
Mama Mira nampak berdiri di ambang pintu kamar dengan wajah penuh kecurigaan.
Tara dan Embun melihat ke arah Pintu secara bersamaan.
Dug..serrr...
Jantung Embun berdetak kuat, Dia sedang ketakutan. Dia takut, Mama Mira mengetahui sikap tidak sopannya kepada Tara. Padahal tadi pagi, Mama Mira sudah menasehati Embun dan percaya bahwa Embun adalah wanita Batak. Boru ni Raja yang punya attitude baik.
"Ada apa ini Tara? kenapa gelasnya pecah? kalian bertengkar?" ucap Mama Mira, melihat wajah anak dan menantunya nampak ketakutan.
Tara tidak menjawab pertanyaan Ibunya. Dia diam mematung dalam keadaan berdiri.
"Eeehh itu Bou, tadi gelasnya jatuh dari tangan Embun." Ucap Embun sedikit gugup.
Mama Mira menepuk pundak Putranya, sehingga Tara dibuat terkejut.
"Kamu ya, tidak bisa kamu ubah sifat dingin dan cuek mu itu. Istri lagi sakit, bukannya di urus baik-baik. Malah disuruh ambil minum sendiri." Ketus Mama Mira, mendudukkan bokongnya di tepi ranjang.
"Iya Ma, lain kali Tara akan berubah." Ucapnya lemah, menatap sendu Embun yang seolah tidak berani menatapnya.
"Sana panggilkan Bu Limah untuk membersihkannya. Sekalian bawakan makanan untuk kalian berdua." Mama Nur Kembali mengecek keadaan Embun.
Tara keluar dari kamar itu dengan hati remuk redam. Kalau Embun seperti itu terus. Bagaimana Dia bisa sabar.
"Maafkan Tara ya sayang, kamu juga harus memahami suamimu. Tadi pagi kan sudah Bou bilang. Dia cuek, masak kamu sakit begini, dibiarkan ambil minum sendiri. Emang dasar anak itu." Celetuk Mama Mira.
"Iya Bou, tidak apa-apa koq." Jawab Embun merasa bersalah.
Dua ART pun masuk ke dalam kamar, satu yang bernama Bi Limah, datang membawa makanan dan satu lagi bernama Ayu yang membawa alat bersih-bersih.
"Mana Tara Bi?" tanya Mama Mira.
"Di bawah Nyonya. Tuan Tara katanya akan makan bersama dengan tamu saja nanti." Jawab Bi Limah ramah.
__ADS_1
"Oohh sini Bi makanannya. Aku akan suapi Embun" Ucap Mama Mira.
Dengan mata berkaca-kaca, Embun menerima setiap suapan dari Ibu mertuanya itu. Mama Mira benar-benar seperti sosok Mama Nur, yang selalu memanjakan Embun disaat sakit
"Lihatlah suamimu itu. Sudah tahu istrinya sakit. Bukannya diperhatikan. Malah tidak perduli. Dia memang jauh berbeda dengan Amangborumu. Walau memang saat masih lajang, Amangborumu seperti Tara. Dingin kepada wanita. Tapi, Amangborumu berubah setelah menikah dengan Bou. Amangborumu begitu hangat, lucu, suka menggoda Bou, perhatian. Pokonya suami idaman banget." Ucap Mama Mira, masih terus menyuapi Embun.
"Kamu harus kuat, jangan sakit-sakit. Karena kalau kamu sakit, terus sikapnya Taranya begitu. Kamunya bisa sakit hati." Mama Mira terus saja mengoceh, mengatakan kelemahan putranya.
"Iya Bou, Embun mengerti." Ucap Embun tersenyum.
"Iya, kamu istirahat ya sayang, minum obat. Satu jam lagi, kamu siap-siap untuk menjamu tamu. Tidak usah nanti kamu ikut menghidang makanan. Kamu duduk aja, yang terpenting kamu ada di acara itu." Ucap Mama Mira, mengelus pelan kepala Embun. Kemudian keluar dari kamar.
❤️❤️❤️
Acara makan bersama dengan tetangga, tokoh adat dan agama serta kerabat pun sedang berlangsung. Benar saja, Embun hanya duduk manis di dekat petugas Marsonduk atau tempat makanan disajikan.
Embun memakai kebaya warna hijau botol, dengan kerudung warna maron. Sungguh penampilan Embun sangat cantik dan anggun, walau Dia dalam keadaan kurang sehat.
Sesekali Tara yang sedang makan melirik istrinya itu. Walau Embun begitu membencinya. Tapi, rasa cinta Tara saat ini masih full.
Embun yang melamun itu pun dibuat terkejut. Tapi, Dia langsung tersenyum.
"Inang, Aku gak ngerti bilangnya. Inang saja ya yang bilang." Tolak Embun ramah.
"Unang maila-maila tu sude Koum. Martambuh-tambuh hamu da." (Jangan malu-malu kepada saudaraku. Makannya harus ditambah).
"Olo...olo..!" Jawab para tamu yang makan. (iya, iya).
Akhirnya acara makan bersama pun selesai. Embun langsung pamit masuk ke kamar. Dia ingin istirahat, tubuhnya kembali terasa sakit semua. Dia juga sudah bersin-bersin.
Sedangkan Tara memilih, nimbrung dengan saudara-saudara mereka, hingga larut malam. Ada yang bakar-bakar ayam dan jagung.
Tepat pukul dua malam, Embun terbangun. Lampu utama yang tadinya menyala saat Dia tidur, kini sudah padam dan menyisakan lampu tidur. Itu berarti Tara tadi masuk ke kamar itu. Tapi, kemana Dia? kenapa tidak ada di kamar ini? Embun membathin.
__ADS_1
"Aakhhh persetan. Syukur Alhamdulillah Dia tidak tidur di kamar ini. Aku pasti mau muntah kalau lihat wajah polosnya itu. Padahal Dia pembunuh. Aku harus waspada, jangan-jangan Dia ingin membunuhku juga" Ucap Embun, kembali melanjutkan tidurnya.
Sementara Tara yang berada di ruang kerjanya dibuat uring-uringan. Karena tidak bisa tidur. Dia yang baru saja memeriksa CCTV di kamarnya dibuat terkejut dengan kelakuan Embun yang menggerayangi dirinya saat tidur.
Ternyata Tara sedang tidak bermimpi, Embun benar-benar memeluk-meluk dirinya. Bahkan mengusap-usap kepala ular kobranya yang lagi on.
Melihat kelakuan Embun di kamera membuat birahi Tara tersulut. Makanya Dia memilih tidur di ruang kerjanya. Dia takut tidak bisa mengontrol diri jikalau satu ranjang dengan Embun.
Embun wanita yang dipuja-puja nya. Tentu memadu kasih dengannya adalah keinginan terbesarnya. Tapi sialnya Dia tidak boleh melakukan itu.
"Akhhhhh sial....! sampai kapan Aku bisa meredam ini. Aku juga normal, masak punya istri tidak bisa di apa-apa in." Ucap Tara frustasi.
Dia mengintip ular kobranya yang kepalanya sudah mengembang dibalik celananya.
"Kamu kenapa sih? setiap Aku mengingat dan membayangkan Embun. Kamunya langsung on." Ucap Tara kesal. Kembali menutup ular kobranya yang siap mematuk.
"Apa Aku minta saja hakku ya? persetan dengan perjanjian. Kenapa Aku bodoh sekali, mau memberikannya kepada Ardhi?" Tara kembali berperang bathin.
"Dalam dunia bisnis saja, kita harus bisa bermain cantik, trik yang ku buat ini sudah mantap. Tapi, apa Embun mau memberikannya? Aduuhhh..... sepertinya tidak...!" Tara berguling-guling di ranjangnya. Dia sudah bingung, bagaimana caranya menjinakkan ular kobranya yang meronta yang suhunya juga sudah naik itu.
Kalau tidak dikeluarkan, maka Dia akan kesusahan untuk tidur.
"Ya Tuhan, punya istri tapi benda keramat ku tetap nganggur." Ucapnya beranjak dari tempat tidur. Dia pun berjalan tidak semangat menuju kamarnya.
Dia akan tidur di ranjang yang sama dengan Embun. Berharap jika berada di dekat wanita itu, Dia bisa memejamkan matanya.
Sesampainya di kamar, Dia melihat keadaan Embun yang tidur dengan posisi menyilang. Sungguh ranjangnya benar-benar dikuasai Embun.
Benar yang dikatakan Embun, bahwa Dia tidur sangat lasak.
Tara dibuat bingung, jikalau Dia membenarkan posisi tidurnya Embun. Dia takut Embun terbangun dan Kembali marah-marah kepada nya.
TBC
__ADS_1
like, coment dan vote dong😍