DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Majikan yang baik hati


__ADS_3

Embun yang berbaring dengan membelakangi Tara, berharap dipeluk dari belakang. Tapi, sudah lama suaminya itu berbaring di sampingnya. Tara tak kunjung menyentuhnya. Embun jadi kesal sendiri.


"Biasanya juga menciumiku dengan gemesnya." Embun membatin, ekor matanya mencoba melirik Tara yang berbaring di sebelahnya. Ternyata suaminya itu tidur terlentang dengan melipat tangan di atas perutnya. Sama sekali tidak ada basa basi padanya, menyentuhnya juga tidak.


Embun merasa ada yang tidak beres. Tingkah Tara berubah. Kenapa suaminya itu tiba-tiba dingin? Biasanya juga hangat dan penuh cinta.


Praduga-praduga negatif, kini bermunculan dipikirannya Embun. Apa Tara marah padanya? tapi, karena apa? gak mungkin kan gara-gara dia tak sengaja memukul tangan suaminya yang masih sakit itu. Masak gara-gara itu Tara mendiamkannya.


Embun mulai cari perhatian, grasak-grusuk di atas ranjang. Melengkungkan badan ke kanan dan ke kiri. Menghentak-hentakkan kaki dengan kuat. Tapi, suaminya itu tetap diam, dengan posisi tetap sama. Terlentang dengan kedua tangan berada di atas perut.


Sikap Tara yang dingin semakin membuat Embun kesal. Dia berdehem, bergumam. Tapi, Tara tetap diam. Merasa tidak diopeni, akhirnya Embun berinisiatif duluan untuk menyentuh suaminya itu. Dia pun berpura-pura mengingau. Tangannya bergerak memeluk Tara. Tapi, lagi-lagi dia salah sasaran. Dia malah mencengkeram tangan Tara yang sakit. Sontak Tara bereaksi.


"Adek, tangan Abang dari tadi kenapa diganggu terus." Cara Tara yang berbicara dengan nada biasa itu, membuat Embun sedih. Biasanya juga Tara tidak pernah protes. Malah setiap kesalahannya, dimaklumi suaminya itu.


"Maaf, tidak sengaja bang!" Embun menjauhkan tubuhnya dari Tara. Suaminya itu masih tetap dalam posisinya. Hanya matanya yang menoleh kepada Embun. Melihat Embun menjauh, Tara kembali meluruskan pandangannya, kemudian pria itu memejamkan mata. Embun kembali melirik Tara yang matanya sudah terpejam itu. Wanita itu mendengus kesal. Dia pun mengubah posisinya jadi membelakangi suaminya itu.


Satu jam pun berlalu, tapi Tara tidak mengeluarkan sepatah katapun. Padahal Embun begitu berharap mereka bercumbu. Atau bercanda sebelum tidur, seperti malam-malam sebelumnya.


"Dia sudah beneran tidur gak sih?" Embun membathin, melirik Tara dengan ekor matanya. Dia tidak tahu, sebenarnya suaminya itu sudah tidur apa belum, yang jelas Tara sudah menutup matanya.


"Aku kenapa sih? kenapa jadi pingin dikelonin terus sama dia. Tapi, aku takut hamil. Iihh... ini kenapa juga berdenyut-berdenyut. Apa aku libidonya tinggi? Koq aku jadi pengen!" Embun kembali memutar posisi tubuhnya hingga kini dia bisa menatap Tara yang tidur dengan tenang. Ingin rasanya Embun memeluk tubuh kekar itu. Tapi, dia takut dan gengsi. Jangan-jangan nanti Tara sikapnya dingin, tidak menyambut dirinya. Akhirnya dia berusaha meredam gejolak nafsunya dengan menarik napas dalam dan panjang berulang kali. Kemudian bersholawat, berharap pikiran mesumnya hilang dari otaknya.

__ADS_1


***


Udara masih terasa sangat dingin, Tapi Melati sudah terbangun. Pukul 04.30 AM dia sudah bangun. Menyiapkan semua keperluannya untuk ke kampus. Setelah membersihkan diri, Melati selalu membiasakan dirinya membaca ayat suci Alquran sebelum dapat waktu sholat shubuh. Setelah sholat subuh dia akan memasak makanan untuk Ardhi.


Aneh memang, Melati bukan koki di rumah itu. Ada tukang masak di rumah itu yang jumlahnya tiga orang. Tapi, sejak Melati bekerja di rumah itu. Dia jadi ditugaskan, memasak khusus makanan Ardhi sang majikan. Karena, masakan Melati sangat cocok di lidahnya Ardhi.


Pagi ini juga Ardhi minta dimasakin soup daging. Semalam Ardhi makan dengan lahap. Sampai keringat bercucuran. Melihat majikannya makan dengan lahap begitu. Melati merasa senang sekali. Setidaknya dengan masakannya. Majikannya itu melupakan sesaat sakit hatinya.


"Apa tidak eneg makan sup di pagi buta. Biasanya juga tuan makan nasi goreng. Atau roti bakar kadang roti selai saja." Ucap Bi Kokom, saat melihat Melati menata makanan di atas meja makan.


"Iya ya Bi. Entahlah, semalam tuan mintanya sarapan dengan soup daging." Jawab Melati tersenyum. Merasa bangga masakannya disukai majikannya.


"Banyak Bi, apa nyonya dibolehkan makan soup daging? apa tidak berbahaya untuk kesehatannya?" Melati yang sudah menyiapkan sarapan Ardhi mendekati kepala pelayan itu. Bi Kokom sedang menghirup aroma gurih dan sedap dari kuah soup yang dimasak Melati dengan menggunakan sendok. Benar-benar menggiurkan.


"Bisa, tapi sedikit saja." Jawab Bi kokom, dia malah mengambil wadah tempat soup, kemudian menyendok kuahnya dan langsung masuk ke mulutnya.


"Masakanmu memang enak banget ya Mel." Senyum mengembang terlukis di wajah Melati, karena dapat pujian.


"Biasa saja Bi." Ucapnya tersenyum lebar. Dia pun menanggalkan celemeknya. Meninggalkan dapur kotor untuk memanggil majikannya untuk sarapan.


Sesampainya di depan kamar Ardhi.

__ADS_1


Tok tok tok.


Melati memegangi dadanya yang berdebar, dia masih takut bertemu majikannya itu setelah kejadian semalam sore. Entah kenapa kejadian semalam sore, membuat Melati merasa kasihan kepada majikannya itu. Setelah merasa sedikit tenang. Melati pun mengeluarkan suaranya.


"Tuan, sarapan Anda sudah siap." Suara Melati terdengar semangat dan penuh kebahagiaan. Dia harus bisa mengontrol diri. Jangan baper, melihat majikannya yang lagi patah hati itu. Dia harus menunjukkan sikap penuh semangat. Agar tersugesti kepada majikannya itu.


"Masuk!" Titah Ardhi dari dalam kamar. Melati heran, kenapa disuruh masuk ke dalam kamarnya. Biasanya juga tinggal disahut dari dalam. Tidak pernah disuruh masuk ke kamar. Kecuali jikalau majikannya itu sudah selesai sarapan dan berangkat kerja. Maka Melati akan membersihkan kamar itu sebelum berangkat ke kampus. Atau kalau dia tidak sempat membereskannya pagi-pagi. Maka dia akan membersihkan sore hari. Ardhi tidak mempermasalahkannya. Yang jelas, kalau Ardhi sudah pulang bekerja. Kamarnya harus sudah bersih, rapi dan wangi.


Melati menekan handle pintu kamar itu dengan penuh kehati-hatian. Satu tangannya, masih memegangi dadanya yang bergemuruh.


Melihat Ardhi sang majikan sedang berolah raga di balkon. Melati pun akhirnya legah. Ternyata majikannya itu, sudah beraktifitas seperti biasanya. Tapi, di jam-jam begini. Biasanya Majikannya itu sudah rapi dan wangi. Tinggal sarapan saja.


"Iya tuan, ada keperluan apa memanggil saya?" Melati menundukkan pandangan. Tidak sanggup melihat otot kaki dan lengan Ardhi yang kokoh itu. Penampilan Ardhi saat ini, ya seperti penampilan orang yang sedang berolahraga raga pada umumnya. Pakai kostum olah raga celana pendek dan kaos nya lengan pendek juga.


"Ak--ku ada laptop yang ti--dak kupakai lagi. Kamu boleh ambilnya. Aku letakkan di atas meja kerja yang warna silver." Suara Ardhi terdengar terputus-putus, karena masih berolah raga sambil bicara.


Melati mematung mendengar ucapan majikannya itu. Kedua matanya membola. Tidak percaya, majikannya itu akan memberikan sebuah laptop untuknya.


"Apa tuan? laptop, tidak usah tuan. Aku tidak punya uang untuk membayarnya."


TBC

__ADS_1


__ADS_2