
"Apa orang mencret bisa makan buah pepaya?" Ardhi bermonolog, sambil langkah nya terus bergerak menuju kamarnya Melati.
Sesampainya di depan kamar Melati. Ardhi merasa ragu untuk masuk ke dalam. Apa gak terlalu berlebihan, dirinya mengurusi pembantu. Bawa makanan segala lagi.
Ardhi akhirnya mondar-mandir di depan kamarnya Melati. Merasa gengsi untuk masuk ke dalam. Tapi, entah kenapa dia ingin bertemu dengan wanita itu.
Terkadang ada niatnya Ardhi untuk bercerita tentang wajahnya Melati yang mirip dengan Ibu angkatannya, yaitu istri pak Zainuddin. Tapi, lagi-lagi pria itu ragu untuk membahas itu, lagian di dunia ini, kemungkinan orang mirip itu Sani besar.
"Tuan," Melati yang membuka pintu terkejut melihat Ardhi yang mondar-mandir di depan kamarnya dengan tangannya membawa piring berisi pepaya.
Ternyata Ardhi tak kalah kaget dari Melati, pria itu pun refleks dia memegangi dadanya yang masih berdebar kencang itu."Ini untukmu!" Ardhi menyodorkan piring yang berisikan potongan pepaya. Ardhi benar-benar jadi salah tingkah, karena merasa terpergok.
"Pepaya?" Melati tak kalah herannya dengan apa yang diberikan majikannya itu. Dia kan lagi mencret, kenapa malah memberi pepaya. Apa maksud dari tuannya itu.
Melati meraih piring berisikan potongan pepaya itu.
"Kamu kan lagi sakit, makan buah sangat bagus untuk kesehatanmu. Banyak vitamin dan mineralnya." Ucap Ardhi dengan penuh kepercayaan diri, Sebagai pembantu Melati hanya nurut.
"Baiklah, cepat sembuh." Ardhi langsung melangkah kan kakinya selebar-lebarnya. Dia jadi merasa malu dan salah tingkah kepada Melati.
"Aku kenapa sih?" Ardhi menoyor kepala sendiri, sambil berjalan menuju kamarnya.
Masih dalam keadaan bingung, Melati berdiri sembari menatap tuannya itu, hingga hilang dari pandangan mata. Kemudian wanita itu menatap buah pepaya itu dengan herannya. Dia memang sangat menyukai buah itu. Tapi kan dia lagi mencret, mana bagus makan buah pepaya untuk pencernaan nya.
Dulu sewaktu di kampung. Dia sangat menyukai buah pepaya. Pohonnya banyak di kebun mereka.
Melati berjalan lemah ke dapur kotor. Tangannya masih memegang piring yang berisikan pepaya itu.
"Loh Mel, koq pepaya itu ada samamu?" tanya Bi Kom heran. Memperhatikan pepaya yang dipotong-potongnya tadi.
Melati meletakkannya di atas meja. "Iya Bi, disuruh tuan, diantarkan ke dapur." Jawabnya bohong, dia juga heran kenapa tuannya itu memberikan dia pepaya.
__ADS_1
"Oh, kamu sudah kuat berjalan?" BI Kom memperhatikan Melati yang berdiri di sebelahnya.
"iya Bi, dipaksain agar kakinya gak kebas mulu." Jawabannya mengambil gelas dan menuangkan air minum.
"Mel, setrikaan kita sudah menumpuk. Kamu cepat sembuh dong!" ujar Yanti yang sedang membantu Bi Kom masak, dengan Rudi juga
"Iya yan!" jawabnya pendek
Kemudian matanya kembali tertuju kepada Buah pepaya.
"Perut kamu belum sembuh total itu. Jangan makan pepaya dulu. Makan salak atau pisang barangan saja. " ujar Bi Kom.
"Iya Bi" Melati pun melihat ada salak pondo di atas meja. Dia pun mengambilnya, mengupas salak itu. Salak pondo yang biasanya selalu manis dan bertekstur renyah itu. Kini terasa pahit di lidahnya. Tidak enak sama sekali.
"Pahit," Ucapnya keceplosan.
"Pahit?" tanya Rudi bingung Kapan pula salak pondo rasanya pahit.
"Itu indera perasa mu masih belum sembuh. Makanya kamu merasa makanan semua pahit.
Ardhi yang tidak tenang di dalam kamarnya, kini kembali keluar dari kamar itu. Dia ingin memastikan Melati memakan pepaya yang diberikannya.
Dia kembali melintas di kamarnya Melati. Ternyata kamar Melati tertutup. Dia pun memberikan diri membukanya. Menekan handle pintu itu dengan kuat.
Saat pintu terbuka, dia tidak melihat Melati di kamar itu. Dia pun memeriksa ke kamar mandi. Tapi, wanita itu tak di tempat itu.
"Ke mana dia?" Ardhi menutup pintu, dan berjalan ke arah dapur kotor, setelah pria itu mendengar ucapan Bi Kom dan Melati di dapur.
"Tuan?" Rudi menyapa Ardhi. Melihat tuannya datang ke tempat itu. Dia heran, kenapa tuannya itu dari tadi mondar mandir di dapur rumah ini.
"Lanjutkan saja kegiatan kalian. Aku hanya ingin supervisi kalian." Jawab Ardhi tegas.
__ADS_1
"Supervisi?!" jawab mereka serentak. Kenapa mereka harus di supervisi. Bukannya itu berlaku untuk di sekolahan.
"Koq kaget? Aku hanya ingin melihat cara kerja kalian. Kalau kurang pas, ya biar aku arahin. Kalau sudah pas, maka akan saya beri reward.
"Ya ampun tuan baik sekali. Kita akan diberi reward." Yanti heboh.
"Ini pasti karena tuan akan menikah kan?" Yanti masih saja bicara sok tahu.
Ardhi diam tidak menjawab pertanyaan Yanti. Pria itu malah menatap Melati yang duduk di dekat kompor. Mengaduk masakan bi Kom.
"Bi, kalau orang mencret bagusnya makanan nya apa?" tanya Ardhi tanpa sadar. Kini dia sudah kepo dengan Melati.
",Bubur tuan!" jawabnya sopan.
"Kalau begitu masakkan bubur untuk Melati. Dia harus cepat sembuh. Kamarku ingin dibersihkan oleh dia.
"Aku tadi sudah membersihkan nya tuan." Rina, pembantu satu lagi melaporkan pekerjaannya. Dia takut Bi kom memarahinya.
"Iya, tapi kan kalau Melati sembuh dia bisa kembali bertugas." Ujar Ardhi.
Kini para ART, saling pandang. Merasa tidak nyaman bekerja di pelototin sang majikan.
Apalagi Melati, merasa tidak nyaman sekali. Karena Ardhi selalu menatapnya.
Melati merasa tidak sanggup lagi bekerja, tapi tadi kata sang majikan sedang melakukan penilaian kinerja. Dia pun menahankan sakit sekujur tubuhnya. Padahal tadi sudah sedikit baikan. Tapi, kenapa sekarang semakin sakit.
Melati yang masih terus mengaduk masakan bersantan itu. Yang pada akhirnya tidak tahan lagi. Keringat sebiji jagung mulai muncul di pori-pori kulitnya , terutama di bagian kening dan pelipis. Padahal dia tadinya hanya berniat sebentar ke dapur. Hanya ingin meregangkan otot-ototnya. Tapi dia jadi terjebak. Karena Ardhi sedang melakukan supervisi katanya. Dia takut, dikatakan tidak layak bekerja dan dipecat.
"Tuan, kata Nyonya anda akan menikah. Kami turut senang mendengar kabar itu tuan." Ujar Yanti kembali yang sok akrab, padahal tadi dia sudah menyinggungnya, karena tidak digubris ardhi. Dia kembali mengungkit nya. Dia tidak tahu. Ardhi kesal kalau ingat pernikahan itu.
Ardhi tidak menggubris ucapan Yanti. Kini Ardhi melihat Melati dengan penuh keheranan. Wanita itu menundukkan kepalanya dengan bahasa tubuh lemah. Itu jelas terlihat dari gerakan tangannya yang tak bertenaga saat mengaduk masakan dalam panci.
__ADS_1
Benar saja firasat Ardhi. Melati mulai lemah. Wanita itu ambruk di lantai. Spatula yang dipegangnya terjatuh. Syukur kuah kacang yang di aduk-aduk nya tidak tumpah.
"Melati..!" Ardhi bangkit dari tempat duduknya dengan tergesa-gesa. Berlari ke arah Melati yang sudah tergeletak di lantai.