
Tok...
Tok..
Tok...
"Assalamualaikum..!"
"Walaikum salam..!"
Ilham menekan handle pintu. Melati yang mengenal suara Ilham. Langsung mendudukkan tubuhnya. Jantungnya berdebar-debar disaat mengetahui pria yang dicintainya itu, datang juga menjenguknya. Melati menyambut kedatangan Ilham dengan senyum manisnya. Bagaimanapun rasa ini tak bisa disembunyikan. Ada rasa damai dan tentram, bila menatap wajah teduh dan tampan pria itu.
"Abang Ilham." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Melati terharu, Ilham ternyata masih peduli padanya.
"Dek,kamu kenapa?" Ilham yang masih berdiri di sisi bednya Melati. Menatap sedih keadaan Melati yang tangannya masih diinfus.
"Munmen Bang." Jawabnya dengan tersenyum tipis. Walau mata sudah memerah, karena menahan sedih di hati.
Ilham menarik kursi yang tadinya diduduki oleh Suster. Suster itu telah keluar, setelah Ilham masuk ke ruangan itu. Di ruangan itu saat ini hanya tinggal Ilham dan Melati. Ardhi tak pernah nampak batang hidungnya. Setelah terdengar adzan Subuh.
"Abang tidak akan menyerah, kita harus menikah. Abang tidak bisa melihat kamu menderita nantinya." Kedua insan yang saling mencintai itu saling beradu pandang. Melati penasaran sekali dengan kalimat yang akan diucapkan Ilham selanjutnya.
"Pak Ardhi itu sudah bertunangan. Dan tunangannya juga sedang hamil anaknya dia
Dek!"
Dug...
__ADS_1
Dug...
Ucapan Ilham membuat Embun terkejut. Berita yang didengarnya cukup membuat hatinya semakin sakit. Melati memperhatikan Ilham yang mengotak-atik ponselnya, dengan perasaan yang tidak karuan.
"Coba lihat video menjijikkan ini Dek. Pak Ardhi itu, sudah biasa berbuat zina. Dia dan tunangannya Nona Anggun yang masih dalam penjara sering melakukan maksiat." Melati yang tak sanggup melihat video Ardhi dan Anggun di atas ranjang langsung menjatuhkan ponselnya Ilham.
Di video itu, Anggun yang tanpa busana, sedang berada di atas tubuhnya Ardhi yang dalam keadaan polos juga. Video itu hanya tiga detik. Yang menampilkan Anggun sedang bergerak maju mundur syantik di atas tubuhnya Ardhi. Tidak dinampakkan jelas apa benar terjadi penyatuan atau tidak. Tapi, dari video itu bisa dinilai telah terjadi aksi genjotan senjata.
Tubuh Melati bergetar hebat melihat video itu. Seumur-umur baru kali ini dia melihat yang begituan. Melati menahan cairan yang berontak ingin keluar dari matanya yang sedari tadi berkabut itu. Dia tidak boleh menangis. Tak ada gunanya. Tak seharusnya dia simpatik kepada Ardhi, setelah mendengar curhatan pria itu kepada Embun. Bisa saja pria itu sedang mengelabuinya. Dengan curhat kepada Embun, saat dirinya di kamar mandi.
"Abang akan merasa bersalah, apabila membiarkanmu menikah dengannya. Kamu pasti akan disiksa ibunya. Kamu juga akan disiksa Anggun. Mereka akan menikah. Kamu tahu kenapa Anggun waktu itu ingin membunuhmu di rumah sakit? karena, wanita itu tidak mau kamu merusak kebahagiaannya." Ucapan Ilham terdengar begitu mengerikan di telinganya Melati. Kalimat itu seperti tsunami yang akan menghabiskan dan meluluh lantakkan apa yang dikenainya. Jika benar seperti itu. Itu artinya dia hanya akan menunggu kematiannya saja, apabila menikah dengan Ardhi.
Melati melihat tatapan penuh kekhawatiran di netra hitamnya Ilham. Haruskah dia mengikuti maunya pria dihadapannya saat ini? itukah keputusan dan jalan terbaik?
"Mereka orang kaya Dek. Kita, kita, aaahhhh...!" Ilham nampak frustasi, dia mulai pesimis. Karena sepertinya Melati tidak akan memilihnya.
"Ada anaknya di rahimku Bang!" Kali ini, Melati tidak bisa menahan air mata yang dari tadi ingin keluar itu.
Melati terdiam dengan derai air mata yang tak hentinya jatuh membasahi pipi pucatnya. Ada pria sebaik Ilham yang bersedia menikahinya. Kenapa harus ditolak. Benar kata Ilham, menikah dengan Ardhi, itu sama saja mendekati Kematian. Ada malaikat pencabut nyawa yaitu Ibu Jerniati dan Anggun di sekitar Ardhi.
"Percaya pada Abang. Abang akan bertanggung jawab penuh pada hidupmu dan anak di dalam rahimmu. Dia akan Abang anggap sebagai anak Abang nantinya." Melati menunduk, dia tidak sanggup lagi menatap tatapan tulusnya Ilham.
"Beri Adek waktu untuk memikirkannya Bang." Ucapnya lirih, masih dalam keadaan menunduk. Melati perlu menimbang semuanya, sebelum mengambil keputusan.
"Dua hari lagi, kamu selesai ujian dua hari lagi kan?" Embun mengangguk, masih menunduk.
"Selesai ujian, kita langsung pulang ke kampung. Bila perlu, adek kuliah saja di kampung." Melati masih menunduk, dia hanya mengangguk mendengar ucapan Ilham.
__ADS_1
Semburat kebahagiaan langsung terlihat di wajah tampan nya Ilham. Melati akhirnya mau menikah dengannya.
Ilham yang lagi bahagia itu, mengendarakan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Matanya akhirnya tertarik melihat sebuah handpone mahal warna pink tergeletak di atas nakas.
"Lihatlah, dia pandai sekali mengambil hatimu. Membelikan mu ponsel mahal. Ya jelaslah Adek sempat memilihnya. Karena dia kaya." Ilham sedih, dia merasa tidak bisa membahagiakan Melati dari segi materi.
"Gak bang. Aku tidak seperti itu." Jawab Melati lemah, akhirnya wanita itu menoleh ke arah Ilham yang sedang memegang ponsel mahalnya.
"Adek kembalikan saja ponsel ini ya. Adek pakai ponsel adek yang lama." Ilham merogoh sesuatu dari dompetnya. Sebuah lipatan kertas kecil, yang di dalamnya berisi SIM-card.
"Pakai nomor ini saja, ke ponsel adek yang lama. Gak usah takut lagi pakai ponsel. Ibu Jerniati tidak akan menerormu lagi." Ilham menyodorkan SIM-card itu kepada Melati. Dengan ragu, Wanita itupun menerimanya. Saat ini dia, seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Menurut saja apa yang dikatakan oleh Ilham Karena, memang semua yang diucapkan pria itu benar adanya.
Pintu kamar itu dibuka seseorang. Melati sempat takut, jika yang masuk adalah Ardhi. Wanita itu akhirnya bisa bernapas legah, karena yang masuk adalah petugas yang mengantarkan sarapan pagi untuknya.
"Ke mana dia dek?" tanya Ilham dengan rasa penasarannya yang tinggi. Dari tadi dia tidak melihat Ardhi di kamar itu. Dari ceritanya Embun, katanya Ardhi yang menemani Melati di ruang rawat inap.
"Adek gak tahu bang." Jawabnya lemah, dia memang tidak tahu ke mana perginya Ardhi.
"Abang ingin bertemu dengannya. Memberinya peringatan, agar tidak berharap banyak,
Dia harus sadar. Jangan karena serakahnya, semua wanita ingin dinikahinya." Ilham kesal, jika membahas Ardhi. Raut wajah tidak bersahabat jelas terlihat.
Melati ketar-ketir mendengar ucapan Ilham. Dia tidak mau ada pertengkaran lagi, seperti di rumahnya Embun.
"Bang, sebaiknya Abang jangan ada niat untuk bicara dengan beliau. Adek tidak mau cekcok kembali terjadi." Melati menampilkan ekspresi wajah memelas. Ilham tersenyum tipis. Dia tahu apa yang ditakutkan Melati.
"Iya Dek. Abang akan pulang, setelah kamu makan ya?" Ilham bergerak, meraih makanan Melati yang ada di atas nakas. Sekaligus satu porsi sarapan untuk yang menjaga pasien.
__ADS_1
TBC.
Kantuk... Like coment dan vote say.😊