
“Itu abang Ilham.” Si Butet mencondongkan wajahnya, memberi tahu Melati. Bahwa Ilham ada di parkiran. Melati menatap ke arah yang dimaksud si Butet. Melati tersenyum kepada Butet.
“Abang Ilham sudah seperti supir pribadimu ya Mel. Satu minggu ini, abang itu antar jemput kamu.” Melati hanya tersenyum tipis
menanggapi ucapan Butet. Mereke sedang berjalan ke arah Ilham yang juga
menampilkan ekspresi wajah bahagia.
“Kita sama-sama suka abang Ilham.” Melati menghentikan langkahnya, menoleh kepada Butet dengan ekspresi wajah tercengang. Ya, Melati tahu, kalau Butet suka pada Ilham. Tapi, itu mungkin hanya perasaan suka atau
kagum saja. Tidak mungkin si Butet ingin hubungan yang serius dengan Ilham,
secara mereka punya keyakinan yang berbeda.
“Coba bukan kamu wanita yang disukai abang ilham, Aku pasti sudah rebut dia.” Ucapan seriusnya si Butet, membuat Melati semakin bingung saja. Temannya ini terlalu jujur dengan perasaannya, dan terkadang tidak
memikirkan efek dari ucapannya. Melati menghentikan langkahnya, begitu juga
dengan si Butet.
“Aku tidak punya hak melarangmu untuk mendapatkan perhatian atau cinta dari Abang Ilham Tet. Dia bukan suamiku. Kalau dia tadinya sudah jadi suamiku. Maka aku akan merobek mulutmu, karena mengatakan ingin
mengambilnya dariku. Aku tidak akan marah jika kamu mendekati Abang Ilham.
Jodoh takkan ke mana Tet. Kalau benar abang Ilham jodohmu, kalian pasti bersama." Senyum manis terlukis di wajah tirusnya Melati. Sedangkan si Butet, dibuat terheran-heran dengan ucapan Melati. Benarkah temannya itu, mengizinkannya mendekati Ilham.
“Serius kamu Mel? Kamu tidak marah, jikalau aku mendekati abang Ilham?” Butet benar-benar tidak menyangka, si Melati punya prinsip seperti itu.
__ADS_1
“Iya, serius.” Melati tersenyum, Ada baiknya mungkin dia bertemu dengan Ardhi. Kalau pria itu mau bertanggung jawab. Dia akan ikhlas dan mencoba membina rumah tangga dengan mantan majikannya itu. Walaupun hanya
sebatas pengakuan. Setidaknya anak yang di kandungnya punya ayah.
'Anak, anak? Benarkah aku hamil?’ Melati membathin. Dia belum menggunakan test pack yang dibelinya. Dia sangat takut. Takut, jikalau dia memang beneran hamil.
“Selamat siang abang Ilham?!” si Butet tersenyum manis kepada Ilham. Setiap melihat Ilham, si Butet pasti salah tingkah. Pria itu benar-benar membuatnya korslet.
“Siang juga Tet.” Ilham malah menatap ke arah Melati. Sikap Ilham yang menunjukkan ketidaktertarikan padanya, membuat hatinya sedih. Dia pun langsung memeluk pohon palem yang ada di sebelahnya. Mengelus-elus pohon palem itu, dengan ekspresi wajah konyolnya. si Butet benar-benar salah tingkah bahkan eror jika dekat dengan Ilham. Melati dan Ilham hanya menggeleng melihat tingkahnya si Butet.
“Abang belikan juice pokat.” Ilham memberikan kresek berisi juice dalam kemasan plastik itu pada Melati. Ilham sepertinya sudah menyiapkan diri sebagai suami siap siaga. Dia yakin Melati sedang hamil. Makanya dia belikan juice pokat
“Juice Pokat?” Melati mengeluarkan juice itu dari kantong plastik dengan perasaan senang. Dia memnag suka juice Pokat.
“Kalau buatmu, juice timun saja ya Tet. Agar tekanan darahmu turun.” Si Butet tersenyum kecut menyambar keresek berisi juice timun itu. Dia tahu Ilham menyindirnya, karena karakternya yang keras. Bicara juga keras, seperti orang yang kesetanan.
“Bang Ilham!” sapa si Butet, Ilham menoleh ke arah si butet yang sedang menyedot juice timunnya dengan mata berbinar-binar. “Aku lebih suka makan timunnya langsung, gak usah dibuat jadi juice.” Ucapnya dengan nada
centil, Ilham tahu ke mana arah pembicaraan si Butet, yang gak ada akhlak itu.
“Gak nanya Tet!” tegas Ilham, Si Butet jadi malu sendiri plesetannya tidak digubris Ilham ataupun Melati.
“Abang gak ada kerjaan ya, tiap Hari antar jemput Melati?” si Butet menampilkan ekspresi wajah masam. Melirik Melati di sebelahnya dengan ekor matanya. Kemudian menatap kesal Ilham yang duduk di hadapannya.
“Iya ni tet, lagi gak ada kerjaan.” Ilham melongos kesal. Keberadaan
si Butet diantara mereka, benar-benar mengganggu. Padahal Ilham ingin membahas
__ADS_1
pernikahan mereka. Karena , tinggal menghitung hari saja akan libur semester.
“Cari kerjalah, Zaman sekarang. Lebih laku cowok berduit, walau jelek. Daripada cowok ganteng, tapi kere.” Si Butet sebenarnya sangat
cemburu melihat Melati dan Ilham.
Makanya dia mengeluarkan kata-kata tanpa filter. Dia cemburu, jadinya dia kesal sendiri.
“Iya lah Tet.” Jawab Ilham malas, dia tidak lagi ingin berdebat. Ilham bukannya tipe pria yang suka membuang-buang waktu. Dia juga
baru saja pulang dari kantor pos. Dia mengirimkan surat lamaran kerja, ke
beberapa perusahaan.
“Ehhmm… Baiklah, aku cabut dulu.” Si Butet bangkit dari duduknya. Melirik Melati yang seiolah tidak ingin menahannya. Ilham hanya
geleng-geleng kepala melihat tingkahnya si Butet.
“Jangan terlalu membencinya. Perasaan manusia cepat berubah.” Melati menyindir Ilham yang sedang memperhatikan si Butet yang berjalan ke luar dari gerbang. Ilham menoleh ke arah Melati.
“Dia wanita yang aneh, lihatlah gaya berjalannya. Sedikitpun
tidak ada kemayunya. Jantan bener, padahal diakan seorang wanita." Ilham menggeleng lemah.
TBC
Kantuk berat say, jadi gak bisa nulis banyak. COBA like, coment dan Votenya banyak, tentu authornya semangat.
__ADS_1