DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Istriku


__ADS_3

Pagi ini Tara dan Embun beserta keluarga besarnya Pak Baginda akan berangkat ke Lampung. Di sana sedang diadakan acara panen raya, perkebunan tebu mereka. Akhirnya Pak Baginda mah ikut juga ke acara itu. Acara puncaknya sih malam ini.


Mereka naik pesawat pribadi kesana. Di dalam pesawat, sikap Tara masih sama seperti semalam. Masih dingin, bahkan Tara jarang mengajak Embun bicara. Hanya wanita itu yang selalu banyak bicara dan Tara hanya menanggapinya seadanya saja. Sikap Tara itu mulai membuat Embun kesal. Kenapa suaminya itu jadi dingin padanya. Dia salah apa?


Saat bangun tadi pagi juga, Tara tidak mengecup keningnya atau bercanda. Malah tangan Embun yang melingkar di pinggangnya Tara, dilepaskan suaminya itu dengan pelan. Kemudian suaminya itu masuk ke kamar mandi. Embun yang masih pura-pura tidur itu, kesal bukan main. Sudah terbiasa dia dapat perlakuan mesra dari Tara, lah sekarang suaminya itu seolah tidak menginginkannya.


"Aku lapar." Embun menoleh kepada Tara yang duduk di sebelahnya. Tara nampak sibuk dengan ponselnya.


"Sebentar lagi kita akan sampai. Makan di rumah saja nanti." Jawab Tara, tanpa menoleh kepada istrinya itu. Embun menatap sedih suaminya itu. Sikap Tara sukses membuat hatinya sakit terkoyak-koyakan. Air mata sudah mendesak untuk keluar, tapi ditahannya dengan mengerjap-ngerjapkan matanya kemudian mendongak, guna menahan air mata itu tidak keluar.


Embun sudah mulai emosional atas sikap Tara. Tapi, tidak mungkin dia tumpahkan di dalam pesawat ini. Embun pun akhirnya memilih untuk diam, memalingkan wajahnya dari suaminya itu. Duduk dengan membelakangi Tara, dengan perasaan kesal bukan main. Tapi, Sesekali wanita itu, melirik suaminya berharap Tara memperhatikannya. Tapi, nihil. Tara malah tetap sibuk dengan ponselnya.


'Lihat saja, kalau minta mantap-mantap nanti. Aku gak akan kasih." Embun membathin penuh kedongkolan hati. Dia pun kembali memalingkan wajahnya dan tak sudih menatap suaminya itu dengan mulutnya ditekuk.


Perjalanan selama dua jam melalui udara itupun begitu membosankan buat Embun. Apalagi penyebabnya kalau bukan perubahan sikap suaminya itu.


Sesampainya di tempat tujuan, kedatangan Tara sudah disambut di landasan dengan karpet merah. Kali ini, Tara meraih tangan istrinya itu, menautkan jari-jemari keduanya dengan erat. Memandu Embun untuk mengikuti langkahnya ke tempat acara. Karena acara akan dibuka oleh Tara sendiri, dan puncak kemeriahan acara itu adalah malam hari.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan menuju tempat acara, Embun selalu tersenyum menampilkan ekspresi wajah penuh kebahagiaan. Ya jelas dia merasa bahagia. Suaminya itu menggenggam erat tangannya.


Pasangan suami istri duduk di tengah, tempat sudah tersedia untuk mereka.


Sedangkan orang tua Embun dan saudara lainnya juga duduk dibarisan kedua.


"Assalamualaikum warahmatullahi Wabarokatuh." Terdengar suara penuh semangat dan khidmat dari hadirin yang menjawab salamnya Tara.


"Segala puji kita panjatkan untuk Allah Swt. karena nikmat dan hidayahnya. Ia kembali mengumpulkan kita semua di sini untuk melaksanakan perayaan panen raya perkebunan tebu kita yang dilaksanakan setiap tahunnya.


"Shalawat dan salam, semoga senantiasa tercurah  kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, yang membawa dan menerangi hati nurani kita, menjadi cahaya bagi segala perbuatan mulia. Dan Insya Allah  kita semua termasuk umat Nabi Muhammad SAW hingga akhir zaman.


"Dan tak lupa salam semangat, kepada seluruh karyawan perkebunan ini. Karena berkat kerja keras dan kejujuran kalianlah sehingga perusahaan ini sukses, maju dan bersaing di kanca internasional." Tepukan riuh dari para karyawan, membuat acara penyambutan yang dibuka Tara jadi meriah dan semangat. Apalagi Tara yang berpidato di podium benar-benar membuat orang terkesima melihatnya. Senyum tulus dan rasa penghargaan yang terucap dari mulutnya Tara, membuat orang senang mendengarnya.


"Ini ni yang tak kalah penting, yaitu ucapan terima kasih ku kepada istri tercintaku Siti Embun Harahap. Aku ingin menghabiskan sisa waktu hidupku hanya bersama dirimu, karena ku tahu, ada di sampingmu adalah kebahagiaan yang besar untukku."


Huhuhuhu...

__ADS_1


Tepukan bergemuruh terdengar riuh. Wajah cantik Embun kini sudah berubah warna bak tomat matang. Merah sudah karena menahan malu, senang, bangga dan bahagia. Sebegitu cintakah suaminya itu padanya. Sehingga suaminya itu tidak malu mengatakan isi hatinya kepada khalayak ramai.


Tapi, kenapa dari semalam Tara bersikap dingin padanya. Apakah suaminya itu pandai dalam membuat pencitraan diri.


"Ayo sana sayang, naik ke panggung. Tara mau memperkenalkanmu." Mama Mira mengagetkan Embun. Dia pun menoleh ke podium, ya Tara memberikan kode dengan tangannya agar istrinya itu naik ke podium.


Embun memutar lehernya, menatap orang tuanya yang duduk di belakangnya. Mama Nur memberi semangat pada putrinya itu.


Embun pun melangkah kakinya dengan penuh kepercayaan diri. Senyum merekah selalu terpancar di wajah cantiknya Embun.


"Hari ini bukanlah hanya hari perayaan panen raya perkebunan kita. Tapi, juga untuk memperkenalkan istri saya. Wanita yang sangat saya cintai. Wanita yang untuk mendapatkan cintanya begitu susah.


"Mungkin acara ini terdengar lebay ya saudara-saudara. Tapi, saya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia saya saat ini. Karena telah bisa mempersunting wanita cantik ini." Tara merangkul Embun yang nampak malu itu. Bagaimana tidak malu. Suaminya itu curhat di depan khalayak ramai.


"Nikmati acara ini, karena banyaknya doorprice dan Grandprize yang dibuat oleh panitia.


Baiklah acara perayaan panen raya resmi dibuka." Tara mengucap salam penutup, mengetuk dua kali mikropon. Dan bertepuk tangan. Kemudian pria itu kembali merangkul Embun.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2