
"Jelasin kepada Mama, kenapa kamu tidak ingin acara Margondang ini dibuat sampai tujuh hari?" tanya Mama Mira dengan bingung nya kepada Tara. Kini mereka sedang berdiskusi di ruang kerja Ayahnya. Mengenai acara pesta adat yang akan diadakan besok sampai tujuh hari kedepan.
Tara menarik napas dalam dan menghembuskannya berat. Dia juga sedikit mengangkat bokongnya yang sedang duduk di sofa hitam empuk itu.
"Tara lagi sibuk Ma. Mama tahu sendiri, kita lagi buka cabang perusahaan baru di kota Medan. Embun juga harus cepat masuk kuliah. Skripsinya lagi terbengkalai gara-gara pernikahan mendadak ini." Ucapnya malas.
Mama Nur geleng-geleng kepala, kurang terima dengan alasan Tara yang tidak mau pernikahannya diadakan pesta besar-besaran.
"Ini impian Mama, Ayah dan Tulangmu Baginda dari dulu. Merayakan pernikahan kalian dengan megah. Mengundang semua saudara kita di seluruh penjuru dunia. Makanya pesta adat Margondangnya di konsep sampai satu Minggu. Agar semua tamu undangan bisa manortor.
Mama Mira mendekat kepada Tara dan duduk di sofa yang sama dengannya.
"Apa ini semua ada hubungannya dengan kekasihnya Embun? Pernikahan ini serius Tara. Mama ingin semua orang tahu bahwa anak Mama sudah menikah." Ucap Mama Mira, menatap Tara yang nampak malas membahs pesta ini.
Tara merasa tidak perlu pernikahannya ini diketahui oleh banyak orang. Cukuplah hanya orang kampung saja yang tahu. Bahkan Dia tidak ingin rekan bisnis mereka tahu bahwa Dia menikah dengan Embun. Karena pernikahan mereka hanyalah sandiwara belaka.
Jikalau Embun meninggalkannya, tentu akan banyak orang yang tahu. Itu pasti jadi aib untuk keluarga besar mereka kelak.
"Kamu juga tidak ingin membuat pesta untuk rekan bisnis kita." Mama Nur memegang lengan Tara dan menatap lekat wajah putranya itu. Mama Mira tidak habis pikir, seolah-olah putranya ini menyembunyikan pernikahan ini.
"Sudahlah sayang, kalau Tara tidak ingin pernikahannya dirayakan dengan megah dan besar-besaran. Biarkan saja, yang jelas kita sudah mempersiapkan semuanya." Ucap Ayah Tara dengan datar menatap anak dan istrinya yang duduk di hadapannya.
Ayahnya yang ada garis keturunan Turkey itu, memang sedikit tidak setuju dengan acara Margondang. Dia punya paham tersendiri dengan acara adat itu. Yang menurutnya sedikit bertentangan dengan ajaran agama. Tapi, itu semua kembali kepribadi masing-masing.
"Tapi kan Ayah. Tara itu anak kita satu-satunya. Masak pernikahannya biasa saja." Ucap Mama Mira melongos kesal. Dia pun melemaskan tubuhnya bersandar di sofa.
"Ya mau gimana lagi. Taranya ingin seperti itu. Sudah, jangan dibahas lagi. Yang penting pesta Margondangnya kan tetap ada. Walau acaranya 2 hari." Tara manggut-manggut mendegar ucapan Ayahnya.
"Lagian buat acara selama itu, terlalu buang waktu dan mubajir. Mending uangnya kita sumbangkan untuk orang kampung yang lagi membutuhkan." Ucap Tara menatap orang tuanya dengan tersenyum.
"Kita juga kan selalu bersedekah." Jawab Mama Mira malas. Angan-angan nya untuk membuat pesta Margondang yang megah, gagal sudah.
"Sudah, kamu balik ke kamarmu Tara. Ini sudah hampir pukul sebelas malam." Ucap Ayah Tara melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya.
Dengan tersenyum Tara bangkit dari duduknya. Menyambar jas yang diletakkannya di sofa yang kosong.
"Tara," Panggil Mama Mira. Tara menghentikan langkahnya.
Mama Mira mendekati Tara dan kembali memeluknya.
"Kamu harus bisa membuat Embun cinta samamu ya Nak. Mama akan berdoa untuk kebahagiaan pernikahan kalian." Ucap Mama Mira dalam pelukannya. Dia juga mengelus-elus punggung Tara dengan lembut.
Dia kasihan kepada anaknya itu. Ternyata Embun tidak mencintai putranya.
"Iya Ma. Semoga Embun, tetap jadi istri Tara sampai maut memisahkan." Jawab Tara pelan.
Mama Nur mengurai pelukannya, menatap punggung putranya yang berjalan meninggalkan ruangan itu.
❤️❤️❤️
Tara dengan perasaan berdebar-debar mendorong handle pintu kamarnya. Dia celingak-celinguk menyoroti kamarnya itu. Mencari keberadaan Embun yang tidak ada penampakannya.
Dia pun meletakkan setangkai bunga mawar, di meja rias dengan tersenyum. Bunga itu sengaja disiapkannya, untuk mengambil hati Embun. Ya mulai hari ini, Dia akan memberi perhatian lebih kepada Embun. Semoga saja istrinya itu, respect dan memaafkannya serta mau berdamai dengannya.
__ADS_1
"IBun, IBun, apa kamu ada di dalam?" ucap Tara sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Hening.....
Tak ada sahutan.
Coba seandainya mereka pasangan normal. Mungkin Tara tidak akan mengetuk pintu kamar mandi. Dia akan nyelonong masuk ke dalam kamar mandi, walau ada Embun di dalam.
"IBun....!" Ucap Tara sedikit keras.
Tetap tidak ada jawaban, Tara pun jadi penasaran dan khawatir. Apa Embun tidak di kamar mandi? tapi, dimana Dia?
Krekkkkk....
Dengan penasarannya, Tara membuka pintu kamar mandi dengan pelan, serta berjalan sedikit mengendap-endap. Penuh kewaspadaan, Dia sedang mencari keberadaan Embun. Dia tidak mau kena timpuk seperti waktu itu, saat Embun terpleset di kamar mandi.
Dia sedikit legah, ternyata Embun ada di kamar mandi. Setelah melihat penampakan Embun yang tertidur di bathtub dengan kepala bersandar. Tara berjalan pelan mendekati Embun. Dia mencelupkan tangannya ke dalam air yang masih berbusa itu. Masih terasa hangat, berarti Embun baru saja terlelap.
Dengan lekat Tara memperhatikan wajah Embun yang terekspose jelas itu.
"Cantik, sangat cantik." Ucapnya pelan, tangannya tanpa sadar bergerak mengelus pipi kanan Embun. Tara pun berjongkok di pinggir Bathtub
"Halus, lembut, kenyal." Ucapnya pelan masih tersenyum. Kemudian tangan Tara kembali bergerak ke batang hidung Embun. "Mancung, bebas komedo dan bulu hidung." Ucapnya lagi, Dia benar-benar tidak waras mempreteli wajah Embun.
Kemudian jari telunjuknya turun ke bibirnya Embun yang sedikit menganga itu, sehingga membentuk bulatan di tengah yang menampilkan sedikit gigi serinya Embun.
"Bibirmu juga begitu menggoda. Ukuran bibir atas dan bawah jelas berbeda, bibir bawah lebih lebar dan tebal. Hhuuffff...... jadi pengen...!" ucap Tara cengengesan, saat itu juga tangannya yang bertopang di pinggir Bathup meluncur ke dalam Bathup dan menyentuh bagian dada embun yang masih tertutupi busa.
Sontak Embun terbangun Karena terkejut, Dia dengan cepat memukul tangan Tara yang masih setia menyentuh dada Embun.
Sementara Tara sudah terduduk dengan ekspresi bodohnya di lantai kamar mandi. DIa sedikit syok dengan kelakuannya sendiri.
"Kamu ya, selalu saja cari kesempatan dalam kesempitan. Sana kamu keluar..!" teriak Embun, sambil berusaha menutupi tubuhnya dalam busa yang masih tersisa.
Tara tidak bergeming, Dia masih terduduk dengan kedua tangan menopang tubuhnya ke lantai kamar mandi.
Melihat Tara seperti orang linglung, Embun meraih wadah sabun cair di sebelahnya. Dia pun melemparkannya dan mengenai kepala Tara.
"Embun, sakit tahu." Tara memegangi kepalanya.
"Keluar, tukang ngintip..!" teriak Embun.
Tara bangkit,
"Langsung balik badan, jangan lihat-lihat kesini. Awas saja berani melihat ke sini ku congkel mata jengkolmu itu." Ketus Embun, berusaha menutupi dadanya dengan tangannya.
Tara yang tidak mau ribut itu, Akhirnya memilih keluar dari kamar mandi.
Embun pun dengan cepat menyambar kimononya. Memakainya dengan mengomel-ngomel. Dia kesal sekali kepada Tara.
Dia keluar dari kamar mandi mendapati Tara sedang duduk di sofa.
"Apa lihat-lihat? mulai saat ini, kamu tidak boleh melihat ke arah saya. Pokoknya kamu tidak boleh melihat saya. Ngerti kan?" ucap Embun ketus, menatap Tara yang duduk di sofa.
__ADS_1
Tara tertawa, "Yang melihat kamu siapa? bukannya kamu yang melihat-lihat saya. Dasar tidak waras." Ucap Tara, Dia bangkit dari duduknya, berjalan menuju kamar mandi
Sedangkan Embun sudah kesal tingkat dewa Dewi karena dikatakan tidak waras.
"Kamu," Embun menunjuk Tara yang berjalan hendak melewati nya
"Apa? apa? jangan melihat saya." Jawab Tara jutek, menyenggol bahu Embun sehingga Embun oleng. Dan Tara berjalan cepat ke dalam kamar mandi.
Tara tertawa terbahak-bahak di dalam kamar mandi.
"Cukup menghibur malam ini." Ucapnya keras, Dia berharap Embun mendengar nya.
"Jangan melihat saya, padahal Dia yang lihat-lihat." Tara kembali bicara, menirukan gaya bicara Embun.
Embun yang mendengar Tara meledeknya, kesal bukan main. Baru sehari jadi istrinya. Dia sudah darah tinggi. Bagaimana dengan enam bulan?
Embun sudah selesai memakai piyamanya, tentu saja piyama yang panjang tangan dan celana panjang.
Dia mendudukkan bokongnya di kursi meja rias. Mulai melakukan kegiatan rutinnya sebelum tidur. Yaitu memijat wajahnya pelan dengan minyak zaitun sambil memandangi wajahnya yang putih di cermin.
Matanya tertarik melihat setangkai bunga mawar dihadapannya.
"Apa bunga ini untuk aku? pasti mau merayu, jangan harap Aku mau baikan sama kamu." Ucapnya tidak tertarik untuk mengambil bunga itu.
Setelah selesai memijat wajahnya, Embun bergerak ke ranjang. Memindahkan selimut serta bantal ke sofa yang ada di ruangan itu.
Saat itu juga Tara keluar dari kamar mandi.
Tanpa sadar Embun menoleh ke arah Tara. Matanya menyoroti Tara mulai dari ujung kaki. Dimana kaki Tara yang nampak kokoh dengan bulu-bulu hitam yang tersusun rapi. Mata Embun terus bergerak, hingga terhenti di gulungan handuk di pinggang Tara.
Embun menelan ludahnya kasar. Otaknya sempat traveling membayangkan isi dalam handuk.
Tara yang tahu, Embun terpesona melihatnya malah santai saja, berdiri sambil melap rambutnya yang basah dengan handuk kecil
Pergerakan tangan Tara, membuat otot dada dan lengannya bergerak-gerak. Sehingga nampak mempesona di matanya Embun. Otot-otot Tara yang liat, lagi-lagi membuat embun menelan ludah.
"Jangan lihat-lihat, nanti kamu nafsu." Tara tersenyum kecil masuk ke ruang ganti.
Sedangkan Embun langsung tersadar, Dia malu sekali. Dia pun langsung naik ke ranjang. Menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut.
"Aku koq lihat Dia sih? buat malu saja." Ucapnya pelan.
"Tidak usah malu. Kan saya suamimu." Tara menyahut dan kini sudah berbaring di sebelah Embun.
Ya ampun Dia mendengar nya. Embun membathin.
"Ini daerah kekuasaanku. Kamu tidak boleh tidur di sini." Ucap Embun masih bersembunyi di balik selimut.
Tara membalik tubuhnya hingga kini dia miring menghadap Embun.
"Gak salah tuh, ini kan kamarku. Koq kamu pula yang mengatur." Ucap Tara masih dalam posisi miring menghadap Embun.
Embun keluar dari balik selimut dan langsung mendudukkan tubuhnya dengan menutup mata.
__ADS_1
Tara tertawa, Embun benar-benar tidak ingin melihatnya.
"Aku itu tidurnya lasak, bisa berputar sampai 360 derajat. Aku tidak mau bersentuhan denganmu. Karena itu, kita harus tidur terpisah." Ucapnya masih menutup mata