DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Siasat Ibu Jerniati


__ADS_3

Ilham saat ini sedang menemani Melati di ruang rawat inapnya Melati. Setelah diperiksa, ternyata wanita itu tidak mengalami luka serius. Hanya lengan yang keseleo persendian bahu, serta memar di lutut dan bagian wajah, terutama kening dan bibir.


"Ceritakan pada Abang, apa yang terjadi? kenapa kamu keluyuran malam-malam?" Ilham sungguh penasaran dengan apa yang dialami wanita yang dicintainya itu. Saat ini Melati sudah sadar, tapi wanita itu hanya diam seribu bahasa. Hanya, air mata terus saja mengalir dari sudut matanya.


"Dek, apa kamu ada masalah serius? cerita sama Abang!" Lagi-lagi Ilham mendesak, agar Melati mau bicara. Dia sungguh khawatir pada wanita itu. Kemarin wanita ini masih ceria, saat dia mengutarakan isi hatinya.


Melati tidak menjawab pertanyaan Ilham. Dia tidak sanggup untuk menceritakannya. Dia tidak mau orang mengucilkannya. Ilham juga, akan pergi darinya, jika dia bercerita.


"Semalaman Abang kepikiran kamu terus. Abang gak bisa tidur. Abang telponin kamu, gak diangkat." Mendengar ucapan Ilham, air mata Melati semakin deras saja keluar. Dia tidak menyangka pria itu merasakan penderitaannya.


Kenapa hidupnya tidak adil. Disaat dia mendapatkan seorang pria yang tulus, tapi dia tidak bisa bersama pria itu. Tidak mungkin dia menerima cintanya Ilham. Dia wanita kotor, tidak pantas untuk pria baik seperti Ilham.


Kali ini Melati tidak bisa menahan untuk tidak menangis histeris. Dia benci hidupnya, kenapa dia harus dinodai oleh sang majikan. Hidupnya telah hancur.


"Dek, jangan menangis. Maaf kalau ucapan Abang buat Adek sedih. Abang hanya ingin tahu saja, apa alasannya adek keluyuran di tengah malam, bahkan sudah dekat waktu subuh. Syukur yang nolongin Adek orang baik." Ilham yang duduk di kursi plastik, disebelah wanita itu. Hanya bisa menatap Melati, dia tidak mungkin menyentuh wanita yang lagi menangis tersedu-sedu itu. Melati pasti menepisnya.


"Siapa yang menolongku Bang?" suara Melati masih serak. Dia penasaran juga dengan orang yang menolongnya.


"Pak Tara dan istrinya. Tapi, beliau sudah pulang." Jawab Ilham lembut.


"Di mana mereka Bang. Aku ingin berterima kasih." Melati menyoroti ruangan itu. Dia di rawat di ruang kelas VVIP.


"Beliau sudah pulang. Katanya akan datang lagi, nanti siang." Jawab Ilham, tersenyum pada Melati yang sudah mau bicara.


Ngung....ngung...ngung...

__ADS_1


Ponselnya Melati berdering di dalam tas nya. Ilham menoleh kepada Melati. Seolah memberi tahu ponselnya ada yang menghubungi.


"Abang izin, ambilkan ponsel adek ya?!" Melati mengangguk lemah. Ilham pun bangkit dari duduknya. Meraih tas ranselnya Melati, yang terletak di atas sofa. Saat itu juga tatapan Melati tak pernah lepas dari Ilham. Nasib dia buruk, tidak bisa memiliki pria yang ada di hadapannya.


"No baru dek, gak ada namanya." Ilham mendekati Melati.


"Coba angkat bang!" jawabnya lemah.


"Iya, Abang speaker kan." Ilham pun menggeser icon hijau. Suara marah-marah langsung terdengar.


"Hei wanita gatal, cepat angkut semua barang-barang mu dari rumah ini. Kalau kamu tidak datang saru jam lagi. Maka semua pakaian dan berkas-berkas mu akan saya bakar." Belum dijawab Ilham, panggilan pun terputus.


Dug


Dug


Dug


Melati tahu, Nyonya besar itu sengaja memancingnya. Agar menjumpainya, dia tahu maksud dan tujuan nyonya besar itu. Kalau dia datang ke rumah itu, tentu dia akan dilenyapkan atau dimasukkan ke penjara.


"Apa yang terjadi? coba cerita dek!" Ilham kembali mendekati Melati, ponsel wanita itu, masih di tangannya.


Melati malah menangis kencang. Tidak mungkin dia menceritakan semuanya.


"Adek kenapa? cerita lah dek, kalau adek, ada masalah. Abang Akan bantu kamu." Ilham akhirnya memberanikan meraih tangan Melati. Setelah pria itu meletakkan ponselnya Melati, di atas nakas sebelah bed nya Melati. Melati yang merasa dirinya kotor menepis tangannya Ilham.

__ADS_1


"Kamu diusir?" Ilham memperhatikan lekat wajah Melati yang kini mengangguk itu. Melati harus mengiyakan asumsi pria itu.


"Koq bisa? bukannya kamu baru diberi pekerjaan baru?" Ilham jadi bingung. Baru juga semalam wanita ini begitu bahagianya.


"A--ku di usir nyonya besar Bang." jawabnya dengan berderai air mata. Kejadian di ruang kerjanya Ardhi melintas di otak nya. Kekejaman Ibu Jerniati, membuat hatinya sakit.


"Terus..?" desak Ilham.


"Makanya aku melarikan diri, rencananya ke kost an si Butet." Jelas Melati, sedikit berbohong, padahal dia tidak ada niat ke kost an si Butet. Memang jalan yang dilalui Melati, mengarah ke kost an si Butet.


"Koq bisa, padahal Anaknya, siapa itu namanya?" Ilham tidak tahu nama majikannya Melati.


Lagi-lagi Air mata kembali keluar deras dari mata sembab itu. Melati tidak bisa menahan emosinya, apabila mengingat Ardhi. Cara pria itu merenggut kesuciannya, sangat lah mengerikan. Bahkan bagian intinya Melati masih sakit.


"Entah siapa lah namanya, itu tidak penting. Tapi Abang heran saja, kenapa kamu malah diusir."


"Gak tahu!" jawab Melati cepat. Membuang wajah.


Dert dert dert


Ponsel Melati yang sudah diletakkan Ilham di atas nakas Kembali berbunyi, tapi kali ini SMS yang masuk.


Cepat jemput barang-barangmu ini.


TBC

__ADS_1


__ADS_2