DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Menikah tanpa cinta


__ADS_3

"Ibu tahu dari mana? saking terkejutnya, Melati menggunakan bahasa Indonesia. Wanita itu menatap Ibu Khadijah dengan sedih.


"Adong ma, Inda porlu dibotoho, ise mandokkonna tua au. Sabar ko da inang. Mardoa ho tu Tuhan, Aso lambok roha ni Boumi maligin ho. Nung mulak hamu tu Medan. Unang raho ho sabagas dohot boumi. ( Adalah, gak perlu kamu tahu, siapa yang cerita sama ibu. Sabar kamu nak, berdoa sama Tuhan. Agar ibu mertuamu senang lihat kamu. Kalau kalian sudah pulang ke Medan. Jangan mau satu rumah dengan Ibu Mertuamu.).


Melati benar-benar tak kuasa membendung kesedihannya. Ibu Khadijah terlalu bijak menurutnya. Dia pun memeluk sang Ibu. Kalau sudah begini, dia jadi malas pulang ke kota Medan. Dia ingin tinggal di kampung saja.


"Umak non mandokkonna tu Nak Ardhi. Aso ho manjae, Unang sabagas dohot Boumi. On sude umak lakuhon, indak get mambelaho. Tapi, Aso rukun ho dohot Boumu." (Ibu yang akan bilang sama nak Ardhi. Agar kalian tinggal di rumah yang berbeda dengan mertuamu. Ibu gak membela kamu. Ini semua ibu lakukan agar kamu rukun dengan Ibu Mertuamu)


Saat serius mendengarkan nasehat sang ibu. Terdengar pintu dibuka. Sontak Melati dan Ibu Khadijah menoleh ke arah pintu. Ada Ardhi yang masuk, membawakan wedang jahe yang nampaknya masih panas. Karena kepulan asapnya terlihat.


"Mas bawakan wedang jahe " Ardhi tersenyum menyodorkan nya pada Melati yang duduk di tepi ranjang bersama Ibu Khadijah.


Sebelum meraih gelas berisi wedang jahe itu. Melati menoleh kepada Ibu Khadijah. Dia seolah meminta persetujuan dari sang ibu. Ibu Khadijah mengangguk. Melati pun meraih wedang itu dari tangan nya Ardhi.


Ardhi berjalan ke arah lemari tempat pakaiannya berada. Ya kamar itu memang kamar untuknya dan Melati.


Saat menyeruput wedang jahe itu. Ekor mata Melati selalu mengawasi gerak-gerik Ardhi. Ternyata pria itu mau berganti pakaian.


"Habiskan da inang, Aso Unang mual beho." (Habiskan nak, agar kamu gak mual lagi.)


"Iya umak." Melati menyeruput pelan wedang jahe hangat itu. Rasanya gurih dan buat badan hangat.


"Umak perhatikan Nak Ardhi i halakna burju." (Ibu perhatikan Nak Ardhi itu orangnya baik)


Melati meletakkan gelas yang berisi setengah lagi wedang jahe di atas nakas. Dia heran dengan sang ibu. Malam ini ibunya itu memuji Adhi, padahal tadi sore, ibunya itu memaki habis Ardhi.


"Bukannya umak Inda suka tu Abang i? sore i kan, umak muluk-muruk tu ia." ( Bukannya umak tidak suka pada Abang itu? sore itu ,ibu marah-marah padanya.)

__ADS_1


"Eehhmmm.. wajarlah Umak kan kecewa, Makana umak marah sama dia." ( Ehmm... Wajarlah umak kan kecewa. Jadi unak marah samanya).


Krekk...


Ardhi keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai. Kaos Lacoste warna Salem, dipadu celana jeans navy. Bagaimana pun outfid yang dikenakan pria itu, selalu nampak Kren. Kaos harga serba 35 RB pun pasti bagus dikenakannya. Itu semua tak lepas dari tubuh proporsional dan kulit bersih nya Ardhi. Mana pria itu wangi lagi. Seketika kamar itu wangi semerbak, karena keberadaan pria itu di kamar itu


"Ada yang ingin ibu bicarakan." Ibu Khadijah hanya berbahasa daerah pada keluarga nya. Dia sebenarnya pandai berbahasa Indonesia.


"Oh Iya Bu." Ardhi duduk di kursi tepat dihadapan Melati dan Ibu Khadijah.


"Satu permintaan ku, bahagiakan putriku ini." Ucap Ibu Khadijah tegas, menatap tajam Ardhi. Wanita tua itu sedang mendoktrin Ardhi.


"Iya Bu, itu pasti." Ardhi menghindari tatapan Ibu Khadijah yang menghunus tajam itu. Kemudian pria itu menoleh ke arah Melati yang masih dalam keadaan menunduk. Lama-lama menatap tatapan tajam Ibu khadijah, akan menggelitik hati Ardhi. Sungguh Ibu Khadijah tidak cocok sebagai orang pemarah


.


Dug


Berdenyut nyeri rasanya jantung Ardhi mendengar ucapan Ibu Khadijah. Rasanya sangat menyakitkan memang, mengetahui fakta sang ibu tidak menyukai sang menantu. Ucapan Ibu Khadijah yang tepat sasaran itu, membuat Ardhi merasa bersalah sekali kepada Melati.


Ardhi tahu itu, sebaiknya setelah menikah, memang disarankan bagi suami istri untuk tinggal terpisah dari keluarganya. Hal ini ditujukan agar keduanya lebih mandiri. Tinggal terpisah juga merupakan salah satu upaya menghindari konflik yang sebenarnya tidak diperlukan. Apalagi Ibu Jerniati sudah ada konflik kian dengan Melati.


"Iya Bu. Percaya sama Ardhi. Ardhi tidak akan membiarkan istri dan anak saya terancam." Ucapnya dengan wajah sedih. Ardhi sangat menyayangkan sifat Ibu Jerniati, yang jahat itu. Dulu Ibunya itu sangat baik. Ardhi saja tahunya ibunya berubah karena informasi yang didapat oleh Rudi.


Tiga puluh menit pun berlalu, Ardhi tak kunjung keluar dari kamar itu. Pria itu sibuk dengan ponsel serta laptopnya di atas sofa. Melati yang berbincang-bincang dengan sang ibu Khadijah sudah mulai tidak tenang. Karena, seperti nya Ardhi ingin tidur di kamar itu. Melati belum siap berbagi ranjang dengan Ardhi. Bisa-bisa dia kehabisan napas di sebelah pria itu. Tidak bisa tidur, karena satu ranjang dengan pria yang ditakutinya.


"Baiklah Inang, istirahat kalian ya?" logat Batak Ibu Khadijah terdengar jelas. Maklum lah biasa berbahasa daerah, tiba-tiba berbahasa Indonesia, kedengarannya rada aneh. Ardhi yang dari tadi memilih menguping pembicaraan Melati ada Ibu Khadijah dibuat sangat terhibur. Karena, cara bicara Ini Khadijah yang sangat lucu saat berbahasa Indonesia. Beberapa huruf terdengar jelas.

__ADS_1


"Umak, kita tidur di sini saja." Rengek Melati pelan di daun telinga Ibu Khadijah. Saat wanita tua itu ingin beranjak dari ranjang.


"Diama mungkin umak dison modom. Indin suamimu inang." Jawab Ibu Khadijah keras. Sontak Melati malu dibuatnya. Karena Ardhi menoleh ke arah mereka. Ardhi tahu, Melati tidak ingin sekamar dengannya saat ini. Tapi, dia tidak akan mewujudkan keinginan wanita itu. Sampai kapan wanita itu, akan menghindarinya. (Mana mungkin, ibu tidur di sini. Itu ada suamimu).


Melihat ketakutan di wajah sang putri, Ibu Khadijah pun mendekati Ardhi. Pria itu langsung menjauhkan ponselnya. Menyambut ramah Ibu Khadijah yang menyamperinnya.


"Si Melati masih kurang sehat. Ibu harap, kamu jangan minta yang macem-macem. Beri dia kenyamanan."


Ardhi senyam - senyum menanggapi ucapan Ibu Khadijah. Sebegitu takutnya dia putri nya kembali diperkosa olehnya.


"Iya Bu." Masih senyam-senyum, Ibu Khadijah galak dan lucu juga, pikir Ardhi.


Sedangkan Melati saat ini, semakin tidak tenang. Pikirannya jadi kacau balau. Bisa-bisa nya ibu Khadijah bicara seperti itu pada Ardhi.


"Ingat besok pagi kita harus ke rumah. Tadi kan sudah umak Bilang. Habis sholat Dzuhur, besok kita adakan syukuran di rumah, sekalian minta Doa." Ucap Ibu Khadijah semangat menatap Ardhi dan Melati secara bergantian.


Melati sih merasa malu, karena dirinya hamil di luar nikah. Dia tidak sanggup bedak saat acara syukuran di rumah mereka. Semua mata akan menghakiminya. Tapi, tidak mungkin juga dia menolak niat baik ibunya itu.


"Iya Umak." Jawab Melati tersenyum manis pada sang Ibu. Ibu Khadijah pun keluar dari kamar itu.


Kini tinggallah mereka berdua di kamar itu. Pasangan pengantin baru yang terpaksa menikah itu, saling diam. Tentu saja mereka memilki untuk diam, karena keduanya merasa canggung satu sama lain.


Sunyi, sangat sunyi. Pasangan pengantin baru, sibuk dengan pikirannya sendiri. Saat ini Melati sedang memikirkan gimana kelanjutannya biduk rumah tangga mereka. Menikah tanpa cinta, bisakah bahagia? pertanyaan itu kini memenuhi otak wanita itu. Sehingga dia tidak bisa memejamkan matanya. Padahal sudah pukul 23.45 Wib.


Sedangkan Ardhi yang pura-pura sibuk itu, sedang mensearch di google tentang. Cara memulai hidup baru bagi pasangan yang menikah tanpa cinta.


TBC

__ADS_1


__ADS_2