I Am No King

I Am No King
Chapter 95 – Penolakan


__ADS_3

Nerva memulai ceritanya. Ini semua dimulai sekitar enam bulan lalu, ketika berita mengenai Emir menjadi rakyat jelata dan mulai tinggal satu rumah denganku mulai beredar. Media menyebutnya sebagai "reverse cinderella".


 


Diluar, tidak tampak ada perubahan pada Illuvia. Dia masih kuliah, sesekali menelepon keluarga atau teman SMA, bermain bersama teman kuliah, dan sebagainya. Namun, sebenarnya, Illuvia mengalami depresi berat. Hanya Nerva, yang tinggal satu apartemen sebagai pelayannya, yang tahu.


 


Ketika di apartemen, Illuvia terlihat sering melamun, atau tiduran di atas kasur tanpa melakukan apa pun hingga berjam-jam. Selama itu, pandangannya pun kosong. Terkadang, dia memanggil namaku.


 


Nerva, yang sejak muda ditugasi untuk menjadi pelayan pribadi Illuvia, menjadi khawatir. Dia sempat berpikir untuk menghubungiku, tapi dilarang oleh Illuvia.


 


Tiba-tiba saja, suatu ketika, sebuah paket datang ke apartemen mereka. Ketika paket itu tiba, Illuvia tampak senang. Nerva memperkirakan paket itu adalah barang belanjaan Illuvia. Nerva sempat terkejut ketika melihat isi paket itu, topeng dan jubah. Di saat itu, tiba-tiba saja, Illuvia mengatakan ingin menjadi sosok bernama Sarru dan merasakan dunia pasar gelap.


 


Nerva juga sempat berkecimpung di pasar gelap, tapi dia sudah lama pensiun. Di lain pihak, Suami Nerva yang juga adalah pelayan di keluarga Nerras, masih cukup aktif di pasar gelap. Dia meminta suaminya mengumpulkan informasi mengenai sosok bernama Sarru.


 


Di saat itu, Nerva mendapati Sarru, dan partnernya Kinum, adalah satu dari beberapa sosok paling berbahaya dan ditakuti di pasar gelap. Kalau mereka turun sebagai sosok paling ditakuti, orang-orang tidak akan macam-macam.


 


Dan, di saat itu, sebuah sosok misterius, yang mengenakan masker bandana dan hoodie menemui mereka. Sosok itu mendikte apa yang harus mereka lakukan untuk bisa menggantikan sosok Sarru dan Kinum palsu ini. Dan, langkah pertama, adalah mendeklarasikan kemunculan mereka pada kerajaan, yang kebetulan sedang menyebarkan rumor kalau Bana'an dan Mariander sedang berperang.


 


Di saat itu, Nerva pun menyerang Emir dan yang lain ketika mereka latihan, ketika aku berada di Mariander. Setelah itu, mereka mulai aktif di pasar gelap sebagai Sarru dan Kinum. Sederhananya, mereka hanya bermain-main seperti jual beli senjata, bertarung dengan organisasi lain, dan lain sebagainya.


 


Nerva sama sekali tidak menduga kalau Agade yang asli, beserta Sarru dan Kinum, akan muncul karena merasa terganggu. Dia mengira Sarru, Kinum, dan Agade telah tewas dan hancur.


 


Di sini, aku juga mencari informasi mengenai senjata yang digunakan oleh Illuvia. Karena Illuvia berusaha meniru Sarru, yang adalah aku, dia pun membawa peti di punggungnya yang berisi belasan senjata.


 


Dari banyak peniru Sarru, hanya Illuvia yang bisa meniru dengan baik karena dia memiliki teknik untuk menghilangkan pengendalian lain. Rumor menyatakan, Sarru memiliki suatu alat yang membuat dia dan orang sekitar tidak bisa menggunakan pengendalian. Dan, ironisnya, yang mengajarkan teknik itu pada Illuvia adalah aku.


 


Semasa SMA, pertengkaran antar siswa sering terjadi. Tidak jarang juga siswa menggunakan pengendalian mereka dalam perkelahian. Sebagai Ketua Badan Eksekutif, dia harus bisa melerai pertengkaran yang terjadi.


 


Karena dia mahir memainkan musik dan bisa menyetel alat musik, aku memberinya arahan agar dia membuat semacam garpu tala dari kuarsa. Garpu tala ini harus digetarkan dengan frekuensi tertentu, membuat benda dalam radius tertentu tidak dapat dikendalikan karena menyerap getaran itu.


 


Konsepnya aku kembangkan dari buku, tentu saja. Padahal, saat itu aku hanya coba-coba, tidak kusangka Illuvia akan berhasil melakukannya. Namun, aku sama sekali tidak menduga kalau dia akan menggunakannya sekarang, apalagi untuk meniruku.


 


"Lalu, apa yang membuat dia betah di pasar gelap?"


 


Nerva tidak langsung menjawab. Dia agak ragu, tapi aku terus mendesak. Akhirnya, dia pun menurut.


 


"Nona merasa, ketika berada di pasar gelap bisa melupakan semua kewajibannya sebagai bangsawan. Di pasar gelap, nona merasa bebas. Bahkan, nona sempat berencana untuk mengumpulkan uang dan keberanian agar bisa meninggalkan status bangsawan dan menjadi istrimu."


 


"Apa dia lupa kalau aku sudah memiliki calon istri? Dan, bukan hanya satu, tapi dua."


 


"Nona tidak masalah walaupun hanya menjadi nomor tiga atau nomor empat. Selama bisa bersama denganmu, dia berpikir sudah cukup."


 


Itu bukanlah jawaban yang kuinginkan. Sama sekali bukan jawaban yang kuinginkan. Kalau begini, semua yang kulakukan selama beberapa bulan ini akan menjadi sia-sia.


 


Dalam waktu beberapa bulan, aku terkadang masih berhubungan dengan Arde dan Maila. Namun, komunikasi dengan Illuvia adalah yang paling minimal karena aku ingin dia segera melupakanku, move on, dan mencari orang lain. Bahkan, aku hampir tidak mengontak Illuvia sama sekali.


 


"Jadi, apa yang akan kamu lakukan, Lugalgin?"


 


"Saat ini? Yang bisa kulakukan hanyalah meminta maaf pada klienku karena sudah membuatnya repot. Meski dia meminta maaf dulu, kalian sudah menggunakan namanya dan organisasinya, jadi aku tetap harus meminta maaf dan memberi ganti rugi."


 


Ya, semua hal mengenai klien dan meminta maaf itu hanyalah kebohongan sih. Aku tidak memedulikannya sama sekali dan anggota Agade juga tidak mempermasalahkannya setelah mengetahui kalau Illuvia adalah teman baikku.

__ADS_1


 


"Bagaimana dengan Nona?"


 


"Aku akan membiarkannya."


 


"Kamu akan membiarkannya begitu saja? Apa kamu tidak merasa bertanggung jawab?"


 


"Aku merasa bertanggung jawab karena sudah mengajarkan teknik penghilang pengendalian itu. Namun, hanya itu. Soal perasaannya, aku tidak bisa bertanggung jawab terhadap apa yang ada di luar kuasaku."


 


Momen tiga tahun yang kulewati sebagai siswa SMA Eksas terlintas di benak. Di saat itu, aku teringat ketika masih mengenakan seragam, bersenda gurau dengan Arde, Maila, Illuvia, dan juga teman-teman sekelas.


 


Meski untukku, sejak dua setengah tahun yang lalu, kehidupanku sudah terasa hampa, tapi aku tidak bisa memungkiri kalau waktu yang kuhabiskan bersama mereka adalah waktu yang indah.


 


Aku kembali membuka mulutku.


 


"Semasa SMA, perlakukanku pada semua perempuan adalah sama. Illuvia pun mengetahui dan menyadari hal ini. Sayangnya, dia masih memutuskan untuk mempertahankan perasaannya padaku. Padahal, aku sudah berkali-kali menolaknya dengan tegas. Aku juga sudah berkali-kali memintanya untuk mencari laki-laki lain."


 


"Dan kamu pikir nona akan menurut begitu saja? Apa kamu tidak bisa memahami perasaan perempuan?"


 


"Sayangnya, aku tidak bisa. Dan, aku pun tidak bisa merespon perasaan Illuvia."


 


"Tapi–"


 


"Kalau begitu, apa kamu punya saran lain? Apa kamu juga akan menyarankan dia untuk meninggalkan keluarga Nerras begitu saja? Berbeda dengan Raja Fahren dan Raja Arid yang memiliki banyak putri, keluarga Nerras hanya memiliki satu putra dan satu putri. Menurutmu, bagaimana jadinya keluarga Nerras ke depannya kalau Illuvia meninggalkan keluarga Nerras? Dan, bagaimana perasaan kedua orang tua Illuvia? Apa kamu sudah memikirkannya?"


 


"I, itu...."


 


 


"Aku harus pergi. Jam 1 aku harus naik pesawat untuk pergi ke ibukota. Untuk uangnya, nanti akan aku transfer ke rekeningmu. Aku tidak peduli mau kamu apakan uang itu. Uang itu adalah hak kalian."


 


Aku membuka pintu dan kembali masuk.


 


Ketika aku masuk, terlihat Emir dan Inanna yang duduk di sofa pengunjung. Mereka hanya melihat ke arahku dengan wajah masam. Di lain pihak, Illuvia masih terlihat tidur.


 


Aku paham dengan ekspresi masam Emir dan Inanna, tapi aku tidak berencana melakukan apa pun.


 


"Ayo, Emir, Inanna, kita pulang. Kita harus segera pergi kalau tidak mau ketinggalan pesawat."


 


"Oke."


 


"Baik."


 


Emir dan Inanna pun bangkit, menghampiriku.


 


"Illuvia, aku harap ini adalah yang terakhir kalinya aku melakukan ini. Maaf, aku tidak bisa menerima dan merespon perasaanmu. Semoga kamu dapat menemukan laki-laki lain yang lebih pantas untukmu."


 


Setelah mengatakan kalimat itu, aku pun pergi meninggalkan ruangan.


 


"Gin, apa kamu yakin kamu ingin membiarkan dia begitu saja?"

__ADS_1


 


"Iya, Emir benar. Apa kamu tidak..."


 


Berbeda dengan Emir yang mampu mengucapkan pikirannya begitu saja, Inanna masih ragu. Dia menundukkan wajah.


 


Aku tersenyum dan mengusap rambut Emir dan Inanna.


 


"Aku sudah memiliki kalian. Dan, kalian sudah lebih dari cukup untukku."


 


Meski aku ingin semuanya berakhir di sini. Sayangnya, hal ini belum selesai begitu saja.


 


***


 


~Illuvia POV~


 


"Nona, mereka sudah pergi."


 


Aku pun membuka mata setelah mendengar ucapan Nerva.


 


Akhirnya, dia pergi. Tampaknya, baik Lugalgin maupun kedua calon istrinya tahu kalau aku sudah terbangun tapi pura-pura tidur. Maksudku, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku berharap Lugalgin lah yang akan menemaniku, tapi tidak. Dia justru menyuruh kedua calon istrinya.


 


Aku tahu karena dia berkali-kali mengatakannya padaku. Selain aku berasal dari keluarga bangsawan, dia sendiri tidak memiliki perasaan romantis padaku. Aku tahu semua itu.


 


Selama tiga tahun bersama, sudah tidak terhitung berapa kali dia menolakku. Namun, entah kenapa, kali ini terasa paling menyakitkan. Dadaku terasa begitu sesak. Walaupun aku tidak menginginkannya, air mataku pun mengalir. Bahkan, saat ini, rasa sakit di bahu kiriku sama sekali tidak terasa.


 


Aku tidak ingin melihat wajah Nerva, atau siapa pun. Aku memalingkan wajah ke kiri, ke jendela yang tertutup oleh korden.


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Halo semuanya.


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


 


Maaf ya karena baru update. Berapa hari yang lalu sempat rawat inap (lagi) dan lalu berapa hari kemudian dalam masa pemulihan. Jadi, update sempat tersendat. Dan, selain itu, Author masih merasa annoyed karena ada komentar promosi judul lain, bahkan komentar itu (karena baru dan panjang) masuk ke komentar terbaik. Jadinya agak males deh. Well, jadi yang membuat update telat karena sempat rawat inap dan annoyed juga. Hehe.


 


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 

__ADS_1


 



__ADS_2