
Walau perasaan Melati lagi gundah gulana. Dia tetap konsentrasi dalam menjawab soal ujiannya. Tapi, wanita itu lebih banyak diam. Bahkan dia tidak ke kantin untuk makan siang. Padahal Si Butet sudah mengajaknya untuk makan.
Melati benar-benar tidak selera untuk makan. Butet yang baik hati itu, membelikan roti bakar untuk Melati. Ya Melati suka roti bakar isi kacang mix coklat.
"Dari tadi baca buku terus. Ni aku belikan makanan kesukaanmu." Si Butet menyodorkan bungkusan berisi roti bakar. Kemudian wanita itu duduk dengan menyilangkan kakinya di kursi sebelah melati, dengan tangannya memegang mika berisi Rujak.
Melati beberapa kali menelan ludahnya sendiri, saat si Butet menyantap rujak itu dengan lahapnya.
"Mau?" sibutet menyodorkan satu tusukan buah kedondong. Mulut Melati dengan cepat menyambarnya. Memakannya dengan wajah berbinar-binar.
"Waaahhh tumben kamu suka rujak. Biasanya kamu sukanya roti bakar." Ujar si Butet, menyerahkan semua rujaknya pada Melati. Melati dengan senang hati menerimanya.
"Iya, entahlah akhir-akhir ini bawaannya ingin makan yang asem-asem seger gitu. Ooppss..." Melati langsung terdiam, dia tidak mau ucapannya ditanggapi si Butet dengan serius. Karena, biasanya wanita yang hamil suka makan yang asem-asem.
"Kamu seperti wanita bunting saja. Suka yang asem-asem." Melati tersedak mendengar ucapan si Butet yang ceplas ceplos itu. Rasa pedas dari bumbu rujak sudah terhirup ke rongga pernapasan Melati. Sehingga wanita itu merasakan perih yang teramat sakit di rongga hidungnya.
"Mel, kamu baik-baik saja kan?" Si Butet menepuk pelan punggung Melati yang terbatuk-batuk itu. Dia juga memberikan air mineral pada Melati.
Melati meneguk air mineral dengan mata ya g sudah berair. Karena menahan sakit yang tersedak itu. Si Butet jadi panik melihat keadaan Melati.
"Gimana sudah baikan? masih perih hidungnya?" tanya si Butet dengan khawatirnya. Melati hanya mengangguk lemah. Sungguh rasanya sangat sekali saat tersedak itu.
__ADS_1
"Lain kali kalau makan itu jangan menghayal. Agar makanan yang kamu telan, jelas masuk ke kerongkongan bukan ke tenggorokan." Si Butet memperhatikan lekat Melati yang seolah tidak mau menatapnya.
"Kamu kenapa sih Mel? saya perhatikan seminggu terakhir ini kamu banyak berubah. Sering sakit, sering melamunlah. Pokoknya aneh deh." Keluh si Butet, masih menatap lekat Melati yang nampak tidak tenang itu.
"Ayo cerita, aku lihat kamu itu akhir-akhir ini seperti tertekan bathin gitu."
"Aku gak ada masalah Tet." Ucapnya berusaha tersenyum tipis.
"Selamat siang semuanya!" Dosen mereka pun datang percakapan keduanya pun terhenti. Melati yang merasa tidak tenang, karena si Butet seperti mencurigainya. Memilih diam dan enggan untuk diajak bicara. Melati dengan cepat mengerjakan ujiannya. Karena, yang selesai ujian bisa lebih dulu pulang.
Melati tidak ingin pulang bersama Ardhi. Dia merasa belum nyaman kalau berinteraksi dengan pria itu. Perlakuan kasar Ardhi masih membekas dalam di memorinya. Berkomunikasi dengan Ardhi membuatnya ketakutan.
"Mel, sudah siap loe. Lihat dong jawaban nomor delapan." Ucap Si Butet pelan. Dia melihat Melati sudah beres-beres untuk menyerahkan lembar ujiannya.
"Mel, buru-buru amat sih loe, tungguin dong?!" Si Butet mempercepat langkahnya menyusul Melati yang berjalan seperti dikejar setan itu. Melati harus pulang sebelum bertemu dengan Ardhi. Entah kenapa dia merasa tidak tenang dan nyaman kalau satu mobil dengan Ardhi. Lebih baik menghindar. Dan kalau harus bertemu. Di rumah Embun saja, begitulah yang ada dipikiran Melati saat ini.
"Aku banyak kerjaan Tet." Melati masih berjalan dengan cepat. Walau dia merasa kepalanya sangat sakit. Mungkin karena dia belum makan.
"Iya tungguin dong?!" Si Butet menarik hijabnya Melati dari belakang. Auto, Melati menghentikan langkahnya dengan muka kesalnya. Kini mereka sudah berada diluar gedung tepatnya di area parkir.
"Aku harus cepat sampai di rumah. Banyak kerjaan." Ucap Melati, menoleh ke arah si Butet. Kemudian melempar pandangannya ke arah parkiran. Mencari keberadaan mobilnya Ardhi. Siapa tahu pria itu sudah sampai di parkiran. Tapi, ternyata Melati tidak melihat keberadaan mobil pria itu. Dia pun menarik napas legah.
__ADS_1
"Iya, ayo." Si Butet merangkul Melati. Tingkah si Butet, membuat Melati terkejut. Dia juga kesusahan berjalan.
"Iihh gak usah main rangkul. Tanganmu berat Tet." Melati berusaha melepas rangkulan si Butet. "Kita gandengan saja." Melati menggandeng lengan kanannya si Butet. Dia tidak mau si Butet merasa tidak dihargai, saat dirinya melepas rengkuhan tangan Butet di bahunya. Mereka berjalan ke arah gerbang keluar. Saat itu juga, Melati seperti mendengar namanya dipanggil-panggil. Tapi, dia mengabaikannya. Dia tidak yakin, ada orang yang memanggilnya.
"Tumben Abang Ilham gak anterin kamu tadi pagi." Butet dan Melati menghentikan langkahnya, saat seorang pria berkacamata mata hitam, memakai masker bibir senyum berdiri tepat dihadapan mereka.
"Sudah pulang, katanya pulang jam dua." Melati yang yang berjalan dengan serius menatap ke bawah. Kini mendongak guna memperjelas pria yang berdiri di hadapan mereka.
"Tuan Ardhi." Ucap Melati pelan, melirik si Butet yang nampak bingung dan terheran-heran melihat sosok pria keren di hadapannya.
"Wwiihh... Kren dan matang banget ni cowok." Ucap Si Butet dengan ekspresi wajah terkagum-kagumnya. Memperhatikan dengan seksama Ardhi yang menjulang tinggi itu. Walau Ardhi memakai masker bibir tersenyum. Mencoba menutupi wajahnya. Tapi, aura tampan pria itu tetap terpancar. Walau wajahnya tidak jelas terlihat.
"Siapa?" si Butet berbisik sambil menyikut pinggangnya Melati yang juga sedang terkejut bathin. Melati mendesis, kesal dengan tingkah si Butet.
"Benar sudah selesai kuliahnya kan?" Ardhi memperjelas pertanyaannya. Karena, Melati tidak menanggapi ucapannya tadi.
"Su---dah, sudah tuan." Jawabnya menunduk. Si Butet semakin heran melihat tingkah Melati. Tapi, si Butet langsung tersadar. Bahwa pria yang di hadapannya adalah majikannya Melati.
Si Butet kembali memperhatikan lekat Ardhi yang sedang menatap Melati yang menunduk. Kemudian dia melirik Melati yang nampak jadi seperti wanita tak berdaya. Biasanya juga sahabat nya itu berani dan tegas.
"Ayo kita pulang." Mobil nya Ardhi langsung berhenti di hadapan mereka.
__ADS_1
"Ayo masuk, adek juga boleh ikut." Tawar Ardhi kepada Si Butet.
Si Butet terbengong-bengong melihat mobil mewah merk Mercedes warna hitam mengkilap di hadapannya. Butet yang tidak tahu malu itu, langsung masuk di jok belakang supir. Dia penasaran dengan Melati. Kenapa majikannya menjemput nya segala. Dia juga ingin merasakan naik mobil mewah.