DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Pasrah Pasrah


__ADS_3

langit gelap menandakan malam telah tiba cahaya matahari sudah lenyap sama sekali. Sudah saatnya tubuh diistirahatkan. Tapi, ada tiga insan yang tidak bisa memejamkan matanya, di waktu yang sama. Tapi, di tempat yang berbeda. Mereka adalah insan yang sedang diterpa cinta segitiga Yaitu Embun, Ardhi dan Tara.


Saat ini Embun sudah pasrah, mungkin inilah takdirnya. Menikah dengan pria yang dibencinya. Dia tidak bisa menghindar lagi, karena Ayahnya yang tegas, tidak mau membatalkan pernikahan ini.


Di koat M. Kekasih Embun yaitu Ardhi, sedang berfikir keras terduduk di atas ranjang nya, bersandar di headboard tempat tidur. Sudah lebih tiga hari Dia tidak berkomunikasi dengan Embun. No ponsel Embun tidak dapat dihubungi. Sosial medianya semua diblokir, hilang dari peredaran. Bahkan Ardhi yang mencari informasi ke kawan Embun di kampus, tidak ada yang mengetahui keberadaan Embun


"Aku harus mencarinya ke kampungnya. Aku tidak bisa diam terus disini. Aku sangat merindukannya." Ucap Ardhi sambil menghela nafas dalam. Dia pun membaringkan tubuhnya, mencoba untuk beristirahat.


POV Tara.


Aku sangat yakin Dia itu adalah wanita yang memeluk-memelukku di bandara. Wangi parfumnya sama. Suaranya juga sama dengan suara Embun. Outhernya yang tergantung di kamarnya itu, membuat keyakinan ku jadi 100/%. Aku sangat mengenali outher itu. Outher itu yang nyangkut di kancing jaketku.


Apa maksud Dia ingin melarikan diri, dan mengatakan Dia dikejar-kejar oleh suruhan pria yang memaksanya menikah. Apakah Dia terpaksa dengan pernikahan ini. Jikalau itu benar, Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Walau Aku sangat menginginkannya jadi pendamping hidupku.


Impianku dari kecil hanya ingin membahagiakan nya. Walau kesalah pahaman, membuatnya membenciku. Tapi, Aku masih berharap kelak Dia merasakan ketulusan cintaku yang sudah tumbuh sejak diri ini mulai tertarik kepada lawan jenis. Hanya Embun, wanita yang kuinginkan.


Sepertinya besok Aku harus memastikannya, menanyakan semua kepadanya. Apakah Dia terpaksa dengan pernikahan ini. Karena Aku tidak mungkin tega melihatnya akan menderita. Kalau benar, Dia dipaksa menikah denganku.


🌄🌄🌄


Sinar matahari menyelinap masuk ke jendela kaca menembus gorden kamar Embun. Embun pun terbangun karenanya. Perlahan matanya yang indah mengerjap-ngerjap, menyesuaikan silaunya cahaya lampu dan sinar matahari yang ada di kamar nya.


Baru saja Dia membuka matanya dengan lebar. Nampak Mama Nur, memasuki kamar Embun beserta Ayahnya.

__ADS_1


Embun pun bangkit dan terduduk dengan bersandar di head board tempat tidur nya.


"Mentang-mentang sakit, dibangunin tidak mau bangun. Bahkan kamu tidak sholat shubuh." Ucap Mama Nur, duduk di bibir ranjang putrinya itu.


"Gimana mau sholat, tangan dan kaki ku kan sakit." Jawabnya malas, apalagi saat ini Ayahnya menatap tajam kepadanya.


"Kamu bisa sholat dengan keadaan duduk. Melakukan gerakannya dalam hati." Tegas Ayahnya yang sudah dua kali naik haji itu.


"Kalau begitu kenapa Mama tidak bangunin Aku. Ini pagi-pagi sudah marah-marah. Aku ini sebenarnya anak kalian gak sih?" Ucap Embun, ucapan Mamanya membuat nya kesal. Wajah cemberut mendominasi pagi ini.


"Mama sudah bangunkan, tapi kamu tidak mau bangun." Mama Nur, mencoba merapikan rambut putrinya itu. Dengan mengambil ikat rambut berwarna hitam berbulu yang tergeletak tak jauh dari Embun duduk. Dua pun mengikat rambut putrinya itu.


Embun terdiam, mungkin karena Dia tidur larut malam, sehingga Dia susah dibangunkan.


"Kalau orang tua bicara itu, dilihat. Jangan membuang muka." Ketus Ayah Embun, menatap tajam putrinya yang kini sudah menatapnya.


Mata Embun berkabut, menatap Ayahnya itu. Dia merasa Ayahnya terlalu kejam kepadanya. Memaksakan kehendak untuk kelanjutan hidupnya. Tak terasa air mata itu mengalir dari sudut matanya, menganak sungai di pipi putihnya Embun.


"Lakukan saja yang membuat hatimu senang Ayah. Mungkin kamu hanya menginginkan penderitaan untuk putri mu ini. Jika dengan pernikahan ini, membuat Ayah dan semua keluarga besar kita bahagia. Aku anakmu ini bisa apa. Dari kecil, Aku menuruti semua keinginan kalian. Sekolah disini, jangan bergaul dengan pria dan masih banyak larangan lainnya yang ku patuhi. Karena memang yang Ayah katakan itu benar." Embun sudah tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis tersedu-sedu.


"Hingga dengan siapa diriku membina bahtera rumah tangga pun kalian atur. Jangan khawatir Ayah. Aku akan menikah dengan Tara. Agar kalian bahagia." Ucapnya menatap sendu Ayahnya. Sebenarnya Pak Baginda tidak tega melihat putrinya itu menangis seperti itu. Sepertinya memang putrinya itu tertekan dan tidak ingin menikah dengan Tara.


"Ayah pastikan, kamu akan bahagia bersama Tara. Tidak akan kamu temukan pria yang seperti Dia. Bahkan kekasihmu itu tidak ada apa-apanya dibanding Tara. Harusnya kkau bersyukur, Tara mau menikah denganmu." Ucap Pak Baginda, meninggalkan kamar putrinya itu dengan kesal.

__ADS_1


"Dasar cinta memang buta. Apa Dia tidak bisa melihat pesona Tara. Apabila Dia menikah dengan kekasihnya itu. Belum tentu keluarganya bisa menerima Embun. Ini sudah jelas, Dia akan bahagia di uat Oleh Tara dan Bou nya (Ibu Tara).


"Sudah ya sayang, jangan menangis lagi. Menikah dengan Nak Tara mungkin sudah takdirmu. Jangan tangisi dirimu, seolah kamu lah yang paling malang di dunia ini. Kamu tidak malang sayang. Kamu malah sangat beruntung, bisa menikah dengan Tara. Dia pria baik, sukses dan tampan Nak. Dia terlalu perfect.


"Aku tidak mencintai nya Ma. Berapa kali harus ku tekankan itu." Ucap Embun menatap Mamanya yang kini sudah berada di dekatnya.


"Cinta bisa tumbuh, karena kebersamaan. Seiring berjalannya waktu, kamu akan menyukainya." Mama Nur mengusap lembut punggung putrinya itu.


"Dia pembunuh Ma, Dia membunuh Doli." Ucapnya dengan nada keras. Dia pun mendudukkan tubuhnya. Menatap Mamanya dengan lekat.


Mama Nur tercengang mendengar ucapan putrinya itu. "Pembunuh? Tara tidak pernah membunuh orang." Jawab Mama Nur dengan bingungnya. Bisa-bisanya Embun mengatakan Tara seorang pembunuh. Dari mana Dia mendapakan berita gila itu.


"Dia membunuh siapa? kalau Dia pembunuh harusnya Dia masuk penjara. Ini mana lernah Mama dengar berita nya Dia membunuh.


"Dia membunuh Doli Ma. Gara-gara Dia Doli meninggal." Ucap Embun, dengan menahan sesak di dadanya. Kalau Embun membahas Doli. Maka kondisi Embun, bisa kumat.


"Apa maksud mu. Jangan membuat cerita aneh." Ucap Mama Nur dengan penasarannya.


"Tara yang membunuh Doli, saat kami mandi sama di sungai. Gara-gara Tara Doli hilang bak ditelan bumi."


TBC


Maaf ini novel slow up, karena Aku lagi cari pembaca setia. Kalau Novel ini banyak pembacanya, tentunya Author sangat senang.

__ADS_1


Bantu author promosiin novel ini. Di group Noveltoon, Mangatoon dan cerita lainya.


__ADS_2