DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Gangguan


__ADS_3

Setelah selesai makan siang, Embun memilih kembali ke kamarnya. Sedangkan Tara yang hendak mengekori istrinya, kena cegat oleh pak Baginda. Tulangnya itu, memintanya menemaninya lagi untuk bermain catur lagi.


Dengan malasnya Tara pun mengikuti kemauan Ayah mertuanya itu. Mengacak-acak rambutnya dengan frustasinya. Sambil mengikuti lagi pak Baginda ke gazebo tempat mereka tadi main catur.


Pak Baginda menoleh ke belakang. "Kenapa bere, kutuan kamu?" tanya pak Baginda serius. Tara langsung menurunkan tangannya dari kepalanya. Dengan posisi siap gerak. Tanpa disadarinya dia malah me ganggukkkan kepalanya.


Tara saat ini benar-benar tidak konsentrasi. Dia hanya ingin berdua terus setiap waktu dengam Embun. Menempel terus seperti prangko. Wajar memang Tara ingin terus bersama Embun setiap waktu. Hubungan mereka saat ini, lagi hangat-hangatnya dan gurih-gurihnya. Seperti kue yang baru keluar dari oven.


"Mereka baru dua hari merasakan hubungan suami istri yang sesungguhnya. Tentu saat ini, keduanya pingin nempel terus, bermesraan sepanjang hari. Apalagi Tara inginnya mencetak anak terus.


"Beneran kamu kutuan?" Pak Baginda mendekati Tara yang nampak bingung itu. Dia pun memperhatikan seksama kepala Tara. "Gak ada kutu." Ucap pak Baginda polos.


"Mana nampak Tulang kalau hanya dilihat sekilas. Aku akan menyisirnya pakai sisir magnet dulu ya Tulang. Aku permisi dulu." Tara pun melebarkan langkahnya setelah Pak Baginda mengangguk dengan bingungnya. Dia tidak percaya Tara kutuan.


"Apa dia malas bermain catur denganku?" Pak Baginda berbicara sendiri. Dia pun tersenyum lebar, disaat otaknya baru sinkron, dengan tingkah Tara yang aneh.


"Ya ampyun, aku polos atau benar-benar pelupa, kalau mereka itu masih pengantin baru. Pasti Bere Tara ingin nempel terus dengan putriku yang keras kepala itu." Pak Baginda tertawa tipis, merasa lucu dengan kelakuannya yang menahan Tara untuk bermain catur dengannya.


Tara membuka pintu kamar Embun dengan penuh kehati-hatian. Menutup pintu itu dengan memegang dadanya yang berdebar-debar. Entah kenapa Tara merasa grogi di dalam kamar berdua dengan Embun.


Tentu saja jantungnya berdebar-debar saat ini. Pemandangan yang disuguhkan di depan matanya sungguh indah. Dia pun mengelus pelan dadanya yang bergemuruh itu. Menatap Embun dengan tatapan mendamba.


Tara memperhatikan lekat wajah Embun yang tidur pulas. Wajahnya Embun saat tidur begitu teduh dan manis. Dari wajah, kini mata liar dan kelaparan itu turun ke bagian dada. Entah Tara yang bernasib baik atau Embun sengaja melakukannya. Kini kancing baju bagian atas yang dikenakan istrinya itu terbuka. Sehingga tampaklah pinggir-pinggir gundukan kenyal di dadanya istrinya itu.


Tara sudah tidak sabar untuk memeluk istrinya itu. Apalagi kini paha mulusnya Embun terekspos indah.Tara dengan tergesa-gesa melepas pakaiannya dan hanya menyisakan ********** saja. Dia pun merangkak pelan ke atas ranjang.

__ADS_1


Tapi dia turun lagi, berjalan cepat untuk mengunci pintu kamar mereka itu. Dia takut, orang-orang di rumah itu ada yang nyelonong masuk, disaat dirinya dan Embun sedang meraih nirwana.


Setelah mengunci pintu, kini Tara berjalan ke kamar mandi. Dia akan menggosok giginya. Dia tidak mau saat mereka bertukar Saliva. Embun merasakan bau tidak sedap. Karena tadi dia makan sambal blacan.


Tara tertawa sendiri, merasa lucu dengan kelakuannya saat ini. Dia mencium tangannya. Guna mengendus, apa masih ada aroma blacan yang masih tertinggal di tangannya. Ternyata sudah tidak ada lagi.


"Ternyata sambal terasi enak juga ya? aromanya itulah khas." Ucapnya lagi, mengeringkan tangannya dengan handuk yang tergantung di kamar mandi itu.


Setelah merasa sudah bersih, Tara kembali menuju ranjang mereka. Dia membaringkan tubuhnya di sebelah kanannya Embun, agar lebih leluasa menjamah setiap inchi tubuh mulus istrinya itu. Karena tangan kanannya belum sembuh total.


Puas memandangi Wajah Embun Kini tangan Tara yang sehat, mulai membelai lembut pipi mulusnya istrinya itu. Ternyata kelakuannya tidak membuat Embun terbangun. Sepertinya wanita itu kelelahan dan kekurangan tidur.


Tara tersenyum lebar, merasa bahagia sekali. Akhirnya dia bisa memiliki Embun seutuhnya. Entahlah dia juga merasa heran dengan dirinya sendiri. Kenapa dia begitu mencintai istrinya itu.


Tara yang sudah tidak tahan lagi untuk menggauli istrinya di sore hari itu, karena saat itu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Akhirnya melancarkan aksinya dengan lembut dan penuh cinta.


"Abang, iihh ganggu aja." Embun membalik tubuhnya yang kini sudah polos, seperti bayi yang baru lahir. Dia malu menatap Tara, disiang bolong, tubuh polosnya terpampang nyata. Apalagi dia melihat pantulan dirinya di dalam kaca saat ini.


Embun yang tersipu malu itu, membuat birahi Tara semakin tersulut. Dia pun melanjutkan aksinya mendaratkan ciuman lembut dan dalam di punggung dan b"okong wanita yang sedang malu-malu mau itu.


Sontak saja serangan Tara itu membuat Embun membungkukkan tubuhnya sembari mengeluarkan suara-suara yang membuat darah Tara berdesir hebat. Tara semakin menggila mencicipi setiap inchi tubuh istrinya itu. Tak ada tempat yang tidak kena sentuhan bibirnya. Sentuhan suaminya itu membuat Embun menggila. Dia merasa dipuja, dia merasa angat dinginkan. Cara Tara memperlakukannya saat berhubungan badan, membuat wanita itu lupa daratan. Membuat wanita itu lupa, kalau dia tidak mau punya anak dari Tara saat ini. Sebelum hatinya yakin.


"Bang...!" ucap wanita itu frustasi. Matanya kini sudah merem melek, akibat sentuhan nikmat dari bibir dan tangan suaminya itu.


Belum lagi giliran si rudal tak bertulang yang akan beraksi, Embun sudah merem melek dibuat Tara.

__ADS_1


"Sekarang ya sayang, istriku, cintaku..!" Ucap Tara dengan suara beratnya. Embun hanya mengangguk lemah, dibawah Kungkungan tubuh suaminya itu.


Tara pun mulai memposisikan dirinya, membuka lebar gerbang surga duniawi itu. Wangi begitulah yang ditangkap indera penciuman Tara saat ini. Hawa sejuk dari surga menerpa wajahnya, sebelum rudal itu lepas landas.


Tok tok tok..


"Embun... Embun sayang...! Tara, Tara....!" Suara Mama Nur di balik pintu, membuat hasrat yang melambung tinggi itu, jatuh sudah. Keduanya kini sama-sama membelalakkan matanya.


"Abang, ada Mama.!" Ucap Embun hendak bangkit. Kini rudalnya Tara sudah menancap di gua itu.


Tara menahan tubuh istrinya itu. Agar tetap diposisi semula. Dia tidak mau ini gagal. Ini harus tuntas. Bisa gila dia, kalau kerjaan mereka tidak selesai.


"Ada Mama Sayang." Embun masih menampilkan ekspresi wajah panik serta malunya. Pasalnya tubuh atletis Tara yang menjulang didepan Matanya, sangat menggoda.


"Embun, Tara..! kalian siap-siap kalau begitu, sebentar lagi kita ke rumah Ompungmu." Suara Mama Mira benar-benar membuat Embun tidak konsentrasi lagi.


"Jawab iya sayang. Cepat, biar Nantulang pergi." Bisik Tara dengan frustasinya.


"Embun, Embun, Tara..Kalian tidur?' Mama Nur, benar-benar mengganggu saja.


"Sudah sayang, nanti malam saja. Aku sudah gak mood lagi." Embun mencoba mendorong dada bidang suaminya itu. Tapi, Tara menolak.


"Gak sayan, ini harus tuntas." Ucap Pria itu pelan, dia pun melancarkan aksi pompa memompanya. Sampai dirinya pelepasan. Sedangkan Embun hanya pasrah saja. Bahkan disaat suaminya itu ambruk di atas tubuhnya. Dia tidak ada merasakan enak sama sekali.


Suara Mama Nur dibalik pintu pun menghilang, selaras dengan aksi mereka mencetak anak.

__ADS_1


TBC


__ADS_2