DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Dosa


__ADS_3

"Abang bilang apa tadi? bilang cinta sama Rose? emang kalian itu soulmate, cocok bener. Kenapa gak nikah sama Rose saja dulu. Rose kan juga cinta sama Abang." Tara menggeleng kesal, melihat Embun yang marah-marah tak jelas itu. Dari tadi, bicaranya ngaur.


"Mana handphone Abang. Kemarikan dek!" Ucap Tara lembut, tapi penuh penekanan. Embun melirik kesal Tara, menepis tangan sang suami yang ingin mengambil alih ponselnya.


"Gak, aku mau bicara sama si Rose. Berani sekali dia menelpon malam-malam begini." Embun merasa kesal, karena Tara tidak menggubris ucapannya. Wanita itu menekuk bibirnya dengan mata melotot tapi, berkaca-kaca. Suaminya itu, bukannya menenangkannya. Malah memikirkan handphonenya.


Dia pun menatap ke layar ponsel itu. Ternyata panggilan video itu masih tersambung.


"Hai Embun, apa kabar?" Rose nampak ceria dalam layar itu.


"Baik, pain kamu telpon suamiku malam-malam?" keris Embun, melotot pada Rose.


"Eemmmm... aduh benar kata Tara, kamu itu tambah garang saja. Kalau kita berantem lagi bergulat di sawah. Aku yakin kamu pasti menang."


"Ayok, kapan? aku juga masih dendam sama kamu."


Rose tertawa lebar mendengar ucapan Embun yang seperti preman pasar itu. Embun merasa diejek dan semakin menyulut emosinya.


"Eemmm... Gak usah takut, Taranya berpaling.


Gak akan berani dia macem-macem sama kamu. Takut dia kena smackdown sama kamu."


"Apa, apa kamu bilang?" cecar Embun melotot pada Rose. Benar ya, Rose paling bisa membuatnya kesal.


"Udah ah, malas diajak ribut pagi-pagi." Embun pun langsung tersadar. Bahwa antara kota Medan dan Negara Australia, ada perbedaan waktu. Dan seketika panggilan terputus.


Embun melirik sang suami masih dengan sebel, yang dari tadi memperhatikannya saat vc dengan Rose. Membalik badan, meninggalkan Tara dan tidak memberikan ponsel itu pada suaminya. Tara pun mengekori Embun. Tak ada perbincangan sepanjang jalan menuju kamar mereka di lantai dua.


Sesampainya di kamar, Embun meletakkan ponselnya Tara di atas meja rias. Melipat tangan di dada dan cemberut. Tara memeluknya dari belakang. Bayangan keduanya tampak di cermin.


"Makin cemberut makin cantik." Embun merengut, ini ni senjata Embun, dia harus cari kesalahan Tara. Agar kesalahannya terabaikan. Tadi suaminya ngambek dan cemburu karena dia tanpa sadar perhatian pada Ardhi. Dan lihatlah sekarang, Tara yang jadinya membujuk dan merayunya. Agar Embun gak merajuk lagi.


"Abang tahu kan aku gak suka sama Rose. Dan kita sudah buat perjanjian, Rose gak usah nongol lagi dalam kehidupan kita." Tara mengangguk, dia memasrahkan kepalanya di bahunya Embun. Menatap pantulan mereka di cermin.

__ADS_1


"Kalau tahu, kenapa kalian masih berhubungan. Tadi juga bilang masih cinta sama Rose."


"Kapan Abang bilang cinta sama dia." Mulai berbicara bete, tapi tangannya mengusap-usap lembut perut datarnya Embun.


"Tadi, aku dengar."


"Dengar apa?"


"Abang bilang cinta sama dia." ketus Embun, menghentakkan kakinya.


"Emang aku pria apaan obral cinta sama cewek-cewek, adek itu aneh sekarang. Bisanya cari kesalahan orang lain. Tiba dia melakukan kesalahan, gak merasa." Tara mulai bete, malas berdebat. Dia pun melepas pelukannya. Naik ke atas ranjang, lebih baik tidur saja.


"Aku memang gak ada salah. Gak bilang cinta sama orang."


"Gak bilang cinta, tapi masih perhatian. Itu namanya apa? sudahlah Abang capek, gak mau berdebat. Kalau adek masih cinta sama si Ardhi. Silahkan!" Bicara sedikit keras, memunggungi Embun.


Embun naik pitam, enak saja suaminya itu bicara seperti itu. Dia pun langsung naik ke atas ranjang. Membalik tubuh Tara dan naik ke atas perutnya.


"Adek kenapa sih? sekarang bawaannya jadi kasar dan egois. Turun, berat tahu, main timpah perut orang." Menampilkan ekspresi tak suka. Embun semakin dibuat kesal.


"Abang gak bisa tidur. Kepikiran adek yang akhir-akhir ini aneh. Ditambah kerjaan di kantor banyak. Si Doly mau resign dari kantor. Dia mau kerja sama ayahnya Lolita. Sempat kepikiran untuk memindahkan Rose ke sini. Makanya Abang hubungi dia. Di sana sudah dapat waktu subuh. Bukan tengah malam lagi.


"Adek sekarang susah diajak bicara. Inginnya kemauannya terus dituruti. Adek juga gak ngertiin Abang. Kita sudah bertengkar kecil tadi karena bahas Ardhi. Adek gak merasa bersalah." Masih menahan tangan Embun Agar tidak memukul-mukul dadanya.


"Abang juga aneh, ngapain bahas Mas ardhi. Aku sudah bilang gak menyimpan perasaan padanya. Abang gak percaya."


"Aku juga gak bilang cinta sama Rose. Apa adek percaya?"


"Gak, tadi aku dengar sendiri abang bilang cinta." Bantah Embun cepat.


"Oalah... Si Rose dicemburuin." Tara tertawa kecil.


"Kenapa tertawa?" Embun heran, tadi suami nya itu kesal padanya. Sekarang koq malah tertawa.

__ADS_1


"Melihat adek cemburu, Abang sudah yakin. Bahwa adek gak cinta lagi sama Pak Ardhi. Untuk itu masalah selesai. Dan sekarang Abang mohon turun dari atas perut Abang. Mau tidur nih sayang."


"Gak!" Embun menggeleng.


"Mas klitik nih?"


"Jangan, jawab dulu, kenapa tadi bilang cinta sama Rose."


"Abang gak bilang cinta sama dia hasian..!"


"Terus..?"


"Si Rose nanyain Abang. Masih cinta gak sama adek, walau sifat adek makin hari makin nyebelin. Terus Abang bilang cinta lah." Embun menahan dirinya untuk tidak tersenyum.


Ucapan Tara membuatnya bahagia.


"Gak percaya!" Embun tersipu malu, gak bisa menahan dirinya yang baper, karena ucapan Tara.


"Emang adek gak pernah percaya sama Abang. Turun dong, berat tahu."


Embun yang merasa tersanjung itu, malah mendekatkan wajahnya ke wajah kesalnya Tara. Dia pun mencium gemes bibir sang suami. Tentu saja Tara jadi senang dapat kecupan dari Embun. Tapi dia pura-pura tidak senang. Bibirnya seolah tertutup rapat, menghindari ciuman sang istri. Dan mendorong pelan tubuh istrinya itu.


"Iiiihh kesel deh, masak dicium gak mau." Embun merangkum wajah sang suami, agar diam. Dia kembali mencium bibir suaminya itu dengan ganasnya. Bahkan dia menggigit bibir yang tak mau terbuka dan membalas ciumannya itu.


Embun menjauhkan wajahnya. Duduk dengan penuh kekesalan di atas perutnya Tara.


"Benar gak mau ku cium. Baiklah, besok-besok. Kalau Abang minta dicium, adek gak mau." Ketusnya turun dari atas tubuh suaminya. Berbaring di sebelah Tara dan memunggungi pria itu dengan kesal dan merepet tak jelas.


"Lihat saja, nanti kalau minta main. Aku gak mau, beneran."


"Gak usah." Jawab Tara pelan, dengan intonasi mengejek. Embun cemberut melirik Tara.


"Paling yang berdosa siapa? Mas sudah penuhi kewajiban Mas. Kalau adek gak mau jalankan kewajibannya ya gak apa-apa. Paling nanti, Abang cari istri yang mau layani Abang. Laki-laki itu perlu.." Embun sudah menyumpal mulut nya Tara dengan bibirnya. Ucapan Tara terhenti, dengan mata membola. Istrinya itu ganas sekali melum*at bibirnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2