I Am No King

I Am No King
Chapter 61 – Serangan dan Spektator


__ADS_3

~Lacuna POV~


 


"Jadi, Merah, menurutmu, apakah si Pirang akan berhasil dalam serangan ini?"


 


"Merah? Pirang? Kau memanggil kami dengan warna rambut?"


 


Saat ini, aku dan Merah duduk bersebelahan di sebuah bukit, dua kilometer di barat kediaman keluarga Ibrahim. Keluarga Ibrahim memiliki sebuah rumah yang sangat besar, terdiri dari beberapa bangunan yang berbeda dengan dinding tinggi di sekeliling. Kalau bangunan-bangunan itu memiliki dinding batu gunung, aku akan mengira rumah ini sebagai kastel. Untungnya bukan. Dindingnya masih terbuat dari bata.


 


Tadi, ketika aku sudah siap dengan mata di teropong senapan untuk mengamati serangan Pirang dari kejauhan, Merah mendatangiku. Tentu saja aku menodongkan pistol ketika dia muncul. Tubuh Merah sudah penuh dengan balutan perban, hasil konfrontasinya dengan Davic.


 


Ketika aku menanyakan alasan mendatangiku, dia menjawab, "aku hanya ingin melihat, mencari informasi. Ketika aku mencari tempat untuk mengamati, aku menemukan sosok seseorang. Tidak kukira itu kau.".


 


Dan, ya, aku pun mengizinkannya duduk di sebelah kiri. Dia menggunakan senapan magnum sniper rifle Wing-C yang sama seperti sebelumnya.


 


Kembali ke masa sekarang.


 


"Pirang juga memanggilku Putih. Aku rasa tidak ada masalah, kan?"


 


Merah terdiam. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada satu pun kata yang kunjung muncul. Akhirnya, dia memutuskan untuk kembali ke teleskop senapan.


 


"Menurutku, Pirang tidak akan berhasil."


 


"Halah. Ternyata kamu juga memanggilnya Pirang."


 


"Tidak, aku tidak memanggilnya Pirang.” Merah mengelak. “Aku menggunakan panggilan Pirang setelah mendengarmu."


 


"Lalu, sebutan apa yang sebelumnya kamu gunakan untuk membedakan kami?"


 


Merah terdiam, tidak menjawab. Akhirnya sebuah respon muncul dari mulutnya, tapi bukan respon yang kuinginkan.


 


"Menurutku, dia tidak akan berhasil karena dia, atau kita, belum mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Seperti efek jika peluru itu mendarat di tubuh kita."


 


Dia mengalihkan, atau lebih tepatnya mengembalikan, arah pembicaraan. Aku tidak akan protes. Aku akan membiarkannya.


 


Tidak kuduga. Ternyata, jalan pemikiran Merah mirip denganku. Kupikir dia kemarin menyerang karena berpikir informasi itu tidak penting. Atau mungkin, dia menyelinap berharap menemukan informasi itu di pabrik mereka? Ya, mungkin saja. Namun, dia terlalu terburu-buru. Baik kemarin, maupun sekarang.


 


"Apa kemarin kalian juga melakukan hal yang sama? Mengamatiku ketika menyerang?"


 


"Ya, kami melakukan hal yang sama."


 


"Dan kalian memutuskan untuk tidak menolongku?"


 

__ADS_1


"Kenapa kami harus menolongmu? Kami hanya mencari informasi. Dan, sekarang, aku juga hanya akan menonton, tidak akan menolongnya." Aku mempertegas jawabanku.


 


Ya, aku tidak akan menolong Pirang, kecuali dia menelepon dan memberi penawaran yang menguntungkan. Kita lihat saja nanti.


 


Selain itu, aku ingin tahu cara bertarung Pirang, apakah dia tipe yang mengetuk pintu depan? Atau tipe yang menyusup dan menyerang dari dalam.


 


Blarr


 


Dan, sebuah ledakan terdengar. Asap dan api membumbung tinggi, menyalakan malam. Pertanyaanku langsung terjawab, dia adalah tipe yang mengetuk pintu depan. Aku bahkan harus mengalihkan pandangan dari teleskop senapan untuk sesaat karena cahaya ledakan yang menyilaukan.


 


"Dia bukan pengendali timah, kan?" Merah bertanya.


 


"Aku tidak yakin. Yang pengendali timah kan kau? Kenapa kau malah menanyakannya padaku? Apa kau tidak merasakannya?"


 


"Ah... dari mana kau tahu kalau aku pengendali timah?"


 


Hah? Apa dia benar-benar menanyakannya?


 


"Kau serius menanyakan itu?"


 


"Tentu saja. Maksudku, aku saja tidak tahu pengendalian utamamu tapi kau sudah tahu pengendalian utamaku. Aku merasa dilangkahi, ditinggalkan."


 


 


"Aku beri satu petunjuk: dua hari lalu."


 


"Dua hari lalu. . . . . AAAHHHH! Kau yang melepaskan tembakan ke kepalaku itu? Kau berniat membunuhku? Kalau pengendalian utamaku bukan timah, aku pasti sudah tewas."


 


"Lalu? Masalah?"


 


"I, itu...."


 


"Sudahlah. Kembali ke pengamatan."


 


Karena Merah tidak memberi petunjuk kalau pengendaliannya dan Pirang sama, secara tidak langsung, dia menyatakan kalau pengendalian utama Pirang bukanlah timah.


 


Aku mengamati penyerangan pirang melalui teleskop. Di sekitar tubuh pirang, puluhan pisau lempar melayang. Semua pisau itu melesat ke berbagai arah, membunuh semua orang yang terlihat. Terkadang, ada beberapa orang mampu menghindari serangan pisau Pirang. Namun, dengan sepasang pedang pendek, Pirang mampu membunuh orang yang datang.


 


Selain membawa pisau terbang dan sepasang pedang pendek, Pirang juga mengenakan tas punggung besar, yang mungkin hampir mencapai lutut.


 


Namun, tampaknya, dia juga waspada pada peluru penghilang kemampuan itu. Dia menggunakan puluhan pisau di sekitarnya untuk menghalau semua peluru yang datang. Instingnya mengerikan juga.


 


Taman demi taman dia lewati.

__ADS_1


 


"Jadi, Putih,"


 


"Ya?" Aku merespon tanpa mengalihkan pandangan dari teleskop.


 


"Apa kau berencana membunuh Pirang ketika dia selesai?"


 


"Tidak, aku tidak berencana membunuhnya ketika dia selesai."


 


Akhirnya, sebuah wajah yang familier terlihat di teleskop, Davic.


 


Pirang menarik sebuah kotak dari tas punggung. Kotak sebesar badan itu terbuka, menjadi sebuah perisai yang menutupi seluruh tubuh Pirang.


 


Perisai yang dibawa oleh Pirang sukses menahan tembakan dari semua shotgun milik David. Pirang mengambil sebuah granat dan melemparnya. Davic lengah, membiarkan granat itu meledak di dekatnya. Namun, sayangnya, Davic sempat tiarap, mencegah dirinya terbunuh oleh granat.


 


Pirang tidak berhenti di situ. Dia mengangkat perisainya dan menodongkan sebuah pistol, yang mungkin juga berasal dari tas punggungnya. Dalam waktu singkat, sebuah peluru sudah bersarang di kepala Davic, membunuhnya.


 


Oke, itu antiklimaks.


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


 


Untuk post note belum ditulis karena masih di tengah aksi. Tidak banyak yang bisa dijelaskan dari chapter ini.


 


Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


 


 


 

__ADS_1



__ADS_2