DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Dilema


__ADS_3

Dalam keadaan menunduk, Embun melihat sepasang sepatu pentofel hitam mengkilat berada di hadapannya. Tentu saja saat ini ada pria berdiri tepat dihadapannya.


"Tara," suara Lolita yang manja mengejutkan Embun. Dia pun menggerakkan kepalanya ke atas, sehingga kini dia melihat Tara tersenyum manis kepadanya.


"Cepat juga Abang sampainya. Tadi pas kita telponan kata Abang masih di kantor." Ocehan Lolita membuat Embun terperangah. Ternyata suaminya itu lebih memilih berkomunikasi dengan Lolita dibanding dirinya. Dia merasa sangat kecewa.


Embun memalingkan wajahnya, karena dari tadi Tara menatapnya terus. Dia merasa kesal kepada Tara. Chat gak di balas-balas. Tapi, telponan dengan Lolita dia sempat.


Embun kembali melirik Tara, karena Tara masih terus saja memperhatikannya.


Lagian kenapa aku jadi sewot, tahu mereka telponan. Lolita kan gebetannya. Lah aku siapa? aku wanita yang selalu memaki-makinya selama dua bulan ini. Tentu saja dia tidak akan cepat membalas chat ku. Emang aku ini penting buatnya. Tapi, kenapa selama ini dia perhatian padaku. Apa Abang Tara sebenarnya suka padaku. Lihatlah, dari tadi dia menatapku terus. Bahkan dia tidak memperhatikan Lolita yang mengoceh terus. Tatapannya itu seperti tatapan penuh kerinduan. Dasar woi Embun.... sadar....! Embun menyudahi perang bathinnya. Dia membalas senyum manisnya Tara.


"Abang Sutan, duduk dulu. Dari tadi bengong terus lihatin Embun." Lolita menarik lengan Tara, sehingga pria itu duduk tepat di sebelah Lolita.


Embun melirik Tara sekilas dengan terseyum tipis. Dia kembali membuang muka. Tara sudah terbiasa mendapat sikap tidak bersahabat dari istrinya itu, jadi sikap Embun yang kembali cuek kali ini, tidak dimasukkannya ke dalam hati.


"Bagaimana tadi ujiannya dek?" Tara yang duduk dengan menopang kedua tangannya di pahanya, masih setia menatap Embun. Jujur saja dia rindu istrinya itu. Sudah satu hari mereka tidak bertemu. Lolita hanya melongok melihat Tara yang seolah tidak menganggapnya ada di tempat itu. Dari tadi Tara tidak menyapanya.


"Lancar dapat nilai A." Jawab Embun datar, wajahnya dingin seperti kutub Utara. Suasana hatinya jadi buruk.


"Syukurlah, usaha tidak menghianati hasil." Tara masih saja menatap ke arah Embun yang dari tadi tidak mau menatapnya.


"Kita harus merayakannya." Lolita yang merasa tidak dianggap Tara di tempat itu, akhirnya buka suara.


"Ide bagus, Abang akan ajak kalian ke tempat favorit Abang." Lolita senang, akhirnya Tara menatap dirinya juga.


"Aku lelah, aku mau pulang saja." Ujar Embun lemah, tatapannya masih saja menerawang. Pikirannya sedang dipenuhi oleh hubungannya dengan Tara. Begitu juga dengan perasaan cintanya kepada Ardhi.


"Kita refreshing dulu Bunbun, biar otakmu segar lagi. Iya kan Abang Sutan?" Lolita menatap Tara, yang raut wajahnya nampak penuh kekhawatiran.


"Iya dek, kamu pasti suka tempatnya." Tara berusaha meyakinkan Embun yang nampak tidak semangat itu.


Embun menarik napas dalam. "Baiklah." Jawabnya lemah.


"Yeeyyy...!" Lolita kegirangan. Dia pun merangkul Tara yang duduk di sebelah kanannya. Embun langsung menoleh ke arah mereka.


Lolita nampak tersenyum bahagia. Dia pun memasrahkan kepalanya bersandar di bahu Tara, memandang jauh ke depan. Sedangkan Tara menatap Embun, yang juga sedang melihat ke arah mereka.


Tatapan sedih dan kekecewaan jelas terlihat di matanya Embun. Tara masih saja tersenyum kepada Embun, tapi hatinya penuh tanda tanya. Ada apa dengan istrinya itu? kenapa hari ini dia nampak seperti wanita tidak berdaya.


Dulu dia galak, terus berubah jadi baik dan sekarang istrinya itu seperti orang yang tertekan bathin? apakah istrinya itu begitu merindukan kekasihnya Ardhi? haruskah dia mempertemukannya dengan Ardhi?


Pusing memikirkannya, Tara pun bangkit sehingga, kepala Lolita yang masih bersandar di bahu Tara langsung terlepas. Lolita kaget, karena pergerakan Tara sangat cepat.


"Bangkit koq gak bilang-bilang sih bang. Kan adek hampir terjungkal." Lolita masih berusaha bersikap konyol, agar rasa malu yang dia rasa tidak jelas terlihat. Gimana gak malu. Tara gak memberi aba-aba. Sudah langsung berdiri.


"Jangan Terlalu Nyaman Nyender Sama Seseorang, nanti Kalo Dia Geser Kamu yang Ngejengkang." Ketus Tara pada Lolita. Kemudian dia melirik Embun yang sudah berdiri tanpa ekspresi.


Sebenarnya Tara sedang menyindir Embun. Tapi, ternyata orang yang disindir tidak merasa. Tara sengaja mengatakan itu. Karena, Tara beranggapan Embun sedang memikirkan Ardhi. Tara menilai, Embun terlalu bergantung kepada Ardhi. Sehingga dia nyaman dan begitu mencintai pria itu.


Lolita cemberut, dia pun berdiri. "Bersandar pada bahu pujaan hati sendirikan gak apa-apa sih?"


"Jangan berharap pada manusia, termasuk pacar. Bersandar itu pada Allah. Manusia itu gampang terpengaruh. Hari ini kamu bisa nyaman dengannya. Eehh besok-besok dia bisa berubah. Apalagi wanita, sehari moodnya bisa berubah tiga kali." Embun dan Lolita tercengang mendengar ucapan Tara yang sudah seperti pak Ustadz itu.


"Gak usah berdebat, kita jadi gak jalannya?" Embun mulai malas melihat Tara dan Lolita. Sebenarnya dia ingin menyendiri. Menenangkan hati dan pikiran, karena hatinya sedang diporak-porandakan dua pria.


Kini Mobil sudah melaju ke tempat yang dimaksud Tara. Lolita juga satu mobil dengan Tara dan Embun. Sedangkan mobilnya di kenderai supirnya.

__ADS_1


Embun yang memandang ke luar, dikejutkan karena ponselnya berdering di dalam tas nya. Dia pun menarik napas dalam. Karena merasa terganggu, dengan ponselnya yang berdering. Dia sedang konsentrasi berfikir. Tindakan apa yang harus diambilnya. Untuk hubungan nya dengan Tara. Dia sudah mulai kepikiran suaminya itu.


Dengan malasnya Embun merogoh ponselnya. Betapa terkejutnya dia melihat siapa yang menghubunginya. Dia mengucek kedua matanya, untuk memperjelas penglihatannya. Dia merasa penglihatannya bermasalah. Tidak mungkinkah Tara menghubunginya. Padahal mereka berada dalam mobil yang sama.


Masih dalam kebingungan Embun bergantian menatap ponselnya dan Tara yang duduk di kursi sebelah supir. Tara sesekali melirik kebelakang dengan terseyum.


"Koq gak diangkat, siapa yang menelpon?" tanya Lolita, merasa heran karena Embun tidak kunjung mengangkat telponnya.


Embun hanya tersenyum tipis menanggapi Lolita. Dan panggilan dari Tara pun terputus. Saat itu juga dua pesan sudah masuk. Embun membukanya. Ternyata pesan dari Tara.


"Selamat ya dek, sudah dapat nilai A. Doly sudah duluan menunggu kita di tempat yang Abang bilang tadi. Sorry baru balas pesannya. Tadi, pas mau balas pesan Adek. Tiba-tiba saja Abang harus presentasi." Embun membaca pesan Tara dengan penuh keheranan. Tapi, dia senang. Raut wajah mendung kini sudah cerah lagi. Bahkan Embun senyam-senyum sendiri.


"Jangan cemberut lagi. Jelek tahu, Abang suka Embun yang ceria. Karena adek sudah lulus S-1. Abang akan memberi hadiah. Terserah Adek mau minta apa." Raut wajah Embun sudah berubah drastis jadi berbunga-bunga saat ini. Dia pun menyimpan ponselnya lagi di tas selempangnya.


Tara kembali melirik ke belakang dengan tersenyum.


Embun kembali mengingat isi pesan yang dikirimnya kepada Tara. Dia mengatakan sudah selesai ujian dan dapat nilai A. Dan dia ingin Doly menjemputnya. Karena supir sudah disuruhnya pulang ke rumah. Dia ingin berjumpa dengan Doly, ingin menanyakan banyak hal mengenai Tara. Termasuk siapa wanita yang menolak cinta Tara. Embun beranggapan Doly pasti tahu tentang hal itu. Karena dia menilai Tara dan Doly sangat akrab.


Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore disaat mereka sampai di restoran favoritnya Tara. Namanya The Edge Restaurant.


Restoran ini merupakan salah satu restoran rooftop yang paling populer di kota Medan. Tara sering datang ke tempat ini. Jikalau dia berketetapan di kota Medan. Restoran ini sangat disukai Tara, karena tempatnya nyaman, asyik, juga menyuguhkan pemandangan yang indah, menatap kelip lampu kota yang menarik di malam hari. Dekorasi restoran yang mewah pun akan menambah keromantis di tempat ini.


Seandainya Embun tidak membencinya. Sudah pasti Tara akan selalu mengajak Embun berwisata kuliner sekalian pacaran setelah menikah. Tapi, itu tinggal khayalan saja buat Tara. Jangankan untuk diajak jalan, setiap kali bicara saja, istrinya itu menganggapnya najis. Kalau diingat-ingat, sikap Embun memang keterlaluan.


"Itukan Doly dan Rose." Ucap Embun malas. Kekesalannya jadi berlipat ganda. Karena wanita yang pernah menghajarnya ada di tempat itu.


"Iya, Rose ingin ikut. Dia ingin menghirup udara segar. Dia baru sembuh, ingin mencicipi banyak makanan enak. Dia mau test lidahnya. Masih mati rasa apa gak." Ucap Tara sambil berjalan ke arah Doly dan Rose.


Doly dan Rose menyambut kedatangan sahabat nya itu dengan tersenyum lepas. Tapi, tatapan Rose penuh selidik melihat ada wanita asing, yang tak lain adalah Lolita. Dia tidak mengenal Lolita.


Setelah semua duduk di bangkunya masing-masing. Rose buka suara.


Lolita menjukurkan tangan kanannya.


"Perkenalkan Lolita, calon istrinya Abang Sutan." Lolita berujar penuh percaya diri. Wajah kebahagian terlihat jelas di raut wajahnya. Tapi, raut wajah orang-orang di sekelilingnya terlihat bingung dan terheran-heran dengan ucapan Lolita. Kenapa wanita itu memproklamirkan dirinya akan jadi istrinya Tara, dihadapan teman-temannya Tara dengan tidak tahu malunya.


Seketika Rose menutup mulutnya yang sempat menganga dengan jemarinya.


Rose juga tahu, bahwa Tara sedang dekat dengan seorang wanita yang direkomendasikan Embun. Tapi, setahu dia. Tara dan wanita yang bernama Lolita belum jadian. Hanya masih berteman baik.


Untuk menutupi keterkejutannya, Rose tertawa.


"Calon istri, masih calon istri. Lah itu ada yang sudah jadi istri, malah gak mau diakui istri. Aneh kan?"


"Rose...!" Embun memotong ucapan wanita itu dengan menatapnya kesal. Rose pun langsung menutup mulutnya dan menatap ke arah Tara, yang sudah menampilkan ekspresi wajah kesal.


Lolita nampak bingung.


"Tadi baru saja ada insiden disini. Seorang istri ketahuan selingkuh. Dan mengaku belum menikah. Aku ingin membahas itu. Tapi, sepertinya topiknya gak menarik ya. Ya udah kita ganti topik aja." Rose nyengir, dan membuang wajah, sembari menarik napas dalam. Dia harus menyiapkan mentalnya nanti. Pasti Tara akan memarahinya.


"Sekarang perselingkuhan memang sedang trend. Aku jadi takut, Abang Tara ada yang menggaet." Lolita tersenyum kepada Tara.


Embun sudah merasa tidak nyaman di tempat itu. Hawanya udah panas dan menegangkan.


"Aku sholat Ashar dulu. Doly, ayo sholat!" Tara menatap Doly yang sibuk memilih daftar menu.


"Aku baru selesai sholat, pas kalian datang." Jawabnya pendek, kemudian melirik Lolita sekilas.

__ADS_1


"Baiklah, aku permisi sholat sebentar. Rose pesankan makanan untukku." Ucap Tara, dia pun meninggalkan tempat itu.


Mendengar ucapan Tara. Lagi-lagi nyali Embun menciut. Dia istrinya, tapi kenapa malah meminta Rose yang memilihkan makanan untuknya.


Wajar memang, Tara meminta Rose yang memesan makanan untuk suaminya itu. Secara, Embun sama sekali tidak tahu makanan kesukaan Tara.


Setelah kepergian Tara ke Mushollah. Embun lebih memilih untuk diam, menatap view indah di depan matanya. Dia sudah tidak semangat. Sedangkan Lolita, mengekori Tara, dia juga ingin sholat Ashar. Sementara Rose sibuk dengan ponselnya.


Makanan pun tersaji, menu hidangan barat. Dua porsi Venetto Salmon yaitu untuk Tara dan Lolita. Rose tidak tahu mau mesan apa untuk Lolita, jadi dia memesan itu saja untuk wanita itu. Satu Premium Grilled Baby Lobster untuk Doly dan satu with Breaded Chicken untuk Rose. dan satu Vegetable Salad untuk Embun. 


Acara makan seperti di kuburan pun berlangsung. Lagi-lagi Lolita, selera melihat makanan Doly. Dia sering makan makanan itu, tapi, cara Doly yang sedang makan, membuatnya beberapa kali menelan ludah. Ingin rasanya dia berbagi makanan dengan Doly.


"Doly, boleh icip-icip punyamu dong!!?" Lolita tampak ragu mengatakannya. Doly yang serius makan, Akhirnya menatap ke arah Lolita dan yang lainnya.


"Icip-icip punyaku? gak, gak itu bahaya." Ucapnya nyengir, memplesetkan ucapan Lolita. Kemudian melanjutkan acara makannya.


"Iiihhh pelit, mask icip-icip punyamu gak boleh." Lolita nampak kesal.


"Kamu juga aneh, ngomong gak jelas. Apanya si Doly yang mau kau icip-icip. Burungnya?" ketus Rose, menggelengkan kepalanya.


"Emang dia punya burung? burung apa? burung Pipit?" ledek Lolita, dia pun jadi tertawa. Karena otaknya langsung mesum, traveling terbang ke angkasa bersama burung-burung.


Kwkwkwkk.,.. Doly ikutan tertawa, ya namanya laki-laki paling suka membahas ranah ke sana.


"Enak saja bilang burungku, burung Pipit. Ini burung hantu, tahu gak kamu burung hantu." Ucap Doly sewot. Tara sudah tidak tahan lagi untuk tidak tertawa. Dia pun akhirnya tertawa lepas. Tapi, wanita yang duduk di sebelahnya, yang tak lain adalah Embun. Hanya diam, tatapan matanya kosong. Dia terlalu memikirkan hubungan nya dengan Tara dan Ardhi, sekaligus dengan Lolita.


"Kalian bahas apaan sih? ini sedang makan, tidak boleh bicara yang tidak-tidak." Tara memberi peringatan. Dia kembali melirik Embun yang masih saja diam.


"Aku hanya ingin icip-icip punya Doly. Maksudku, makanannya." Jawab Lolita manja. Sungguh dia sangat selera melihat makanan Doly.


"Pesan saja lagi, jangan kau makan bekas makananku. Entar kamu jatuh cinta lagi samaku." Ledek Doly, menolak memberi lobsternya pada Lolita.


"Eehhhmmm.... mana mungkin, aku sukanya Bos kamu." Lolita mengedipkan matanya. Embun melirik ke arah Lolita. Dia tidak suka cara Lolita menggoda Tara.


"Kamu makannya semangat gitu, makanya aku pingin coba." Lolita masih selera melihat makanan Doly.


"Ya jelas lah kamu selera lihat dia makan. Dia gak pernah makan begituan."


"Enak saja, aku bosan kali makan beginian." Kilah Doly, dia tidak mau Rose merendahkan nya.


"Makan di mana kamu kek begituan. Sok-sokan." Ucap Rose sombong.


"Sudah-sudah jangan berdebat. Aku pesankan lagi untukmu ya Dek." Tara menatap Lolita.


"Gak usah, ini saja gak habis." Jawabnya lemas, ucapan Rose yang blak-blakan membuat Lolita jadi tersinggung.


"Dek, coba ini." Tara menyodorkan makanannya kepada Embun. Sungguh dia tidak menarik buat Embun. Dia pun menolaknya. Dan menyudahi acara makannya.


Setelah minum, dia melap mulutnya dengan tisu. Permisi pada yang lainnya, dia ingin menyendiri memilih tempat yang menyunguhkan spot indah.


Sedangkan Tara, Doly dan Rose memilih membahas pekerjaan. Tinggallah Lolita sibuk dengan ponselnya.


Embun yang duduk di ayunan menatap sendu pemandangan indah di hadapannya. Otaknya terus saja berfikir, apa yang harus dilakukannya. Haruskah dia menunjukkan rasa sukanya kepada Tara? lalu bagaimana dengan Ardhi, pria yang sangat dicintainya itu. Kalau dia ingin melanjutkan hubungannya dengan Tara. Lalu bagaimana dengan Lolita, yang sudah berharap banyak kepada Tara.


Embun semakin pusing memikirkannya. Dia pun bangkit dari ayunan itu. Berjalan dekat ke pembatas besi. Meregangkan kedua tangannya dan menarik napas dalam, dan membuangnya pelan. Dia mengulangi hal itu, sampai dirinya merasa rileks. Hingga rentangan tangan terakhir. Dia pun merasakan pinggangnya dipeluk oleh tangan kekar seorang pria dari belakang. Embun terkejut, jantungnya berdetak cepat darahnya berdesir hebat, mendapat serangan pelukan mendadak itu.


TBC

__ADS_1


Mohon dukungannya dengan like coment positif dan Vote 😍


__ADS_2