DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Pesan diterima


__ADS_3

Ooh iya kak.” Melati sedikit canggung. Karena, dia sudah membuka hijabnya. Dia malu pada Embun. Karena  Embun menatapnya dengan lekat.


“Antingmu koq tinggal sebelah Mel?" Melati sudah salah tanggap. Dia mengira Embun sedang menilai dirinya. Ternyata majikan nya itu tertarik kepada kupingnya yang hanya memakai satu anting.


Melati memegangi daun telinga nya yang tidak beranting itu. "Hilang kak, mana ini anting pemberian ibu." Jawabnya sendu. Anting yang dimiliki Melati, adalah anting emas murni dengan model bulat seperti gelang. Tapi, ukurannya kecil. Model Anting orang kampung pada umumnya.


"Sayang sekali ya? mana antingnya pemberian umak kita. Maaf ya, kak jadi buat kamu sedih." Embun sadar ucapannya membuat Melati, jadi teringat orang tuanya.


"Gak apa-apa kak." Jawab Melati tersenyum manis. Dia jadi merasa sungkan sekali pada Embun. Majikannya itu, kenapa sebaik ini sih?


"Iya dek, selamat istirahat ya." Embun pun menutup pintu itu dengan tersenyum tipis. Melati melanjutkan kegiatannya untuk bersih-bersih.


Sementara di sebuah kamar megah. Seorang pria sedang uring-uringan. Tidak bisa tidur dan kecarian istrinya. Tara tidak tahu kalau Embun pergi ke kamarnya Melati. Saat itu, pria itu sedang sibuk bekerja di ruangan kerjanya.


"Embun pergi ke mana? sudah pukul 00.30 wib. Dia ke mana sih?" Tara bicara sendiri dengan kesalnya. Mondar-mandir di ruangan itu, dengan ponsel di tangan yang selalu menelpon ulang nomornya Embun yang tidak aktif.


Ya tadi Embun mengirim pesan kepada Ardhi melalui media sosial. Dia meminta waktu kepada Ardhi untuk bertemu dengannya.


Setelah dia mengirim pesan itu. Embun langsung menonaktifkan ponselnya. Dia berencana akan membuka pesan itu esok harinya. Setelah Tara berangkat kerja.


"Ke mana saja sih sayang?" Tara langsung memeluk Embun yang nongol di ambang pintu.


"Woooww...wooww.... Teriak Embun saat Tara membombardir wajah Embun dengan ciuman bertubi-tubi. Kalau suaminya itu bertingkah seperti ini. Kadang Embun jadi kesal dibuatnya.


"Gemes.... gemes deh?!" Tara terus saja melanjutkan aksinya menciumi seluruh wajah dan lehernya Embun. Walau wanita itu sudah berontak. Tidak ingin dicium lagi. Karena rasanya sudah tidak enak atau nikmat lagi.

__ADS_1


"Gemes sih boleh saja. Tapi, jangan jadi menyakiti dong!" Embun mendorong keras wajah Tara. Hingga keduanya saling adu pandang. Embun melotot kesal, sedangkan Tara, tertawa lebar.


"Oohh mau yang nikmat, baiklah sayang." Tara pun langsung membopong tubuh ramping nya Embun. Membaringkan Embun dengan lembut di atas ranjang.


"Mau apa? aku gak mau. Ini sudah larut malam. Aku mau tidur..!" Embun menghindari serangan bibir Tara dengan menggerak-gerakkan wajahnya, sambil tertawa sekuat-kuatnya. Gimana tidak tertawa. Terkadang Tara juga menggelitik Embun.


"Sok-sokan menolak. Nanti dia juga yang minta tambah dua ronde." Embun masih tertawa, ucapan Tara memang benar adanya. Embun memang muna, bibirnya bilang tidak. Tapi, tubuhnya selalu merindukan sentuhan lembut suaminya itu setiap detik. Permainan mencetak anak pun terus berlanjut.


Sementara di dalam kamar lainnya. Masih di dalam rumah itu. Seorang gadis yang lagi tertekan bathin, sedang meminta petunjuk pada sang khalik. Haruskah dia mengikuti sarannya Embun? atau dia tetap konsisten dengan melanjutkan rencananya bersama Ilham. Menikah diwaktu libur semester yang tinggal dua Minggu lagi.


Wanita malang bernama Melati itu terus memanjatkan doa dan tak hentinya beristighfar. Meminta ampun kepada sang Khalik. Hingga dia tidak sadar, sudah tertidur pulas di atas sajadahnya.


❤️❤️❤️


Fajar datang bertandang. Secercah cahaya membentang di ufuk timur cakrawala, mengusir kesunyian yang menyelimuti bumi.


Sejenak alam menjadi hening dalam diam. Seolah memberi celah pada lantunan suara adzan shubuh  untuk mendendang. Membangunkan jiwa-jiwa yang sedang terlena. Dalam buaian mimpi-mimpi indah yang melenakan.


Nadanya begitu merdu mendayu. Syairnya begitu indah penuh pesona. Namun, mengapa masih banyak pula hati yang luput dari sentuhan makna? Terbuai nikmat dunia yang sebenarnya hanyalah fana belaka.


Duhai, jiwa yang terlena oleh mimpi ilusi. Tidakkah bisa kau rasa akan kemuliaan shubuh yang syahdu? Tidakkah kau ingin menenggelam diri dalam samudra cinta-Nya yang selalu abadi?


Bangkit dan sadarilah!


Betapa bangun untuk melakukan shalat, itu lebih mulia daripada tidur berkawan mimpi.

__ADS_1


***


Melati terbangun tepat menjelang subuh. Dia membuka mata sembabnya dengan perlahan. Terlalu banyak menangis, membuat matanya jadi bengkak. Melati menyoroti seluruh kamar nya, dia baru menyadari. Kalau dirinya tertidur di lantai beralaskan sajadah. Pantesan dia merasa tubuhnya remuk redam. sepertinya wanita itu masuk angin.


"Ya Allah, benarkah yang ada di dalam mimpi itu?" Melati menggeleng lemah. Dia tidak percaya, Ardhi hadir di dalam mimpinya. Di dalam mimpi itu, Ardhi sedang makan. Tentu saja makanan yang dimakan pria itu, adalah masakannya. Ardhi nampak lahap dan begitu bahagianya saat sedang menyantap masakannya. Pujian-pujian terus keluar dari mulut pria itu. Memuji enaknya masakan Melati. Padahal saat itu Melati hanya membuatkan pecal untuknya.


"Itu bukan suatu petunjuk. Mungkin karena terlalu banyak membicarakannya bersama kak Embun. Sehingga tuan Ardhi hadir dalam mimpiku. Tapi, mimpi itu sangat indah." Melati masih terus saja berbicara sendiri. Mencoba menepis keberadaan Ardhi dalam mimpi indahnya. Saat bermimpi itu, Melati merasa bahagia sekali bisa berkomunikasi dengan Ardhi.


Tidak mau terhanyut, memikirkan makna mimpinya bersama Ardhi. Melati pun akhirnya memilih mandi, terus berwudhu, dia akan menunaikan sholat subuh.


"Sayang bangun..!" Tara sudah melakukan semua jurus untuk membangunkan Embun. Mulai dari menciumi, menggelitik. Tapi, wanita itu tidak mau bangkit dari tempat tidurnya. Dia selalu meminta waktu sebentar lagi. Padahal waktu shubuh sudah hampir habis.


Embun memang parah. Dia tidak malu lada Tara. Suaminya itu selalu bangun lebih awal darinya. Tara memakluminya. Karena itu juga disebabkan olehnya. Coba kalau mereka tidak begadang, Embun biasanya cepat bangun.


"Ayo dong sayang, waktu subuh sudah hampir habis." Tara masih berusaha membangunkan Embun yang bermalas-malasan di ranjang itu. sebenarnya Embun tidak tidur. Tapi, dia merasa tubuhnya remuk redam. karena kelakuan sang suami yang main sampai tiga ronde.


"Sebentar lagi." Ucapnya dengan mata tertutup. Tara tidak tinggal diam. Dia tidak mau masuk api neraka. karena, tidak bisa mengarahkan istrinya ke jalan yang benar.


"Iihhh turunkan, turunkan sayang. Adel masih capek. Biarkan adek tidur sebentar lagi." Embun berontak dalam bopongan Tara. wanita itu ditempatkannya di bahunya. Berjalan cepat menuju kamar mandi.


Sesampainya di kamar mandi. Embun masih seperti orang mabuk. Seperti nya nyawanya masih berceceran. Walau begitu, Tara tidak membiarkan istirnya itu kembali tidur di kamar mandi. Embun yang memang dalam keadaan polos. Langsung diguyur Tara di bawah shower. Tentu saja Embun kesal pada sang suami. Tapi, bukan Tara namanya. kalau dia tidak bisa mengembalikan mood istrinya lagi.


"Sana, Adek mau mandi sendiri. Nanti minta lagi. Adek lagi capek, gak mood..!" Dia mendorong keras tubuh kekar sang suami, agar keluar dari kamar mandi itu. Tara pun menyerah, keluar dari kamar mandi itu dengan tertawa terbahak-bahak. Setiap pagi, tingkah Embun adalah hiburan untuknya.


Setelah Tara, keluar dari kamar mandi. Dia hendak keluar dari kamar itu. Tapi, langkah nya terhenti. Disaat ponsel Embun yang dihidupkan tadi subuh bergetar. Seperti nya ada pesan yang masuk.

__ADS_1


Benar saja, satu pesan dari Facebook. Tara pun membukanya, ternyata pesan dari Ardhi.


TBc


__ADS_2