DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Memperebutkan tempat tidur


__ADS_3

Tara dibuat bingung, jikalau Dia membenarkan posisi tidurnya Embun. Dia takut Embun terbangun dan Kembali marah-marah kepadanya.


Tara menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu. Dia menatap Embun yang tidur dengan pulasnya dengan piyama yang sedikit tersingkap, sehingga menampakkan pusar dan perut Embun yang putih dan mulus itu.


Tara menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menghela napas dalam. Dia sedang mencoba membuyarkan pikiran mesumnya.


Cara Embun tidur yang seperti anak kecil itu, benar-benar bisa membuat birahinya tersulut. Apalagi Embun hanya mengenakan baju tidur lengan dan celana pendek, sehingga kaki putih mulus Embun nampak begitu menggiurkan.


"Astaghfirullah... Apa yang harus kulakukan?" ucap Tara pelan sembari mendudukkan bokongnya di tepi ranjang tepatnya di dekat kaki Embun.


Pukkkk....


Kaki Embun melayang mengenai punggungnya. Ternyata Embun sedang berputar, merubah posisi tidurnya.


Tara menoleh ke arah Embun dengan mendesis kesal. Benar sekali kata istrinya itu Dia tidur sangat lasak, seperti anak kecil saja.


Dengan berdoa dalam hati, agar Embun tidak terbangun dan marah-marah. Tara mengubah posisi tidurnya Embun. Tapi, pada saat Dia mengangkat tubuh Embun. Wanita aneh itu, malah memeluknya dengan erat. Embun menganggap Tara adalah gulingnya.


Sontak perlakuan Embun semakin membuat Tara uring-uringan. Dada Embun yang montok menempel sudah di dadanya. Yang membuat Tara jadi terserang jantung.


Dug dag dug dag... Seer..... Darahnya terasa tumpah ruah.


Huuffttt.... Lagi-lagi Tara menghela nafas berat.


Dengan susah payah akhirnya, Tara bisa berbaring dengan posisi yang nyaman. Dan Embun masih saja memeluknya, dengan keadaan kaki Embun menimpah benda pusakanya yang dari tadi sudah on.


"Ya Tuhan, kenapa Aku jadi pria bodoh dihadapan wanita ini. Kenapa Aku begitu mencintainya. Kenapa Aku sangat tertarik kepadanya. Padahal banyak wanita cantik dan sexy selalu mengejar-ngejarku. Tapi, kenapa Aku tidak selera melihatnya. Dan Embun, wanita yang sifatnya selalu kasar. Tidur dengan gaya anehnya. Tapi, begitu menarik buatku." Gumam Tara sambil mengelus-elus kepala Embun.


Dia mencoba mengalihkan pikiran mesumnya, agar dirinya selamat. Karena kalau Dia menunjukkan ketertarikan kepada Embun. Tentu Embun akan membentengi dirinya.


❤️❤️❤️

__ADS_1


Tok...Tok...Tok...


"Embun, Embun sayang? kamu sudah bangun sayang?"


Dengan setengah sadar, Embun mendegar suara Mama Mira.


"Embun, Embun, Embun bangun sayang..! ini sudah pagi. Apa kalian tidur setelah sholat shubuh?" Lagi-lagi suara Mama Mira semakin jelas saja didengar Embun. Sehingga Dia mulai membuka matanya, sembari mengeratkan pelukannya kepada guling hangatnya.


Saat itu juga Embun terkejut, matanya hampir keluar melihat benda hidup yang sedang di peluknya saat ini adalah Tara. Pria paling dibencinya di dunia.


"Ka---mu, Kaa--mu berani sekali..!" geram Embun sembari menendang dan mendorong tubuh Tara sekuat tenaga dengan kakinya tepat di perut Tara. Sehingga Tara tersungkur jatuh ke lantai. Dengan meringis kesakitan dan setengah tersadar.


"Embun, suara siapa yang mengaduh kesakitan itu?" Mama Mira mulai sedikit panik, tapi sesaat Dia tersadar dan menduga-duga bahwa anak dan menantunya itu sedang mencetak cucu untuknya.


"Bou, Eehhh Bou. Itu..Itu. !" Embun gugup dan bingung harus menjawab apa, tidak mungkin Dia mengatakan bahwa Dia telah menjatuhkan putranya.


"Ooh iya sayang, lanjutkan saja. Maaf Bou mengganggu. Bou pikir, kalian belum sholat." Ucap Mama Mira dengan suara terdengar bahagia dan akhirnya pergi dari depan pintu kamar.


"Kamu berani sekali ya menyentuh saya. Pura-pura lupa dengan perjanjian?" Ketus Embun, menunjuk Tara yang masih terduduk di atas lantai mengkilap itu dengan mengelus-elus bokongnya.


Tara berdecak kesal, Dia mencoba untuk Berdiri dan berpura-pura patah tulang pinggulnya. Dia nampak kesusahan untuk bangkit.


"Yang meluk Adek siapa? Abang tidak merasa memeluk. Bukannya Adek yang memeluk-meluk Abang, bahkan Adek sudah mengelus-elus ini." Ucap Tara dengan polosnya, sambil menunjuk organ menonjol di antara selang#kangannya.


Kedua bola mata Embun membulat mendengar ucapan Tara. Dia sedang terciduk. Jelas memang Dia yang memeluk Tara dan menganggap Tara adalah gulingnya.


"Yang benar saja Aku meluk-meluk kamu, najis tahu." Celetuk Embun merendahkan Tara. Dia tidak mau kelakuannya diketahui Tara.


"Najis, najis, Tapi dari semalam juga Adek selalu meluk-meluk Abang. Punya mulut itu di filter. Jangan asbun. Kalau Abang bilang kamu najis, apa kamu senang mendengarnya. Kualat kamu jadi istri." Tegas Tara, Dia menampilkan bahasa tubuh penuh kewibawaan.


Embun terdiam, sesaat Dia menyadari sikap kasarnya. Tapi, dengan cepat Dia mencari pembelaan diri. Ya namanya juga kita benci, tentulah sikap kita jadi kasar.

__ADS_1


"Siapa juga yang mau jadi istrimu. Ingat ya, kita menikah di atas perjanjian. Pernikahan ini sandiwara. Aku tidak merasa memeluk kamu. Aku memang suka memeluk apa yang ada di dekat ku saat tidur. Jadi jangan GR kamu. Kamu itu ku anggap benda mati tahu." Jawab Embun tak mau kalah, Dia bahkan berkacak pinggang di atas ranjang.


Tara menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa kurang kerjaan berdebat dengan Embun.


"Kita sah sebagai suami istri. Syarat rukun nikah ada dan saksi mengatakan sah. Adek itu istri Abang, sampai tempo yang disepakati. Abang akan tetap menjalankan kewajiban Abang sebagai suami. Terlepas Adek tidak merasa, itu adalah pilihan Adek." Ucap Tara menatap lekat Embun.


"Sukamu lah mau ngomong apa. Yang jelas, Aku tidak mau satu ranjang denganmu. Kamu tidak boleh tidur di sini." Ucap Embun penuh penekanan. Menunjuk ranjang yang Dia duduki.


Tara tertawa, "Itu ranjang milikku. Kenapa Adek melarang Abang tidur disitu?" Tara masih saja tertawa kecil, selain menyebalkan Embun lucu juga


"Pokoknya mulai nanti malam, ini ranjang hanya milikku. Kamu cari tempat tidur sendiri." Celetuk Embun turun dari ranjang sambil melotot kepada Tara dan masuk ke kamar mandi.


"Dasar wanita labil." Ucap Tara, Dia pun keluar dari kamar, berjalan menuju ruang keluarga. Waktu shubuh sudah lewat. Dia menyesalkan kelalaiannya.


"Tara, kenapa penampilanmu acak-acakan begitu? malu tahu sama famili kita, disini masih banyak keluarga besar kita. Sana kamu mandi, terus pakai baju yang sopan." Ucap Mama Mira, menahan Tara yang baru saja turun dari tangga.


"Masak sih Ma, penampilanku acak-acakan?" tanya Tara tidak percaya.


"Iya sayang, sana kamu mandi dulu. Sekalian nanti ajakin Embun sarapan." Mama Mira mendorong tubuh Tara untuk kembali menaiki tangga.


Sesampainya di kamar, Tara melihat Embun keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan jubah. Embun menampilkan muka masam, Tara hanya tersenyum menanggapinya.


"Apa kau senyum-senyum?" hardik Embun, menantang Tara.


"Emang ada tu undang-undangnya dilarang senyum? kan gak ada. Adek juga ngakunya gak suka sama Abang. Tapi, Adek banyak cerita. Kalau Adek memang beneran benci, ya udah gak usah ambil pusing dengan sikap Abang. Mau Abang senyum, ya Adek diam saja. Mau Abang cemberut ya Adek gak usah ikutan cemberut." Jelas Tara, menaik turunkan alisnya.


Embun berdecak kesal, melewati Tara untuk mengambil baju gantinya di kopernya.


TBC


Tinggalkan jejak dengan like coment positif dan Vote.

__ADS_1


Mampir juga ke novelku Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan) buat yang belum baca. 🙏❤️


__ADS_2