DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Merajuk


__ADS_3

Setelah Tara, keluar dari kamar mandi. Dia hendak keluar dari kamar itu. Tapi, langkah nya terhenti. Disaat ponsel Embun yang dihidupkan tadi subuh bergetar. Seperti nya ada pesan yang masuk.


Benar saja, satu pesan dari Facebook. Tara pun membukanya, ternyata pesan dari Ardhi.


Siang ini kita bertemu di tempat biasa ya dek 🙂


Membaca pesan dari Ardhi membuat darah Tara mendidih di pagi buta ini. Suhu udara yang dingin terasa panas menyengat. Apa pesan Embun kepada Ardi. kenapa tidak ada pesan Embun yang terkirim. Apakah istrinya itu menghapusnya, setelah pesan itu terkirim. Apa yang direncanakan istrinya itu. Apakah Embun mengkhianatinya?


Tara mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar itu. Dengan kesalnya dia duduk dengan tidak tenang di sofa dekat jendela kamar mereka. Ponselnya Embun sudah diletakkannya kembali ke tempat semula. Tara benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaan kesal serta kecewanya. Beraninya istrinya itu bertukar pesan dengan Ardhi.


"Iiihhh dingin sekali sayang?!" Embun menggigil, saat keluar dari kamar mandi. Senyum Pepsodent menghiasi wajah cantiknya Melati.


Melihat senyum sumringah Embun, semakin membakar rasa cemburunya pria itu. Pasti embun sesenang itu. Karena, akan bertemu diam-diam dengan sang mantan. Semalam saat bertemu, istrinya itu nampak malu-malu, diam menunduk. Ternyata ceritanya berlanjut dengan bertukar pesan. Pantas, istrinya itu menghilang tadi malam. Jangan-jangan Embun sedang telponan dengan Ardhi. Alasannya saja, bertemu Melati ke kamarnya.


"Abang kenapa? koq cemberut?" Embun hendak menghambur ke pangkuan Tara. Tapi, suaminya itu menolak keras dengan menghadang Embun dengan tangannya.

__ADS_1


"Jangan dekat, adek sholat dulu. Selesai Adek sholat, kita perlu bicara." Ucapan tegasnya Tara, membuat Embun sedikit bingung. Tapi, dia tidak mengambil pusing ucapan ketus sang suami. Embun tersenyum tipis, berjalan cepat ke ruang sholat. karena, waktu sholat hampir habis.


Setelah Embun selesai sholat, dia tidak mendapati Tara di tempat semula. Ternyata Tara sudah masuk ke ruang gym.


"Waaawwhhh.... suamiku kekar bener..!" Embun menampilkan ekspresi wajah sumringah di sebelah Tara yang sedang push up. Seketika senyum nya Embun menciut. karena, Tara menampilkan ekspresi wajah datar dan dingin.


Dia kenapa sih? dari tadi muka nya masam. Walau masam, tapi koq tambah ganteng sih? Embun membathin, dia menjauhi Tara. Berjalan cepat ke ruang ganti. "Kita lihat saja, sampai kapan dia bisa bersikap dingin begitu." Embun bermonolog. Mengganti pakaiannya dengan kostum gym yang sangat menggoda. Dimana kostum itu menampakkan bagian perut rampingnya Embun yang mulus dan putih itu.


Embun mondar-mandir di hadapan Tara, dengan kostum gym yang menggoda. Tentu saja konsentrasi Tara jadi buyar. Matanha bergerak ke arah Embun melangkah.


"Meski lebih terfokus pada tubuh bagian atas, push-up juga dapat memperkuat bagian tubuh lainnya, seperti otot perut, dada, punggung, dan tungkai." Embun memegang satu persatu bagian tubuh yang disebutkan. Tentu saja, mata Tara membelalak, saat Embun memegang dadanya sendiri. Dada kembar Embun semakin montok saja.


Tara sudah terpancing dengan kelakuan Embun yang menggodanya. Tapi, rasa kesal di hati, masih menguasai. Ego masih bermain tinggi. Melihat sikap cuek dan dinginnya Tara. Membuat Embun kesal. Dia pun akhirnya naik ke atas punggung nya Tara. Mendudukkan bokongnya di punggung bidangnya Tara.


"Adek apaan sih? turun, turun, TURUNNN....!" Tara kesal bukan main. Dia bangkit dengan gerakan cepat. Embun jadi terjungkal ke belakang. karena, tidak menyangka suaminya itu, akan menjatuhkannya dengan kasar seperti itu. Bahkan kepala Embun terbentur ke lantai.

__ADS_1


Embun langsung mendudukkan tubuhnya,


yang sempat terlentang di lantai. Mata indahnya Embun langsung berkabut. Sikap Tara padanya sangat kasar. Embun melap air matanya dengan cepat. Dia masih menunduk penuh kekecewaan. Dia tidak menyangka Tara tega menjatuhkan nya. Dia benci Tara, ini kah sifat aslinya suaminya itu.


Dengan perasaan bersalah, Tara mendekati Embun yang masih terduduk lemah dengan suara tangisnya yang terdengar menyedihkan.


"Adek sih main naik ke punggung Abang, tanpa aba-aba dulu. Kan Adek jadinya terjatuh." Embun menepis kasar tangan Tara yang ingin membantunya bangkit. Dia membuang wajahnya, tidak sudih menatap Tara.


Tara jongkok di hadapan sang isteri, dengan menampilkan ekspresi wajah penuh penyesalan. "Mana yang sakit dek? maaf ya Abang tidak sengaja." Tangan Tara menjulur ingin menyentuh wajah sang isteri. Tapi, lagi-lagi Embun menepis tangan nya Tara.


Perlakuan Tara begitu menyakitkan. Embun melotot kan matanya, wajahnya merah padam, menahan amarah. Embun berdecak kesal, berlari dengan sesenggukan meninggalkan ruangan itu.


TBC.


Like, coment positif dan vote say🤩

__ADS_1


__ADS_2