DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Permintaan terakhir


__ADS_3

Melati menatap kepergian Ardhi menuju ruang rawat ibunya itu. Sesekali Ardhi menoleh ke Melati, dengan perasaan sedih. Dia juga tak mau memaksa sang istri untuk masuk ke dalam. Tadi saja, istrinya itu langsung drop. Dia sebenarnya tak tega meninggalkan Melati di taman sendirian. Tapi, istrinya itu bersikukuh, menunggunya di taman saja.


Baru sepuluh menit Melati menghirup udara di taman yang asri dan sejuk itu, yang membuat perasaan tenang dan sejuk, karena Melati sedang duduk di bawah pohon yang sangat rindang. Suaminya itu sudah nongol di hadapannya.


"Mas, koq balik lagi?" Melati menatap heran sang suami yang terdiri menjulang di hadapannya dengan tatapan sedihnya.


"Mana mas tega ninggalin adek di sini sendirian." Ikut duduk di sebelah Melati dan langsung meraih tangannya. Meremas lembut jemari Melati yang sebenarnya Melati kurang PD disaat sang suami melakukan itu. Dia merasa tangannya tidak mulus. Maklum dia bekas babu. Kulit tangannya menurutnya kurang halus dan lembut. Padahal itu hanyalah perasaannya saja. Kulitnya padahal mulus, putih dan bersih. Karena, Melati sering minum jamu, yang bagus untuk kulitnya.


Melati memperhatikan lekat, kelakuan Ardhi yang meremas dan sesekali mengusap tangan nya itu. Dia benar-benar terharu dengan sikap sang suami yang tidak tega meninggalkannya.


"Mas antar adek ke rumah ya!? sekalian Mas akan beritahu semua orang di rumah. Kalau wanita cantik dan baik hati ini, adalah ratuku." Mengelus lembut pipinya Melati yang sudah memerah, karena kena gombalan garing nya Ardhi.


"Mas belajar dari mana sih, koq sekarang pandai ngengombal." Saling pandang dan tersipu malu. Entahlah kedua manusia itu selalu merasa berdebar-debar jika berdekatan. Tingkah mereka buat gemes.


"Gak gombal sayang. Itu pujian tulus, setulus-tulusnya dari relung hati mas yang paling dalam." Masih beradu pandang dengan perasaan yang bahagia.


"Mas koq ke sini. Kan lagi urusin Nyonya." Memutus sedetik tatapan, menoleh ke tangannya yang digenggam oleh Ardhi.


"Ada Rudi di sana. Ayo kita ke rumah." Berdiri dan menarik lembut tangan sang istri. Melati yang masih merasa sedikit pusing itu. Bangkit dengan penuh kehati-hatian.


"Mas gendong ya?" minta izin, karena tak mau mengejutkan sang istri.


"Iihh... gak usah Mas. Adek masih bisa jalan." Menepis tangan sang suami dari balik tubuhnya. Ardhi pun merangkul sang istri. Memasuki mobil mewah berwarna silver merk Lamborghini itu.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, perasaan Melati tidak tenang. Dia tidak siap nantinya jikalau ada keributan di rumah itu.


"Jangan terlalu dipikirkan. Nanti Mas akan bicara sama Ibu." Ardhi memahami perasaan Melati saat ini. Dia sangat bersyukur punya istri yang begitu perhatian. Mungkin kalau wanita lain, mana mungkin mau memaafkan kelakuan ibu jerniati.


Melati mencoba tersenyum, menanggapi ucapan sang suami.


"Mas merasa bahagia dan bersyukur sekali bisa berjodoh dengan adek." Bicara dengan lembut dan sesekali menoleh pada Melati. Ardhi masih serius menyetir.


"Iya kah, koq bisa begitu?" penasaran dengan alasan sang suami begitu bersyukur telah menikahinya.

__ADS_1


"Iya dek, hatimu terbuat apa ya?" Ardhi benar-benar kagum pada sang istri.


"Ya hatiku terbuat dari daging lah Mas." Jawab Melati dengan polosnya.


"Oohh iya ya? kirain dari berlian." Ardhi tertawa tipis.


"Mau dong dibeliin berlian?" Melati mengalihkan pembicaraan, dia bisa salah tingkah kalau digoda terus oleh sang suami.


"Waaahhh adek matre juga ternyata." Tertawa dan tetap melanjutkan menggoda Melati.


"Masak minta Berlian pada suami yang tergolong mampu dibilang matre sih mas? adek gak matre, tapi realistis." Melati menatap kesal, Ardhi yang mengatakannya cewek matre.


"Iya sayang, mas tahu koq. Tadi Mas bercanda. Kota sudah sampai di rumah." Melati yang serius menanggapi ucapan Ardhi tak menyadari kalau mereka sudah sampai di rumah gedong itu. Rumah yang pernah jadi tempat merais rezeki untuknya.


Ardhi menggandeng tangan Melati saat masuk ke rumah megah itu. Seketika para pelayan menyambut sang majikan. Karena, sebelumnya sudah diberi kabar. Bahwa tuan besar mereka dan sang istri akan datang ke rumah.


Teman seperjuangan Melati atau ART di rumah itu, dibuat tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Memang benar kata Kepala pelayan, yaitu Bi Kom. Bahwa, Tuan besar mereka sudah menikah dengan Melati.


"Masak malam siang yang spesial buat Nyonya Melati." Menatap sang istri dengan tersenyum manis, sedangkan yang ditatap tercengang dengan kelakuan sang suami, yang sedikit lebay itu. Dia bukan Nyonya besar di rumah itu. Karena, dari dulu yang jadi nyonya besar adalah Ibu Jerniati.


Ardhi mengajak Melati untuk masuk ke kamarnya. Kamar yang dulu setiap hari dibersihkannya. Tatapan para ART, terus mengikuti pasangan Ardhi dan Melati, hingga menghilang dari jangkauan mata mereka. Dan dengan berbisik-bisik, para ART bubar dan melanjutkan tugas masing-masing.


Sesampainya di kamar megah itu, Ardhi menuntun sang istri untuk duduk di atas ranjang empuk dan luas itu. Pria itu juga mendudukkan bokongnya di sebelah sang istri.


Melati masih merasa enggan berada di kamar itu. Walau dulu dia setiap hari di dalam kamar mewah itu. Apalagi sekarang dia duduk di ranjang empuk itu. Selama bekerja untuk membersihkan kamar itu. Dia sama sekali tidak berani untuk duduk atau mencoba tidur di ranjang itu. Dan sekarang dia akan berbagi ranjang dengan suaminya itu.


"Adek istirahat lah dulu. Mas mau ke ruang kerja sebentar." Melati langsung mengangguk dengan tersenyum manis. Ardhi mengecup keningnya Melati, wanita itu tersipu-sipu malu. Kecupan suaminya itu terasa dalam dan penuh penghayatan.


Tok


Tok


Tok

__ADS_1


"Tuan, saya Nina, membawakan minuman dan cemilan." Suara ART, membuat Ardhi menyudahi kecupannya.


"Iya masuk." ART yang bernama Nina. Masuk ke ruangan itu, tanpa berani menoleh kepada Ardhi dan Melati. Meletakkan makanan dan minuman di meja dekat Jendela kamar itu.


"Adek minum juice ini ya?!" setelah ART yang bernama Nina pergi. Ardhi langsung mengambil juice itu dan menyodorkannya pada Melati. Dengan tersenyum Melati menerimanya.


"Mas ke ruang kerja dulu." Menyambar juice wortel dalam gelas berwarna putih dan membawanya ke ruang kerja.


Melati menyedot juice itu dengan tersenyum, dia merasa bahagia. Dapat suami seperti Ardhi. Dia jadi yakin, kalau pria itu benar mencintainya.


Melamun sambil meminum juice, hingga Melati tak sadar bahwa juice alpukatnya sudah ludes tak tersisa. Dia pun meletakkan gelas kosong itu di meja tempat semula. Dari tempatnya berdiri sekarang. Dia bisa menatap sang suami di ruang kerjanya. Ternyata suaminya itu, tidak menutup pintu ruang kerjanya itu. Di dalam sana, Ardhi nampak serius bekerja di kursi kekuasaannya.


Melati yang akhir-akhir gampang merasa lelah. Akhirnya wanita itu memilih untuk istirahat sebentar. Waktu masih pukul 12.05 Wib. Masih ada waktu untuk mencharge tubuhnya, agar fit, nanti saat kuliah. Hanya butuh waktu dua menit. Wanita itu sudah tertidur.


🌄🌄🌄


"Anakku Ardhi, kamu juga harus berterima kasih banyak pada Lidya. Kalau bukan berkat kecerdasan Lidya. Mungkin ibu sudah membusuk di dalam penjara." Ibu Jerniati menangis dengan penuh penyesalan. Menatap sang anak dan Lidya secara bergantian yang ada di kamar wanita tua itu.


Lidya merasa senang dengan ucapan kliennya itu. Selama dua Minggu. Lidya berhasil mencuci otaknya ibu jerniati saat dirinya berkunjung ke rumah sakit. Wanita yang tak pantang menyerah itu, bahkan menawarkan dirinya sebagai istri kedua untuk Ardhi.


Lidya mengatakan, dia bisa melindungi Ibu Jerniati nantinya. Jikalau ada lagi masalah yang membebaninya. Karena, dia cerdas dan seorang pengacara. Dia juga mengatakan bahwa dia dan Ardhi sebenarnya dekat.


"Iya Bu. Tentu saja saya tidak akan lupa, bahwa lidya banyak membantu." Jawab Ardhi dengan ekspresi wajah biasa saja. Pria itu pun melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ternyata sudah pukul 13.05 Wib.


Dia harus ke luar dari kamar ibunya itu. Membangunkan sang istri. Untuk makan siang dan berangkat kuliah.


"Nak, kabulkanlah permintaan ibu yang terakhir kali ini. Menikahlah dengan Lidya."


"Apa..?"


TBC.


Like, coment positif dan vote 🙏😍

__ADS_1


__ADS_2