
Dengan alasan, agar bisa tidur lelap. Akhirnya Ardhi sukses membujuk sang istri, agar mereka melakukan adegan yang menguras energi dan membuat melayang-layang lupa daratan itu. Tentu saja kali ini, Melati mendapatkan pelajaran banyak dari ritual mereka. Karena, dialah yang berperan aktif untuk mencapai nikmatnya surga dunia itu.
Alasan tinggallah alasan. Nyatanya sudah dua jam acara mantap-mantap selesai. Tapi, Ardhi tak kunjung bisa menutup kelopak matanya. Pria itu sedang banyak pikiran.
Ardhi dengan perlahan, melepas tangan Melati yang memeluknya. Dia mencium kening sang istri dengan penuh cinta. Menatap sendu wajah cantiknya Melati yang sudah tertidur lelap itu. Dengan perasaan sedih.
Dia harus bisa menyelesaikan masalahnya dengan Pak Zainuddin secepatnya. Emang Pak Zainuddin dengan kekuatan yang dimilikinya. Pasti akan bisa menghancurkan bisnisnya. Tapi, dia tidak sebodoh itu. Dia pasti akan bisa sukses tanpa Pak Zainuddin.
Akankah dia melawan sang ayah mertua? sepertinya itu bukan ide yang bagus. Saat ini demi kebaikan semua, dia harus menurunkan ego, kembali pasrah dan menyerah pada sang ayah angkat.
Ardhi beranjak dari tempat tidur dengan pergerakan yang pelan. Berjalan dengan menahan sakit di sekujur tubuh, menuju meja kerjanya. Ternyata efek mantap-mantap baru terasa saat ini.
Setelah duduk di kursi kayu itu. Dia mulai memainkan laptopnya. Mencek keadaan perusahaannya saat ini. Ardhi menghela napas kasar, setelah memeriksa laporan yang dikirim oleh Rudi. Sepertinya dia harus lebih meluangkan waktu untuk perusahaannya. Karena selama ini, perusahaannya lebih banyak diurus oleh Rudi. Yang disebabkan dirinya yang sibuk dengan urusan pribadi.
❤️❤️❤️
Matahari belum terbit. Melati sudah rapi dengan gamis syar'i warna Lilac. Ardhi yang baru keluar dari kamar mandi. Dibuat heran dengan penampilan sang isteri. Yang nampak anggun dan terlihat semakin mengkilau saja.
"Sudah rapi sayang?" ucapnya sambil berjalan ke arah Melati. Istrinya itu sedang berdiri didepan cermin memperhatikan pantulan dirinya di dalam cermin.
"Iya Mas, kita pagi ini ke rumah ayah ya? kita sarapan di sana saja " Melati membalik badan, langsung meraih pakaian sang suami, yang sudah disiapkannya di atas ranjang, membantu Ardhi berpakaian. Mulai dari pakaian dalam hingga luar. Perlakuan Melati pagi ini, membuat pria itu senang, sekaligus senyam-senyum sendiri. Merasa lucu dengan dirinya yang diperlakukan sang istri seperti bayi saja.
Aakkhh.... Rasanya aneh, tapi seru dan menggelitik.
"Abang rela dech, sakitnya lama, asal dipakaiin celana, baju dan disisirin juga." Melati tersenyum tipis, mendengar ucapan sang suami. Dia masih sibuk merapikan rambutnya Ardhi yang sebenarnya masih terbilang cepak.
"Gak mesti nunggu mas sakit. Kalau mas mau adek akan lakukan setiap hari. Asal mas senang, dan jangan melirik wanita lain. Adek pokoknya akan service mas secara eksklusif." Melati memberikan tanda oke pada Ardhi. Bahwa penampilan sang suami sudah kren. Mengagumi ketampanan Ardhi yang sempurna sejagad raya di indera penglihatannya.
"Iya sayang, itu gak usah adek ragukan lagi." Ucapnya lembut, menatap sang istri dengan senyum manis yang merekah indah di bibir yang masih bengkak itu dan meriah Melati ke pelukannya. Kalau sudah berinteraksi dengan sang istri. Rasa sakit di sekujur tubuhnya seolah hilang.
Ardhi bersyukur sekali berjodoh dengan Melati. Istrinya itu, selalu bisa memahami dan mengetahui apa maunya. Selain itu, Melati benar-benar mengurus dirinya. Padahal dia tidak pernah memberi perintah.
Melati selalu yang memilih pakaian yang akan dikenakan sang suami. Menggunting kuku sang suami setiap seminggu sekali, bahkan wanita itu selalu mencek kebersihan kupingnya. Gimana gak bucin dia pada istrinya itu. Istrinya itu benar-benar memanjakannya.
"Apa gak terlalu pagi kita ke rumah ayah sayang?" masih memeluk Melati, wanita itu malah pasrah di dada bidang Ardhi.
__ADS_1
"Makin cepat makin baik sayang." Jawab Melati, kini mendongak menatap sang suami yang terlihat murung. Melati tahu, pasti suaminya itu merasa ragu untuk bertemu sang ayah.
"Adek yakin, ayah tidak akan melakukan hal yang buruk ke perusahaan Mas. Ayah hanya kecewa saja, dia melakukan itu semua. Hanya bentuk pelampiasan kekesalannya. Apapun yang terjadi, kita akan tetap bersama Mas." Ardhi sungguh terharu mendengar ucapan sang istri. Dia mengecup lembut keningnya Melati. Kembali mengeratkan pelukannya.
"Terima kasih banyak ya sayang. Sudah mau bertahan di sisi mas." Menghadiahi banyak kecupan di puncak kepala sang istri yang ditutupi hijab itu. Melati tersenyum bahagia dengan sikap Ardhi yang begitu mencintainya. Apalagi kini tangan suaminya itu sudah bergerak ke perutnya, mengusap lembut perut yang masih terlihat datar. Suaminya itu begitu menyayangi jabang bayi yang ada di rahimnya.
Sesampainya di rumah pak Zainuddin. Terlihat pria tua yang bertubuh tegap itu, sedang lari pagi di halaman rumah. Seperti sedang menunggu kedatangan mereka. Pria itu pun langsung mengehentikan aktifitas, menatap Ardhi dengan sorot mata yang tidak terbaca.
"Assalamualaikum ayah," Melati menjulurkan tangan. Sang ayah langsung menyambut salim dari putrinya itu. Dan langsung memeluk sang putri, menuntunnya masuk ke dalam rumah. Tanpa ada basa basi pada sang menantu yang mengekori mereka. Ardhi tahu ayah mertuanya itu masih kecepadanya. Jadi saat ini, dia lebih baik diam.
"Kamu tunggu di sini. Ayah mau bicara dengan Melati." Berbalik badan dan menatap tajam Ardhi.
"Iya Ayah." Ardhi mendudukkan bokongnya di sofa ruang tamu. Sedangkan Pak Zainuddin dan Melati melanjutkan langkahnya ke ruang makan.
Pria itu hanya bisa menatap punggung ayah dan anak itu menuju ruang makan sampai menghilang dari tatapan matanya.
"Ayah, ingin bicara penting denganmu sayang." Mempersilahkan sang putri duduk di kursi tepat di hadapannya.
"Iya ayah " Jawab Melati serius.
"Ayah, Melati tidak mungkin berpisah dengan Mas Ardhi. Hanya karena Nyonya besar."
"Dia bukan nyonya besar. Dia bukan manusia. Kamu yang akan jadi nyonya besar di rumah itu. Kekayaan Ardhi semua ada karena ayah. Dan betapa tidak bersyukurnya ibunya itu, tega menyakitimu. Hanya karena saat itu kamu, aakkhh sudahlah.... Ayah kesal jika ingat wanita tua itu." Raut wajah pak Zainuddin mendadak masam.
"Ayah, semua telah terjadi. Gak ada gunanya lagi balas dendam. Mengungkit semua sakit itu. Akan sangat menguras energi. Kita akan emosi dan mengganggu kesehatan jiwa. Ayah, jangan benci Mas Ardhi. Melati tahu, ayah begitu sayang padaku dan juga Mas Ardhi. Yang buat salah ibu. Bukan dia ayah.'
"Dtua juga salah, ia melecehkanmu. Dia harus diproses hukum." Pak Zainuddin langsung memotong ucapan sang putri. Melati yang melihat kekesalan di wajah ayahnya itu. Akhirnya memilih bangkit dari duduknya. Mendekati sang ayah, dengan meraih tangan yang sudah keriput itu.
"Apa gunanya itu semua ayah. Kita yang akan malu nantinya. Kami sudah menikah sekarang ayah. Dan kami saling mencintai. Kenapa harus dipermasalahkan lagi " Menatap sang ayah penuh harap dan penuh keyakinan. Pak Zainuddin menggeleng lemah, dia sedih karena hal burik yang selalu menimpa putranya.
"Coba kamu gak menghilang sayang. Kamu pasti akan sangat bahagia bersama ayah dan ibumu. Kamu pasti akan menikah dengan pria yang punya keluarga yang baik." Melati sungguh tidak tega melihat sang ayah yang kini menitikkan air mata itu. Dia pun memeluk ayahnya itu.
Ya orang tua akan lebih sensitif perasaannya. Mudah tersinggung dan jadi perasa.
"Melati bahagia ayah menikah dengan Mas Ardhi. Dia juga pria baik, sangat baik ayah. Dan semoga selama nya seperti itu. Inilah takdir yang harus kujalani ayah. Semuanya tak perlu disesali. Aku sangat bahagia punya ayah sepertimu. Dengan kebaikanmu ayah, membuat Mas Ardhi jadi orang yang berguna. Dan sekarang ku mohon ayah. Terimalah mas Ardhi dengan segala kekurangannya. Jangan hancurkan dia ayah. Kalau ayah melakukan itu, tentu ayah menghendaki kematianku juga."
__ADS_1
Pak Zainuddin langsung mengurai pelukannya
Dia terkejut dengan ucapan Melati yang tak difilter itu.
"Siapa yang ingin menghancurkannya. Ayah hanya kesal dan menggertaknya. Kecuali tadi kamu memang tidak ingin bersamanya lagi. Ayah pasti akan buat dia jadi gembel." Melap air mata yang membasahi pipinya Melati.
Melati meraih tangan sang ayah dan menciumnya penuh dengan kasih sayang.
"Terimakasih ayah " Dia langsung bangkit, dan kembali memeluk ayahnya.
"Terima kasih." Ucapnya lagi, kemudian mengurai pelukannya.
"Melati panggil mas Ardhi dulu. Kita sarapan sama ya ayah." Melati berlari kecil ke ruang tamu. Sudah sangat tidak sabar untuk memberi tahu sang suami. Kalau sang ayah sudah memaafkannya.
Sesampainya di ruang tamu. Melati hendak memanggil sang suami. Tapi, saat itu dia melihat Ardhi sedang menelpon dan membelakanginya.
"Iya iya Rudi, bagaimana keadaan ibu?" Melati berjalan pelan menghampiri sang suami.
"Apa? menyebut-nyebut nama Melati?" Kali ini suaminya itu menyebutkan namanya dalam percakapan.
"Oohh iya baiklah."
"Aahhkkk.... Astaga sayang. Kamu mengangetkan mas." Ardhi memegangi dadanya yang berdebar-debar, karena terkejut itu. Saat dia berbalik, dia dikejutkan oleh sang istri yang tepat di hadapannya.
"Ada apa Mas?" tanya Melati penuh selidik. Menatap lekat kedua bola mata sang suami yang nampak berkaca-kaca.
"Kondisi ibu sudah sangat lemah. Kata Bi Kom, kepada Rudi barusan. Menjelang subuh, setelah ibu sadar. Ibu selalu menyebut-nyebut namamu Dek."
Deg
Jujur, kalau membahas ibu Jerniati. Melati pasti dibuat terkejut. Karena kelakuan wanita tua itu, sudah membekas di hatinya.
"Adek mau kan untuk kali ini bertemu dengan ibu?"
TBC.
__ADS_1
Terima kasih atas like coment dan vote nya say🙂