
Karena permainan panas yang memakan waktu dua jam itu, akhirnya keduanya memilih berbaring di atas ranjang. Setelah mereka bersih-bersih. Masih dalam keadaan tubuh polos.
"Sayang, apa kita gak pergi ke penutupan acaranya?" Ucap Embun lembut dalam dekapan Tara.
"Adek mau kesana? adek gak capek?" Tara terus saja mengusap-usap kepala istrinya itu.
"Kalau Abang capek gak?" Embun mendongak. Tara hanya menggeleng menjawab pertanyaan istrinya itu. Abang kapan capeknya sih?" Cebik Embun, merasa bangga dan kagum pada Tara yang punya stamina kuat itu.
"Abang capeknya, kalau Adek jauh dari Abang."
"Iiihh gombal." Embun memukul manja dada suaminya itu.
"Tangan Abang sudah tidak sakit lagi?" Memegang tangan Tara yang dijahit.
"Masih terasa sakit, tapi bisa Abang tahan sakitnya." Memperhatikan Embun yang menciumi tangannya yang terluka.
"Jadi kita gak pergi ke acara penutupan perayaan?"
"Adek pingin ke acara itu?"
"Gak, Adek masih ingin seperti ini." Semakin mengeratkan pelukan.
"Kalau gak mau pergi, kenapa nanya itu mulu?"
"Adek pikirnya Abang harus ada di acara itu."
"Ada Ayah disana. Jadi kalau Abang tidak ada disana. Ya tidak ada pengaruhnya. Lagian Abang jadi malas bawa adek ke acara itu. Nanti banyak mata yang lihatin adek. Abang gak suka." Embun langsung bangkit duduk dengan tubuh polosnya di sebelah Tara.
Embun terkejut dengan penuturan suaminya itu. Apa suaminya itu cemburu. Emang siapa yang lihatin dia.
"Abang cemburu?" Tara mengangguk, dia juga sudah mendudukkan tubuhnya. Meraih gundukan kenyal milik istrinya itu. Mere"masnya dengan lembut. Dan mengisapnya. Tentu saja perlakuan Tara membuat Embun ingin lebih.
"Ya namanya mereka punya mata bang. Ya digunakan untuk melihat lah." Embun tak mau kalah, kini tangannya bergerak ke bawah berusaha meraih milik suaminya itu.
Pasangan itu sama-sama tahu, apa yang mereka mau. Dengan lembut Tara membaringkan Embun. Mulai men"ciumi setiap inchi tubuh istrinya itu. Yang dimulai dari ujung kaki. Tangan Tara sibuk bergerilya, memberikan sentuhan lembut di perut dan dadanya Embun.
Tok tok tok
__ADS_1
"Tara, Embun, kalian gak makan malam sayang?" suara Mama Mira dibalik pintu kamar. Membuat keduanya menghentikan aksi panas mereka. Keduanya saling pandang, dan kemudian sama-sama menoleh ke arah pintu.
Embun langsung mendudukkan tubuhnya. Meraih selimut dan menutupi tubuh polosnya. Jantungnya berdebar kencang, merasa dipergoki, telah melakukan suatu kesalahan.
"Mama ganggu saja!" Tara berdecak frustasi.
"Tara sayang, ajak istrimu makan dulu. Ini sudah jam sepuluh malam. Nanti Embun masuk angin sayang." Ucapan Mama Mira, membuat keduanya sama-sama memegang perut. Mereka baru sadar kalau belum makan malam.
"Iya Ma, kami akan turun." Jawab Tara, kembali mendekati istrinya.
"Bang, ada Mama." Embun jadi merasa tidak enak, naf#su yang tersulut dan membara itu, sudah meredup.
"Mama sudah pergi sayang. Dia tahu koq kita lagi ngapain. Mama hanya khawatir in adek saja. Takut adem masuk angin, karena Abang pompa terus." Ucap Tara tersenyum tipis. Embun memukul manja dada suaminya itu. Dan keduanya cekikikan.
"Satu ronde lagi, baru kita turun." Tara pun langsung melanjutkan aksinya. Embun yang tadinya tidak ber#***** lagi, akhirnya ikut larut dengan sentuhan Tara. Hanya lima belas menit, permainan pun usai.
Tara membopong tubuh Embun ke kamar mandi. Menyiapkan air hangat di bathtub. Mereka pun mandi ekspres.
"Ada juga gunanya adek pakai hijab." Ucap Embun, menatap dirinya dalam pantulan cermin.
"Koq adek ngomong gitu?" Tara memeluk Embun dari belakang. Mencium gemes kepala Embun yang ditutupi oleh hijab itu.
"Itu sih alasannya cocok, kalau yang pakai hijab malas keringin rambut. Kan bisa saja rambutnya di hairdryer. Berhijab untuk muslimah itu diwajibkan oleh Allah. Lihatlah Adel kelihatan lebih cantik setelah pakai hijab. Sudah cantik, anggun lincah di ranjang lagi. Pokoknya the best deh." Tara membalik tubuh istrinya itu, sehingga mereka berhadapan. Menghadiahi kecupan lembut penuh penghayatan di keningnya Embun, yang membuat wanita itu tersipu malu.
Tara merangkul Embun keluar dari kamar. Wajah bahagia nampak jelas pada keduanya. Akhirnya kesalahan pahaman selesai juga.
"Ya Allah Tara, parumaen Mama kenapa disekap di kamar." Mama Mira langsung merangkul Embun, mengajak menantunya itu untuk makan. Tata hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Mama nya itu. Macem gak perah pengantin baru saja. Gangguin saja ibunya itu.
Tara pun mengekor langkah kedua wanita yang sangat dicintainya itu.
"Mau yang mana Maen? ini, ini?" Embun menatap tidak selera makanan yang dihidang prasmanan itu.
"Kamu itu harus makan banyak. Energimu sudah terkuras habis pasti." Ucapan Mama Mira benar-benar membuat Embun tersipu malu. Kenapa mertuanya itu bicara gamblang seperti itu. Embun melirik Tara, yang juga malu mendengar ucapan Mamanya itu.
"Bou, mau itu." Embun menunjuk steling yang berisikan Soto.
"Oohhh iya kamu mau makan yang segar-segar." Mama Mira pun hendak mengambil soto untuk Embun.
__ADS_1
"Nyonya, biar kami saja." Cegah si pelayan.
"Baiklah, buatkan tiga porsi." Ucap Mama Mira kepada pelayan. Ibu mertua super baik itu menuntun Embun untuk duduk di meja. Tentu saja Tara ikut duduk disitu.
"Ke mana rencana kalian bulan madu?" Mama Mira menatap Embun dan Tara secara bergantian. Mendapat pertanyaan seperti itu, Embun melirik Tara yang tersenyum tipis.
"Embun gak mau bulan madu Ma. Bulan madunya, katanya di rumah saja. Nanti kalau bulan madu. Habis uang, terus waktu juga terbuang sia-sia." Jawab Tara tersenyum tipis. Mama Mira tertawa mendengarnya.
"Benar itu keinginanmu sayang?" menatap Embun yang kini melotot kepada Tara. Padahal waktu itu Embun mengatakan itu, karena takut cepat hamil. Habis kata Tara kalau belum hamil, bulan madu diperpanjang.
"Gak Bou, Abang Tara pandai sekali membalikkan fakta." Jawab Embun tersenyum kecut pada Tara.
"Koq gak ngaku sih dek?"
"Sudah, sudah. Jangan berdebat lagi. Tara atur waktumu. Kalian harus bulan madu, perbanyak komunikasi agar mengenal lebih jauh antara kalian berdua." Mama Mira menutup perbincangan, karena mereka akan makan.
"Pelayan, antarkan toge kesini." Ucap Mama Mira kepada pelayan penjaga steling soto.
"Kalian berdua harus banyak makan toge." Mama Mira menaburkan toge di piring Tara dan Embun. Keduanya tak senang dengan kelakuan wanita itu.
"Ma, apaan sih? rasa sotonya jadi berubah." Protes Tara, dia merasa takaran yang dibuat si pelayan sudah pas.
"Biar cepat si Embun hamil." Mama Mira melotot kan matanya, kepada Tara.
Hati Embun terusik mendengar ucapan ibu mertuanya itu. Ternyata bukan hanya Tara yang ingin cepat dapat keturunan. Tapi Bounya juga. Embun jadi merasa bersalah, karena dirinya sempat kepikiran tidak ingin punya anak dari pernikahan mereka.
"Kenapa sayang?" Mama Mira melihat perubahan dari wajah Embun, yang tadinya ceriah kini jadi murung.
"Gak apa-apa Bou." Jawabnya sendu, mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, agar air mata yang hendak keluar itu tertahan.
"Tulang dan Nantulang mana Ma?" Tara mengalihkan topik pembicaraan. "Tulangmu sama Ayahmu. Kalau eda Nur sudah masuk ke kamar." Ujar Mama Mira.
"Cepat makannya, terus ajak Embun ke masuk ke kamar. Disini cuacanya dingin. Nanti Embun masuk angin lagi." Wanita itu bangkit dari duduknya setelah menghabiskan makanannya
Wanita itu mengecup kepala Embun dari samping.
"Jangan mau kalah dari Tara." Ibu mertuanya itu, mengedipkan sebelah matanya. Embun terpelongok, mendengar ucapan Ibu mertuanya itu. Sedangkan Tara tertawa lebar. Mamanya itu, buat malu saja.
__ADS_1
TBC