
"Tiarap!"
Meski aku berteriak, hanya aku dan Maul yang tiarap. Rahayu sudah terlentang dan Joe hanya bisa menundukkan kepala. Untuk memastikan tidak ada pecahan kaca mendarat di tubuh atau wajah Rahayu, aku melepas jaket dengan cepat dan meletakkannya di tubuhnya.
"Jaket ini akan melindungimu dari pecahan kaca."
"Ah, jadi ini ya bau Lugalgin."
Tiba-tiba aku mendengar sebuah kalimat yang umumnya hanya dikatakan oleh orang rusak. Dan, untungnya, suaranya tertahan oleh jaketku, jadi Joe tidak akan mendengarnya.
Sementara aku merendahkan badan, mencoba tidak terkena tembakan peluru, delapan assault rifle tampak melayang dan mendatangi bus kami. Normalnya, aku akan mulai mengeluarkan sumpah serapah dan sejenisnya. Namun, kali ini tidak. Pandanganku justru tidak fokus pada dua kendaraan lapis baja yang mengejar kami atau assault rifle yang mendekat.
Melalui teropong senapan, aku melihat ke belakang dua kendaraan lapis baja, dimana sebuah debu beterbangan. Pemandangan yang tersaji di balik teropong membuat ujung bibirku naik, memaksaku tersenyum.
Sebuah pesawat terbang cepat dan rendah. Pesawat itu kecil, hanya mobil. Namun, karena terbang dan lebih ringan, pesawat itu mampu mendekati kami.
Sebenarnya, benda yang terbang dengan cepat itu bukanlah benar-benar pesawat. Sederhananya, benda yang melayang itu adalah logam yang didorong dengan jet. Untuk manuver naik turun dan berbelok, sepenuhnya menggunakan pengendalian penggunanya.
Dengan ukuran pesawat yang kecil, satu truk trailer bisa membawa hingga empat pesawat. Kalau truk kecil berkecepatan tinggi, bisa membawa dua pesawat. Dengan demikian, pesawat ini bisa dibawa kemana pun dengan cepat, tidak perlu menggunakan land aircraft carrier.
Ide tersebut dicetuskan oleh Emir tidak lama setelah melihat serangan Agade. Dengan bantuan anggota elite Agade, pesawat ini pun jadi. Namun, tidak semua anggota Agade bisa menggunakannya. Hanya orang yang terbiasa mengendalikan benda besar seperti Mulisu, Elam, Mari, dan Emir. Dan, tentu saja, yang saat ini berada di atasnya adalah satu dari empat orang itu.
Di atas kokpit pesawat, terlihat seorang perempuan mengenakan atasan militer dan rok mini dengan tas punggung. Rambut putih pendeknya berdiri, tertiup angin. Normalnya, dia hanya akan menunjukkan ekspresi datar dan jutek, tidak lebih. Namun, kali ini, kedua ujung alis naik dan dia menggertakkan gigi, tampak marah. Perempuan itu tidak lain dan tidak bukan adalah Mari.
Mari melompat dari pesawat. Dalam sekejap, pesawat yang dinaiki Mari terurai, berubah wujud menjadi dua pedang sepanjang 10 meter.
"Joe, hentikan bus ini?"
"Hah?"
"Turuti saja perintahku!"
Joe menurut dan menurunkan kecepatan. Karena bus ini besar, Joe tidak mungkin langsung menginjak pedal rem. Kalau dia melakukannya, ada risiko bus ini akan terguling.
Sementara itu, Mari masih melayang di udara. Namun, dia tidak benar-benar melayang, lebih seperti terlempar. Dengan lihai, Mari menebaskan kedua pedangnya, memotong kendaraan baja yang mengejar kami.
Aku melompat dari jendela dan melempar senapan, berlari ke arah Mari.
Tebasan Mari terlalu melebar, membuat kedua pedangnya menyangkut di batuan yang tertutup tanah. Kalau dia tidak melepaskan pegangan, tangannya akan patah. Untuk menghindarinya, Mari melepaskan pegangan di pedang, membiarkan tubuhnya terlempar.
Mari tampak sudah siap. Dia menarik tali di tas punggungnya, membuka parasut dari dalam. Namun, karena sudut penarikan yang tidak tepat, kecepatannya tidak berkurang terlalu jauh. Yang terjadi justru dia menjadi mainan di udara. Dan, karena itu, aku berlari sekuat tenaga.
"Dapat!"
Aku menangkap Mari yang terjatuh dan membiarkan tubuhku tergelincir di atas tanah. Setelah tergelincir beberapa meter, akhirnya kami pun terhenti. Tanpa jaket, kemeja dan kaosku akan terkikis, membuat punggungku lecet.
"Kak Lugalgin. Kak Lugalgin tidak apa-apa?"
Mari bangkit. Dia duduk di atas badanku.
__ADS_1
Anak ini terlalu fokus padaku! Dia tidak lagi memperhatikan dirinya sendiri! Dengan cepat, aku membuka kunci tas di depan dadanya dan membiarkan angin membawa parasut yang sebelumnya terikat.
"Mari, kamu terlalu fokus padaku dan melupakan keamananmu sendiri."
"Tapi....tapi....."
Mari berusaha memberi jawaban. Namun, tidak ada kata lain muncul dari mulutnya. Dari ujung kelopak, terlihat air mata mulai menetes.
Sebenarnya, aku ingin menyampaikan hal lain. Namun, aku mengurungkannya. Berkat Mari lah aku masih bisa bertahan hidup. Aku pun merengkuhnya, membenamkan wajah Mari ke dadaku, membiarkannya menempel di atas tubuhku
"Kali ini, Kak Lugalgin maafkan. Terima kasih ya sudah menyelamatkan Kak Lugalgin."
"U....uaahhh......."
Tiba-tiba saja Mari menangis, merengek.
Aku membelai rambut dan punggungnya dengan perlahan, membiarkan menangis di pelukanku.
Sejak aku menemukannya, dia memang sering menempel denganku, tapi memberi kesan jutek dan dingin. Mungkin dia menginginkan banyak hal, tapi menahan diri, menganggap semua itu akan merepotkanku. Dan, wajah datarnya adalah cara yang dia lakukan untuk memberi jarak, untuk mencegahku membaca keinginannya.
Saat ini adalah pertama kalinya aku melihat dia begitu panik, menunjukkan ekspresi di wajahnya. Bahkan, tadi, dia berteriak dan memanggilku dengan sebutan Kak walaupun kami tidak sendirian. Benak terdalamku sangat berbahagia ketika mendengarnya. Jadi, aku tidak akan menghentikan tangisan Mari. Aku akan terus merengkuhnya, membiarkan Mari melampiaskan semua perasannya selama ini.
Nanti, setelah Maul, aku ingin mendengar banyak hal dari Mari. Ya, aku akan melakukannya.
"Hik....hik...."
"Sudah puas?"
"Maaf, Ka....Lugalgin."
Mari kembali mengenakan wajah datarnya dan tidak memanggilku dengan sebutan Kak. Dia menjadi seperti sebelumnya, tidak akan memanggilku dengan Kak di depan umum. Tampaknya, kali ini, aku yang harus lebih aktif.
Aku menghela nafas. "Mari, aku sudah tahu identitasmu yang sebenarnya."
Mari menegakkan punggung, seolah disengat listrik.
"Meski di depan semua orang, aku tidak keberatan kalau kamu memanggilku Kak. Kamu tidak perlu bersembunyi seperti dulu. Dan, kalau kamu mau dimanja seperti Maul, aku tidak keberatan kok."
"Tapi, kamu, Lugalgin, sudah banyak–"
"Lupakan soal semua yang sudah kulakukan untukmu. Jadilah dirimu sendiri, tidak usah terlalu menahan diri."
Mari terdiam, menunduk, melihat ke mataku dalam-dalam.
"Kak Lugalgin tidak keberatan?"
"Tidak."
Bersamaan dengan jawabanku, sebuah senyum terkembang di wajah Mari.
__ADS_1
Sudah kuduga, senyum memang cocok untuk wanita secantik dan semanis Mari.
"Kak Lugalgin?"
Namun, begitu mendengar suara laki-laki ini, Maul, wajah Mari tidak lagi tersenyum. Dia menjadi cemberut dan kesal. Mari pun berdiri dan menjauh, berjalan ke Maul.
"Maul...."
"Ya?"
Tanpa basa-basi, Mari melemparkan sebuah tinju ke wajah Maul. Tanpa persiapan apa pun, Maul pun terjatuh karena tinju itu.
"Pasti kamu kan yang memiliki rencana untuk membuka identitasmu dan menemui Kak Lugalgin di hotel semalam?"
"Eh, i–"
"Gara-gara rencanamu, Kak Lugalgin hampir tewas tahu tidak? Kalau kamu tidak muncul semalam, mungkin saat ini Kak Lugalgin dan semua yang bersamanya akan dipulangkan karena dianggap suasana kurang kondusif! Tapi gara-gara kamu, Mariander terpaksa menganggap Kak Lugalgin sebagai musuh! Dengan kata lain, kamu melempar Kak Lugalgin ke tengah area musuh, tahu tidak?"
"Hii...."
"Untung aku sudah menduga hal ini dan berhasil membujuk yang lain untuk menerobos masuk ke sini dari semalam. Kalau tidak, Kak Lugalgin bisa tewas dan kamu adalah penyebabnya!"
Maul mengangkat kedua tangan, menutupi kepala. Dia tampak mengecil di hadapan Mari. Namun, Mari tidak kunjung berhenti menceramahi Maul. Tampaknya, secara tidak langsung, Maul mengenali Mari dan sadar kalau dia tidak bisa melawan.
Di kejauhan, terlihat beberapa benda melayang rendah. Aku bisa menduga yang datang adalah unit pesawat lain yang dikendarai Mulisu dan yang lain. Namun, tampaknya, mereka lebih lambat dari Mari. Seharusnya, jet pendorong yang dipasang pada semua pesawat adalah sama. Jadi, kemungkinan besar, Mari juga menggunakan pengendalian untuk mempercepat pesawatnya. Atau, bisa saja Mari lebih duluan keluar dari truk yang membawanya.
"Gin," Rahayu mendatangiku. "Siapa perempuan itu?"
"Ah, dia adalah teman satu panti asuhan Maul."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1