DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Tidak mau hamil


__ADS_3

Usaha Tara untuk membujuk istrinya itu pun sukses untuk diajak main kuda-kudaan.


Kemahiran Tara memijat-mijat Embun dan dalam menjelaskan masa suburlah yang membuat Embun mau diajak Tara main kuda-kudaan. Entahlah, sepertinya kalau Embun sudah masuk masa subur, istrinya itu akan menolak diajak kuda-kudaan.


Atau Tara menyetujui keinginan Embun saja untuk memakai kontrasepsi, misal dirinya yang memakai balon lonjong alias (K.ND.M). Aahh... itu diakhir saja dibahas. Tara menilai, istrinya itu masih bisa diajak kompromi. Tara juga belum mengetahui pasti, apa alasan Embun tidak mau punya anak.


Hanya tiga ronde, permainan pun ditutup. Mereka memilih untuk istirahat. Itu disebabkan karena, tangan Tara yang sudah terasa sangat sakit. Tara pun kesal bukan main. Kenapa sih, tangannya harus terluka. Sehingga dia tidak maksimal saat bermain pacuan kuda dengan Embun.


Disaat Embun menggila karena sentuhannya. Dia harus angkat tangan. Agar tangannya itu tidak kena cengkraman istrinya itu. bukan angkat tangan karena menyerah. Tapi, angkat tangan karena takut dicakar.


Embun benar-benar tidak bisa mengendalikan diri. Disaat wanita itu merasakan nikmat Dia gemes pada Tara. Seolah ingin menelan hidup-hidup suaminya itu. Jadilah Tara habis kena cakar, disaat mereka bermian kuda-kudaan.


❤️❤️❤️


Cuaca yang dingin membuat Embun semakin memeluk erat Tara suaminya.Ya kota PSP terkenal dengan kota dingin, karena berada diketinggian.


Embun yang sudah terbangun itu, berusaha mengumpulkan nyawanya yang belum kembali sepenuhnya. Saat membuka kedua matanya. Dia langsung disuguhkan pemandangan indah. Ternyata Tara suami tampannya itu sudah terbangun dan menatapnya penuh dengan cinta.


Embun malu, tatapan Tara seperti menelanjanginya. Dia pun kembali menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya Tara.


"Abang sudah lama bangun?" tanya Embun sembari mengusap-usap pu#ting suaminya itu. Tentu saja Tara dibuat geli oleh tingkah Embun.


Tara menghentikan aksi tangan istrinya itu. Tara tidak bisa menahan gelinya. "Sekitar sepuluh menit yang lalu." Tara yang sudah menggenggam tangan Embun kemudian menciumnya.


"Apa Abang sudah mencabut laporan tentang Anggun itu?" Embun mendongak, menatap sendu suaminya itu. Dia kasihan juga pada Ardhi. Mantan kekasihnya itu, sampai mendatanginya. Tentu itu hal yang sangat penting buatnya.


"Sudah." Jawab Tara pendek. Merasa kesal juga, wanita itu tidak jadi dihukum.


Embun merubah posisinya, sehingga sebagian tubuhnya menimpa tubuh Tara. Tubuh polosnya keduanya Kembali bergesekan.

__ADS_1


"Terimakasih ya suamiku." Embun menatap lekat Tara. Ingin rasanya dia menghadiahi wajah Tara dengan banyak ciuman. Tapi, dia takut Tara kembali menerkamnya. Dia pasti gak bisa jalan nanti. Ini saja sela#ngkangan sudah pegal, kelamaan ngangkang. Belum lagi semua badannya remuk redam.


"Abang sudah kabulkan permintaan Adek. Jadi, seharusnya Abang dikasih hadiah dong?!" ucap Tara genit, mengedip sebelah matanya. Tangan suami nya itu pun sudah merayap, membuat Embun merasakan sensasi geli nikmat.


"Stop dulu ya sayang. Ini sel#angkangan adek sakit. Terkilir sepertinya." Embun menampilkan ekspresi wajah sedih. Entah mereka yang salah gaya, atau terlalu overaktif sehingga Embun merasa tidak nyaman di area sela#ngkangannya.


Tara mendudukkan tubuhnya, sangat penasaran dan mengkhawatirkan istrinya itu. Dia pun langsung memeriksa bagian yang dikeluhkan sakit oleh Embun.


"Sudah bang, jangan. Adek malu." Embun berusaha merapatkan pahanya. Dia malu kalau bagian intinya dilihat oleh Tara.


"Sini biar Abang pijat. Siapa tahu keseleo." Tara terus saja berusaha agar Embun membuka lebar pahanya.


"Gak usah." Embun yang kesal itu, refleks menggerakkan kakinya kuat, menendang dada suaminya itu. Tara tidak menyangka Embun akan melakukan itu.


"Berani ya sekarang!" ancam Tara menahan kaki Embun yang menendangnya.


Embun sampai kelelahan karena menahan geli. Dia minta ampun. Karena, mengaduh kesusahan bernapas. Tara pun menghentikan aksinya. Embun ngos-ngosan di sebelahnya. Mata wanita itu sudah berair, karena kelamaan tertawa.


Embun menampilkan ekspresi wajah kesal. "Awas kalau minta-minta lagi, Adek gak bakalan mau kasih." Ucapnya dengan ekspresi wajah serius. Cara Tara menggelitiknya, benar-benar membuatnya lelah.


"Benar gak mau? yakin?" goda Tara, mulai bergerak menarik kaki Embun. Embun kembali merengek-rengek minta ampyun.


Setelah Tara melepas kakinya." Iya, aku gak mau hamil." Ucapan Embun yang serius membuat Tara terdiam. Ini yang ingin dibahasnya dari semalam.


"Kenapa?" suasana hangat penuh canda tawa, kini sudah merubah jadi panas penuh tekanan.


"Ya tidak mau saja, Adek belum siap untuk hamil. Adek masih mau kuliah." Jawab Embun lemah, tidak mau menatap Tara.


"Tapi, Abang ingin kita segera punya momongan. Keluarga besar kita juga pasti menginginknnya. Apa Adek tidak ingat ucapan Mama tempo hari yang sangat menginginkan cucu. Sehingga Mama mengira Adek hamil, karena muntah-muntah waktu itu.

__ADS_1


Embun terdiam, ruat wajahnya langsung sedih. Dia sedang membayangkan punya anak yang tidak normal. Itu membuatnya sedih dan defresi.


Tara meraih tangan Embun kini keduanya sudah terduduk dan bersandar di headbord tempat tidur mereka.


"Alasan yang Adek katakan itu tidak masuk akal. Kalau mau kuliah, ya bisa saja kuliah saat hamil. Banyak teman kuliah Abang dulu saat ambil S-2 hamil." Tara meraih wajah istrinya itu agar menatapnya.


"Katakan apa yang mengganjal di benak Adek. Kenapa tidak ingin hamil." Merangkum wajah Embun yang sudah dibanjiri air mata itu.


"Adek gak mau kita punya anak yang abnormal." Ucapnya dengan berurai air mata. Langsung memeluk Tara. Dia merasa plong, setelah mengatakan itu. Berharap suaminya itu bisa mengerti masalah yang dipikirkannya.


"Abnormal?" ucap Tara bingung. Embun mengangguk lemah.


"Iya, anak kita nantinya pasti punya kelainan genetik. Gak normal gitu. Adek gak mau melahirkan anak gak normal. Gak mau!" ucap Embun frustasi.


"Sayang, apa maksudmu. Tidak boleh bicara seperti itu. Itu namanya Adek mendahului Tuhan. Berdosa." Ucap Tara tegas,menatap heran Embun yang punya cara berfikir pendek, seperti sumbu kompor itu.


"Adek tidak mendahului Tuhan. Adek hanya waspada saja. Adek gak bisa bayangkan nantinya. Adek melahirkan mereka ke dunia ini. Anak-anak kita pasti akan disisihkan dunia. Mereka pasti dikucilkan, pasti dibully, dicaci. Adek gak bisa melihat wajah sedih dan tidak percaya diri mereka nantinya. A--ku, Aku..!" Tara langsung memeluk Embun, merasa kasihan dengan istrinya itu. Cara Embun meluapkan kegundahan hatinya begitu memprihatinkan.


"Siapa yang bilang, Adek akan melahirkan anak yang punya kelainan genetik?" Tara akhirnya menurunkan egonya. Dia harus bisa merangkul Embun yang lagi kalut itu.


"I--tu ada penelitiannya." Ucap Embun lemah, masih menangis dalam dekapan Tara.


Dert...dert..dert..


Ponsel Tara berdering di atas nakas. Tara menoleh ke arah ponsel itu. Tapi, tidak tertarik untuk mengangkatnya.


"Penelitian? berarti manusia yang menyimpulkan kan?" Tanya Tara balik. Embun mengangguk. Lagi-lagi deringan ponsel Tara membuat Embun berhenti bicara.


TBC

__ADS_1


__ADS_2