
"Lagian di Surabaya Mama mau tinggal di mana? bukannya rumah itu sudah ibu jual." Ardhi akhirnya mendudukkan tubuhnya dan bersandar di headbord tempat tidur.
Rumah itu dijual sang Ibu, dengan alasan ingin tinggal di kota Medan bersama Ardhi. Dan uang hasil jual rumah, katanya disumbangkan ke beberapa panti asuhan. Begitulah laporan sang Ibu kepada Ardhi. Padahal wanita itu telah kena tipu oleh seorang pria. Dan uangnya Ibu jerniati habis dikuras pria itu.
"Kalau ibu inginnya seperti itu, ya Ardhi setuju saja. Laporan dari Andi, rumah itu gak ada lagi penjaganya sudah sebulan. Jadi nanti akan Ardhi perintahkan orang membersihkannya dan akan merekrut ART baru untuk di tempatkan di sana." Wajahnya Ibu Jerniati langsung bersinar penuh kebahagiaan. Hidup mewah di masa tua, akhirnya tercapai juga. Dia tidak menyangka anaknya jadi orang kaya.
"Terimakasih sayang, Mama permisi dulu. Kamu istirahat ya!" sang ibu mengelus pelan kepala sang anak dan wanita itu keluar dengan penuh kemenangan.
Ardhi memperhatikan lekat ibunya yang berjalan meninggalkan kamar itu. Dia juga tidak keberatan Ibunya untuk tinggal di rumah itu. Karena, dia bosan juga tiap hari mendengar ocehan ibunya yang membahas Melati.
Teringat Melati, pria itu sejenak kepikiran. Apa kabarnya pembantunya yang pandai mengaji itu. Itulah alasan Ardhi menahan Melati tinggal di rumah itu. Karena, wanita itu selalu mengaji di waktu shubuh dan Magrib.
Ardhi yang berubah jadi lebih dekat dengan Allah, sejak berkenalan dengan pak Zainuddin. Menyadari betapa pentingnya, di dalam rumah terdengar suara orang mengaji.
Ardhi melirik jam yang bertengger di dinding kamarnya, ternyata sudah pukul empat sore. Sudah saatnya sholat Ashar. Dia pun yg urun dari ranjang. Berjalan cepat menuju kamar mandi. Pria itu mandi dan berwudhu. Dia akan mengerjakan sholat Ashar.
Setelah sholat Ashar, Ardhi merasa sangat fresh. Rasa berat di hati, karena gundah gulana, seolah menghilang. Dia pun beranjak dari kamarnya. Dia ingin melihat sebentar Melati. Sedang apa pembantunya itu.
Benar saja pembantunya itu sedang mengaji dengan duduk bersila di atas ranjang. Wanita itu masih memakai mukena. Ardhi yang membuka sedikit pintu kamar itu, memperhatikan lekat wajah putih, cantik dan damainya Melati saat mengaji.
Kenapa dia jadi ingin memandang wajah itu terus. Wajahnya penuh dengan keteduhan dan kelembutan. Pantesan pria yang datang tadi pagi, kelihatan begitu mencintainya.
"Pak," lamunan Ardhi tentang Melati buyar sudah. Dia terlonjak kaget mendengar ucapan. Bi Kom. Ardhi memegangi dadanya yang masih berdebar itu, karena terkejut.
Ardhi meninggalkan tempat itu, tanpa sepatah kata. Sedangkan Bi Kom, membuka pintu kamar Melati dengan lebar. Wanita itu pun menoleh kepada Bi Kom yang membawakan buah pisang barangan untuknya.
"Walau sedang sakit, kamu tetap mengaji juga ya?' Bi Kom meletakkan satu sisir pisang itu di meja yang tak jauh dari tempat tidurnya Melati.
__ADS_1
"Iya Bi, hanya mengaji sebentar gak buat repot juga." Melati akhirnya menghentikan acara mengajinya. Dia tersenyum kepada Bi Kom. Dia merasa Bi kok baik padanya.
"Entah ngapain tadi tuan Ardhi mengintip kamu dari sela-sela pintu." Ucap Bi Kom, wanita itu sedang menyapu ruangan itu.
"Apa?" tanya Melati tak percaya. Tuan Ardhi mengintipnya. Untuk apa?
",Iya, tadi bibi mau masuk ke kamarmu. Tuan Ardhi berdiri di ambang pintu yang sedikit terbuka. Dia sedang memperhatikanmu yang sedang mengaji dengan Ekspresi wajah yang senang gitu." Ucap Bi kom, masih melanjutkan kegiatan menyapunya.
"Oohh,, aku gak tahu kalau tuan ada di balik pintu Bi." Jawabnya dengan hati yang menduga-duga. Untuk apa majikannya itu memperhatikannya diam-diam.
"Mungkin tuan ingin masuk, tapi gak jadi. Karena aku sedang mengaji. Makanya tuan Ardhi berdiri di dekat pintu." Terang Melati lagi.
"Iya, untuk apa dia mau jumpain pembantu seperti mu."
Deg,
"Mungkin tuan mau nyuruh aku Bi, dipikirnya aku sudah sembuh kali." Melati pun memberi jawaban yang masuk akal.
"Bisa juga, makanya kamu cepetan sembuh. Kita akan sibuk minggu-minggu ini. Tuan Ardhi akan menikah. Dan Nyonya tadi memerintahkan kita untuk membersihkan rumah tuan Ardhi yang di Tembung. Dasar itu Nyonya, pelit banget. Masak kita semua diangkut nanti, untuk bersihkan rumah itu." Gerutu Bi Kom penuh kekesalan. Kenapa harus mereka yang membersihkan, mereka kan sudah ada tugas masing-masing di rumah ini.
"Oohh iya Bi. Aku sudah gak mencret lagi koq. Tapi, masih sedikit lemas dan badan sakit semua." Ucap Melati sambil memijat-mijat kakinya. Coba kalau dia di kampung. Pasti Mamanya akan memijat seluruh tubuhnya.
"Bi, emang tuan Ardhi nikahnya kapan?" Langkah Bi Kom terhenti, mendengar ucapan Melati. Bi Kom sudah ingin meninggalkan kamar itu.
"Kata Nyonya dua Minggu lagi." Ucap Bi Kom membalik badan.
"Oohh..!" Melati tersenyum lebar mendengar kabar baik itu, dia tidak menyangka majikannya itu secepat itu bisa move on. Masih jelas diingatkannya bagaimana marahnya Ardhi sore itu. Bagaimana hancurnya Ardhi waktu itu. Pria itu sampai melukai dirinya, untuk pelampiasan rasa kecewa atas jiwanya yang tertekan.
__ADS_1
"Syukurlah, akhirnya Allah cepat mengijabah doaku. Dia pria baik, tidak pantas disakiti." Melati bermonolog, hatinya begitu senang mendengar kabar itu.
"Tuan di sini? apa anda mau makan tuan?" tanya Bi kom heran. Tak biasanya majikannya itu duduk di kursi meja makan pada seperti ini. Biasanya tuannya itu makan pukul tujuh malam.
"Bagaimana keadaan Melati?" Ardhi malah mengajukan pertanyaan, bukannya menjawab pertanyaan pembantunya itu.
Bi Kom tidak heran dengan sikap Ardhi. Karena memanbg majikannya itu baik pada mereka semua.
"Melati sudah baikan tuan, hanya saja badannya masih sakit semua katanya." Ucap Bi Kom, sembari mengupas buah pepaya untuk Ardhi.
"Dia nyeri otot? dia kan kurus, kenapa ototnya itu masih bisa nyeri?" rawut wajah Ardhi nampak aneh saat mengatakan itu. Entahlah Bi kom tidak bisa membaca ekspresi wajah majikannya itu saat ini. Wajah Ardhi nampak sedih, berfikir dan kasihan, serta terkagum. Sungguh penggabungan ekspresi yang aneh.
"Bisa jadi tuan, walau tubuh melati hanya tulang, kan bisa juga masuk angin." BI Kom tersenyum tipis. Dia merasa lucu dengan ucapannya sendiri yang mengatakan si Melati tinggal tulang.
BI Kom mengatakan itu, bukannya tak beralasan. Nyatanya mencret dua hari, membuat wanita itu terlihat sangat kurus. Syukur Baju Melati selalu longgar dan pakai hijab yang dalam, sehingga tubuh kerempengnya tidak terlihat jelas.
"Koq ketawa Bi?" tanya Arhi heran memperhatikan Bi Kom yang menyodorkan piring berisi potongan Pepaya, ke hadapannya.
"Gak ada tuan." Jawab Bi Kom tersenyum tipis. Wanita itu pun meninggalkan Ardhi di meja makan itu.
Ardhi menggelengkan kepalanya dengan sikap anehnya BI kom. Dia pun mulai memakan buah pepaya. Tapi, lagi-lagi bayangan Melati melintas di pikirannya.
"Kenapa dari tadi Melati terus disini ya?" ucapnya memijat-memijat kepalanya, berisi otak yang selalu kepikiran Melati.
Merasa penasaran dengan pembantu itu, Ardhi pun bangkit dari duduknya. Dia membawa piring berisikan potongan buah pepaya ke kamarnya Melati.
"Apa orang mencret bisa makan buah pepaya?" Ardhi bermonolog, sambil langkah nya terus bergerak menuju kamarnya Melati.
__ADS_1