I Am No King

I Am No King
Epilog 2 – Alhold


__ADS_3

"Ini laporan kualitas pelayanan untuk semester ini, Om. Lalu ini laporan aktivitas semua keluarga Alhold. Dan ini laporan perkembangan untuk tangan Lugalgin."


"Ah, terima kasih Nammu."


Aku menerima beberapa dokumen dari Nammu dan mulai mengeceknya. Meski zaman sekarang kebanyakan dokumen sudah dalam bentuk file, aku masih lebih nyaman memegang jika bisa memegangnya.


Setelah memberi dokumen, Nammu duduk di seberang meja. Ruang kerjaku tidak lagi milikku seorang. Atas permintaan Lugalgin, dan desakan Yueni, aku memberi Nammu pekerjaan di rumah sakit sebagai asistenku. Tugas utama Nammu adalah mengatur jadwalku dan menjadi perantara dengan pengurus rumah sakit ketika aku sibuk.


Tentu saja aku memberi meja dan kursi kerja untuk Nammu di ruangan ini. Dia akan menggunakan meja dan kursinya ketika menyusun dokumen. Untuk proses pembacaan dokumen, kami duduk di sofa.


"Pelayanan Rumah sakit mengalami peningkatan kualitas sebesar 2 persen dibanding semester lalu. Jumlah pelanggaran prosedur juga relatif menurun hingga 10 persen. Namun, kepuasan pelanggan relatif tidak ada perubahan, masih di angka 92 persen."


Sambil mendengarkan penjelasan Nammu, aku membuka laporan dengan cepat. Karena sudah sering membaca laporan seperti ini, aku bisa memperkirakan lokasi grafik dan tabel yang membahas penjelasan Nammu.


Setelah laporan rumah sakit selesai, kami beralih ke laporan keluarga Alhold. Seperti sebelumnya, aku membuka dan membaca laporan keluarga Alhold dengan cepat.


"Untuk keluarga Alhold, tidak ada pergerakan yang mencurigakan. Untuk generasi tua, tidak ada tanda-tanda mereka akan mengingat identitas asli mereka. Untuk generasi muda tampak juga sama. Tidak ada tanda-tanda mereka tidak puas dengan kehidupan panti asuhan."


Keluarga Alhold yang dimaksud Nammu adalah orang-orang yang masih hidup, yang digunakan oleh Lugalgin sebagai kelinci percobaan. Dengan menggunakan keluarga Alhold, Lugalgin sudah bisa membuat serum untuk menghilangkan pencucian otak.

__ADS_1


Namun, sayangnya, obat penghilang pencucian otak tidak manjur 100 persen. Pada anak-anak dan remaja, efek pencucian otak bisa dihilangkan. Namun, pada orang dewasa, kemungkinan berhasil sangat kecil. Persentase keberhasilan pada orang dewasa kurang dari 20 persen. Mereka masih ingin menyerang Lugalgin tanpa alasan yang jelas, seperti insting.


Untuk orang dewasa yang gagal disembuhkan, kami bekerja sama dengan Rina dan Ira. Percobaan pertama adalah mencoba menghilangkan kebencian mereka pada Lugalgin dengan pencucian otak baru. Namun, gagal. Insting mereka untuk menyerang Lugalgin tetap ada. Percobaan kedua adalah kami menanamkan kepribadian dan ingatan baru, mengubah identitas mereka. Hasilnya adalah berhasil.


Percobaan ketiga adalah mengubah identitas mereka baru tapi masih mengenal Lugalgin. Sayangnya, percobaan ketiga gagal. Percobaan keempat adalah hanya menghilangkan keberadaan Lugalgin tanpa mengubah identitas. Di luar dugaan, percobaan keempat berhasil. Kesimpulannya, faktor utamanya adalah keberadaan Lugalgin di memori mereka.


Kami memutuskan memberi mereka identitas baru dan menghilangkan Lugalgin dari memori. Pilihan ini diambil karena yang paling aman. Namun, tentu saja, kami tidak melepas mereka begitu saja. Kami bekerja sama dengan Akadia untuk memonitor semua keluarga Alhold, tidak terkecuali keluarga Ufia dan Nammu.


"Oke, kita lanjut ke laporan terakhir. Tangan kanan Lugalgin."


Nammu terdiam sejenak. "...sayangnya, masih tidak ada perkembangan."


Meski sudah mendengar kesimpulan dan inti laporan dari Nammu, aku masih membuka dan membaca laporan terakhir. Berbeda dari laporan sebelumnya, kali ini, aku membaca laporan dengan saksama.


"Maaf, Om."


"Kamu tidak perlu meminta maaf, Nammu. Justru aku harus berterima kasih. Berkat kamu, aku tidak kerepotan. Aku tidak bisa membayangkan kalau harus mengurus semua ini sendirian."


"Tidak, Om Barun. Harusnya aku lah yang berterima kasih karena Om Barun mau memperkerjakanku. Apalagi mengingat aku masih harus membiayai sekolah Corba."

__ADS_1


Aku berhenti membaca dokumen dan melirik ke Nammu. "Apa kamu masih tidak mau menerimanya?"


"Aku masih merasa bersalah, Om Barun. Mengingat aku juga berkontribusi ke keadaan Lugalgin."


Aku jadi teringat ketika pertama kali menemui Nammu di rumah sakit. Dia, masih dengan infus, langsung berusaha bangkit untuk bersujud dan meminta maaf. Aku dan Yueni miris kalau mengingatnya. Gara-gara kesalahan orang tua, anak-anak yang masih murni terpaksa menanggung rasa bersalah.


Rasa bersalah Nammu juga tampak semakin parah ketika aku memasukkannya ke tim penanganan tangan Lugalgin. Pada awalnya, dia bingung. Namun, setelah aku menceritakan kondisi Lugalgin, Nammu langsung menangis. Di saat itu, Nammu tidak henti-hentinya meminta maaf padaku, Yueni, Lugalgin, dan Ninlil.


Aku dan Yueni sudah memaafkan Nammu. Lugalgin bukan hanya memaafkan, dia bahkan memberi tawaran untuk menanggung biaya sekolah dan hidup Corba. Hanya Ninlil yang masih bersikeras tidak mau memaafkan Nammu. Yah, dia masih anak-anak.


Bayaran sebagai asistenku tidak kecil. Aku bisa menjamin hal itu. Tawaran Lugalgin hanyalah sebuah gestur, bukti, kalau dia tidak mempermasalahkan masa lalu Nammu.


"Aku tidak akan memaksa. Namun, kalau kamu ada masalah, jangan segan-segan untuk meminta bantuan. Kita kan keluarga."


"Baik, Om."


 


 

__ADS_1


__ADS_2