan.
"Baik pak, akan saya ambilkan lagi." Desi tahu betul karakter bos nya itu. Ucapannya tidak usah disangkal, walau Bos nya itu salah. Namanya Bos, mana pernah salah.
Ardhi berusaha menyadarkan Melati dengan memangil-manggil namanya dan mendekatkan tangannya yang sudah dilumuri minyak kayu putih ke lubang hidungnya Melati dengan penuh kekhawatiran. Dia tidak mau apa-apa terjadi pada istri dan anaknya.
"Pak, ini teh nya." Desi sang sekretaris meletakkan di atas nakas.
"Sudah kamu hubungi Dokter?" bicara dengan tidak tenang, dan tetap mendekatkan tangan nya yang dilumuri minyak kayu putih ke lubang hidungnya Melati.
"Sudah Pak, tapi Dokter Ryan belum bisa cepat kesini." Bicara dengan memejamkan mata kuat-kuat. Takut kena bentak.
"Payah," pria itu benar-benar akan melampiaskan kekesalannya. Tapi, amarahnya itu seketika sirnah setelah melihat pergerakan bola mata sang istri yang masih ditutup oleh kelopak matanya itu. Jemari Melati juga sudah bergerak. Wajah merah padam karena panik kini berubah jadi legah. "Dek, Dek, kamu sudah sadar." Membelai pipi sang istri dengan lembut.
"Keluar lah!" Ardhi melirik sekretarisnya yang masih berdiri di belakangnya, berusaha memastikan wanita yang berbaring di ranjang itu adalah Melati.
"Baik pak." Desi sang sekretaris ngacir dari tempat itu, sebelum dia dibentak lagi. Nanti juga penasaranya akan terjawab setelah memeriksa CCTV.
Melati yang sudah sadar itu, nampak kesusahan membuka kedua matanya. Kelopak matanya seolah ditimpa batu yang besar. Wanita itu benar-benar tidak bertenaga.
"Dek, Dek, syukurlah kamu sudah sadar." Ardhi mere*mas lembut jemari sang istri dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanan membelai wajah mulusnya Melati. Tentu saja perlakuan suaminya itu, membuat Melati cepat sadar. Dan kini mata indah yang berbulu lentik itu sedang menatap tajam ke arahnya. Sangat tajam menghunus kedua netra bening Ardhi.
__ADS_1
"Syukurlah adek sudah sadar." Ardhi yang ketakutan dan merasa bersalah melihat tatapan tajam sang istri. Hanya bisa mengulang kata tentang kekhawatirannya pada istrinya itu.
Pria itu tersenyum manis, agar Melati tidak kesal lagi padanya. Ardhi bisa menilai dari tatapan mata sang istri. Bahwa istrinya itu sedang kecewa dan kesal padanya. Itu jelas terlihat dari mata indahnya Melati yang melotot tajam tanpa berkedip itu sudah berkabut.
"Mas bantu untuk duduk ya, adek minum teh manis dulu, biar ada tenaga." Ardhi tidak bisa mendudukkan sang istri, tubuh istrinya itu kaku, karena melakukan perlawanan pada Ardhi. Tatapannya masih tajam tanpa berkedip. Benar-benar menyeramkan sekaligus lucu menurut Ardhi. Ekspresi wajah cemberut dan kesal bergabung di wajah cantiknya Melati. Dan Ekspresi kesalnya Melati malah terlihat lucu. Istrinya itu tidak cocok jadi pemarah.
"Kenapa melotot seperti itu, mas takut tahu." Ardhi sudah tidak tahan lagi untuk tidak tertawa. Sungguh istrinya itu terlihat lucu kalau lagi marah.
"Hihihi.." pria itu pun akhirnya tertawa kecil. Melati yang kesal karena ditertawakan akhirnya tidak bisa membendung air matanya yang dari tadi mendesak untuk keluar.
Wanita itu menangis, air matanya mengalir jatuh membasahi pipi pucatnya tanpa ada Isak tangis.
"Ya Allah sayang, istriku. Kamu kenapa? jangan melotot seperti itu. Mas jadi bingung." Merangkum wajah sang istri dan melap air matanya. Tapi, Melati masih saja menatap tajam suaminya itu.
"Adek gak mungkin kesurupan kan di kantor ini?" Kali ini, Ardhi jadi khawatir melihat sang istri yang diam saja dan masih menatap tajam dirinya. Dia pun membaca ayat kursi dan mengusap mata sang istri dengan cepat. Tapi, istrinya itu masih menatap kesal dirinya.
"Adek minum dulu." Menyodorkan gelas yang berisi teh manis. Melati tidak mau membuka mulutnya. Ardhi yang bingung pun meletakkan kembali gelas berisi teh manis itu di atas nakas.
Kali ini Melati merespon, menurunkan tangan suami dari wajahnya.
"BERIKAN AkU UANG!" intonasi tegas tapi degan suara lemah. Matanya Melati masih menatap tajam Ardhi. Ekspresi wajah masih menyeramkan. Ardhi yakin, istrinya itu kemasukan roh istri Matre.
"Uang?" Ardhi yang bingung mempertegas apa yang didengarnya.
"Iya UANG, aku ingin punya uang banyak. Aku ingin beli baju mahal dan bagus, beli sepatu, tas dan perhiasan." Melati akhirnya menangis dengan histeris. Dia teringat dirinya yang disepelekan, karena dikatakan ibu-ibu pengajian, mengaku-ngaku sebagai istri Bos.
"Mas kaya berkat ayahku. Mana hakku sebagai istri. Mana nafkah lahirku, rumah, pakaian, pangan." Ardhi semakin bingung dengan ucapan istrinya itu. Benar-benar bukan sifatnya Melati.
"Adek kenapa sih? mau uang?" Melati mengangguk. "Jangankan uang, semua yang ada pada Mas, akan Mas berikan pada adek."
__ADS_1
"Bohong .!" Masih menatap tajam Ardhi. Ardhi yang merasa aneh dengan sang istri meminta istrinya itu istighfar.
"Dek, nyebut, istighfar. Yang bicara sekarang ini sepertinya bukan adek."
"Ini aku " Melati yang tadi menatap tajam mata Ardhi. Kini pandangannya turun ke bibir suaminya itu. Ardhi menundukkan pandangan mengikuti pergerakan mata sang suami.
"Baru menikah seminggu, Mas sudah kegatelan dengan wanita lain." Ucap Melati dengan nada memprihatinkan. Air matanya terus saja mengalir. Dia pun menepis tangan Ardhi yang ingin membantunya duduk. Dan secepat kilat dia sudah berdiri di sisi ranjang.
Ardhi bangkit dari duduknya menatap sang istri yang kini berdiri di hadapannya dengan tercenung. Dia memikirkan ucapan anehnya Melati. Kapan dia kegatelan.
"Adek kenapa sih? maksudnya apa?" Kini Ardhi berjalan ke hadapan Melati. Memegang bahu sang istri meminta penjelasan. Melati menggerakkan bahunya kasar. Sehingga Ardhi menurunkan tangannya.
"Apa ini?" menunjuk kerah baju sang suami yang meninggal noda merah.
Ardhi menunduk guna melihat lebih jelas apa yang ditunjuk istrinya. Tapi, dia tidak bisa melihatnya dengan jelas. Dia pun berjalan ke arah cermin yang ada di lemari. Memperhatikan kerah bajunya yang ada noda merah. Pria itu pun membalik badannya, sehingga kini mereka saling tatap.
Melati membalik badannya, kesal dengan Adhi yang malah cengengesan. Bukannya merasa bersalah.
"Astaga, istriku cemburu. Terimakasih Ya Allah." Langsung memeluk Melati dengan gemes dari belakang dengan tersenyum lebar. Sontak Melati terkejut dengan kelakuan sang suami. Dia pun berontak kecil agar Ardhi melepas belitan tangan kokoh di pinggangnya.
"Lepas Mas, lepas...!" Memegang tangan Ardhi agar melepaskannya.
"Gak akan." Ardhi malah mendekatkan wajahnya ke ceruk lehernya Melati. Yang membuat wanita itu kegelian dan terangsang. Padahal, Ardhi belum melakukan apa-apa. Hanya suara Ardhi yang dekat daun telinganya, sangat menggelitik.
Melati berontak keras, dia ingin mencecar Ardhi dengan banyaknya umpatan. Dan lepas dari pelukan sang suami. Dia bergidik bahu. Rasa geli masih tertinggal di telinganya. Dia masih kesal pada Ardhi. Dia yakin tadi suaminya itu pasti melakukan hal yang tak pantas di ruangan itu. Ia pun membalik badannya. saat itu juga Ardhi langsung mencium bibirnya Melati yang hendak marah-marah itu.
Melati yang terkejut, langsung terdiam dengan mata yang melotot penuh. Bibirnya terkatup, dan tubuhnya mendadak membeku, ia merasa seperti tersengat listrik, disaat bibir sang suami seperti ingin lebih dan menuntut balasan darinya.
Merasa tidak siap dengan serangan mendadak sang suami. Melati mendorong kuat tubuh suaminya itu, hingga ciuman itu pun terlepas.
__ADS_1
TBC