DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Outher


__ADS_3

Tara tersenyum kepada Embun yang sedang melototinya. Kemudian Tara melangkahkan kakinya ke meja belajar Embun yang tidak jauh dari tempat tidur Embun. Tara mendudukkan bokongnya di kursi meja belajar tersebut.


Apa sih maksudnya Dia, jelas-jelas Aku tidak suka Dia disini. Malah duduk santai Dia disitu. Dasar dari kecil sampai sekarang nyebelin banget.


Embun membuang wajahnya disaat Tara memergoki Embun, memperhatikan Tara yang duduk di kursi meja belajarnya. Tara pun tersenyum dalam hati.


Tara menyoroti kamar Embun, yang catnya bernuansa pink dan hijau itu. Interior kamar Embun sangat banyak berubah, sejak terakhir kali Tara masuk ke kamar Embun, sekitar 12 tahun yang lalu. Saat Tara masih sering datang ke rumah Paribannya ini. Waktu itu Embun belum membenci dan menyumpahi Tara.


Sesaat mata Tara terhenti ke gantungan pakaian yang ada di kamar Embun tersebut. Dia melihat benda yang sepertinya pernah dilihatnya. Tara memperhatikannya dengan seksama, dengan penasarannya.


Dia pun beranjak dari tempat duduknya, berjalan pelan menuju gantungan serbaguna itu. Embun yang melihat Tara berjalan ke arah gantungan pakaian dan tas nya itu, awalnya menanggapinya biasa saja. Hingga Dia pun tersadar, bahwa digantung serbaguna itu, ada outher dan tas ranselnya tergantung. Outher tas ransel itu adalah benda yang dipakai Embun saat melarikan diri.


"Aduuhhh... gimana ini, kenapa si Tara bergerak menuju gantungan serbaguna itu. Apa Dia mengenali outher dan tas ransel yang tergantung disitu?" gumam Embun dalam hati. Saat ini perasaannya jadi tidak tenang. Dia tidak mau kalau Tara mengetahui fakta sebenarnya bahwa Dialah yang memeluk-meluknya Tara di Bandara.


"Kamu mau kemana? berhenti." Ucap Embun teriak. Ya begitulah Embun, jikalau panik maka Dia akan mengeluarkan suara melengkingnya yang bisa membuat pendengaran terganggu.


Tara memberhentikan langkahnya, Karena terkejut mendengar teriakan Embun. Dia menggosok-gosok kupingnya yang berdengung itu dengan tangannya.


Astaga wanita ini dari kecil sampai sekarang masih suka teriak-teriak. Ku pikir Dia sudah banyak berubah. Ternyata hanya pertumbuhan tubuhnya saja yang berubah. Kalau kelakuan masih sama.


"Kamu jangan banyak pergerakan di kamar ini. Kalau masih mau di ruangan ini, duduk saja yang manis disitu." Ucap Embun dengan mata melotot dan dengan debaran jantung yang lebih cepat. Embun sangat takut, jikalau Tara menginterogasinya mengenai outher dan tas yang tergantung Di gantungan serbaguna itu. Embun yakin, Tara pasti mengenali outher yang dipakainya. Karena saat outhernya tersangkut di kancing jacket Tara. Tara sendiri yang melepasnya.


Tara terdiam mendengar ucapan Embun yang kasar itu.

__ADS_1


"Saa.." Ucapan Tara terhenti disaat Mama Nur yang sudah hendak berangkat masuk lagi ke kamar Embun. Karena mendengar suara Embun yang melengking.


Embun dan Tara sama-sama menoleh ke arah pintu, di mana Mama Nur sudah berdiri di ambang pintu dengan menentang tas mewahnya yang terbuat dari kulit biawak itu.


"Kami apa-apaan sih Embun? teriak sampai menggemparkan bangunan rumah ini. Apa kamu tidak bisa bicara lebih pelan dan lembut lagi." Mama Nur nampak sangat marah sekaligus kecewa kepada putrinya itu. Dia pun berjalan dengan cepat ke arah Embun yang masih berbaring di atas tempat tidur.


"Sikap mu ini tidak menggambarkan kamu seorang yang berpendidikan. Apa kamu tidak malu kepada Tara." Ucap Mama Nur dengan menggelengkan kepalanya.


Tara tercengang melihat calon ibu mertuanya itu yang dengan tegas memarahi putrinya. Tara berfikir, Embun didik dengan manja, sehingga sikapnya tidak berubah dan masih seperti anak-anak. Tara tidak tahu, Embun seperti itu, hanya kepadanya.


Embun yang direpeti Mamanya dihadapan Tara menjadi sedih. Dia malu sekaligus kesal. Jelas sudah sekarang kedua mata Embun sudah berkaca-kaca. Sepertinya hujan lokal akan turun deras.


Sebelum Tara melihat putrinya itu menangis, Mama Nur dengan cepat mengajak Tara kekuar dari kamar itu.


"Kenapa kalian kejam kepadaku. Aku benci kalian semua. Mas Ardi, tolong Aku. Mas Ardi.....!" Embun menangis dengan histerisnya. Sungguh Dia merasa hidupnya telah hancur.


🌻🌻


Mama Nur dan Tara kini sedang berada di dalam mobil menuju perkebunan mereka yang terbakar. Akhirnya Mama Nur mengajak calon menantunya itu untuk memantau perkebunan itu. Toh setelah menikah, nanti Tara juga yang akan mengelolah sebagian perkebunan itu.


Tara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Bere Tara, kamu harus bisa memaklumi Embun ya. Dia seperti itu karena Dia syok, tiba-tiba dimintai untuk menikah." Ucap Mama Nur apa adanya, Dia tidak tahu ucapannya itu membaut Tara curiga, sepertinya ada sesuatu yang tidak beres.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Nantulang. Asalkan jangan ada, alasan lain yang membuat Embun, seolah tidak senang dengan pernikahan ini." Tara melirik ke arah Nantulangnya itu yang kini duduk di sebelah nya.


"Maksud Nak Tara apa?" tanya Mama Nur dengan sedikit penasaran dan cemas. Itu sangat jelas terlihat dari ekspresi wajah Mama Nur.


"Maksudku, Jangan-jangan Embun sudah punya pacar Nantulang, sehingga Dia tidak setuju dengan pernikahan ini." Ucap Tara menduga-duga dan dengan hati-hatinya.


Mama Nur yang mendengar ucapan Tara, dibuat bingung dan sedikit panik. Tidak mungkin Dia mengiyakan tuduhan Tata itu.


Mama Nur nampak menghela nafas dalam, guna menenangkan dirinya, agar jangan salah menjawab ucapan Tara.


"Embun itu tidak diperbolehkan Tulang mu untuk pacaran. Dia dijaga ketat. Jadi, mana mungkin Dia punya pacar." Ucap Mama Nur, Dia kemudian membuang pandangannya keluar jendela Dia tidak mau lagi, Tara banyak bertanya.


"Syukurlah Nantulang, Aku tidak ingin membuat Embun menderita dengan pernikahan ini. Kalau Dia merasa dipaksa. Aku sangat sayang kepadanya. Dan jelas sangat ingin memilikinya. Aku ingin membuatnya bahagia. Tapi, kalau dengan pernikahan ini Dia menderita. Ada baiknya, pernikahan ini dibatalkan saja Nantulang. Toh, jikalau pun kami tidak menikah kita tetap saudara." Ucap Tara dengan lembut dan penuh penghayatan. Dia masih fokus menyetir, tapi mulutnya mengeluarkan kata-kata yang membuat Nantulangnya itu, begitu tersentuh dengan cara berfikir calon menantunya itu.


Inilah alasan Mama Nur tetap ingin putrinya itu menikah dengan Tara. Karena sikap Tara yang baik dan dewasa ini yang sangat disukai Mama Nur.


"Kamu jangan berfikiran yang tidak-tidak untuk membatalkan pernikahan ini. 90 persen persiapan sudah rampung. Undangan pun sudah mulai disebar semalam, setelah Maratahi. Jangan buat keputusan yang menggemparkan dengan membatalkannya. Soal Embun, lambat laun juga Dia pasti akan menyukaimu lagi. Tapi, kamu harus sabar. Secara kan kalian sudah belasan tahun tidak komunikasi." Ucap Mama Nur mengelus lengan Tara yang masih menyetir itu.


Tak terasa mereka pun Sampai di perkebunan yang terbakar.


TBC


Mohon beri like coment positif dan Vote ya kak.🙏

__ADS_1


__ADS_2