DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Pepet terus


__ADS_3

Embun tetap tak bisa membuka matanya, walau Tara sudah mengganggu istrinya itu dengan sentuhan-sentuhan erotisnya. Wanita itu benar-benar kantuk.


Sepulang dari rumah sakit, waktu sudah menunjukkan pukul 05.45 WIB. Embun dan Tara langsung bersih-bersih, kemudian melaksanakan sholat subuh.


Setelah selesai sholat shubuh Embun langsung meringkuk di bawah selimut. Tentu saja Tara menyusulnya. Percakapan ringan pun terjadi, membahas mengenai Melati. Hingga keduanya tertidur pulas hingga pukul sembilan pagi.


"Bangun hasian..!" Tara mengecup semua organ di wajah cantiknya Embun. Wanita itu hanya menggeliat, dan kembali memeluk Yara dengan erat. Tentu saja Tara senang dengan sikap manjanya Embun.


"Sudah pukul sembilan pagi Hasian." Tara mengusap kepala Embun dalam dekapannya. Wanita itu hanya menggumam. Entah kenapa Embun merasa lelah sekali. Sepertinya dia ingin istirahat panjang.


Embun yang terbiasa tidur cepat, sebelum menikah, dikagetkan dengan rutinitas barunya sebagai nyonya Tara, pengantin baru. Dia kadang hanya tidur empat jam setiap malam. Waktu mereka kebanyakan digunakan untuk mantap-mantap. Pagi, siang dan malam. Maklumlah, orang yang baru kutuan, jadi rasanya gatal terus dan sangat enak kalau sudah digaruk. Semakin digaruk semakin enak. Dan baru berhenti kalau sudah terasa panas dan nyeri.


"Aku masih kantuk sayang!" Wanita itu malah mengapit tubuh Tara dengan kedua kakinya erat. Dia gemes banget sama suaminya itu. Ingin rasanya, berdiam terus di kamar. Bercumbu dan bersanda gurau.


"Kalau adek seperti ini, bisa-bisa adek gak jadi ke kampus loh. Ada yang attahiyatul nih." Tara menoleh ke rudalnya dengan tertawa tipis.


"Biarin dia bangun, adek juga lagi pengen." Embun sengaja mengatakan itu, dia mau menggoda Tara sang suami. Wanita yang lagi malu dengan ucapannya sendiri itu menenggelamkan wajahnya di dada bidangnya Tara.


"Pandai ya sekarang memancing-mancing!" Tangan pria itu langsung menelusup ke dalam piyamanya Embun. Mencari pengait gunung kembar, yang tak pernah bosan di dakinya itu.


"Koq langsung kesitu tangannya?" Embun menahan tangan Tara.


"Biar cepat, ekspres saja. Adek harus ke kampus. Sebelum ke kampus kita ke rumah sakit dulu." Kini pakaian yang menempel di tubuh bagian atasnya Embun sudah terlepas. Tara langsung melahap gundukan hangat itu.


"Koq langsung ke situ." Embun mengangkat wajah suaminya itu. Dia pun melu#mat habis bibirnya Tara. Tara bahagia sekali, istrinya itu selalu bisa memuaskannya, walau kadang Embun bertingkah konyol dan berisik, disaat mereka mantap-mantapan.


Sementara di waktu yang sama dan tempat yang berbeda. Langkah Ardhi dihalangi oleh sang Ibu. Ibu Jerniati menghentikan Ardhi untuk membuntuti Ilham.


"Ardhi, kamu mau ke mana?" Ibu Jerniati menahan lengan anaknya itu dengan kuatnya. Ardhi menatap malas sang Ibu, berontak dan menghempaskan tangan sang ibu.


"Jangan bilang kamu mau menemui pembantu itu. Ingat Nak, kamu sebentar lagi menikah." Teriak Ibu Jerniati, mengejar langkah lebarnya Ardhi yang kini sudah masuk ke mobilnya.

__ADS_1


Saat Ardhi ingin menutup pintu mobilnya, sang ibu kembali menahan pintu itu. Ardhi berdecak kesal.


"Aku hanya ingin mengetahui keberadaan Melati Ma." Ardhi Manarik keras pintu mobilnya. Tapi, sang Mama tetap menahannya.


"Apa yang ada di otak mu itu. Kenapa kamu begitu baik dan sangat mengkhawatirkannya?" cercah sang Mama, masih menahan pintu mobilnya Ardhi.


"Karena dia wanita baik-baik. Aku merasa ada yang tidak beres. Dia tiba-tiba menghilang." Ardhi kembali menarik keras pintunya, sehingga tangan sang ibu terlepas dari pintu itu.


"Kamu akan lihat Mama mati sekarang!" Seru sang Mama berusaha mengejar mobil Ardhi yang sudah keluar dari gerbang.


Saat Ardhi keluar gerbang, Ilham baru saja menaiki Taxi. Ardhi merasa legah, ternyata dia tidak kehilangan jejaknya Ilham. Dia pun membuntuti taxi itu. Tidak menghiraukan ancaman sang Ibu. Ardhi juga sudah kecewa kepada sang Ibu. Dia baru tahu, bahwa perangai sang Ibu sangat lah buruk.


Ilham benar-benar tidak memberi tahu di mana Melati berada. Karena, Melati berpesan seperti itu. Melati mengatakan, bahwa Ibu Jerniati membencinya. Karena, merasa Melati menggoda anaknya.


Ilham terkejut mendengar ucapan Melati. Tapi, dia percaya itu. Karena, Ilham menilai Ardhi memang simpatik pada Melati. Ilham tidak mau, Melati mengetahui perasaan sang majikan. Makanya Ilham setuju dengan permintaan Melati agar dirinya jangan bertemu lagi dengan keluarga itu.


Melati traumah untuk bertemu dengan Ardhi. Dia membenci pria itu. Cara Ardhi merenggut kesuciannya sangatlah keji menurutnya. Permohonan ampun, tidak digubris pria itu. Bahkan Melati sudah memperingati bahwa sang majikan akan menikah.


Melati merasa dirinya sangat bodoh. Percaya dengan semua ucapan baik sang majikan. Memintanya menunggu di kantor. Dan ternyata ada maksud terselubung dari permintaan itu. Ternyata dia hanya diibuat sang majikan sebagai pemuas Na*fsu.


***


Setelah melakukan olah raga raga enak di pagi hari, dengan durasi singkat. Kini pasangan suami istri Embun dan Tara, sedang berada di dalam kamar mandi. Membersihkan keringat dan sisa-sisa ****** *****. Alias mandi junub.


"Sudah ahhkk... Adek sudah telat ini." Embun mencoba melepas rengkuhan tangan Tara yang membelit pinggangnya. Wanita itu sedang memakai hijabnya.


"Adek wangi banget, Abang jadi gak rela, kalau Adek keluar rumah." Tara tidak mau melepaskan tangannya dari pinggangnya Embun. Sehingga wanita itu kesusahan saat memakai hijab model pasmina itu. Dia tidak menyangkal ucapan sang suami, ya parfum yang dipakai Embun memang sangat wangi.


Tara terus saja mengendus wangi yang menyeruak di indera penciumannya.


"Wangi salah, bau juga salah." Protes Embun, tetap, memakai hijabnya dengan Tara yang menempel terus padanya.

__ADS_1


"Adek mana pernah bau!"


"Ya iyalah, sempat Abang bilang adek bau. Adek gak mau tidur seranjang dengan Abang." Embun sudah selesai memakai hijabnya. Dia bergerak ke ruang ganti, untuk mengambil koleksi tas nya. Tentu saja Tara masih terus memeluknya dari belakang. Embun jadi kesusahan berjalan.


"Seorang istri itu tidak boleh memakai parfum yang harumnya menyengat, yang bisa membangkitkan syahwat kaum Adam. Lihatlah, wangi parfum Adek sudah membangkitkan si Ucok kecil." Ucap Tara dengan suara serak, menggesek-gesek rudalnya yang on ke bokongnya Embun. Sontak Embun terkejut dengan kelakuan sang suami.


Dia pun menyikut Tara dengan keras, sehingga belitan tangan Tara lepas dari pinggangnya Embun.


"Sudah loyo si Ucok nya kan? ayo let's go!" Embun memberi kode dengan tangannya memanggil Tara yang masih tercenung di ruangan itu. Wanita itu berjalan cepat keluar kamar. Tara mengikuti langkah Embun dengan senyam-senyum. Dia merasa tingkahnya konyol pagi ini.


Bagi wanita modern di kota metropolitan, memakai parfum atau wangi-wangian saat keluar rumah atau menghadiri pesta adalah wajib dan itu merupakan hal lumrah. Namun, sebagai seorang muslim sebaiknya berpikir dulu ketika hendak memakai parfum. Pasalnya, memakai parfum bagi wanita hukumnya dilarang.


Rasulullah SAW bersabda, “Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pela"cur.” (HR. An-Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad. Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ , no. 323. Hadits ini shahih).


Maksud hadits di atas sangat jelas, bahwa wanita dilarang memakai parfum apabila tujuannya ingin menggoda dan membangkitkan syahwat kaum pria. Memakai wangi-wangian juga dilarang jika wanita sekiranya akan berada di antara kaum pria, dan walau pun tak ada tujuan menggoda pria tetapi wanginya menggoda maka tetap tidak diperbolehkan.


Islam sangat memuliakan wanita. Diri wanita sangat berharga sehingga mereka tidak boleh menampakkan auratnya. Seperti lekuk tubuh, suara yang mendayu-dayu, dan termasuk memakai wangi-wangian yang dapat membangkitkan syahwat. "Ada riwayat yang menceritakan kejadian di zaman Nabi SAW. Kala itu Saidina Umar pernah meminta seorang perempuan yang hadir di majelis ilmu untuk pulang. Alasannya karena wanita tersebut wanginya sangat menyengat. Dia diminta pulang menghikangkan aroma di badannya, lalu baru boleh kembali lagi," Akan tetapi, untuk menghilangkan bau yang tidak sedap di badan wanita boleh memakai wangi-wangian. Dengan syarat mamakainya sesuai ketentuan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


"Wewangian seorang laki-laki adalah yang tidak jelas warnanya tapi tampak bau harumnya. Sedangkan wewangian perempuan adalah yang warnanya jelas namun baunya tidak begitu nampak.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, no.7564)


Dalam hal ini memakai deodorant maka diperbolehkan dan memakai wangi-wangian bila untuk menghilangkan bau tetapi tidak menyengat juga boleh.


Perkara haram dan halal di sisi Islam juga disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Walau memakai parfum, tetapi bisa menjadi halal apabila wanita memakainya di dalam rumah dan hanya untuk suami. "Sesuatu yang haram bisa menjadi sunnah. Bahkan diharuskan jika wanita memakai wangi-wangian untuk melayani suami, pahala semakin bertambah apabila suami ternyata menyukai itu.


Tapi, sekarang banyak ibu-ibu wangi saat keluar rumah, dan saat di rumah bau bawang.


TBC.


Tetap dukung maksay, like coment positif vote dong please!


Bahasan parfum sebagian aku comot dr mba google ya!

__ADS_1


Yuk... pelet terus sang suami, agar jangan melirik wanita lain.


__ADS_2