
Tara akhirnya beranjak dari tempatnya, dia meraih ponsel yang masih berdering itu. Ada Nantulang, memanggil. Yaitu Mama nya Embun.
"Nantulang." Ucap Tara pelan, Embun pun akhirnya ikut beranjak dari tempatnya.
"Assalamualaikum Nantulang," Ucap Tara sopan dan ramah. Melirik Embun yang duduk di sebelahnya dengan berusaha menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Walaikumsalam Bere. Apa Embun sedang bersamamu Bere?" Suara Mama Nur terdengar begitu ramahnya.
"No ponsel Embun gak aktif-aktif dari semalam." Terang Mama Nur lagi. Mendengar ucapan Ibu mertuanya itu. Tara jadi teringat, dia ternyata belum membelikan ponsel untuk Embun.
"Iya Nantulang, ini Embun." Ucap Tara ramah.
"Bere kita pindah ke VC aja ya? Nantulang kangen sama kalian. Sudah lama gak VC." Ucapan Mamanya itu membuat Embun panik. Dia hanya melilitkan selimut seperti kemben di tubuhnya. Sedangkan Tara masih polos.
Seketika panggilan beralih ke VC. Tara panik, lari kucar-kacir ke kamar mandi. Dan akhirnya Embun lah yang bicara sama Mamanya.
Embun merasa malu pada Mamanya itu, tapai sudah terlanjur ya mau bagaimana. Akhirnya dia pun hanya menampakkan wajah habis bangun tidurnya. Dan tanpa Embun sadari kamera ponselnya turun sedikit. Sehingga Mama Nur bisa melihat leher putrinya yang penuh dengan cup#angan. Mana cupa#ng yang semlam belum hilang. Dan Tara menambah nya lagi.
"Ya sudah sana kamu mandi dulu. Nanti Mama telepon lagi." Mama Nur tersipu malu, melihat Putrinya di telepon. Dia yakin putrinya itu sudah akur dengan Tara. Mama Mira yakin, putri dan menantunya itu sedang mencetak cucu buatnya.
"Apa Ma? belum juga ngobrol. Masak sudah dimatiin." Embun cemberut, dia masih kangen. Tapi, Mamanya gak mau bicara dengannya.
"Iya, cepat kalian datang ke rumah." Mama Nur masih tersenyum bahagia. Akhirnya, putrinya itu bisa menerima Tara sebagai suaminya.
"Dari mana mama tahu kami di kota ini?" tanya Embun penuh selidik.
"Boumu yang cerita. Sekalian banyak hal yang mau mama tanyakan." ucap wanita yang melahirkan Embun itu
"Iya Ma." Jawab Embun tersenyum hangat pada Mamanya itu.
"Mama matikan ya. Cepat mandi sana. Lihatlah kalian sudah melewatkan waktu sholat shubuh." Embun langsung menatap jam yang bertengger di dinding kamar itu. Benar saja sudah pukul enam lewat sepuluh menit.
__ADS_1
Belum juga Embun menjawab salam Mamanya. Panggilan video call itu sudah terputus.
Dengan malasnya Embun berjalan ke kamar mandi. Tubuhnya sakit semua. Lama-lama seperti ini, bisa-bisa dia tidak bisa jalan.
"Apa semua orang merasakan sakit di sekujur tubuhnya, setelah melakukan hubungan badan? atau aku seperti ini karena kurang tidur?" ucap Embun sempoyongan. Sejak dia dan Tara melakukan itu, dia merasa tubuhnya remuk redam. Ditambah waktu istirahat pun kurang. Energi banyak terkuras untuk mengejar surga duniawi.
Embun masuk ke kamar mandi. Ternyata Tara sudah menyiapkan air hangat di dalam Bathtub untuk mereka berdua.
"Abang sudah mandi?' Embun memperhatikan Tara dengan handuk sudah melilit di pinggangnya. Pria itu sedang gosok gigi.
"Belum, nungguin Adek. Mau mandi bareng disitu." Tara menoleh ke arah Bathup. Embun menggelengkan kepalanya.
"Gak mau, sebelum kita menggunakan alat kontrasepsi. Kita tidak boleh begituan lagi." Jawab Embun tegas. Dia takut hamil.
"Tidak akan ada alat kontrasepsi. Masalah yang Adek katakan tadi, tidak akan terjadi pada kita. Abang juga pernah dengar cerita seperti itu. Bahkan, itu juga pernah abang bahas saat Abang kuliah. Asal Adek tahu, abang pernah membut artikel membahas pernikahan dengan sepupu. Mau bagaimana pun anak kita nantinya. Kita harus ikhlas menerima kenyataan itu. Berarti begitulah rezeki yang diberikan oleh Allah untuk kita." Ucap Tara panjang lebar, langsung menarik Embun ke dalam Bathtub.
Apa yang dikhawatirkan wanita itu, akhirnya terjadi juga. Acara ***-*** tak bisa dihindari. Embun jadi serba salah. Mau ditolak tapi enak, mau dilanjut, dia takut hamil.
Kini keduanya sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah orang tuanya Embun. Wanita itu dibuat pusing, baju model apa yang harus dipakainya, agar bekas cup"angan di leher nya tidak nampak.
Tara hanya tersenyum puas, melihat hasil karyanya. Menurutnya leher Embun saat ini indah. Ada lukisan-lukisan bercorak abstrak yang menghiasinya.
"Gak usah ditutupi pakai sall, ya sudah begini aja sayang. Orang-orang pasti ngertiin." Tara memeluk Embun dari belakang, kini pantulan keduanya jelas terlihat di dalam cermin.
"Gak mau, malulah. Hal seperti ini di tempat kita adalah hal yang tabu. Adek bisa jadi bahan gosip orang sekampung nantinya." Ucap Embun sendu. Kemudian matanya beralih ke tangan Tara yang tidak diperban.
"Tangan Abang belum diperban. Sebentar Adek akan perbankan." Embun mengurai pelukan suaminya itu. Tapi, Tara tidak mau melepasnya.
"Gak usah diperban lagi sayang. Biar cepat kering." Pria itu kini membenamkan wajahnya di ceruk leher Embun. Menghirup wanginya tubuh wanitanya itu.
"Sayang, Anak adalah anugerah terindah sekaligus amanah dan titipan yang Allah SWT berikan kepada orang tuanya. Keberadaan anak sangat dinanti-nantikan oleh pasangan suami istri, sebagai penyempurna kebahagiaan dalam keluarga. Tidak jarang pasangan yang belum dikarunia anak, akan melakukan berbagai usaha demi mendapatkan anak. Karena rumah tanpa anak akan terasa sepi dan tidak berwarna." Tara mulai membahas tentang kehadiran seorang anak dalam sebuah keluarga. Mereka masih berdiri di depan cermin sambil berpelukan. Embun hanya terdiam mendengar ceramah suaminya itu.
__ADS_1
"Anak merupakan titipan Allah SWT paling berharga yang harus dijaga, dirawat dan dididik. Anak ibarat kertas putih yang siap untuk ditulis dan dilukis sesuai keinginan orang tua. Jika orang tua dapat menjaga, merawat dan mendidiknya dengan benar maka anak tersebut akan menjadi penenang jiwa dan penyejuk hati yang akan mengharumkan nama baik orang tua. Jadi, bagaimana pun nanti nya anak kita sayang. Kuncinya ada pada kita.
"Misal ni anak kita sangat tampan, melebihi Abang. Tapi, kalau kita salah didik. Dan dia menjadi Boomerang buat kita, masyarakat, negara dan agama untuk apa?
"Terus kita punya anak yang tidak normal, jauh-jauh lah itu ya sayang. Tapi dia punya akhlak baik, Sholeh dan buat kita bangga. Apa Adek masih menyesali keberadaannya?" Embun terharu, kini mata berembunnya mencair sudah. Tara membalik tubuh istrinya itu. Memeluknya erat, mengusap punggung istrinya itu dengan lembut. Menenangkan Embun yang menangis itu.
"Tapikan kalau bisa, anak kita nantinya good looking dan good attitude." Tara tersenyum mendengar ucapan istrinya itu. Semua orang juga pinginnya seperti itu.
"Setiap anak punya keistimewaan dan keunikan sendiri karena itu adalah anugerah yang diberikan oleh Allah SWT. Kita tidak punya kuasa dan tidak bisa memesan seperti apa anak tersebut baik itu wajahnya, tubuhnya maupun karakter anak tersebut. Itu semua hak prerogatif Allah SWT dengan sifat Qudrah dan Iradah-Nya yang akan memberikan anugerah amanah anak kepada kita. Kita hanya bisa memohon dan berdoa untuk anugerah dan amanah terbaik yang dihadirkan lewat anak-anak kita sayang." Merangkum wajah Embun yang mendongak mendengar ucapannya. Istrinya itu kagum dengan Tara, sungguh pria sempurna.
"Iya, tapi Adek belum siap untuk hamil. Kalau bisa Adek suntik KB sebulan ya sayang." Menunjukkan wajah memelas pada Tara. Suaminya itu menggeleng, dengan tatapan mata tegas penuh penolakan.
"Abang yang akan mengaturnya nanti. Kita pakai KB alam, KB kalender pun jadilah." Tara tersenyum lebar. Membicarakan hal-hal seperti ini membuat otak traveling.
"Gak ada itu, abang tiap jam minta. Mana bisa pakai KB alam. Kode alam yang ada nantinya." Embun memayunkan bibirnya. Tara jadi gemes.
"Ya ampyun, ini bibir kenapa menantang gitu. Kan Abang jadi pengen." Tara nyengir, tangan sudah merayap ke mana-mana.
"Gak MAU....!" teriak Embun.Tara tertawa lebar, istrinya itu lucu juga.
Embun mendudukkan tubuhnya ditepi ranjang. Tangan Tara bergerak meraih bahu Embun. Pria itu juga duduk di sebelah kanan Embun.
"Ma..!" bujuk Tara, terseyum mesum. Embun mengangkat bahunya. Kesal dengan tangan nakal suaminya itu.
"Ma..!"
"Moooh..!" ucap Embun tertawa, mereka sama- sama membayangkan hal lucu. Disaat suami minta jatah, si istri menolak.
TBC
Tinggalkan jejak dong say🍰☺️
__ADS_1