DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Sah


__ADS_3

POV Embun


"SAH---!" suara para saksi terdengar menggelegar beserta doa, yang membuatku tersadar dari lamunanku. S-A-H--- kata yang terdiri dari tiga huruf itu, sudah membuat tujuan hidupku hancur berkeping-keping.


Impian untuk menikah sekali dengan pria yang ku cintai dan mencintaiku pupus sudah. Mas Ardhi, kenapa kamu mau melakukan perjanjian itu. Kenapa kalian semua mempermainkan hidupku.


Ayah dan semuanya hanya memikirkan kemauan dan perasaan mereka sendiri. Sedikitpun tidak ada yang memahami perasaanku. Tak ada yang berpihak kepadaku, semua usahaku untuk kaburpun selalu sia-sia.


Mas Ardhi-- Kenapa kamu tidak membawaku bersamamu. Ya Tuhan---- Kenapa ini terjadi? Lagi-lagi Aku menyesali semuanya, harusnya Aku ngotot lari dengan Mas Ardhi. Tidak perlu ku pikirkan perasaan Ayah, Mama, Ompung dan yang lainnya. Toh mereka tidak pernah mengerti dan memikirkan perasaanku.


Semuanya JAHAT----


Aku semakin menunduk lemah tak berdaya. Air mata bercucuran hebat membasahi pipiku, Aku tak bisa lagi membendungnya, yang sebenarnya dari tadi sudah menetes satu demi satu.


Nantulangku yang duduk di dekatku, merangkul ku. "Sayang, jangan sedih. Ini hari bahagiamu. Akhirnya kamu Menikah juga dengan Tara." Ucapnya dengan penuh kebahagiaan, sedangkan Aku yang mendengar nama Tara disebut jadi kesal dan semakin membencinya.


Membayangkannya saja, dadaku langsung sesak. Hati ini sakit, sedih, marah dan putus asa bergabung jadi satu, sehingga membuat Aku tidak tahan lagi menahan Isak tangis ini. Dan akhirnya suara tangisku pun pecah.


"Ma, Ma, Ma---ma...!" Ucapku terbata-bata, karena Aku merasa dada ini terlalu sesak dan sakit. Sehingga Aku tidak sanggup lagi untuk berkata-kata. Aku merasa susah bernafas. Tangisanku semakin keras saja dalam dekapan Nantulangku, Aku masih menunduk dalam pelukannya, karena Aku malu. Aku tahu, sikapku saat ini akan menjadi sorotan. Tapi, Aku tidak bisa menahannya lagi.


Ini sungguh menyedihkan dipaksa menikah dengan pria yang kamu benci, itu sangat menyebalkan....!


Mama bergerak ke arahku, Dia pun memelukku. Aku kembali menangis. "Ma, mama...!" ucapku menangis menyembunyikan wajahku di dalam dadanya.


"Iya sayang, kamu tenang ya..!" ucap Mama lembut sembari mengecup puncak kepalaku.


"Dek Embun, mangandungnya nanti saja. Sekarang kamu duduk di sebelah suamimu.!" terdengar suara Pak KUA jelas dan tegas. Karena saat ini, semua orang dalam ruangan ini diam membisu. Entahlah, mungkin mereka heran dengan tingkahku. (Mangandung: tradisi menangis, meratap, sambil berkata-kata/ istilah dalam adat pernikahan Tapanuli Selatan).

__ADS_1


Ku rasakan Mama mengurai pelukannya. Menuntunku berjalan dengan sedikit merangkak mendekati Tara. Aku tidak mau menatapnya, setelah Aku duduk di sebelahnya. Aku hanya menunduk, sembari melap ingusku dengan sapu tanganku, suara isakan dan tarikan ingus sesekali terdengar. Aku juga yakin, Dia tidak menatapku. Karena tidak ada pergerakan dari tubuhnya kulihat dari pandangan bawah.


"Nak, Tara kamu pakaikan maharnya dulu." Ucap Pak KUA.


"Iya Pak." Ku dengar suara Tara datar, menjawabnya. Ku lirik gerakan tangannya. Meraih gelang emas rupiah dari kotak set perhiasan di depan kami.


Tara memutar sedikit tubuhya hingga berhadapan denganku. Aku masih dalam mode diam menunduk. Tidak memberikan reaksi apapun kepadanya yang sudah memegang gelang emas rupiah yang menurutku sangat besar itu.


"Sayang, julurkan tanganmu. Nak Tara mau pasangkan mas kawinnya." Ucap Nantulangku yang ternyata sudah pindah duduk disebelahku. Dengan cepat Nantulang, mengangkat tanganku, yang dari tadi berada id atas pahaku.


"Ayo pasangkan Nak Tara." Titah Pak KUA.


Tara pun memasangkan gelang yang besar itu di tanganku. Sungguh, Aku tidak suka sekali dengan gelang model begini. Tapi, tradisi di tempat kami. Pengantin wanita yang memakai gelang emas rupiah, kalung rupiah atau Ringgit yang bertingkat, cincin rupiah dan kotuk rupiah adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi pengantin atau pun Keluarganya. (Kotuk: kancing/pengait seperti Bros).



Eeemmmm.... rasanya seperti toko emas berjalan memakainya. Belum lagi kalung yang bermainkan emas Ringgit, cincin yang sebesar koin harus menghiasi jariku yang lentik ini. Eehhmmm--- entahlah, sungguh Aku tidak menyukai ini semua. Aku lebih menyukai memakai berlian.


Setelah selesai memakaikan mas kawin yang berupa satu set perhiasan emas dengan berat 500 gram ini. Ku dengar perintah Pak KUA, memerintahku untuk mencium punggung tangan Tara yang baru selesai memakaikan Mas kawin itu.


Tentu saja titah Pak KUA itu membuatku jengkel. Aku pun terdiam, tak sudih rasanya Aku mencium punggung tangannya. Ku mengangkat kepalaku sedikit, untuk melihat tangannya yang sudah mengatung di udara untuk menyambut tanganku. Aku ragu untuk melakukannya.


"Apalagi Nak Embun, kenapa malu-malu begitu. Cepat cium tangan suaminya. Kalian sudah sah sebagai pasangan suami istri, sudah halal." Ucapan Pak KUA, membuatku semakin kesal dan malu.


Akhirnya ku meraih tangan Tara. Saat Aku menjabat tangannya, Dia terkejut seperti orang kesetrum. Tapi, Dia dengan cepat mengendalikan dirinya dan menjabat tanganku dengan erat.


Karena tingkah anehnya, akhirnya aku pun mendongak, menatapnya sehingga mata kami bertemu. Seerrr.... Aku terkejut, saat kami bersitatap. Entahlah, Sepertinya Aku ketakutan. Sehingga darahku rasanya tumpah ruah dari jantung ku.

__ADS_1


Saat mata ini menatapnya, Aku langsung menilainya. Tidak bisa ku pungkiri, Dia sangat tampan dan begitu berwibawa, sangat berbeda dengan Tara yang dulu. Tara yang gendut dan selalu jahat kepadaku.


Peci hitam bertengger di kepalanya. Tubuh kokoh dibalut Jas hitam dipadu dengan kemeja merah warna merah cabe, yang senada dengan warna kebayaku.


Setelah mempretelinya dari atas sampai bawah. Aku kembali mentapnya. Dia tersenyum manis, bibirnya berwarna merah muda. Apa Dia pakai lipstik? entahlah, sepertinya iya.


"Ayo Nak Embun, kenapa begitu lama kalian bersitatap dan berjabat tangan. Pandang-pandangannya nanti di kamar saja, saat malam pertama atau istilah orang sekarang Unboxing. Ingat durasi... Masih bayak lagi yang harus dilalui." ucap Pak KUA yang membuatku terkejut, Aku pun dengan cepat menempelkan punggung tangan Tara di keningku dengan kuat. Sehingga nampak jadi lelucon.


Tingkahku itu, jelas saja mengundang tawa dan bisik-bisik orang di ruangan ini. Merasa malu, Aku melirik Ayah yang ada dihadapanku, sedang tersenyum. Aku pun membalas senyuman Ayah dengan terpaksa. Aku masih kesal kepada Ayah.


"Sekarang, Nak Tara mencium kening Dek Embun." Titah Pak KUA. Aku yang mendengar nya jadi nervouse.


Ku tarik napas dalam, saat bibir Tara yang hangat menempel di keningku. Lagi-lagi darahku rasanya tumpah ruah dari pembuluhnya.


Seerrr...... Rasa apa ini? rasa takut dan bencikah?


Entahlah....


Rasanya acara akad nikah ini, benar-benar menguras energi.


Setelah selesai mencium keningku. Tara terseyum kepadaku. Aku hanya diam menatapnya. Dia pun kembali meletakkan tangannya di ubun-ubunku kemudian berdoa


"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih." Baru kali ini ku dengar Dia berucap dengan bahasa Arab. Bacaannya terdengar bagus dan fasih. Suaranya juga merdu.


Ternyata Tara memanfaatkan kesempatan ini. Setelah tangannya memegang ubun-ubunku. Dia kembali mencium ubun-ubun ku itu, yang ditutupi oleh hijabku.


"Terimakasih." Ucapnya pelan, yang Hanya bisa ku dengar. Untuk apa Dia berterima kasih. Dasar aneh.

__ADS_1


"Baiklah Nak Tara dan Embun, sekarang kalian tanda tangani dokumen ini." Pak KUA mendekatkan buku nikah dan dokumen lainnya kepada kami. Setelah Tara membaca sighat ta'lik dengan tegas dan penuh wibawa.


Dengan berat hati, Aku pun menandatanganinya. Berharap pernikahan palsu ini cepat berakhir.


__ADS_2