
Tara ragu, "Itukan sendok Adek." Ucapan Tara membuat Embun pun tersadar dengan kelakuannya, tak seharusnya dia memaksa Tara untuk mencicipi Lasagna itu dengan menggunakan sendok yang dipakainya. Karena selama ini, dia begitu benci dengan Tara dan sekarang kenapa dia ingin satu sendok dengan pria yang sering dikatakannya najis itu.
"Abang pakai tangan saja. Abang tidak mau nanti perut Adek jadi mual dan akhirnya muntah, jika Abang pakai sendok Adek." Tara masih saja tersenyum dia pun memasukkan potongan Lasagna itu ke mulutnya.
Embun terdiam memperhatikan Tara yang sedang mengunyah Lasagna. Embun merasa bersalah, malu, dan takut melihat sikap Tara, yang masih saja bersikap baik kepadanya. Padahal dia selalu memaki pria itu.
"Itu ada saos." Embun menunjuk bibir bawahnya. Memberi kode, kalau bibirnya Tara belepotan.
"Oohh iya, Lasagnanya enak banget, lumer banget." Tara mengambil tisu di atas meja dan melap bibirnya.
Tara tertawa, "Kenapa?" Embun heran, karena Tara menertawakannya.
"Itu, bibir Adek juga belepotan." Tara menunjuk bibirnya. Embun pun mengambil tisu dan melapnya. Tara memperhatikan Embun dengan lekat. Embun jadi grogi.
Hening beberapa detik.
"Apa Lolita gak marah tadi?" Embun melirik Tara, yang masih melanjutkan memakan Lasagna.
"Marah, marah kenapa?" Tara menoleh ke arah Embun.
"Ya, tadi ka mu, eehh A, Abang bilang gak jadi jalan-jalan karena melihat Adek lemas gitu." Embun tergagap, biasa memanggil Tara dengan kamu. Dan kini, lidahnya ingin dilatihnya memanggil Tara dengan sebutan Abang. Biar lebih sopan.
Tara menarik napas dalam sambil tersenyum. Embun takjub melihat senyumnya Tara.
"Lolita itu ternyata gadis yang baik, pengertian, pintar dan mandiri. Mana mungkin Dia keberatan. Adek kan temannya. Bahkan tadi dia ngotot mau ikut ke sini. Tapi, Abang larang. Karena adek bilang waktu itu, dia belum boleh datang ke rumah kita. Takut dia nantinya curiga dan mengetahui hubungan kita."
Deg....
Embun tidak terima, Tara memuji sifat Lolita. Ya benar, yang dikatakan Tara itu. Lolita memang gadis yang baik dan Soleha. Karena, dia rajin beribadah, walau tidak pakai hijab. Bahkan di kampus, Lolitalah yang selalu mengingatkan Embun untuk sholat.
"Apa sekarang Abang menyukainya?" jantung Embun berdetak tak karuan saat mengatakan itu. Dia sangat takut mendengar jawaban Tara. Entah kenapa dia tidak akan suka mendengar, Tara menyukai Lolita.
Tara mengangguk. "Iya, Dia gadis yang baik. Sopan, manis, sempurna. Awalnya Abang malas untuk dekat dengannya. Tapi, sekarang Abang sudah nyaman." Tara melayangkan pandangannya lurus ke depan. Memandang langit senja.
Embun menunduk, dia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kegundahan hatinya. Kenapa dia tidak suka melihat perkembangan hubungan Tara dan Lolita. Padahal dia yang ngotot, agar Tara menjalin hubungan dengan Lolita. Bahkan dia sudah berjanji kepada Lolita, akan menjadikan Tara suaminya.
Apa dia cemburu? aaahh tidak, itu tidak mungkin. Di hatinya hanya ada Mas Ardhi. Mungkin dia hanya merasa kesepian saja.
"Adek kenapa?" kini Tara menoleh ke arah Embun yang masih menunduk. Tara jadi khawatir, tadi wanita itu sangat ceria, memaksanya memakan Lasagna. Sekarang kenapa jadi diam dan menunduk.
"Gak apa-apa, mataku kena serangga." Tara pun akhirnya meraih wajah Embun. Kini terpampang lah wajah Embun yang sedih, kedua matanya sudah berair.
"Pedih?" tanya Tara, Embun mengangguk. Hatiku lebih pedih lagi. Embun membatin.
Kini Tara membuka lebar kelopak mata Embun, meniup mata indahnya Embun yang memerah.
"Masih sakit?" Embun kembali mengangguk. "Hatiku juga sakit." Ucapnya keceplosan, Tara menghentikan kegiatannya meniup mata Embun, karena terkejut mendengar ucapan istrinya itu. Tapi, Dia berpura-pura tidak mendengarnya.
"Gak ada serangga dek." Tara masih memperhatikan kedua bola mata Embun yang masih berair.
"Sudah lenyap, karena aku tadi mengucek mataku dengan kuat." Embun ngeles dan menjauhkan wajahnya dari hadapan Tara.
"Harusnya ada mayatnya." Jawab Tara seloroh.
"Manusia kalo ada mayatnya." Jawab Embun ketus.
__ADS_1
Tara tertawa kecil, "Ayo kita masuk, sudah Magrib." Tara bangkit dari duduknya, menjulurkan tangannya untuk membantu Embun bangkit. Dengan perasaan berdebar, Embun meraih tangan Tara.
Saat itu juga ponsel Tara bergetar di saku celananya. Embun melepas tangannya Tara.
"Siapa yang menelpon? apa ibu?" Ponsel yang bergetar adalah ponsel khusus untuk keluarga.
"Lolita." Ucap Tara, Embun menatap Tara dan ke layar ponselnya Tara.
"Kenapa dia menelpon?" Tara masih menatap layar ponselnya. Dia pun mengangkatnya.
"Assalamualaikum Abang Sutan, aku sudah di rumahmu ini. Di ruang tamu." Lolita nyerocos, Tara bahkan tidak sempat menjawab salamnya.
Tara melirik Embun yang terdiam. "Lolita ada di bawah."
Embun kaget, "Apa? kenapa si Lolita datang mendadak?" Embun jadi khawatir. Dia takut, Lolita banyak pertanyaan. Dia sedang malas di interogasi.
"Aku khawatir sama Embun, makanya aku datang. ART, suruh aku nunggu di bawah. Karena, katanya kamu dan Embun sedang di kamar. Embun baik-baik sajakan, bilangin sama ART nya, agar bolehin aku ke kamar Embun. Aku sedang dicegat ini." Suara Lolita terdengar kesal.
Embun dan Tara saling pandang, "Sebentar aku turun, tunggu di situ ya dek." Tara pun mematikan ponselnya.
"Bagaimana ini?" Embun panik. Menahan lengan Tara yang hendak turun.
"Bagaimana apanya?" tanya Tara bingung.
"Kalau Dia tahu, kita sebenarnya pasangan suami istri, bagaimana?" Embun kalut, dia *******-***** jemarinya. Menatap Tara yang kini tersenyum.
"Apa kita pasangan suami istri?" Tara menggoda Embun. Embun pun berdecak kesal. Merasa malu dengan ucapannya.
"Aku serius Bang, aku tidak mau Lolita salah paham nantinya."
"Tenang, Dia harus tahu yang sebenarnya. Jika dia tidak bisa menerima Abang yang duda. Ya sudah, masih banyak koq cewek yang antri. Nanti, tugas kamu untuk menyeleksinya untuk Abang. Bagaimana?" Tara menaik turunkan alisnya. Kening Embun mengernyit, tidak terima dengan ucapan Tara.
Lolita langsung berhambur memeluk Embun yang kini berada di belakang Tara.
"Bunbun, aku kepikiran kami terus. Tara bilang kamu sakit." Lolita melepas pelukannya, mulai memeriksa suhu tubuh Embun. Embun tersenyum paksa, mulai tidak senang melihat keberadaan Lolita di dekat Tara.
"Iya suhu tubuhmu sedikit panas. Tapi, kepalamu suhunya lebih tinggi." Lolita menempelkan punggung tangannya di kening Embun. Dia juga menempelkan tangannya di kepala Embun.
Embun menurunkan tangan Lolita. "Aku baik-baik saja, hanya kelelahan." Jawab Embun malas, merasa tidak senang dengan kedatangan Lolita.
Tara tersenyum senang, melihat keakraban kedua wanita dihadapannya.
"Kalian lanjutkan temu kangennya. Abang mau sholat Magrib dulu." Tara pun meninggalkan kedua wanita itu. Tapi, langkahnya terhenti di karena Lolita memanggilnya.
"Abang Sutan, aku ikut." Lolita menggandeng Embun, mengekori Tara untuk berwudhu.
Tara dan Lolita sudah selesai berwudhu, kini tinggal Embun yang merasa frustasi di dalam kamar mandi. Tenyata dia menstruasi. Pantesan dia lemas dan lebih sensitif.
Tara sudah iqomat, Lolita sudah siap jadi makmum. Tara menoleh kebelakang mencari keberadaan Embun. Karena merasa tidak melihat kehadiran istrinya itu. Dia melihat Embun mengintip di balik dinding dengan tersenyum tipis.
Tara dan Lolita pun melaksanakan sholat Magrib berjamaah. Embun menatap lekat keduanya. Hatinya terenyuh melihat tontonan dihadapannya. Dia jadi teringat, saat dirinya dan Tara dulu pernah melakukan sholat berjemaah.
Saat itu setelah sholat Tara menyodorkan tangannya untuk dicium olehnya. Dengan kesal dirinya mencium punggung tangan suaminya itu.
Embun merasa dadanya sakit dan sesak, semua kelakuannya terhadap Tara melintas di pikirannya. Ucapannya yang kejam, sikapnya yang kasar dulu, benar-benar sangat disesalinya. Tak seharusnya dia larut dalam kebencian. Dan berusaha membalas dendam, karena merasa disakiti. Padahal Tara tidak ada salah kepadanya. Semuanya hanya salah paham.
__ADS_1
"Bunbun, kamu kenapa?" ucapan Lolita menyadarkannya dari lamunan. Dia pun dengan cepat melap air matanya. Berlari cepat ke pintu lift. Tara yang melihat banyak perubahan pada diri Embun hari ini, dibuat khawatir. Apa yang terjadi kepada istrinya itu?
"Apa Embun sudah diperiksa Dokter?" tanya Lolita penuh kekhawatiran pada Tara yang nampak sedang berpikir keras.
"Belum." Tara bergegas untuk menghampiri Embun. Tentu saja Lolita mengekorinya.
Sesampainya di kamar, Embun terkejut. Melihat Lolita yang kini sudah ada di kamarnya. Dia langsung mendudukkan tubuhnya dan bersandar di headbord tempat tidurnya.
Tara yang begitu khawatir nya, langsung mendekati Embun. Menempelkan punggung tangannya di keningnya. Lolita hanya terbengong melihat sikap Tara. Menurutnya sikap Tara terlalu overaktif. Seperti sikap seorang suami yang sangat mengkhawatirkan istrinya. Bukan seperti sikap sebagai saudara.
Heran melihat sikapnya Tara. Lagi-lagi Lolita dibuat terkejut, melihat beberapa foto Tara terpampang di dinding kamar itu. Jika ini kamarnya Embun, kenapa ada foto Tara di kamar ini. Tidak masuk akal kan, Embun mengoleksi foto saudara sendiri, secara terang-terangan.
"Temani Embun sebentar, Abang telepon Dokter dulu." Tara bangkit dari ranjang.
"Tidak usah panggil Dokter, ini hal biasa. Istirahat dan banyak minum air hangat juga aku akan merasa baikan." Ucapan Embun, membuat Tara menghentikan langkahnya untuk menghubungi Dokter. Sedangkan Lolita, dibuat terheran-heran dengan sikap dan bahasa tubuh yang ditunjukkan Tara dan Embun.
"Tapi, Embun kamu pucat loh. Sebaiknya diperiksa oleh Dokter. Lolita dalam kebingungan, masih sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu.
"Gak apa-apa, biasanya juga akan baikan sendiri. Kalau aku istirahat dan minum jamu kunyit asam." Tara hanya menyaksikan dialog Lolita dan Embun. Tara juga baru tahu, kalau Embun mengalami Dismenore.
"Kalau begitu kamu makan dulu, terus minum obat pereda nyeri." Lolita menatap sedih sahabatnya itu. Sedangkan Tara langsung menghubungi ART nya untuk mengantarkan makanan untuk Embun.
Saat itu juga ponsel Lolita berdering dari dalam tas selempangnya. Lolita pun menerima panggilan telpon dari Ayahnya. Memintanya agar segera pulang.
"Bun, aku pulang dulu ya." Lolita memeluk Embun.
"Calon suami, jagain sahabatku ini ya." Ucapan seloroh Lolita membuat Embun tersedak. Sungguh dia terkejut dengan ucapan Lolita. Sedangkan Tara hanya tersenyum menanggapi guyonan Lolita.
"Kamarmu luas banget Embun, jauh lebih luas dari kamarku. Ini sih cocoknya kamar istri konglomerat." Lagi-lagi ucapan Lolita, membuat pasangan suami istri itu ketakutan. Mereka takut, apabila Lolita mengetahui, bahwa mereka adalah pasangan suami istri. Belum saatnya Lolita tahu.
"Kalau kamarmu saja sebesar dan semewah ini. Kira-kira kamar Abang Sutan seperti apa ya? aku jadi penasaran. Besok-besok, aku ceki-ceki kamar Abang Sutan ya. Berharap ada foto ku di kamar itu. Seperti kamarnya Embun, kenapa banyak foto Abang di sini?" ucapan Lolita, membuat pasangan suami istri itu saling pandang. Mereka bingung mau jelasin apa kepada Lolita.
"Sebenarnya ini kamarnya Abang. Embun ngotot pingin tidur di kamar ini. Katanya pemandangan dari sini bagus. Ya sebagai saudara yang baik, Abang mengalah." Tara tersenyum, dia sedang menutupi kegelisahan nya. Jangan sempat Lolita banyak tanya.
"ooh... jadi kamar Abang di mana?" Lolita masih penasaran.
"Di lantai dua." Jawab Tara cepat.
"Oohh..... Embun cepat sembuh ya, kamu harus semangat. Ingat Senin kamu ujian." Lolita tersenyum, Embun pun tersenyum.
"Iya, terimakasih sobat." Lolita kembali memeluk Embun. dia pun keluar dari rumah itu, Tara mengantarkan nya sampai ke luar.
"Adek makan dulu ya?!' kini Tara sudah ada di kamar. Embun mengangguk.
Tara menyodorkan nampan berisi makanan ke hadapan Embun. Sebenarnya dia ingin menyuapi Embun. Tapi, dia takut ditolak.
Embun pun makan dengan tidak berselera. Kenapa suaminya itu tidak mau menyuapinya. Padahal dulu, Tara selalu memaksa untuk menyuapinya.
"Abang tidak makan?" menatap Tara yang sibuk dengan ponselnya.
"Sebentar lagi, belum lapar." Jawab Tara melirik Embun, yang sudah menyudahi acara makannya.
"Ooohh.... aku mau tidur." Embun sengaja mengatakan itu, Dia ingin Tara meninggalkannya. Dia ingin menangis, menumpahkan rasa sedih dan galaunya.
"Tidurlah, Abang temani." Kini Tara sudah naik ke atas ranjang.
__ADS_1
"Abang mau apa?" Embun gelagapan.