DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Penyebab Embun membenci Tara


__ADS_3

"DOLI---- DOLI---DOLI---!"Embun berteriak, terbangun dari tidurnya. Kejadian nyata, beberapa belas tahun silam, kembali terputar di alam bawah sadarnya. Dia langsung terduduk di atas ranjang dengan kening yang sudah dipenuhi titik air. Dadanya naik turun, ngos-ngosan, Dia kesusahan bernapas saat dalam mimpinya.


Mama Nur, langsung menenangkan putrinya yang lagi galau berat itu. Meraihnya kepelukannya dan menciumi kepala putrinya itu dengan sayangnya. Sedangkan Mama Mira, hanya terdiam, menatap Embun yang masih ketakutan itu.


Mendengar suara Embun berteriak. Pak Baginda, Tara dan Ayahnya berjalan cepat menghampiri Embun.


"Bagaimana keadaan Embun Nantulang?" tanya Tara berdiri disisi tempat tidur, menatap Embun yang nampak ketakutan dalam dekapan Ibunya.


"Sepertinya, kejadian empat belas tahun lalu, belum bisa dilupakan Embun." Ucap Mama Nur, menatap Tara, kemudian memandang satu persatu orang penghuni ruangan itu.


Pak Baginda yang masih kecewa kepada Embun, tidak tertarik untuk bertanya, atau sekedar khawatir kepada putrinya itu. Embun yang melanggar aturannya yang ketahuan pacaran, membuatnya kecewa kepada putrinya itu.


"Maaf Tuan, ada Pak Polisi di luar. Katanya mencari Tuan." Ucap ART bernama Siti dengan sopan. Semuanya saling pandang, kenapa Polisi datang ingin menjumpainya malam-malam begini. Apakah menyangkut kasus pembakaran kebun salaknya? sepertinya itu, pikir Pak Baginda.


"Sebentar saya keluar dulu. Mungkin oknum pembakar lahan kita sudah tertangkap." Ucapnya datar kepada istrinya Mama Nur. Pak Baginda pun meninggalkan kamarnya Embun, berjalan cepat menuju ruang tamu.


Sedangkan Embun kembali mengingat mimpi buruknya, masih mendekap Mamanya dengan erat. Tatapan matanya kosong. Hanya pikirannya yang bekerja.


Flasback On


Menjelang sore hari, Embun sedang bermain sendiri di taman belakang rumah neneknya. Dia sudah janjian dengan teman kecilnya yang bernama Doli.


Dia duduk manis di ayunan besi sambil memakan buah apel. Raut wajah Embun langsung kusut dan masam. Melihat Tara menghampirinya.


"Hai Siti jelek..!" Ucap Tara mengejek Embun. Dia memanggil Embun dengan Siti. Karena nama lengkap Embun adalah Siti Embun. Embun saat benci dipanggil dengan nama itu.


"Ngapain kamu kesini gendut?" balas Embun mengejek Tara, karena Tara memang gendut saat kecil sampai remaja.


"Mau mainlah, inikan rumah Ompungku juga." Ucap Tara dan llangsung menyambar buah apel yang ada di tangan kanan Embun yang hendak masuk ke mulutnya. Kemudian lelaki itu berlari kencang, ke area persawahan Ompung mereka yang memang tepat berada di belakang rumah.


Embun menangis dan kesel bukan main, Dia bangkit dari duduknya, menghentakkan kakinya. Menatap laki-laki itu berlari sambil melambaikan tangannya. Dia benci sekali dengan pria itu. "Dasar kuda Nil.!" ucapnya penuh kekesalan.


Tara selalu mengusik hidupnya, mengganggunya bermain, dan sering membuatnya menangis. Apabila Tara dan keluarganya pulang ke kampung.


Saat itu juga Embun disamperin anak pria seusia Tara. "Kenapa Embun?" tanya anak cowok itu dengan penasarannya. Dia masih berdiri dihadapan Embun memperhatikannya yang merajuk, di taman belakang rumah.

__ADS_1


" Digangguin Tara lagi?" ucapnya dengan tersenyum simpul. Embun mengangguk.


"Sudah, jangan menangis. Aku akan bawa Dia kehadapanmu dan bertekuk lutut padamu." Ucapnya dan berlari mengejar Tara yang kini sudah dekat dengan sungai, yang ada di areal persawahan itu.


Tak berapa lama Ibu temannya Embun itu menghampiri Embun yang sedang berdiri, memperhatikan kedua anak laki-laki itu yang nampak sedang tolak menolak. Embun meyakini, bahwa kedua anak laki-laki itu sedang bertengkar.


"Ke mana mereka pergi Non?" tanya wanita, yang bekerja pada keluarga Tara. Yaitu Ibu dari Doli.


"Iu mau ke sungai Bou." Ucap Embun menunjuk Tara dan anak cowok itu, yang nampak sedang berkelahi di areal persawahan yang baru panen itu. Jerami padi, nampak banyak menumpuk. Embun tersenyum. Karena Tara terjatuh dan langsung di smackdown Doli di atas tumpukan jerami padi.


Embun beranggapan kedua pria itu berkelahi, karena dari tatapan jauh, mereka nampak seperti berkelahi. Padahal kedua pria itu sedang bercanda.


"Cuaca mendung, bahkan di gunung sana sudah hujan deras. Kenapa mereka masih mau main ke sungai?" ART nya Tara yang bernama Ibu Limah, berjalan cepat menghampiri anaknya dan Tara. Embun pun mengekori Bou nya itu.


Tutur sapa Embun ke wanita itu adalah Bou, karena marganya Embun sama dengan Ibunya Doli. Yaitu Boru Harahap.


"Limah, sini sebentar. Ompung Boru memangilmu----!" teriak ART lainnnya di taman belakang. Limah menatap, mengangguk pelan.


"Tuan Tara, Doli, pulang kalian Nak---? Sepertinya akan terjadi hujan besar dan sungai akan meluap..!" teriaknya, karena jaraknya ke anak-anak itu masih jauh.


"Kami akan pulang Ujing, tenang saja." Jawab Tara. Limah pun berlari menuju rumah Ompung Boru dan saat ini, hanya ada Embun yang memperhatikan dua anak cowok itu sedang berduel ecek-ecek. Tapi, Embun menanggapinya serius.


"Berhenti, stop---! apa yang kalian lakukan. Tara, lepaskan Doli--!" teriak Embun, tidak tega melihat Doli, ditimpah tubuh Tara yang gendut, di atas tumpukan jerami padi.


"Enak saja melepaskannya. Aku harus menyingkirkan nya. Dia saingan berat---!" ucap Tara becanda, tapi Embun menanggapinya serius.


Saat berbicara, Tara lengah, sehingga Doli bisa keluar dari himpitan tubuh Tara yang gendut. Doli melarikan diri ke arah sungai. Hujan deras sepertinya akan turun di tempat mereka. Yang sebelumnya hujan deras sudah terjadi di pegunungan. Tepatnya di hulu sungai.


"Awas kau kalau dapat, kamu akan ku kirim ke neraka---!" teriak Tara bercanda, mengejar Doli. Doli tertawa-tawa saat lari dari kejaran Tara. Dia merasa, perkalian mereka saat ini sangat seru. Karena mereka sering main-main tinju-tinjuan. Sehingga terkadang, ada yang menangis saat kalah atau kesakitan. Itu biasa dalam permainan anak cowok.


Embun sudah mulai takut memperhatikan kedua anak itu, yang nampak sedang serius berkelahi. Padahal kedua anak itu hnaya main-main saja.


Byurr-----


Doli mendorong tubuh Tara yang gendut ke dalam sungai, yang airnya lumayan dalam. Jenis sungainya kebanyakan pasir dan lumayan dalam.

__ADS_1


Tara berenang, berusaha naik ke atas. "Awas kau, tunggu pembalasanku. Kau harus mati. Terimah lah ini jurus angin petir--!" Tara mempraktekkan jurus yang sering di tontonnya di televisi. Di serial pahlawan pembela kebenaran.


Dia pun mengejar Doli, berlari-lari di areal persawahan. Sedangkan Embun sudah mulai takut. Karena memang kilat dan petir sudah terdengar disaat Tara menyebutkannya.


Melihat Doli sudah lengah. Tara kembali mengeluarkan jurusnya. "Tendangan maut...!" teriak Tara.


"Doli--- awas--!" teriak Embun. Tapi, Doli sudah terjatuh ke dasar sungai.


Embun yang merasa permainan itu adalah serius. Menjadi sangat marah kepada Tara. Dia pun berlari, ingin melihat keadaan Doli di dasar sungai.


"Kamu kalah.!" ejek Tara kepada Doli yang tertawa di dalam sungai sambil memainkan air. Tapi, saat Dia melihat Embun sudah berada di pinggir sungai dari jarak lima meter. Dia pura-pura seolah tenggelam. Dia ingin menarik perhatian Embun. Dia ingin membuat Tara panas. Karena Doli tahu, Tara menyukai Embun.


Benar saja, Embun panik dan nampak sangat mengkhawatirkan Doli. Sehingga Tara merasa kesal.


"Gendut, lihat Doli. Dia tenggelam. Airnya dalam, sepertinya air sungai sudah meluap." Ucap Embun ketakutan dipinggir sungai. Dia yang tidak bisa berenang, tidak berani terjun ke dalam sungai.


"Biarin saja, Biar Dia mati sekalian." Ucap Tar bercanda. Dia kesal kepada Doli yang pura-pura itu. Padahal Doli pandai berenang, kenapa akting tenggelam segala.


"Sudah aahkk Aku mau pulang. Itu Ujing Limah dan Ompung sudah memanggil." Ucap Tara, dengan menepuk-nepuk bajunya yang kena lumpur. Dia menatap Ompung Borunya di taman belakang memanggil mereka.


Sedangkan Ujungnya Limah berlari menghampiri mereka. karena sudah datang hujan lebat.


"Ayo pulang, Dia itu pura-pura. Dia pandai berenang." Ucap Tara, memundurkan langkahnya untuk menarik lengan Embun. Tapi, Embun menepis tangan Tara.


"Abang Doli, Abang Doli--- pegang ini." Embun menjulurkan bambu kecil kepada Doli. Karena Embun beneran yakin Doli tenggelam, karena ulahnya Tara.


"Huuhh---- akting." Ucap Tara, Doli yang mendengarnya tersenyum dan tertawa dalam hati. Setidaknya Dia menang, Kalau bisa membuat anak majikannya itu cemburu.


Doli pun masih melanjutkan aksi pura-pura tenggelamnya. Tanpa disadarinya air besar bergulung berwarna coklat pekat sudah dekat kepadanya. Suaranya bergemuruh. Ditambah, kayu-kayu besar sudah banyak berhanyutan dari hulu sungai.


Mendengar suara air yang besar, dan melihat kayu dan balok besar banyak yang hanyut.Embun menoleh ke arah hulu. Ternyata air sungai sudah meluap dengan cepat dan dengan tekanan kuat.


"Doli-----Doli---Doli---!" teriak Embun lagi dalam pelukan Mamanya. Dia kembali mengingat kejadian mengerikan itu. Bahkan Kejadian itu sering hadir dalam mimpinya.


Flashback off

__ADS_1


TBC


__ADS_2