
Rasa damai dan nyaman akan terasa, apabila sepasang suami istri mengutarakan kegundahan di hatinya. Dan sama-sama mencari solusi atas masalah yang datang.
Semalaman suntuk Tara dan Embun hanya bercerita sambil fitting. Mereka tidak melakukan pen"etrasi. Mereka hanya saling meraba dan mengusap-usap lembut, menyalurkan rasa cinta yang mendalam dan penu ketulusan.
Tara sangat memahami kekhawatiran istrinya itu. Jadi, untuk sementara pria itu akan mengikuti keinginan Embun. Menunda momongan sampai dia merasa siap, dengan catatan, tidak boleh menggunakan alat kontrasepsi. Tapi, mereka hanya akan menggunakan metode kalender alam atau tembak luar. Seumpama Embun hamil, maka Embun harus bisa menerima kenyataan itu. Ya begitulah kesimpulan yang didapat setelah berdiskusi sampai dini hari.
Setelah sholat subuh. Tara memilih untuk tidur lagi. Pria itu kantuk sekali, karena mereka larut malam baru tidur. Sedangkan Embun, dengan gerakan pelan berusaha menyingkirkan tangan Tara yang memeluknya erat. Dia ingin menyiapkan sarapan untuk suaminya itu. Tara yang benar-benar kantuk berat. Tidak menyadari lagi, kalau istrinya itu sudah beranjak dari ranjang mereka.
"Sayang, kenapa pagi-pagi sekali sudah datang ke dapur." Mama Mira, mertuanya Embun. Menyambut hangat kedatangannya.
Cipika-cipiki dan langsung merangkulnya. Menuntun wanita itu, untuk duduk di kursi meja makan. Mama Mira bahagia sekali, akhirnya Anak dan parumaennya itu akur.
"Iya bou, aku mau buatkan sarapan untuk Abang." Jawab Embun tersenyum lebar. Tara yang begitu mengerti dirinya, membuat kepercayaan dirinya bertambah berkali-kali lipat.
"Gak usah repot-repot sayang. Sana masuk lagi. Kalian di kamar saja. Anggap kalian sedang bulan madu." Mama Mira yang sudah tahu maksud kedatangan Embun, mengusir menantunya itu dari dapur. Embun heran dengan ibu mertuanya itu.
"Ada pembantu yang akan menyiapkan semuanya. Ayo sana ke kamar." Embun tidak mengiyakan perintah Mama Mira. Dia hanya ingin membuat sarapan untuk Tara. karena dia baru satu kali masak untuk suaminya itu.
"Bou, Embun ingin berusaha jadi istri yang baik. Melayani suami." Embun malah berjalan ke dapur kotor. Mulai menyiapkan bahan-bahan yang ingin dimasaknya. Tentu saja para pembantunya mama Mira jadi merasa segan.
"Maaf ya, kalau kehadiranku mengganggu. Aku hanya mau masak nasi goreng." Ucap Embun tersenyum lebar. Dia tahu kedatangannya ke tempat itu, membuat yang lainnya jadi sungkan. Karena, Embun baru kali ini ada di rumah itu.
"Iya Nona, kami akan membantu Nona." Dua ArT mulai membantu Embun, satunya mengambil alih pisau dari tangannya Embun.
"Tidak, aku hanya mau siapkan sendiri semuanya. Bibi, bibi, kerjakan pekerjaan kalian saja. Aku pinjam kompornya satu." Embun nyengir. Yang lainnya jadi merasa sungkan.
Sedangkan Mama Mira sekarang sibuk memotret Embun yang sedang memasak.
"Sayang, pakai celemek dulu." Mama Mira memakaikan celemek untuk Embun.
"Ayo kita berfoto." Embun yang terkejut dengan permintaan Ibu mertuanya itu
Akhirnya menurut saja. Entah sudah berapa kali rose, Embun tidak tahu lagi.
"Ok sayang, Mama tinggal ya?" Ibu mertuanya itu pun pergi dari dapur. Membawa sarapan untuk suaminya di kamar. Dia tidak berlama-lama di dapur. Dia ingin memberi Embun kenyamanan saat mengekspresikan keahlian memasaknya.
__ADS_1
"Nyonya baik banget sama menantunya. Masak menantunya disuruh berkurung di dapur. Dan dilarang memasak. Lah kita dulu, jam Lima pagi belum keluar kamar. Pintu kamar sudah digedor-gedor si ibu mertua." Keluh salah seorang ART dengan temannya.
Hahaha...
"Itu sih derita loe, punya mertua cerewet bin galak." Jawab ArT lainnya.
"Non, beruntung banget bisa jadi menantu di rumah ini." Ucap seorang ArT, yang suka kepo dan ikut campur. Embun hanya tersenyum menanggapi ucapan Art itu.
"Kalian gak tahu apa? Non Embun ini adalah parumaennya Nyonya. Jadi, seumpama Non Embun tidak menikah dengan tuan Tara. Ya Non Embun tetap dikatakan beruntung. Karena punya bou, sebaik Nyonya Mira.
"Oohh Iya ya, tuan Tara menikahi paribannya kan?"
"Iya, kamu ketinggalan informasi."
Embun hanya tersenyum menanggapi ocehan para ArT nya Mama Mira.
Selesai memasak nasi goreng, Embun menatanya di piring. Tentu saja nasi gorengnya dibentuk love.
Embun pamit pada para ART, dengan membawa nampan berisi dua piring nasi goreng, satu gelas susu hangat dan juice jeruk panas.
Dengan perasaan yang membuncah, Embun membuka pintu kamar. Dia berharap Tara menyukai kejutannya.
"Ya ampyun tidurnya nyenyak banget sih?" Ucap Embun tersenyum bahagia. Menciumi seluruh wajah tampannya Tara. Tapi, kelakuannya itu tetap tidak membuat suaminya itu terbangun. Hanya bola mata Tara yang tertutup itu yang nampak bergerak-gerak.
"Kamu koq tampan banget sih Pariban." Embun kembali menyentuh wajah tampannya Tara. Menelusuri permukaannya dengan jemari lembutnya. Pagi ini ketampanan Tara di matanya Embun bertambah beribu kali lipat. Tentu saja wanita itu menilai suaminya seperti itu. Karena, suaminya itu ternyata pria yang begitu pengertian dan tidak egois. Yang penting semuanya harus dibicarakan.
Happp...
Tara langsung menggigit jari telunjuk Embun yang sedang asyik mengusap-usap lembut, bibir kenyal pria itu. Embun terlonjak kaget, refleks menarik jarinya. Tapi, sudah ditahan mulutnya Tara.
"Berani menggoda sekarang!" Kini Tara sudah membuka kedua mata kantuknya. Menahan tangan Embun yang jari telunjuknya masih terperangkap di mulutnya. Kemudian pria itu menggenggam tangannya Embun, setelah jari telunjuk Embun lepas dari mulutnya. Tara pun mengecup jari jemari istrinya itu dengan gemes dan penuh cinta. Tentu saja perlakuan Tara itu, membuat Embun tersipu malu.
"Adek sudah buatin sarapan. Bangun yuk sayang!" Tara pun mendudukkan tubuhnya dan bersandar di headboard tempat tidur. Menarik Embun kepelukannya, menghadiahi kecupan hangat di puncak kepala istrinya itu.
"Emang adek masakin apa buat Abang?" Masih mengusap-usap lembut puncak kepala Embun yang kini hijabnya sudah terlepas. Sedangkan Embun memain-mainkan bulu-bulu menggodanya Tara yang menghiasi dada bidangnya pria itu.
__ADS_1
"Masak nasi goreng cinta." Jawabnya tersenyum lebar. Merasa lucu dengan nama yang diberikannya.
"Waahh... dari namanya saja sudah buat selera. Pantesan, kamar ini jadi bau nasi goreng." Iya dong, apalagi yang masak juga penuh dengan cinta.
Embun beranjak dari ranjang. Begitu juga dengan Tara yang masuk ke kamar mandi. Saat Tara keluar dari kamar mandi. Istrinya itu ternyata sudah pindah lokasi ke balkon. Tara pun menyusulnya.
"Waahh... pantesan namanya nasi goreng cinta. Ternyata bentuknya juga love." Tampilan nasi gorengnya Embun sungguh menggugah selera. Ada hiasan wortel dan tomat yang semakin memperindah tampilan nasi goreng itu.
"Iya, coba deh. Embun menyuapi Tara. Seketika ekspresi wajah Tara berubah menegang. Kedua bola mata membola. Disaat satu suapan nasi goreng itu, lolos ke mulutnya Tara. Embun dibuat heran, dengan ekspresi wajah suaminya itu. Apakah nasi gorengnya tidak enak.
"Gak enak ya?" tanya Embun ragu, Tara menoleh kepada Embun. Masih dengan ekspresi wajah tegang.
"Enak, enak,enak..!" Tara langsung mengubah ekspresi wajahnya dengan sumringah. Mulutnya asyik mengunyah.
"Kalau enak, kenapa tadi ekspresi wajahnya menyebalkan?" tanya Embun cemberut. Tidak merasa lucu dengan guyonannya Tara.
"Menyebalkan? masak sih? tadi itu Abang syok. Koq ada nasi goreng seenak ini. Sudah gurih, pedasnya pas. Abang suka, kalau begitu setiap hari Abang sarapannya pakai nasi goreng buatan adek deh." Menerima suapan kedua dari Embun.
"Eeeumm... gak jadi, nanti kalau adek masak, terus capek. Kan kasihan adeknya. Ya sudah, adek gak perlu memasak untuk Abang. Nanti adek capek, terus Abang minta itu, adeknya gak mau kasih, karena kecapean." Ucap Tara cengengesan. Embun menepis tangan Tara yang menunjuk bagian inti wanita itu.
"Dasar genit." Cebik Embun.
"Sama istri sendiri koq. Ya gak masalah lah." Kini Tara yang menyuapi Embun. Menyantap makanan sambil bertukar cerita dan saling menyuapi, sungguh suasana yang mendamaikan hati.
Sesekali mengganti suasana saat sarapan akan membuat makan pagi menjadi momen yang berbeda. Sambil bersantap dan menikmati damainya pagi, sejuknya udara, dan hangatnya sinar matahari.
"Setelah ini, kita bikin anak." Ucap Tara cepat.
"Apa?" Embun terkejut, dia malas keramas lagi.
"Hooh..!" Tara tertawa.
"No no... no!"
"Yes yes..!" ucap Tara tertawa lebar. Embun lun akhirnya ikut tertawa. Padahal gak lucu menurutnya.
__ADS_1
TBC.
Like coment positif ya say.❤️