
Tara mencelupkan test pack itu dibawah garis batas max ke dalam urinenya Embun. Istrinya yang tadinya membuka mata, kini memicingkan mata kirinya, guna melihat testpack yang dicelupkan itu. Sungguh Embun dibuat
jantungan saat ini. Test kali ini sangat menegangkan. Setelah menunggu sekitar
sepuluh detik, Tara mengangkat test pack itu. Seketika Embun dibuat lemas. Dan wajahnya layu sudah.
“Kenapa hanya satu garis yang berwarna merah.” Ucapnya lesu, disaat Tara mengangkat testpack dari wadah tempat urinenya Embun.
“Sabar sayang, katanya kita tunggu 1-10 menit setelah dicelup. Ini baru beberapa detik.” Embun pun akhirnya semangat lagi. Kedua nya
menatap lekat test pack itu. Tara yang jauh lebih tinggi dari Embun, menundukkan sedikit tubuhnya. Agar mereka bisa sama-sama memperhatikan perubahan garis test pack itu.
“Sa, sayang…. Garisnya, garisnya berwarna merah. Ada dua garis merah sayang.” Embun berhambur memeluk Tara dengan hebohnya. Dia tidak tahu, gelas ukur tempat menampung urinenya tersenggolnya. Sehingga jatuh dari
wastafel, tepat mengenai wajah sang suami. Urine Embun yang jumlahnya tak
banyak itu pun suskes kena cicip oleh lidahnya Tara. Walau sedikit, tapi indera perasa lidahnya
langsung berfungsi dengan baik. Rasa asin, sepat, asam.
“Harusnya Tara bersorak riang gembira seperti istrinya saat ini. Tapi, dia tidak mood lagi, Karena sudah sarapan urinenya Embun. Embun
mengendorkan dekapannya saat berhambur ke dalam pelukan Tara. Bahkan Embun kini
membelitkan kedua kakinya ke pinggang suaminya itu. Mengalungkan kedua tangan
di lehernya Tara.
“Koq wajahnya sepet gitu? Gak senang adek hamil? Kenapa Abang tidak beruforia seperti adek? Abang tidak mau adek hamil?” rawut wajah Embun saat ini mendadak mendung. Dia sedih, karena Tara diam saja, saat mereka mengetahui dirinya hamil. Ekspresi wajah suaminya itu kusam.
“Kenapa wajah Abang cemberut gitu?’ HUAHUAHUA…. Embun
menangis, menatap heran Tara yang masih menggendongnya.
“Lepas, lepaskan aku!” Embun berontak, menghentakkan kaki kesal di hadapan Tara yang nampak tidak senang itu. Tara pun menghela napas dalam, meletakkan testpack itu di atas wastafel, langsung membersihkan wajahnya. Embun menyambar test pact itu, menarik dengan kerasnya handuk dari gantungan, membelitkannya ke pinggangnya. Wanita itupun keluar dari kamar mandi dengan
perasaan sedih. Suaminya tidak bereaksi apa-apa saat dirinya ketahuan hamil.
Malah muka sepet yang dilihatnya.
__ADS_1
“Gak Mau aku hamil, tapi tiap malam dia meniduriku. Kenapa ekspresi wajahnya kecut seperti itu.” Embun mengomel sambil nangis tersedu-sedu di atas ranjang. Dia menelungkupkan dirinya. Sedangkan Tara masih mencuci muka dan menggosok giginya di dalam kamar mandi.
“Kenapa dia cemberut tadi. Dulu dia ingin aku hamil cepat. Sekarang kenapa dia seolah tidak senang.” Embun masih mengomel, jiwa kekanak-kanakan dan egois muncul lagi. Mengetahui Tara menghampirinya. Dia pun membenamkan wajahnya ke bantal.
“Adek kenapa marah-marah. Sampai kedengaran ke kamar mandi.
Siapa yang tidak senang, mengetahui istrinya hamil. Abang senang, sangat
senang, bahagia sekali.” Tara berusaha meraih tubuh Embun agar bangkit. Tapi,
wanita itu mempertahankan posisinya. Dia menepis tangan Tara yang berusaha meraihnya.
“ Kalau senang, kenapa wajahnya sepet begitu. Mulut abang juga ekspresinya seperti ngeledek. Bibirnya ditekuk ke bawah.” Teriak Embun kesal. Sungguh hatinya merasa sakit, karena Tara tidak menunjukkan ekspresi
bahagianya.
“Gimana gak sepet. Urine adek terciprat ke wajah Abang. Saat itu abang juga lagi sangat bahagia. Urine adek itu sebagian masuk ke mulut abang, yang sednag terbuka saat ingin teriak mengeskpresikan kebahagiaan itu.
Adek sih, gak lihat-lihat sekeliling, main peluk aja.”
Embun terhenyak mendengar ucapan sang suami. Ekspresi terkejut serta merasa lucu, kini terlihat jelas di wajah Embun. Wanita itu pun langsung bangkit, duduk di hadapan Tara dengan ekspresi wajah menahan tawa.
“Kasihan suamiku minum air jam jam rasa nano-nano di pagi hari.” Wkwkwkwkwk….. Embun tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa kuat. Dia sedang membayangkan kejadian itu. Wadah urinenya tersenggol, sampai terciprat ke wajah tampannya Tara. Terus sebagian masuk ke mulut. Astaga…. Rasanya urine
bagaimana ya? Embun bergidik jijik.
“Tadi marah-marah, sekarang tertawa-tawa. Senang lihat suami sendiri menderita.” Ketus Tara, dia kesal juga pada Embun yang menertawakannya. Embun terdiam sebentar memperhatikan lekat wajah Tara saat bicara. Tapi, sedetik kemudian Embun kembali tertawa terbahak-bahak. Dia sampai memegangi
perutnya. Karena terlalu keras tertawa, sehingga perutnya terasa kram.
“Aduh, aduh hasian, perutku kram ini.” Ucapnya dengan rawut wajah kesakitan. Tara jadi panik.
“Tarik napas sayang, terus tahan ya? Angin itu sayang. Lakukan yang abang pinta.” Embun pun menarik napas berulang kali. “Gimana masih
sakit?” tanya Tara penuh kekhawatiran, mengusap perut Embun dengan lembut.
“Gak lagi bang. Di sini sesak dan seperti di tekan.” Embun meraih tangan Tara, menempatkannya di bagian tulang rusuknya.
“Angin itu, makanya jangan suka ketawain suami dengan mulut terbuka lebar begitu.” Tangan Tara menelusup masuk ke balik piyamanya Embun, mengusap-usap
__ADS_1
perut Embun dibagian tulang rusuk di bawah gunung kembar istrinya itu. Tentu
saja, bagian sensitif miliknya Tara dibawah sana jadi menegang, karena tangannya bersentuhan dengan gunung kembar kenyal, hangat miliknya Embun yang tidak ditutupi BRA itu. Ya setiap malam Embu tidur tidak pakai BRA. Karena, sudah kebiasaan Tara memainkan itu atau memegangnya sebelum tertidur pulas.
“Aiihhh… Gak mau ahh,” Embun menarik tangan Tara, agar keluar dari balik piyamanya.
“Megang aja koq, pelit amat sih sayang.” Ucap Tara tersenyum genit, menatap Embun dengan menggigit bibir bawahnya. Suaminya itu gemes lihat Embun yang pura-pura tidak mau, tapi nantinya minta double.
“Bang..” Mulut Embun masih protes, tapi tubuhnya mengatakan lain. Tara yang memilin-milin pucuk gunung kembar itu, membuatnya menggelinjang enak dan geli.
“Gemes Abang, koq ini makin padat dan besar sayang. Padat, tapi lembut, hangat lagi.” Masih mengeksplore gunung kembarnya Embun. Istrinya itu akhirnya tidak tahan juga dengan kelakuan sang suami. Dia memang suka
banget kalau dia memberi ASI kosong pada Tara. Rasanya gimana gitu, kalau suaminya itu minta mimik susu yang tak ada airnya itu.
Tara pun tersenyum penuh kemenangan disaat Embun yang tidak sabaran itu langsung melepas piyamanya sendiri. Dia pun langsung merangkum wajah Tara. Membenamkan wajah suaminya itu di gunung kembarnya. Tentu saja ini adegan yang sangat disukai Tara. Gunung kembar istrinya itu hangat, Montok,lembut, padat. Aahhh.. Entahlah, Tara bahagia sekali, Kalau Embun sudah naik birahinya. Istrinya itu tahu betul apa maunya sang suami. Dan Istrinya itu, sekarang tak malu-malu lagi mengatakan apa maunya.
“Bang, nanti mainnya pelan-pelan ya?’ bisik Embun di daun telinga Tara. Kini Embun sudah berbaring di bawah kungkungan Tara. Pria itu
sedang mengeksplore ceruk leher sang istri, yang membuat Embun menggelinjang
kayak cacing kepanasan. Bahkan Jemarinya kini kuat mencengkram punggung, dan
bahu sang suami.
“Iya,” Jawab Tara pendek. Kenapa setelah ketahuan hamil, jangan diminta pelan-pelan. Padahal selama ini, tidak apa-apa. Dari perkiraan Embun yang telat datang bulan, sepertinya kandungan istrinya itu sudah lewat
dua bulan.
“Benar ya sayang.”
“Ehhmm..”
“Eehhhh.. Gak boleh dimasukin ya, kita gini-gini saja.”
‘Apa..” Tara menatap lekat Embun. Embun memelas.
“Iya deh.” Jawab Tara pendek. Dia tahu Embun mengkhawatirkan anak mereka.
TBC
__ADS_1