
Ceklek....
Suara pintu dibuka membuat Ibu mertua dan menantunya itu menoleh secara bersamaan ke arah pintu kamar. Nampak Tara nyelenong masuk dengan senyum lebar ala Pepsodent. Wajah bahagia jelas terlihat di wajahnya Tara.
Kehadiran Tara di kamar itu, membuat Mama Mira menghentikan ceritanya, yang membuat Embun jadi semakin penasaran. Embun menatap lekat Tara yang berjalan seolah melewati mereka.
"Nak, kamu ke kantornya besok saja ya? hari ini kita habiskan waktu bersama di rumah." Mama Mira menatap Tara yang melenggang ingin masuk ke ruang kerja yang masih terhubung dengan kamar mereka. Tara pun menghentikan langkahnya.
"Iya Ma." Tara tersenyum menatap kedua wanita dihadapannya. Kemudian melanjutkan langkahnya ke ruang kerja. Embun dibuat sedikit terheran dengan sikapnya Tara yang seolah berubah jadi pendiam. Biasanya pria itu selalu menggodanya.
"Embun sayang, kamu harus bisa ngertiin Tara ya sayang. Sepertinya Dia akan sibuk dengan kerjaannya. Dua Minggu ini kan Dia di kampung." Mama Mira meraih lengan Embun, mengajak menantunya itu masuk kembali ke ruang walk in closet. Ternyata di sana sudah ada pembantu yang sudah menyimpan barang-barang Embun ke tempat semestinya.
"Ini pakaian untukmu sayang, semoga kamu suka." Mama Mira membuka lemari kaca. Nampaklah berbagai macam dres mewah di dalamnya menggantung. Embun hanya tersenyum menanggapi ucapan Ibu Mertuanya itu.
"Ini koleksi Tas, itu sepatu. Ini semua Bou yang pilihkan moga kamu suka sayang." Lagi-lagi Mama Mira menunjukkan semua barang-barang untuk Embun. Tentu saja Embun senang bukan main.
Embunpun memeluk Ibu mertuanya itu. "Terimakasih Bou, ini sih terlalu berlebihan. Embun punya baju banyak koq." Melepas pelukan dari Mama Mira dan merangkulnya. Bounya ini memang dari dulu selalu baik padanya. Walau dulu Embun selalu mencoba menghindar untuk bertemu, jikalau Mama Mira pulang kampung.
Percakapan keduanya pun terhenti, disaat Pak Ahmad, Ayahnya Tara memasuki ruangan itu dengan senyum bahagia.
"Istriku, siang ini kita harus ke kota Lampung. Ada pekerjaan penting yang harus saya tangani langsung." Mama Mira terkejut mendengar ucapan suaminya itu. Dia berdecak kesal, merasa malas untuk ikut bersama suaminya itu ke kota Lampung.
"Koq mendadak suamiku? Tara dan Embun kan baru sampai di rumah ini." Mama Mira dan Embun mengikuti langkah pria itu.
"Iya Ma. Ayah juga baru dikabari Sekretaris Ayah tadi." Pak Ahmad, kini mengetuk pintu ruang kerjanya Tara. Pria itu masuk ke ruangan itu. Mendapati Tara sedang sibuk dengan banyak dokumen di atas meja. Mama Mira mengikuti langkah suaminya. Sedangkan Embun enggan untuk masuk ke ruangan itu. Dia memilih masuk ke kamar mandi untuk buang air seninya.
❤️❤️❤️
Setelah makan siang bersama, Pak Ahmad dan Mama Mira meninggalkan rumah itu. Tara dengan entengnya merangkul Embun dan mengajaknya masuk ke dalam rumah, setelah mobil yang dikendarai orang tuanya menghilang dari pandangan mata.
"Apaan sih? lepaskan..!" Embun menggerakkan bahunya dengan kuat, agar tangan Tara terlepas. Dia pun menatap tajam suaminya itu.
Tara tersenyum menggoda. "Galak banget sih, masak dirangkul sama suami sendiri gak boleh?" Tara bersidekap dada masih tersenyum menggoda di hadapan Embun.
"Kalau kamu yang meluk ya gak boleh. Kamu kan bukan suamiku." Ketus Embun menatap tajam Tara.
Tara menurunkan tangannya, menghela napas dalam. Sedangkan pandangan matanya menyoroti taman dihadapannya. Embun mengikuti arah pandangan mata Tara kemanapun bergerak. "Abang ini suami sahmu. Itu tidak bisa Adek pungkiri." Tara dengan cepat mendaratkan satu kecupan di pipinya Embun. Saat wanita itu lengah.
Dengan langkah seribu, Tara meninggalkan Embun yang masih berdiri termangu, seperti orang kehilangan akal. Kedua bola mata Embun membulat, setelah sadar dengan kelakuan Tara yang mencuri satu kecupan di pipi kirinya.
Dia mengepalkan kedua tangannya. Dadanya nampak naik turun, karena menahan emosi.
"Ta---ra gila,....!" Embun berteriak mengejar Tara. Dia mempercepat langkahnya setelah melihat Tara menekan tombol panel di lift. Tara masuk ke dalam lift dengan melambaikan tangan dan tersenyum bahagia. Dia tertawa di dalam lift. Karena Embun menurutnya sangat lucu. Tidak berubah, Dia masih seperti gadis kecil yang dulu, selalu marah, apabila Tara mengerjainya.
__ADS_1
Embun mendumel, meninju panel tombol lift. Dia pun menekan angka tiga. Menyusul Tara ke kamar mereka.
Setelah sampai di kamar, Embun tidak mendapati Tara di kamar itu. Dia pun langsung menggedor-gedor pintu ruang kerjanya Tara.
"Buka pintunya..! berani sekali kamu menciumku lagi brengsek...!" Teriakan Embun tidak ditanggapi Tara. Dia malah menikmati tontonan di layar ponselnya yang menampakkan wajah Embun yang memerah karena marah.
"Buka----- awas saja kalau kamu keluar nanti. Ku bejek-bejek wajahmu itu jadi belacan....!" Embun geram bukan main, karena Tara tidak mau membuka pintu.
"Belacan, itukan terasi?" Tara bergidik jijik. Dia paling benci dengan Terasi. Tara menghela napas dalam dan menghembuskannya pelan. Merasa sudah rileks, Dia pun mulai melanjutkan pekerjaannya.
Embun mondar-mandir di kamarnya dengan penuh kekesalan. Sesekali Dia menggedor-gedor pintu ruang kerjanya Tara. Tapi, suaminya itu tidak kunjung mau membuka pintu.
Merasa lelah karena diabaikan, akhirnya Embun memutuskan untuk tidur siang.
Pukul lima sore, Tara keluar dari ruang kerjanya. Dia tahu Embun masih tertidur. Karena Dia mengawasi kegiatan Embun dari rekaman CCTV yang terhubung langsung ke ponsel pintarnya.
Dia bergerak naik ke atas ranjang dengan penuh kehati-hatian. Karena, takut istri galaknya itu terbangun. Dengan perasaan sedih bercampur rasa cinta yang membuncah di hati. Tara menatap lekat wajah cantiknya Embun yang tertidur lelap.
Dia mengasihani dirinya sendirinya, karena tidak bisa move on dari wanita di hadapannya saat ini. Istrinya itu tidak bisa dimilikinya.
Kenapa cinta ini begitu menyakitkan? Tara membathin.
Di kamar mandi, Tara dengan cepat menyelesaikan ritual mandinya. Dia yang baru saja membelitkan handuk lembut berwarna biru di pinggangnya, dikejutkan dengan kehadiran Embun yang masuk dalam keadaan setengah sadar. Bahkan Embun menabrak dada bidangnya Tara saat berjalan. Saat itu juga kedua bola mata Embun membelalak. Disaat Tara merengkuh pinggangnya saat hendak terjatuh.
"Ka--mu?" ucap Embun terbata-bata, Tara tersenyum menyeringai.
"Mau mengintip Abang lagi mandi ya?" Tara menaik turunkan alisnya, menatap lekat Embun yang berontak ingin lepas dari rengkuhan Tara.
"Siapa juga yang mau mengintip. Aku tidak tertarik tuh! lepas.... Najis...!" teriak Embun frustasi, sambil memukul dada bidangnya Tara.
Ucapan Embun membuat hati Tara sakit, Dia harus memberi pelajaran pada wanita itu. Dengan gerakan cepat Dia memegang kepala belakang Embun, melum**at bibir merahnya Embun yang dari tadi memang nampak menggoda. Semakin Embun berontak, Tara semakin memperdalam dan memperkuat ciumannya. Bahkan Kini kedua tangannya sudah berpindah memegang kedua sisi kepalanya Embun, agar ciumannya tidak lepas.
Melihat Embun susah bernafas, Tara pun melepas ciumannya. Tatapan mata tajamnya kini penuh kekesalan. Seperti elang yang siap menerkam mangsanya.
"Abang bisa berbuat lebih buas lagi, jikalau Adek tidak bisa mengontrol ucapannya. Sekali lagi Adek bersikap tidak sopan dan mengutarakan ujaran kebencian. Maka siap-siaplah, karena akan ada makhluk kecil di sini." Tara menyentuh perut Embun dan bergegas pergi dari kamar mandi dengan menahan emosi. Siapa yang tidak sakit hati, dianggap najis.
Tubuh Embun bergetar, Dia ketakutan dengan ultimatum yang diucapkan suaminya itu. Dia tidak mau Tara memperkosanya. Dia hanya akan milik Ardhi.
Embun keluar dari kamar mandi dengan perasaan takut dan was-was. Ucapan Tara benar-benar menciutkan nyalinya.
Waktu sholat Maghrib pun tiba. Embun yang sedang bermalas-malasan di atas ranjang, langsung mendudukkan tubuhnya, disaat Tara memasuki kamar mereka.
__ADS_1
Dia menundukkan pandangan, takut melihat ke arah Tara.
"Berwudhu lah kita sholat berjamaah." Tara berdiri di dekat ranjang. Embun terkejut mendengar Tara mengajaknya sholat berjamaah. Dia mendongak, memperhatikan penampilan Tara yang sudah rapi, bahkan pria itu memakai Lobe warna putih, yang senada dengan baju Koko lengan pendek yang digunakannya.
Penampilan Tara membuat Embun terpesona, ternyata suaminya itu Sholeh juga.
Embun tidak bergeming, Dia tercengang melihat penampilan Tara.
"Menurutlah kepada Abang. Maka Abang pastikan kamu akan kembali kepada Mas Ardhi mu itu dengan selamat." Tara berbicara penuh kewibawaan. Yang membuat Embun manggut-manggut dan langsung berlari ke kamar mandi.
Acara sholat Maghrib berjemaah pun selesai. Tentu saja Tara menyodorkan tangannya untuk di cium oleh Embun. Dengan tangan gemetar Embun meraih tangannya Tara. Dia menempatkan punggung tangan suaminya itu di keningnya.
"Aku akan menurut, tapi kabulkan satu permintaanku!" tegas Embun, saat ini Tara sedang duduk bersila dihadapannya.
"Apa itu?"
Embun membasahi bibirnya dengan lidahnya. Dia takut untuk mengatakannya. Tapi, Dia harus mengajukan permohonan itu. Agar Dia merasa aman.
"Itu-- itu,..!" Embun menjeda ucapannya, merasa grogi saat Tara menatapnya lekat.
"Itu, itu apa?" Tara mendesak, dengan nada suara sedikit tinggi. Sehingga, Embun terkejut.
"Itu, Aku tidak mau tidur satu ranjang denganmu." Seru Embun, membuang pandangannya ke samping.
"Kenapa? Adek takut, ada Tara junior di perut Adek?" Tara tersenyum, Dia sedang menggoda Embun.
"Iyalah, siapa juga yang mau mengandung anakmu." Ketus Embun, beranjak sambil melipat mukenanya.
"Eehhmmmmm baiklah, awas saja jika suatu saat Adek merengek, ingin satu ranjang dengan Abang." Ucapan Tara membuat Embun menghentikan langkahnya.
"Itu tidak akan pernah terjadi. Jangan harap Aku bisa menyukaimu!" Embun meninggalkan ruang sholat, berjalan dengan mendumel menuju ruang makan.
Brakkkk...
Embun menabrak seorang pria yang pernah dilihatnya.
TBC.
Mohon dukungannya dengan like coment positif dan Vote.
Buat readers yang bertanya kenapa tidak up?
Saya mengalami musibah kecelakaan. Jadi mohon pengertiannya. Novel ini akan tetap saya tamatkan disini. Walau saya tidak dapat cuan di novel ini.
__ADS_1
Semoga kita selalu dilindungi NYA dari mara bahaya dan diberi kesehatan. Aamiinn