
Melati meletakkan makanan itu di sebelahnya. Menatapnya dengan tidak berselera. Dia ingin makan, mie Aceh miliknya Ardhi. Tapi, tidak mungkin dia meminta makanan itu. Dia tidak berani meminta mie Aceh itu. Mana mungkin Ardhi sang majikan mau berbagi makanan dengannya.
Ardhi nampak begitu lahapnya memakan mie Aceh itu. Cara pria itu makan, seperti orang yang tidak makan tiga hari saja. Melati yang melirik Ardhi saat makan, hanya bisa menelan ludahnya berkali-kali. Disaat pria itu menelan mie Aceh itu. Membasahi bibirnya dengan lidahnya. Seolah wanita itu merasakan lezatnya mie Aceh itu.
Melati benar-benar menginginkan mie yang dimakan oleh Ardhi. Air liurnya terus saja keluar yang membuatnya harus menelannya kembali, sebelum dia ileran betulan.
Ardhi yang merasa ditatap terus oleh Melati. Akhirnya menoleh kepada wanita itu. Melati yang merasa kepergok, langsung mengalihkan pandangannya. Dengan menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Ditatap Ardhi benar-benar membuatnya salah tingkah sekaligus merasa takut. Entahlah Melati merasa ada yang aneh dengan dirinya.
"Kenapa belum di makan?" Ardhi beranjak dari duduknya menghampiri Melati yang jiwanya belum tenang itu. Ardhi seperti hantu saja buatnya, menakutkan.
"Tadi katanya lapar. Saya buatin makanan kenapa gak di makan?" Ardhi meraih wadah yang berisikan oatmeal itu. Menyendoknya dan menyodorkannya pada Melati.
"Mau disuapin?" Melati melirik Ardhi dan menggeleng lemah. Ekspresi wajah Melati masih ketakutan melihat Ardhi.
Ardhi menghela napas kasar. Dia bisa merasakan bahwa wanita itu takut padanya.
"Eehmmm.... makanan ini jadi mubazir. Kita tidak boleh membuang-buang makanan." Ardhi pun akhirnya memasukkan oatmeal yang disendoknya ke mulutnya sendiri. Memakannya dengan perlahan dengan penuh penghayatan.
Mata Ardhi berkaca-kaca. Dia teringat hidupnya beberapa tahun lalu saat masih susah. Saat pertama sekali menginjakkan kaki di Kota Medan. Karena tidak punya uang untuk beli makanan, maka dia akan puasa. Sekarang dia sudah jadi orang kaya. Dia tetap rendah hati, bahkan dia sering makan di warung kaki lima.
Melati memperhatikan lekat Ardhi yang memakan oetmeal itu. Pria itu perutnya karet ya? habis makan mia Aceh. Kini makanannya disantap juga.
"Kamu kenapa mencuri-curi pandang terus?"
"Gak ada tuan." Melati, dengan cepat membaringkan tubuhnya. Dan langsung menutup matanya. Dia lebih baik tidur saja. Besok-besok kalau dia sudah sembuh. Dia akan beli mie aceh dan makan sepuasnya.
__ADS_1
Tidak mungkin, dia mengatakan ingin makan mie Aceh pada Ardhi. Pria itu belum tentu mau membelikannya. Lagian ini sudah larut malam.
Ardhi menggeleng pelan, semburat senyum tipis terlukis di wajahnya. Dia merasa tingkah Melati menggemaskan. Wanita itu curi-curi pandang dari tadi padanya. Dia tahu, Melati selera melihat mie Aceh yang dimakannya. Tapi, tidak mungkin dia menawarkan mie Aceh itu pada wanita yang lagi sakit perut itu.
Setelah tafakur di Mushollah Rumah sakit. Ardhi merasa lebih legowo menerima takdir yang harus dijalaninya. Mungkin menikah dengan Melati adalah yang terbaik untuk hidupnya. Dia akan bertanggung jawab penuh. Mencoba menjadi suami yang baik nantinya. Dan semoga niat tulusnya dirasakan Melati. Sehingga wanita itu tidak takut lagi padanya.
Soal cinta tidak usah dibahas dulu. Yang penting saat ini adalah menciptakan rasa nyaman dalam hubungan mereka.
***
Masih pukul enam pagi, Embun sudah turun ke dapur kotor. Dia ingin menyiapkan sarapan untuk Tara. Dia mau memasak nasi gurih untuk suaminya itu. Tentu saja dia dibantu koki. Embun saat kuliah, sering sekali sarapan nasi gurih. Yang dibeli tak jauh dari kost an nya. Dia paling suka sarapan dengan makanan itu, apalagi kalau ditambahkan sarundeng, sambal ikan teri Medan campur tempe, kacang tanah, tahu. Terus ada miehun gorengnya. Ada telor bulat gorengnya, ada timun dan kerupuk. Eehmmmm Embun paling suka menu itu. Jadi, Pagi ini dia ingin sekali menu itu. Semoga suaminya Tara menyukainya.
"Nona, ada pria bernama Ilham di ruang tamu." Suara Bi Siti, ART mereka mengangetkan Embun yang lagi memotong buah timun.
Sesampainya di ruang tamu. Ilham sudah duduk di sofa warna Lilac yang empuk itu.
"Abang Ilham," Embun tersenyum manis pada pria itu. Dia pun duduk di sofa yang ada di hadapannya Ilham.
"Maaf ya Dek Embun. Pagi-pagi sekali bertamu. Aku hanya ingin bertemu dengan Melati. Ada hal penting yang ingin ku bicara kan " Ucap Ilham, dengan rawit wajah gelisah.
"Eehmmm Melati, kamu tidak tahu kalau Melati lagi di rumah sakit?"
Ilham menggeleng penuh dengan keterkejutan. Kenapa wanita itu masuk rumah sakit?
"Tidak, dia dirawat di rumah sakit mana?" tanya Ilham dengan paniknya. Dia langsung bangkit dari duduknya. Berita yang baru didengarnya pagi ini, begitu mengejutkannya. Baru jiga tadi malam dia membahas Melati dengan seseorang.
__ADS_1
Bahasannya dengan orang itu sangat urgent. Dia tidak akan memberikan Melati pada Ardhi. Dia akan membawa wanita itu ke kampung, dia akan menikahi wanita itu. Ardhi tidak pantas dan tidak cocok untuk Melati. Ardhi sudah punya tunangan. Ibunya Ardhi juga tidak menyukai Melati. Dia tidak mau wanita yang sangat dicintainya itu, menderita nantinya apabila menikah dengan pria itu.
"Ilham tunggu dulu!" Ilham tidak menyahut panggilan Embun lagi, setelah wanita itu menyebutkan di mana Melati dirawat. Dan menceritakan kejadian kenapa Melati sampai di bawah ke rumah sakit.
Ilham begitu kesal pada Ardhi. Lihatlah belum menikah, wanita itu sudah muntah mencret bersamanya. Melati orang kampung, tidak biasa naik ke mobil mewah yang AC nya nyala terus. Melati bisa masuk angin.
Ilham mengendari motornya dengan kecepatan penuh. Suasana di jalan raya masih sunyi. Karena masih pagi sekali. Tak butuh waktu lama hnaya dua puluh menit, pra itu sudah sampai di parkiran rumah sakit yang disebutkan Embun.
Saat dirinya berjalan menuju ruang rawatnya Melati. Ponsel pria itu berdering. Karena tak sabaran ingin bertemu dengan Melati. Pria itu mengabaikan panggilan teleponnya itu. Tapi, ponselnya itu terus saja berdering. Dengan kesalnya, Ilham merogoh ponselnya dari kantong celananya.
Ada nama Butet yang memanggil. Ilham merasa tidak perlu menerima panggilan itu. Dia pun mengabaikannya. Memasukkan ponselnya ke saku celananya kembali.
Sesampainya di depan ruang rawatnya Melati. Ilham merapikan pakaiannya, menyisir rambutnya yang masih rapi dengan jemarinya. Kemudian pria itu, menenangkan derbaran jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya dengan menghela napas dalam dan panjang. Dia harus menyediakan stok oksigen yang banyak di paru-parunya. Agar dirinya bisa tenang saat berbicara dengan wanita itu. Sehingga Melati mau menikah dengannya. Kalau Melati mau, dia akan mengajak Melati pulang kampung malam ini. Melati berhenti saja kuliah di kota ini. Melati bisa menyambung kuliah di kota PSP.
Tok...
Tok..
Tok...
"Assalamualaikum..!"
TBC.
like, vote😁🤗
__ADS_1