DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Takut dikatakan najis


__ADS_3

Satu bulan pun telah berlalu.


Tara benar-benar mengikuti kemauan Embun. Berusaha membuka hati kepada Lolita. Walau Dia sering berperang bathin. Haruskah Dia move on dari Embun? sepertinya harus, karena Embun tidak akan pernah menoleh kepadanya. Jangankan untuk dicintai, disukai dan dihargai saja, tidak pernah dirasakannya dari istrinya itu.


"Mau ke mana?" Embun memperhatikan penampilan Tara yang sudah rapi. Saat ini mereka sedang berpapasan di depan pintu kamar. Embun baru saja pulang dari kampusnya.


"Mau ajak Lolita JJS." Jawab Tara datar, menoleh sekilas Embun yang wajahnya nampak lelah. Ya Embun sedang sibuk, karena lusa dia akan ujian sidang skripsi. Saat mempersiapkan Skripsinya, selain Lolita, Tara juga ikut membantu Embun. Makanya Dia bisa ikut sidang Senin besok.


"Ooohh,..!" hanya itu jawaban Embun. Tara pun melanjutkan langkahnya ke luar rumah.


"Tunggu....!"


Baru saja Tara hendak masuk ke dalam mobil suara keras Embun membuatnya tidak jadi menutup pintu mobilnya.


"A---kuuu mau ikut. Boleh ya?!" pinta Embun, wajahnya memelas. Tangan kanannya memegangi dadanya yang terasa sesak, karena mengejar Tara.


Tara memperhatikan keadaan Embun yang nampak tidak segar itu.


"Adek sakit?" kini Tara sudah turun dari mobilnya. Mendekati Embun yang berdiri di hadapannya.


Embun menggeleng.


"Adek sepertinya lelah, untuk apa ikut. Lagian Abang dan Lolita mau ngedate." Ucapan Tara membuat Embun terkejut, hatinya berdetak kuat dan terasa sakit mendegarnya, Entah kenapa seminggu terakhir ini, Dia tidak suka kalau Tara pergi jalan dengan Lolita.


Embun berusaha menahan kuumpulan air mata yang sudah ingin mengucur dari sudut mata indahnya. Kenapa dia jadi sedih, melihat hubungan Tara dan Lolita banyak kemajuan.


"Aku juga butuh refreshing, emangnya kalian saja yang ingin cari hiburan. Kamu enak ada kekasihmu yang perhatian samamu. Lah aku, gak ada yang perhatiin." Kali ini Embun tidak bisa lagi membendung air matanya. Dia merasa jadi manusia yang paling malang di dunia.


Dia dipaksa menikah dengan pria yang dibencinya. Dilarang komunikasi dengan kekasihnya. Itu sangat menyiksa sekali.


Tara terhenyak sekaligus merasa sedih melihat Embun menangis. Kenapa wanita dihadapannya ini egois sekali.


Sebelum memutuskan untuk dekat dengan Lolita. Tiga Minggu terakhir ini, Tara selalu mengajak Embun untuk liburan di waktu weekend. Tapi, Embun selalu menolak. Dengan alasan tidak suka jalan dengannya.


Tara tidak berhenti sampai disitu, agar Embun tidak bosan. Dia meminta Doly untuk menemani istrinya itu, kemana pun Dia mau. Ya, Embun memang senang bisa jalan dengan Doly. Karena Dia ingin tahu kehidupan Doly setelah insiden mengenaskan itu.


"Adek kenapa? bukannya Adek tidak suka jalan dengan Abang. Menganggap Abang najis, kenapa malah sekarang ingin ikut sama Abang?" ucapan Tara yang to the point' itu membuat Embun gelagapan. Dia juga bingung dan heran dengan dirinya, yang akhir-akhir ini, merasa tidak senang melihat Tara dan Lolita semakin dekat.


"Adek istirahat saja. Besok kita liburan, kalau benar Adek mau jalan dengan Abang." Tara memperhatikan wajah Embun yang kusut dengan tersenyum. Dia senang sekali, karena hari ini Embun meminta ikut jalan bareng dengannya.

__ADS_1


Embun merengut, dia tidak mungkin memaksa ikut. Itu akan sangat memalukan sekali.


"Adek mau dibelikan apa?" Tara masih menatap Embun yang kini menunduk.


"Lasagna? Adek mau dibelikan itu?" lagi-lagi Tara berbicara seperti seorang Ayah yang menawarkan berbagai macam makanan, agar sang anak tidak minta ikut.


Embun mengangkat wajahnya, kemudian mengangguk. Dia memang sangat suka sekali makanan itu.


"Emang kalian mau ke mana JJS nya?" Embun penasaran, Tara kalau ngedate ajak gebetannya ke hotel bintang lima yang mana?


"Hanya ke Metro link street." Jawab Tara dengan tersenyum.


"Ke tempat itu?" Embun terkejut, masak Tara mau jalan-jalan di tempat ramai.


"Iya, kata Lolita disitu enak. Kalian juga sering kesana kan?" Embun mengangguk.


"Ya sudah, Abang pergi dulu. Adek istirahat ya." Tara mengelus kepala Embun. Yang membuat Tara heran, Embun tidak mengelak. Tara pun masuk ke mobil. Supir langsung tancap gas.


Dengan lemas Embun berjalan ke dalam rumah. Dia merasa gundah gulana, rasanya ingin menangis sekencang-kencangnya.


"Apa aku akan menstruasi ya? kenapa melow begini?" ucapnya lirih, dia pun masuk ke kamar mandi.


Di dalam Bathup, pikirannya berkelana. Dia mengingat nasehat Doly seminggu yang lalu.


Embun pun menceritakannya dengan penuh semangat dan berkobar-kobar. Kebenciannya yang sudah berkarat kepada Tara dan kesalahpahaman, tentang Doly yang hanyut dibawa arus sungai.


Doly menasehati Embun dengan lembut, menyalahkan keputusan Embun yang mau menjodohkan Tara dengan Lolita. Nasehat-nasehat Doly bisa diterima akal sehatnya Embun. Sejak itulah, Embun merasa menyesal, telah bersikap kasar kepada Tara selama ini.


"Huffttt... untuk apa ku pusingkan. Toh Abang Tara masih bersikap baik padaku. Aku yakin, Dia tidak akan memaki-maki ku seperti yang ku lakukan padanya. Aku harus baik-baikin Dia, agar surat perjanjian itu, dibatalkan saja. Agar aku cepat bersatu dengan Mas Ardhi. Toh, Abang Tara sudah dekat dengan Lolita." Embun menghela napas dalam dan bangkit dari Bathtup. Dia merasa jauh lebih segar, setelah berendam air hangat.


Embun sudah rapi, Dia menatap pantulan dirinya di cermin.


"Kenapa ya aku merasa tidak ikhlas, jikalau Abang Tara nantinya jadian dengan Lolita. Apa benar kata Doly, bahwa aku mulai menyukainya? eeehhh.. tapi, itu tidak mungkin. Aku itu hanya mencintai Mas Ardhi. Sampai sekarang juga aku sangat mencintai dan sangat merindukannya." Embun bicara sendiri, masih menatap lekat pantulan dirinya di cermin. Dia bengong, memikirkan perjalanan hidupnya yang rumit. Ditambah, Tara akhir-akhir ini selalu muncul dibenaknya.


Ceklek....


Embun terlonjak kaget, siapa yang membuka pintu. Dia pun menoleh ke arah pintu. Dia hampir saja, melompat dari tempatnya. Karena terkejut melihat siapa yang bada di ambang pintu.


"Abang Tara...!" Embun bangkit dari duduknya, memperhatikan lekat Tara yang berjalan menghampirinya, dengan menenteng kresek warna putih.

__ADS_1


"Koq sudah pulang?" Embun tersenyum kecil, bersiap menyambut Tara, tingkahnya seperti seorang istri sungguhan yang menyambut suami tercinta.


Tara senang bukan main, keputusannya untuk cepat pulang ternyata sangat tepat. Disambut dengan hangat seperti ini, membuatnya lupa. Kalau Embun tidak akan pernah bisa dimilikinya.


"Abang kepikiran sama Adek. Tadi wajah Adek pucat. Jadi, Abang bilang sama Lolita. Kalau Adek kurang sehat. Terus kita ke sana hanya u beli ini untuk Adek." Tara menyodorkan kresek berisi lasagna.


Raut wajah Embun yang tadi sumringah, kini jadi kusut. Karena, Tara menyebut nama Lolita. Dia menyesal, karena telah mendekatkan Lolita dengan Tara.


"Ada yang salah?" selidik Tara, karena melihat perubahan ekspresi wajah Embun.


Embun menggeleng, Dia pun berjalan ke balkon, setelah menyambar sendok dan garpu di atas meja, tempat diletakkan cemilan di kamar itu. Tara mengekorinya. Setelah duduk di kursi, Embun membuka kotak Lasagna. Terlihat tampilan Lasagna sangat menggiurkan dan masih hangat.


"Lasagna pizza hut." kedua bola mata Embun berbinar-binar, dia senang sekali.


Embun pun memakannya. Tara yang merasa takut dengan Embun. Memilih berdiri dan bersandar di pembatas balkon. Dia belum tahu perasaan Embun padanya. Jadi, Tara harus menjaga jarak. Takut dimarahi dan dikatakan najis.


"Enak, enak sekali." Embun makan dengan lahap, tersenyum manis kepada Tara.


"Abang tidak mau coba, ini enak banget loh. Beda sekali dengan yang sering aku beli. Emang Abang belinya di stand yang mana?" raut wajah bahagia terpancar jelas di wajahnya Embun.


"Di tempat biasa, tempat yang sering kamu beli dengan Lolita." Jawab Tara senang.


"Oh ya, koq rasanya beda. Lebih enak ini. Dagingnya banyak, kejunya juga lebih banyak. Abang gak mau coba?" Embun menyodorkan Lasagna nya. Tara tersenyum, tidak berani mendekat kepada Embun.


"Sini Bang, coba dech enak banget. Apa karena aku sedang lapar ya, makanya jadi enak begini." Embun menggerakkan tangannya memanggil Tara, agar mendekat. Kemudian Embun menepuk kursi kosong di sebelahnya. Dengan ragu Tara mendudukkan bokongnya. Melihat Embun yang begitu menikmati Lasagna.


"Coba deh bang."


"Ohh iya, sebentar Abang ambil sendok dulu." Tara hendak bangkit.


"Gak usah, pakai sendok ini saja." Jawab Embun spontan. Tara tersenyum kecut. Dalam hati Dia berbicara. Emang boleh, tidak najis?


"Ini coba dech bang. Enak banget..!" Embun mengunyah sambil mengguman.


Tara meraih tisu, melap tangannya. Setelah itu meraih Lasagna yang isinya sudah melumer.


"Pakai sendok." Embun menghentikan tangan Tara.


"Abang gak punya sendok. Gak apa-apa pakai tangan saja."

__ADS_1


"Jangan, pakai sendok ini." Embun menyodorkan sendoknnya.


Tara ragu, "Itukan sendok Adek."


__ADS_2