
"Ya sudah, kalian istirahatlah." Mama Nur merasa ada yang tidak beres, kenapa di atas sofa ada bantal dan selimut.
"Kalian tidak pisah ranjangkan?" Mama Nur menatap tajam Embun. Yang kini menampilkan ekspresi wajah ketakutan. Jangan sampai Mamanya juga memarahinya di hadapan Tara.
Mama Nur masih menatap tajam Embun. Dia kecewa kepada putrinya itu. Baru tadi dinasehati, eehh putrinya itu tidak mendengarkannya.
"Ketahuan deh." Embun membathin, menatap Tara yang diam tanpa ekspresi.
"Astaghfirullah.... Bere Tara, maafkan Embun ya?" Mama Nur menunjukkan wajah frustasi. Sungguh Dia kesal dengan kelakuan putrinya.
"Iya Nantulang, gak ada yang perlu dimaafkan. Embun tidak salah. Tadi Embun sedang membersihkan tempat tidur, jadi Dia melempar selimut dan bantalnya ke sofa." Tara berusaha menutupi kelakuan buruk istrinya itu.
Haaahh... Dia membelaku? bukannya Dia senang melihatku dimarahi dan menangis? dasar pria aneh. Benar-benar tidak bisa ditebak apa yang dipikirkannya.
Mama Nur tidak percaya dengan jawaban Tara. Tapi, Dia tidak mau mendebatnya.
"Iya Ma. Aku kan sudah lama tidak tidur di ranjang ini. Jadi, tadi tu, aku sedang mengusir jin-jin dan syetan. Kan biasanya kalau tempat tidur lebih dari tiga hari ditinggalkan, maka jin dan syetan akan tidur disini." Kini Embun mencari pembelaan dengan alasan yang tepat.
"Tadi pagi tempat tidurmu sudah dibersihkan si siti." jelas Mama Nur.
"Mana Embun tahu." Jawabnya malas, Dia pun menguap. Berpura-pura kantuk berat.
" Baiklah, Kalian cepat tidur, besok kalian harus cepat berangkat ke bandara." Mama Nur, mengambil bantal dan selimut dari atas sofa dan meletakkan ya di atas tempat tidurnya Embun.
"Iya Ma." Embun melirik Tara yang masih diam terngugu.
"Selamat istirahat ya. Kalian jangan berantem." Mama Nur pergi dan menutup pintu.
Tara pun langsung berbaring di ranjang Embun Tanpa perduli dengan Embun yang masih duduk dengan menampilkan ekspresi wajah merah padam. Bahkan kepala Embun sudah siap menyerunduk, ingin mengusir Tara dari atas ranjang itu.
"He, he... sana kamu. Jangan tidur di sini.!" Embun Kembali mendorong tubuh Tara agar turun dari ranjang. Dia takut satu ranjang dengan Tara. Karena kelakuan anehnya yang selalu tidak sadar memeluk-meluk benda di dekatnya saat tidur.
"Diamlah, aku capek. Ingin istirahat. Kalau Adek tidak ingin tidur satu ranjang dengan Abang. Ya sudah, Adek saja yang tidur di sofa." Tegas Tara menutup mata. Dengan posisi tubuh terlentang dan kedua tangannya ditautkan di atas perutnya.
"Kita itu tidak boleh ada kontak fisik. Awas saja kamu kalau berani menyentuh saya. Najis...!" ketus Embun, kembali membuat guling sebagai pembatas.
"Iya, Aku najis. Sesekali mulutnya dibiasakan mengeluarkan kata-kata yang baik. Tidak perlu Adek mengeluarkan kata-kata yang membuat orang sakit hati mendengarnya, sebagai ungkapan kebencianmu. Jangan merendahkan orang." Tara menghembuskan napas berat dan mengubah posisi tidurnya miring membelakanginya Embun. Sungguh tutur katanya menusuk hati membuat terluka.
"Siapa suruh menerima perjodohan ini. Siapa suruh menikah denganku. Aku benci kamu tahu. Gara-gara kamu Aku berpisah dengan pria yang sangat ku cintai." Embun menggerutu, yang membuat Tara semakin kesal saja mendengarnya.
"Abang tidak memisahkan kalian. Nanti juga kan Adek kembali kepada Dia." Jawab Tara lembut, masih membelakangi Embun. Tapi, jangan tanya hatinya saat ini. Sakit dan hancur.
"Awas saja, jika kamu tidak menepatinya." Tegas Embun, Tara diam, merasa tidak ada gunanya untuk mendebatnya.
Dua jam telah berlalu, malam semakin larut. Tapi Embun sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Kekesalannya kepada Tara semakin besar saja. Apalagi Tara sempat menceramahinya mengenai mengeluarkan kata-kata yang baik. Embun tidak terima dikatakan sebagai wanita yang tidak punya sopan santun.
"Menyebalkan sekali Dia. Bisa-bisanya Dia tidur dengan pulas." Embun mendudukkan tubuhnya. Melayangkan tinjunya di udara ke arah Tara. Seolah-olah wanita itu ingin menghajar Tara.
Merasa tidak nyaman satu ranjang dengan Tara. Dia pun memilih untuk tidur di sofa saja. Dengan menggerutu dalam hati. Embun membawa bantal dan selimut menuju sofa. Dia pun berusaha untuk tenang, agar bisa tertidur.
❤️❤️❤️
Ritme sirkadian atau alarm alami, Selalu membuat Tara bangun tepat waktu, sebelum adzan subuh berkumandang. Walau tadi malam Dia baru bisa memejamkan matanya pukul 1 dini hari. Dia susah tidur, karena suasana hatinya terusik dengan kata-kata tajam dan pedas yang keluar dari mulut istrinya itu.
Dia menatap sendu wajah Embun yang kini memeluknya, melingkarkan tangannya di perutnya Tara. Melihat wajah polosnya Embun saat tidur, membuat ujung bibirnya Tara menyungging. Dia sangat bersyukur dengan kelakuan Embun, yang tidur seperti orang mati dan tangannya suka bergerilya.
Dipindahkan saat tidur dari sofa ke ranjang pun Embun tidak sadar.
Dengan pelan dan lembut, Tara mencium kening Embun. Kemudian melepaskan belitan tangan Embun dari tubuhnya. Dia turun dari ranjang dan membersihkan tubuhnya kemudian berwudhu.
Setelah rapi, Tara kembali menatap Embun yang masih tertidur pulas. Ingin rasanya Dia membangunkannya. Mengajaknya sholat shubuh berjemaah. Tapi, Dia takut, Embun akan marah-marah. Padahal ini masih pagi sekali.
__ADS_1
Tara turun ke lantai satu, mendapati Pak Baginda ingin sholat berjamaah di Mesjid.
"Tulang, Aku ikut." Tara mempercepat langkahnya, menghampiri mertuanya itu.
"Embun sudah bangun kan Tara?" Mama Nur menyamperin suami dan menantunya.
"Iya Nantulang, tapi Embun tidur lagi. Dia katanya mau sholat di kamar saja." Tara lagi-lagi berbohong.
Satu jam kemudian, Embun terbangun dengan perasaan terkejut.
"Kenapa? kenapa, aku disini? bukannya semalam aku tidur di sofa?" Embun panik dan kesal, matanya berusaha mencari sosok Tara di sekitar kamar dan Dia tidak mendapati keberadaan Tara.
"Awas kamu nanti, berani sekali Dia menyentuhku. Embun turun dari ranjang, setelah melirik jam yang bertengger di dinding kamar sudah menunjukkan pukul enam pagi. Dia pun bergegas mandi dan sholat shubuh.
Embun menyisir rambutnya dan berhias seadanya. Saat itu Tara memasuki kamar dengan bersiul.
"He, Tarapampang..." ketus Embun menatap tajam Tara, yang kini menghentikan langkahnya. Kemudian Tara melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi, setelah menatap Embun sekilas.
"He Tarapampang, aku ingin bicara."
"Tarapampang? Adek bicara dengan Abang?" Tara menunjuk dirinya.
"Iyalah, masak bicara dengan dinding. Dasar begok....!" Ketus Embun.
Tara melanjutkan langkahnya, Dia tidak merasa dipanggil. Karena namanya Tara, bukan Tarapampang.
"He, kenapa malah pergi. Aku bicara sama kamu. Kenapa kamu memindahkan ku dari sofa ke ranjang?" Embun masih menunjukkan sikap jutek dan kesal.
Tara mengangkat alis kirinya. "Aku bukan orang kurang kerjaan mengangkat tubuh gemukmu." Tara tersenyum devil.
"Apa? kamu katain Aku gemuk?" Embun marah, menghampiri Tara yang sedang menganggukkan kepalanya.
"Enak saja ngatain orang gemuk. Aku itu tubuhnya proporsional. Banyak teman wanita yang ingin punya bodi sepertiku. Dan para pria banyak yang memujinya. Dasar mata rabun.!" ketus Embun dengan ekspresi wajah kesalnya. Tara ingin tertawa melihat ekspresi wajah Embun yang tidak terima dikatain gemuk.
"Apa? semekot? apa itu semekot?" Embun kesal ditertawakan.
"Semekot alias semeter kotor." Tara masih tertawa dan memegangi perutnya yang sudah terasa kram.
Meladeni ucapan pedas Embun, tidak perlu diambil hati, sesekali dibuat jadi candaan saja.
"Sudah, sudah, jelaskan padaku? kenapa kamu masih berani menyentuhku, memindahkanku ke ranjang?" cecar Embun.
Tara tersenyum, Dia merasa terhibur karena mengerjain Embun pagi ini "Tadikan sudah Abang bilang. Untuk apa Abang kurang kerjaan menggendong orang gemuk. Adek itu yang berjalan sendiri. Sambil ngelindur, bahkan Adek memaksa untuk dipeluk dan dicium." Ucap Tara menahan tawanya.
"Apa? itu tidak mungkin terjadi. Aku memang suka mengigau. Tapi, Aku tidak pernah tidur sambil berjalan." Ucap Embun tidak percaya. Dia merasa ngeri sendiri, apabila benar yang dikatakan Tara.
"Iya, buktinya itu. Adek bisa pindah dari sofa ke ranjang. Sudah, Abang gak mempermasalahkannya koq, walau Adek memaksa-maksa untuk dicium." Tar nyengir.
"Apa? masak sih?" Embun malu sendiri. Dia menunduk malu.
"Iya, sudah Adek cepat beres-beres. Jam tujuh kita harus berangkat." Tara masuk ke kamar mandi, meninggalkan Embun yang bengong.
❤️❤️❤️
Setelah menempuh perjalanan 90 menit menggunakan mobil dari kota PSP ke Pinangsori, kini Embun dan Tara sudah sampai di Bandara Ferdinand Lumban Tobing.
Ternyata waktu sudah mepet, sehingga Tara sedikit menarik lengan Embun agar lebih cepat berjalan untuk check in.
Tara menghentikan langkahnya di koridor terminal. "Di tempat ini, pernah seorang gadis aneh, meluk-meluk Abang dan minta dibawa pergi, agar selamat dari pengejaran sekelompok orang. Dia katanya mau menumpang sampai ke persimpangan. Eehh gak tahunya, gadis aneh itu malah ketiduran. Ya sudah Abang bawa aja ke rumah. Rencana mau dibuat jadi pembantu gitu. Tapi, ternyata Dia kabur duluan." Tara menatap lekat Embun yang nampak terkejut dan sedikit gelisah itu.
"Gak nanya." Embun membuang pandangannya.
__ADS_1
"Pingin cerita aja." Tara kembali menuntun Embun agar cepat berjalan.
"Gak ingin tahu, ceritanya gak menarik." Jawab Embun ketus, sekaligus takut. Dia akan malu sekali apabila Tara mengetahui bahwa Dialah wanita aneh yang diceritakan oleh Tara.
"Abang jadi penasaran, kemana ya wanita itu menghilang?" masih terus berjalan menuju terminal keberangkatan.
"Mana ketehe." Embun mengangkat bahu, sambil melirik Tara yang tertawa.
"Katanya kaya, tapi koq naik pesawat komersil?" ucap Embun setelah mereka take off.
Tara melirik Embun di sebelahnya, terkejut dengan ucapan Embun. "Mau naik Jet pribadi?" Tara menatap lekat Embun.
"Gak, heran saja. Biasanya orang kaya, pengusaha sukses gitu keseringan ke luar kota naik pesawat pribadi." Jawab Embun jutek.
"Nanti deh, Abang ajakin Adek pulang kampung naik jet pribadi." Jawab Tara.
"Emang, kamu punya jet pribadi?" tanya Embun tidak percaya. Tara mengangguk. Embun hanya ber o ria, merasa takjub dengan kekayaan yang dimiliki Tara.
Kini mereka sudah sampai di Bandara Kuala Namu. Tara dan Embun menaiki mobil mewah merk Mercedes Benz warna hitam. Embun terkagum-kagum dengan interior mobil yang menjemput mereka. Dia takjub setakjub-takjubnya. Dia bahkan merasa nervouse saat menaiki mobil mewah tersebut. Karena baru pertama kali menaiki mobil semewah ini. Mobil miliknya Mas Ardhi juga bagus dan mewah. Tapi, ini lebih mewah dari mobilnya Ardhi.
"Ya ampyun... mobilnya bagus banget." Ucap Embun tanpa sadar, memuji mobil miliknya Tara.
Embun kembali memperhatikan semua interior mobil yang didudukinya.
Bagian belakang dilengkapi dengan empat kursi, di mana kursinya saling berhadapan satu dengan yang lainnya seperti nuansa mobil limusin. Kursi-kursi tersebut dapat disenderkan dan ada ruang di konsol tengah untuk gelas sampanye. Interior kursinya bahkan dilengkapi dengan bantal. Interiornya juga dilengkapi dengan 300 lampu LED untuk memberikan aksen pencahayaan yang kuat.
"Adek suka? kalau Adek suka. Ini bisa jadi miliknya Adek." Wajah Tara nampak berbinar-binar saat mengatakannya. Karena Dia melihat Embun begitu bahagia saat menaiki mobil miliknya ini. Melihat Embun senang, seperti saat ini.
"Apa, untukku? kamu gak sakit kan memberikan mobil untukku?" rawat wajah Embun nampak tercengang.
Tara tersenyum. "Adek istrinya Abang, sudah kewajiban Abang memberikan semua kebutuhan Adek." Embun terkejut mendengar penuturan Tara.
"Gak, gak. Aku gak mau mobil darimu. Nanti, kamu malah memanfaatkan Aku. Agar jadi istri beneran. Ingat ya, pria yang ku cintai hanya Mas Ardhi. JANGAN HARAP AKU AKAN MENYUKAIMU. JANGAN NGIMPI..!" Tegas Embun membuang wajahnya.
Tara tertawa, Dia ingin menutupi rasa sakit hatinya atas ucapan Embun yang merendahkannya.
"Siapa juga yang mau jadikan Adek jadi istri Abang beneran. Kalau Abang mau, kenapa Abang relain kamu kembali kepada Pak Ardhi. Dasar gadis aneh. Katanya benci. Tapi suka sekali ngajak berdebat. Kalau kita benci, kita itu malas bicara. Tapi, Adek selalu ngajak ribut, seolah cari topik pembicaraan." Tara nyengir mengejek.
"Eeehh... orang beda-beda cara mengekspresikan rasa bencinya. Kamu juga, kenapa selalu memancing-mancing. Kamu lebih aneh lagi, katanya tidak cinta tapi, mau menikah denganku. Katanya Aku gak level, jelek, gendut. Tapi, kenapa malah mau dijodohkan denganku?" cecar Embun, menantang Tara yang duduk di hadapannya. Karena saat ini mereka duduk dibelakang, di mana empat kursinya saling berhadapan.
"Emangnya ada Abang bilang tidak cinta?" tanya Tara dengan ekspresi wajah serius.
Kedua bola mata Embun membelalak. "Jadi, kamu cinta sama Aku gitu?" Embun tertawa renyah.
"Apa ada Abang bilang Abang cinta Adek?" wajah Tara masih serius.
"Gak ada." Jawab Embun enteng.
"Jadi, kenapa Adek menyimpulkan bahwa Abang mau menikah dengan Adek, karena Abang cinta Adek?" Tara masih menampilkan ekspresi wajah seriusnya, dengan tatapan datar ke arah Embun.
"Aneh saja, ada pria kasih mas kawin milyaran terus mau memberi mobil mewah. Apa itu namanya kalau gak cinta atau ada rasa." Jawab Embun malas.
"Adek pernah dengar pria kaya, punya banyak simpanan?"
"Pernah, sering malah."
"Wanita simpanannya begitu dimanjakannya. Memberikan apa yang di mau si wanita. Apa pria itu mencintainya? belum tentu." Tara berdecak kesal, mulai malas berdebat dengan Embun.
"Jadi, apa maksudmu mau menikah denganku? kalau kamu tidak suka padaku?" Embun mendekatkan wajahnya kepada Tara yang duduk dengan tegap.
"Sudah sering Abang jawab, kita menikah karena ingin membahagiakan keluarga besar kita. Jadi, Adek tidak perlu ke baperan. Dan bersikaplah yang baik, dengan tutur sapa yang sopan. Jadi, disaat kita sudah berpisah kelak, tidak ada penyesalan dan rasa bersalah." Tara menatap lekat Embun yang mencodongkan wajahnya kehadapannya. Perlahan Embun memundurkan kepalanya. Memutuskan untuk mengakhiri perdebatannya dengan Tara.
__ADS_1
TBC
Tinggalkan jejak dengan like coment positif dan Vote say tips juga boleh bgt.😍❤️🙏