DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Bucin


__ADS_3

Melati yang penasaran dengan si Butet, akhirnya mencari info mengenai sahabatnya itu. Menanyakan ke sesama mahasiswa yang satu kampung dengan si Butet. Akhirnya Melati mendapatkan sedikit info. Katanya si Butet sudah menikah dan berhenti kuliah. Tapi, informasi yang didapatnya kurang jelas. Karena disaat Melati menanyakan siapa nama suami si Butet. Mereka tidak tahu, yang jelas katanya sudah menikah dua Minggu yang lalu. Dan menikah di kampung si pria. Kawin lari katanya.


Melati semakin penasaran mengenai si Butet. Apakah, sahabat nya itu menikah dengan Ilham? saat memikirkan itu semua. Ponselnya Melati bergetar di dalam tas ranselnya. Dia yakin yang menghubungi siapa lagi kalau bukan sang suami. Saat ini Melati sedang diperjalanan menuju pulang ke rumah sederhana mereka, yang dijemput oleh Pak Andi. Ardhi dan Melati akan tetap tinggal di rumah itu, sebelum sang istri melahirkan. Karena Ardhi tidak mau ada orang lain yang mengganggu atau melihat kemesraan mereka.


Melati merogoh ponsel dari tas ranselnya dengan tersenyum bahagia. Begitu senangnya hati, diperhatikan, dimanja penuh kasih sayang.


"Ya Mas, ini sudah mau pulang. Tapi, mau belanja ke pasar dulu." Jawabnya disaat sang suami menanyakan sudah di mana keberadaannya.


"Ke pasar?" kening Ardhi mengerut, tidak suka kalau istrinya itu pergi ke pasar.


"Adek mau ngapain ke pasar?" keduanya masih saling tatap di layar.


"Mau berenang." Jawabnya malas, ngapain lagi ke pasar kalau gak belanja.


"Berenang?" Ardhi yang serius, malah semakin dibuat bingung.


"Ya belanja lah Mas." Melati menggeleng, dan tersenyum kecut.


"Gak, gak boleh adek ke pasar. Di sana gak aman. Adek lagian mau ngapain belanja ke pasar?"


"Mau beli sesuatu yang ingin adek masak."


"Mau masak apa?" tanya Ardhi dengan penasarannya. Pria itu sangat serius menatap sang istri di layar ponselnya. Sedangkan Melati, masih merasa enggan kalau vc an dengan sang suami.


"Iihh mas cerewet amat."


"Adek gak boleh ke pasar. Gak usah masak. Nanti mas bawa makan malam untuk kita." Ucap tegas Ardhi. Melati berdecak kesal. Sejak menikah dia gak pernah dibolehkan memasak. Malah Ardhi yang selalu memasak, kalau gak beli gofood.


"Gak boleh belanja ke pasar, ke mall aja atau supermarket terdekat." Tegas pria itu lagi.


"Iya, iya mas." Jawab Melati malas, padahal dia suka sekali belanja di pasar. Membeli dagangan ibu-ibu di pasar itu Kalau Belanja di supermarket kan, yang punya sudah orang kaya.


"Mas tutup dulu ya sayang." Memoyongkan bibir, minta dicium.


"Iihhh... mas apaan sih. Adek matikan ya?"


Tulp...


Panggilan terputus, Melati tertawa kecil dengan kelakuan konyol sang suami. Setiap teleponan pasti minta cium. Dia sih seneng dengan Ardhi yang seperti itu. Tapi, dia kan gadis polos. Hal-hal seperti itu masih terasa tabu buatnya.

__ADS_1


"Pak, kita ke mall aja yang dekat ke rumah." Ucapnya kepada sang supir. Dia tidak mau membantah sang suami. Sepertinya dia harus pulang kampung. Agar bisa pergi ke pasar. Makan martabak, mie sop, pecal dan minum cendol di pasar itu.


Melati walau sudah jadi orang kaya, tetap jiwa orang kampung dan sederhananya lebih mendominasi. Itu semua tak lepas dari didikan pak Samsul yang sederhana dan tidak boleh jadi orang sombong.


Ngung...


Ngung ..


Ponselnya kembali bergetar di dalam tas ranselnya.


"Ya Allah Mas, baru juga lima menit." Ucap wanita itu, menggeleng dengan tersipu malu. Dia kesal, tiap hari di telp Ardhi. Tapi, dia suka. Aneh memang, kesal tapi senang.


Melati kembali merogoh ponselnya dari tas ranselnya. Saat melihat nama yang menelpon, dia pun menjitak jidatnya sendiri dengan pelan. "Kirain mas Ardhi." Ucapnya dengan tertawa kecil dan Langi menggeser ikon hijau di layar ponselnya.


"Assalamualaikum kak Embun?" ucap Melati dalam panggilan suara itu.


"Walaikum salam dek. Sudah bagaimana keadaanmu? kak lagi di rumah Tulang Zainuddin. Tapi, kamu gak di sini. Kamu lagi di mana?" Embun yang penasaran dengan keadaan Melati saat terjatuh, dibuat kepikiran. Sehingga dia memutuskan untuk menjenguk sepupunya itu.


"Kami gak tinggal di rumah Ayah lagi kak."


"Oohh... Ya sudah Kak ke rumah kalian sekarang."


"Ya dek."


"Kak jangan ke rumah mas Ardhi." Ucapan Melati membuat Embun bingung.


"Jadi ke rumah siapa? emang kalian tinggal di mana sekarang?" tanya Embun dengan penasarannya.


Wanita itu pun manggut-manggut setelah mendengar penjelasan Melati.


"Baiklah, kak ke sana sekarang."


"Jangan dulu kak." Cegah Melati, dia kan mau belanja dulu ke supermarket.


"Kamu gimana sih dek?" tanya Embun semakin bingung.


"Aku masih mau belanja keperluan kak." Melati menyebutkan tempat dia akan belanja.


"Ohhh... Kalau begitu kita jumpa di sana saja, terus kita bareng ke rumahmu. Ok!"

__ADS_1


"Iya kak." Panggilan pun terputus. Melati menghela napas. Sudut bibirnya melengkung membentuk senyum yang sangat manis dan penuh syukur. Dia merasa senang, punya sepupu seperti Embun yang punya rasa kekeluargaan tinggi. Walau sebenarnya ada rasa tidak enak di hatinya, karena Embun adalah mantan kekasihnya Ardhi. Rasanya kurang nyaman, karena ada rasa kurang percaya diri gitu. Secara Ardhi kan sangat cinta sama Embun.


Kedua wanita itu pun akhirnya bertemu di pusat perbelanjaan yang megah itu. Melati tidak banyak memborong, dia hanya membeli yang dibutuhkan untuk persediaan dua hari saja.


"Mau masak apa sih Mel? koq repot-repot belanja segala." Ujar Embun, menemani Melati memilih buah nenas.


"Mau buat sambal nenas kak." Jawab Melati tersenyum, memasukkan berbagai macam buah ke trolinya.


"Kirain mau masakin makanan spesial buat mas Ardhi. Siapa tahu mau rayain berdua ultahnya mas Ardhi. Kan biasa itu, kita masak sendiri untuk pria yang spesial buat kita." Melati tercenung menatap Embun yang berbicara santai itu, sembari mengambil buah kiwi.


Ucapan Embun sedikit mengusik hatinya. Dia sedih, karena dia sebagai istri tidak mengetahui hari ulang tahun sang suami. Emang sih, dikamus Melati, tidak ada istilah-istilah merayakan hari ulang tahun. Dia saja gak pernah rayakan ulang tahun.


Jelas saja dia gak pernah rayakan ultah. Pak Samsul dan Ibu Khadijah gak pernah buat kebiasaan seperti itu.


"Kak, katakan semua yang kak tahu tentang mas Ardhi. Jujur, aku belum kenal betul mas Ardhi. Ini saja, aku bingung mau masakin dia apa." Melati tidak mau, Embun mengetahui bahwa dia sama sekali tidak tahu, kalau hari ini suaminya itu ulang tahun. Itu akan sangat memalukan sekali.


"Mas Ardhi itu orangnya beda dari yang lain. Asal kau tahu ya, dia pasti tidak ingat, kalau hari ini dia ultah. Empat tahun kami PDKT, kak terus tuh yang ingatin kalau dia lagi ultah. Dianya mana ingat. Dia gak kepikiran ke situ, yang dipikirkannya dulu kerja dan kerja. Sekaligus mikirin aku. Itu sih kata dia dulu." Ucap Embun dengan polosnya. Dia tidak sadar, ada yang jealous di sebelahnya.


Melati semakin sedih mendengar ucapan Embun. Yang mengatakan bahwa Ardhi selalu mikirin sepupunya itu.


Merasa salah dengan ucapannya. Embun langsung memeluk Melati yang insecure itu. "Ya Allah Mel, maaf kan kak ya? kak gak ada maksud apa-apa. Kami pasti kesal dengan ucapan kak kan?" menilik wajah Melati yang pura-pura tidak cemburu itu.


"Kamu gak usah cemburu gitu." Mentoel dagu Melati yang lancip, agar mau tersenyum.


"Gimana gak cemburu kak. Mas Ardhi memang cinta banget sama kak."


"Itu dulu, sekarang tidak. Dia cintanya sama kamu." Tersenyum manis pada Melati. Menepuk pelan bahu wanita yang lagi bimbang itu.


"Kakak akan ajari kamu, gimana cara ambil hatinya Mas Ardhi. Agar dia klepek-klepek sama kamu." Mereka berjalan ke arah kasir, sambil mendorong troli masing-masing.


Sesampainya di kasir, Melati langsung menyodorkan kartu kreditnya. Embun tersenyum, rela saja dibayarin sang sepupu. Apalagi dia melihat kartu yang dipegang Melati sudah berwarna hitam.


"Gak usah diajarin lagi deh, sepertinya Mas Ardhi sudah bucin sama kamu Mel." Ucap Embun, berjalan sambil menggandeng sepupunya itu.


"Bucin? apa tu bucin kak?" tanya Melati polos. Dia memang polos, tidak tahu istilah bucin. Maklum Melati wanita KUDEP. Kebanyakan di dapur selama ini jadi pembantu. Megang hape aja jarang.


"Bucin itu kata orang sih budak cinta. Ya semacam jenis gorengan yang bumbunya kebanyakan micin. Jadinya candu deh." Embun tertawa, dia mau ngebanyol. Tapi, Melati menunjukkan wajah serius.


TBC

__ADS_1


Like, content dan vote say🙂


__ADS_2