
Melati terbangun kaget karena bermimpi buruk. Dalam mimpi itu dia kejar-kejar ular yang sangat besar, panjang dan mengerikan. Dia berteriak histeris disaat ular itu berhasil mematuknya Dia merasa kesakitan dalam tidurnya itu.
Melati yang sudah terduduk lemas di atas ranjang, memegangi dadanya yang berdetak kencang, karena ketakutan itu, deru napas wanita itu jadi tidak teratur, sia ngos-ngosan, kelelahan berlari dalam mimpinya itu, yang terasa nyata buatnya.
Melati yang bingung sendirian di ruang kantor Ardhi, malah tertidur. Setelah wanita itu melaksanakan sholat Magrib. Ya, wanita itu selalu membawa mukena parasut di tas ranselnya.
"Syukurlah, hujannya sudah reda." Ucapnya dengan menghela napas legah. Sejak sore, di daerah kantor nya Ardhi hujan lebat. Makanya wanita itu, semakin galau. Hujan di daerah kantor nya Ardhi turun sangat deras hingga menjelang magrib tiba.
"Em--BUN---!" suara yang sangat dikenalnya mengejutkan wanita itu. Itu adalah suara sang majikan Ardhi Shiraz. Melati celingukan di atas ranjangnya Ardhi. Memperhatikan sekitar lamat-lamat. Dia baru sadar bahwa sekarang dirinya sedang tidak berada di kamarnya. Tapi, di kamar ruang kerjanya Ardhi.
"EMBUN--!" teriakan Ardhi, akhirnya membuat wanita itu sadar sepenuhnya. Bahwa sang majikan sudah kembali dan saatnya mereka akan pulang.
Melati yang masih merasa bingung, karena mimpi buruk, berusaha bangkit dari atas ranjang. Rasanya tidak nyaman banget, karena wanita itu terbangun dengan terpaksa, karena mimpi buruk.
Sebelum turun dari ranjangnya, wanita itu melirik jam yang bertengger di dinding kamar itu. Ternyata sudah pukul 00.13.WIB.
"Astaga, Aku sudah tertidur lima jam lebih." Ucapnya dengan perasaan takut, karena sang majikan masih saja berteriak-teriak di ruang kerja dengan frustasi sekali. Melati tidak heran lagi, karena dia sudah pernah mendengar Majikannya itu berteriak dan memanggil-manggil namanya Embun, sang mantan kekasih.
Melati merapikan hijabnya, dia akan keluar kamar. Ingin melihat kondisi sang majikan. Akankah se extrem beberapa hari lalu. Disaat Ardhi melampiaskan kekesalan dan kekecewaannya dengan menyakiti diri sendiri. Meninju secara brutal dinding kamarnya.
Dengan perasaan takut serta canggung, Melati menekan handle pintu kamar dengan memegangi dadanya yang berdebar kencang itu. Dia sedang menyiapkan mentalnya, disaat keluar kamar yang ingin melihat kondisi sang majikan.
"Astaghfirullah...!" Ucap wanita itu, menutup mulutnya dengan tangannya. Saat ini dia melihat Ardhi tergeletak di atas lantai marmer hitam yang mengkilap, sedang tengkurap, memukul-mukul lantai dan berteriak memanggil manggil nama Embun.
"EMBUN---!" teriak Ardhi lagi. Melati Kembali terlonjak kaget mendengar suara Ardhi yang kuat itu. Dia memegangi dadanya yang bergemuruh.
"EMBUN--- Kau pengkhianat.!" Ardhi yang hilang kewarasan itu, membentur-benturkan kepala nya ke lantai.
__ADS_1
Melati yang tidak tahan melihat kelakuan gila sang majikan. Akhirnya memberanikan diri mendekati Ardhi. Dia ingin menghentikan aksi gila sang majikannya itu.
"Tuan," Ardhi mengangkat kepalanya, karena mendengar suara.
"Tuan," Melati sudah berada di hadapan pria yang masih tengkurap itu. Melati tidak berani menyentuh pria itu, karena kondisi sang majikan yang tidak pantas untuk disentuh. Ardhi saat ini hanya mengenakan celana kerjanya. Sedangkan tubuh bagian atasnya tidak ditutupi sehelai kain pun. Dada bidang yang atletis terpampang sudah. Disaat pria itu membalik badannya jadi terlentang.
Melati tergagap, tidak sanggup melihat otot dada sang majikan yang liat dan menggoda imam itu. Sungguh pahatan sempurna dengan otot dada liat bersih dan indah karena dihiasi bulu-bulu halus yang memanjang ke pusat pria itu.
Kening Ardhi menyergit heran, melihat ada sosok wanita di hadapannya, yang tiba-tiba membuang wajah.
"Ka--mu," Ardhi yang masih terlentang itu, menunjuk-nunjuk wajah Melati dengan ekspresi wajah konyolnya. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Melati dibuat takut dengan kondisi Ardhi saat ini. Dia tahu majikannya itu mabuk berat. Ini berbahaya, dia tidak boleh dekat-dekat dengan seorang pria yang sedang mabuk.
"Kamu, kamu pengkhianat!" Melati kembali terlonjak kaget, dengan ucapan sang majikan. Ekspresi wajah Ardhi sudah tidak terkendali. Raut wajah pria itu merah padam, menahan kesal. Dan seperti ingin melampiaskan kekesalannya itu.
Hihihi....
Ardhi tertawa sambil berusaha untuk berdiri. Melati yang ketakutan tidak berani membantu pria itu untuk bangun. Melati kembali menoleh kepada Ardhi, ingin memastikan keadaan sang majikan. Wanita itu menatap Ardhi penuh ketakutan, saat sang majikan berusaha bangkit, dengan sempoyongan.
Kini Ardhi sudah bisa berdiri tegak di hadapan Melati. Wanita itu membuang wajahnya kembali, tidak berani menatap Ardhi yang berdiri dengan tatapan mata mematikan.
Tangan kanan Ardhi menjulur, ingin meraih dagu wanita yang gemetaran di hadapannya. Tapi, Melati menghindar, memundurkan langkahnya.
"Kenapa? kenapa tidak suka ku sentuh haa...hh? wanita pengkhianat..!" ucapan Ardhi yang kasar dan keras, semakin membuat Melati ketakutan. Dia sudah memprediksi hal buruk akan terjadi. Karena dirinya terjebak dengan seorang pria yang sedang mabuk, berduaan di ruangan yang sepi di tengah malam.
"Lepas tuan!" Melati berontak, disaat Ardhi sudah menahan tangannya Melati agar tidak menjauh darinya.
__ADS_1
Wanita itu berusaha keras, agar lepas dari pegangan sang majikanyang sudah kehilangan kesadaran.
"Kamu Embun," Ardhi menarik kuat tangan Melati yang digenggamnya. Sehingga wanita itu bisa menyentuh dada bidang yang keras itu. Saat itu juga, ketakutan Melati semakin menjadi-jadi.
"Embun, eehh bukan. Embun, bukan!" Ardhi menjauhkan wajahnya, guna memperjelas apa yang dihadapannya saat ini. Tapi, Melati yang kesal, malah memalingkan wajahnya. Tidak sudih ditatap oleh sang majikan. Saat ini buat Melati, pria itu sangat menijikkan.
"Tuan, lepaskan saya. Saya bukan Embun. Saya Melati!" seru Melati, berontak dari himpitan tubuh Ardhi. Kini pria itu sudah mengunci pergerakan tubuh Melati yang mentok di dinding.
Ardhi menilik dalam wajah Melari yang ada di hadapannya.
"Melati, Melati yang jadi office girl?" ucap Ardhi masih menatap lamat-lamat wajahnya Melati yang kini sudah ketakutan.
Wajah wanita itu sudah pucat, seperti nya aliran darahnya membeku.
"Iya tuan, saya Melati. Lepaskan saya tuan." Dengan sisa tenaga yang dimiliki oleh Melati, dia mendorong kuat dada bidangnya Ardhi. Saat menyentuh dada yang bidang itu. Melati merasa seperti di setrum.
Dia kembali terkejut atas sensasi yang dirasakannya, saat tangannya menyentuh otot dadanya Ardhi yang atletis itu.
"Pandai sekali kamu berbohong, kamu Embun wanita yang ku cintai. Kamu hanya mengelabuiku dengan hijab ini." Ardhi menarik paksa hijab yang menutupi kepalanya Melati. Pria itu melempar hijab itu dan kini tergeletak di atas sofa.
"Tidak tuan, saya bukan Embun. Saya Melati!" Melati sudah ketakutan setengah mati. Tubuhnya bergetar hebat. Ardhi yang terkesima melihat wajah cantiknya Melati tanpa hijab itu, dibuat tercengang sesaat.
Birahi pria itu tersulut melihat leher jenjang nan putih miliknya Melati. Ekor matanya Melati melirik Ardhi yang tertuju pada leher nya.
"Jangan tuan!" Melati menangis, sembari menggerakkan-gerakkan kepalanya. Tidak sudih pria itu mengeksplor lehernya dengan bibir dan lidahnya.
TBC
__ADS_1