DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Patrilineal


__ADS_3

Di atas ranjang king size, sepasang suami istri tengah memadu kasih, merenguk nikmatnya surga dunia. Embun sudah ikhlas menerima, bagaimana pun nantinya anak mereka. Penjelasan Dokter dan sabarnya Tara lah yang membuat Embun siap menghadapi kemungkinan buruk itu.


Mulai pukul delapan malam tadi, mereka sibuk mencari teori tentang, cara hamil anak laki-laki. Ide gila itu muncul dari Embun. Dia ingin, anak pertamanya mereka nanti adalah laki-laki. Sedangkan Tara, tidak mempermasalahkan mau dapat anak laki-laki atau perempuan, itu sama saja, yang terpenting anak mereka nantinya lahir sehat dan normal.


Menurut Embun, apabila anak pertama yang dilahirkannya adalah anak laki-laki. Maka dia akan bangga pada dirinya sendiri. Karena dalam suku Batak hanya mengacu pada anak laki-laki saja. Hal ini disebabkan oleh budaya patrilineal masyarakat Batak. Adanya pandangan anak laki-laki yang selalu terpenting bagi masyarakat.


Masyarakat Batak menganggap nilai anak laki-laki jauh lebih tinggi dibandingkan anak perempuan. Kedudukan anak laki-laki sangat tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Cermin kedudukan anak laki-laki ini adalah sebagai: penerus keturunan marga, ahli waris, pelaksana adat dan diutamakan dalam pendidikan.


Embun yang dibesarkan dilingkungan adat dan budaya yang kental, sehingga dia masih memikirkan semua itu. Beda dengan Tara, di mana memang Mama Mira dan suaminya tidak terlalu menekankan itu pada Tara. Karena, Ayahnya Tara ada campuran keturunan Turkey.


Tiga jam waktu yang mereka habiskan untuk mempelajari teori itu. Mulai dari sibuk mengukur PH Va-gi-Na nya Embun dan posisi yang pas untuk mendapatkan anak laki-laki.


Ternyata setelah diukur PH miliknya Embun saat ini adalah asam. Sehingga peluang mendapatkan anak laki-laki, amatlah kecil. Entahlah, pasangan ini sok tahu sekali. Sudah Pak Budi dibuat lelah, membeli ini dan itu. Oallah Embun dirimu memang ribet, selalu buat Tara repot.


Embun yang kebanyakan gaya dan teori itu, tidak tahan juga dengan godaan sentuhan Tara. Tadinya Embun tidak mau melakukan hubungan badan, karena tahu PH miliknya asam. Tapi, bukan Tara namanya kalau dia tidak bisa buat Embun merengek ingin lebih, seperti saat ini.


"Ba--ng, bang...... aaahhhkk.... uuhh.... Astaga.... ini sungguhhh nikmat.... aahhkkk....cabut, cabut.... cabut Bang... Uuuhh... keluarkan di luar... Aku gak mau hamil anak perempuan, anak pertama." Ucapnya heboh sambil menikmati goyangan suaminya itu.


Sebelum terjadi permainan kuda-kudaan. Mereka sudah sepakat bahwa nanti, Tara keluarannya di luar saja, yang tujuannya dia jangan hamil dulu saat pengadukan adonan malam ini. Karena, apabila hamil, Embun takutnya yang jadi adonan anak perempuan, padahal dia ingin anak pertamanya, laki-laki.


"Uuuuhhh.... aaahh... astaghfirullah.... Ya Allah, nikmat mana lagi yang kami dustakan! jangan dicabut bang, gak jadi...!" Embun menahan bokongnya Tara, agar teropong suaminya itu tidak jadi dicabut. Ternyata, disaat Tara hendak mencabutnya, Embun tidak rela. Dia malah membungkukkan badannya dan naik sedikit, kedua tangannya mencengkram kuat bokong Tara, mendorong bokong itu, agar lebih dalam masuk meneropong gua miliknya


Tara sebenarnya merasa lucu dengan tingkah istrinya itu malam ini. Tapi, dia yang begitu menikmati setiap percintaannya dengan Embun, tidak terpengaruh dengan berisiknya Embun dipermainan kali ini. Istrinya itu, sejak ikhlas menerima hal buruk kedepannya. Jadi lebih cerewet.

__ADS_1


Setelah terjadi keributan, akhirnya keduanya pun tumbang dan sama-sama pelepasan. Tidak jadi keluar di luar, semuanya tumpah di rahim wanita itu.


"Semoga gak hamil....!" ucap Embun, mendorong dada Tara dari atas tubuhnya. Pria itu suka sekali berlama-lama menimpa tubuh mungilnya Embun.


"Iihh berat tahu bang. Sudah badan kekar dan keras gitu, Adek sesak nih!" Embun pun berontak, Tara terkekeh. Menggulingkan badannya ke samping dan merangkul Embun. Sehingga kini posisi nya Embun di atas badan kekar nya Tara.


"Jangan turun, adek tetap di atas!" Tara menahan tubuh Embun agar tidak turun. Dia suka sekali apabila keduanya dalam keadaan polos saling berpelukan. Apalagi jika gundukan kenyalnya Embun menyentuh dadanya yang bidang.


"Iihhh.... lengket, mau bersih-bersih." Embun berontak. Embun yang pembersih itu, merasa risih dengan cairan mereka.


"Di lap pakai tisu basah saja sayang. Abang masih ingin sekali lagi ya? sekalian nanti kita bersihkan." Tara meraih tisu basah yang ada di atas nakas dekat tempat tidur. Pria itu berusaha menggapainya masih dalam posisi berbaring, ya tisunya dekat padanya.


"Bersihkan sayang!" Tata menyodorkan tisu. Embun membersihkan milik suaminya dan dirinya dengan tersenyum-senyum.


"Ogah!" jawab Embun cepat. Walau dia cinta banget sama Tara, senang melakukannya dengan suaminya itu. Tapi, untuk mengetahui rasa selei susu milik suaminya, Embun tidak sanggup. Dia merasa sedikit jijik.


"Eemmmm... iya deh, nanti juga adek bakalan mau. Sekalian nanti dibuatkan jadi masker." Goda Tara, tertawa kecil. Wajah Embun merengut membayangkan sper-ma nya Tara dijadikan masker.


"Iihhhh ogah " Jwabanya pendek.


"Adek mah gitu, padahal Abang gak jijik." Tara menahan pinggang Embun, agar tidak turun dari atas tubuhnya.


"Gak jijik, beneran gak jijik?" tanya Embun penuh selidik. Tara mengangguk.

__ADS_1


"Terus kenapa disaat kita hendak mandi habis gituan, Abang batuk-batuk, seolah ingin mengeluarkan sesuatu." Embun merasa Tara juga jijik, karena merasakan cairannya. Tara sering berdehem dan batuk, seolah ingin mengeluarkan sesuatu yang menjijikkan di dalam mulutnya.


Kening Tara menyerngit, bingung maksud ucapan istrinya itu.


"Cairan Adek yang tertelan Abang, setelah kita selesai. Abang juga ingin muntah kan?" Embun yang kesal malah menggoyang-goyang kan pinggulnya di atas perutnya Tara. Kelakuan istrinya itu menyulut birahinya. Apalagi gunung kembarnya ikut bergoyang-goyang.


"Gak jijik, Abang hanya ingin membersihkan mulut saja koq." Tara memegang pinggang Embun, menggelitiknya. Sehingga wanita itu ambruk, kedua gundukan kenyalnya tepat mendarat di wajah Tara.


Tak disia-siakan oleh pria itu, satu gundukan berhasil di emUut dan satunya lagi kena re#mas. Kelakuan Tara, kembali membuat Embun panas. Rambut suaminya itu Habis kena jambakan. Karena Embun yang gemes dengan kelakuannya Tara, menekan kuat kepala suaminya itu, agar lebih dalam dan lama memainkan gundukan kenyal itu.


"Adek di atas!" ujar Tara, melihat Embun sudah menikmati permainan.


"Gak, gak mau. Capek!" Wanita itu berontak turun dari tubuh suaminya, berbaring dengan tersenyum lebar.


"Eemmmm, pandai sekarang Adek ya!" Tara pun mengunci tubuh istrinya itu, di bawah Kungkungannya.


"Mulai hari ini, sampai seterusnya. Abang tidak mau dengar ada permintaan keluarkan di luar


Ok!" Ucap Tara tersenyum mesum. Embun tertawa, mengingat kelakuannya tadi, yang memohon, agar Tara tidak jadi mencabut teropong suaminya itu.


TBC.


Like, coment positif

__ADS_1


__ADS_2